Sastra Setelah ’98

Peristiwa Mei 1998 merupakan peristiwa yang sangat penting. Setelah peristiwa itu, secara politik dan sosial, muncul pemahaman, Orde Baru “menjadi lama” dan muncul Orde Reformasi yang “menjadi baru”. Persoalannya, apa saja yang memungkinkan sesuatu menjadi baru dan berbeda dengan sebelumnya?

Secara khusus pertanyaan tersebut dikaitkan bagaimana pengaruhnya terhadap praktik kesusastraan.

Ada empat hal yang akan dibicarakan sehubungan dengan hal itu. Pertama, perubahan wacana yang mengkonstruksi dan mengatribusi ruang dan waktu. Kedua, pergeseran aktor dan relasi-relasinya. Ketiga, menguatnya keberadaan dan peran teknologi media sosial. Keempat, akibat dari ketiga hal tersebut, kemungkinan adanya perubahan struktur relasi negara, warga, dan komunitas-komunitas.

Pertama. Tidak ada ruang (seiring dengan perubahan waktu) yang tidak bebas dari konstruksi sosial (kewacanaan) yang membuat ruang mengalami atribusi dan pemaknaan baru, paling tidak berbeda dengan sebelumnya. Wacana yang paling kuat salah satunya tentu demokratisasi dan demokrasi.

Pelan-pelan, kekuatan wacana tersebut menerobos struktur hierarki sosial dan politik yang cukup mapan pada masa sebelumnya. Posisi dan arena berubah dan bergeser secara acak dan zigzag. Jika pada tahun 1990-an awal, keberadaan dan kuasa pusat mulai dipertanyakan, setelah 1998 kuasa pusat semakin melemah.

Para pekerja sastra (dan seni budaya pada umumnya) lebih asik bekerja di tempatnya masing-masing dengan mengandalkan pertemanan, komunitas, dan berbagai media yang dimungkinkan. Didukung negara, apa yang kemudian disebut sebagai “lokalitas” mendapatkan tempat.

Seperti sudah bergejala tahun 1980-an (di luar negeri jauh mendahului), demokratisasi seni dan sastra juga mulai mengaburkan batas apa yang kemudian disebut sastra tinggi atau rendah, sastra serius atau populer, sastra bermutu atau tidak. Semua mendapat tempat dengan audiensnya masing-masing.

Memang, masih ada semacam “kecongkakan” untuk merasa lebih tinggi atau bermutu terhadap sesuatu yang dianggap lebih rendah. Akan tetapi, pemilahan perasaan itu lama-lama juga ditinggal untuk saling “tidak ada urusan”. Semua berjalan dengan keasyikannya sendiri-sendiri. Dalam konteks ini, keberadaan media sosial menjadi sangat penting.

Kedua. Secara sosial (dan kependudukan), untuk setiap dekadenya, selalu muncul generasi baru. Pada awalnya, saya mensinyalir generasi baru tersebut mengalami doksa-doksa terentu terhadap seniornya. Akan tetapi, lembat laut doksa tersebut mencair dan generasi baru mendoksakan dirinya terhadap subjek dan figur yang lebih beragam dan global.

Tampaknya, para generasi baru muncul bersama merebaknya subjek-subjek media sosial dan merasa ada di dalamnya dalam ragam yang berbeda. Perbedaan tersebut menyebabkan beberapa hal. Mereka berusaha menjadi subjek populer dan “ekonomis” dengan mengikuti selera dan apa maunya followers (pengikut).

Namun, tentu sebagian memanfaatkan media hanya untuk sekedar bersosialisasi, berkomunitas, dan sedikit di antaranya pamer sosial dan semacam prestasi.

Sifat dan jenis relasi antara generasi baru dengan generasi senior juga berubah. Generasi yang lebih senior semakin teralgoritma dengan nostalgia keampuhan generasinya. Memang, sebagian generasi baru masih ada yang mengikutinya. Hal itu dimungkinkan karena kelebihan generasi senior ada pada investasi modal sosial, budaya, dan terutama simbolik.

Saya menduga, relasi koordinatif ini tidak akan bertahan lama, karena generasi baru akan mulai memperlihatkan karya-karyanya, dan mereka butuh ruang dan komunitas tersendiri.

Yang menarik tentu saja, akhirnya banyak kegiatan dan karya akan berjalan sendiri-sendiri, dengan sangat mengandalkan media sosial, mungki tanpa kritik yang berarti, mungkin dengan hanya mengandalkan relasi-relasi dan kepentingan tertentu yang bersifat pragmatis.

Ketiga. Seperti telah disinggung, demokratisasi dan tumbuhnya masyarakat digital, apalagi sempat dipaksa dan diperkuat dengan pandemi, mengondisikan silaturahmi sosial sastra semakin terbatas. Banyak hal kini selesai di media sosial.

Sebagai resikonya, ada kepuasan kecil dan kebanggaan besar bahwa sastra lebih sebagai ajang penampilan demokratis. Demokratisasi telah meleburkan dan menyebarkan batas-batas estetika (ini pun dalam pengertian konvensional), sebagai salah satu substansi penting kesastraan. Setiap orang berhak dan merasa memiliki estetikanya masing-masing bahkan juga dengan keasyikannya masing-masing.

Dalam konteks ini, para generasi senior masih berusaha menempatkan dirinya sebagai subjek legitimatif. Akan tetapi, saya menduga tidak lama lagi akan banyak muncul “subjek legitimatif” dalam ruang-ruang yang semakin partikular-spesifik dan beragam. Dalam semangat “post-post”, hal itu semacam keberhasilan meruntuhkan partisi dan hierarki.

Semangat peruntuhan itu memang masih parsial dan terpilah-pilah. Hal itu sebenarnya terkait dengan “peredaran uang” yang masih terpusat dan hierarkis. Semangat “post-post” itu hanya terakomodasi untuk mereka yang melek teknologi dan digital. Negara dan mekanisme ekonomi kapitalisme tidak atau belum bisa diganggu atas kekuasaannya terhadap sirkulasi uang yang masih hierarkis dan terpusat.

Untuk bersastra, warga masih menunggu dan berharap cipratan berkah uang atau hibah negara. Kolusi, ideologi, dan kecenderungan selera-selara politis ataupun kultural masih menentukan siapa yang mendapatkan ciptratan uang/berkah dari negara.

Selain itu, sastra tidak lagi menjadi ajang partaruhan karya dalam berbagai genre yang dimungkinkan, tetapi sastra menjadi ajang berkomunitas tanpa terikat dengan genre. Gejala ruang yang mengalami “demokratisasi”, tetapi sebenarnya justru “semacam pencerahan algoritmatis” jauh lebih penting daripada karya sastra seperti apa yang ditawarkan ke publik.

Sekali lagi, ini sungguh mengasyikan. Lebih asyik lagi karena batas masyarakat maya digital dan realitas sosial lebur dalam budaya yang dengan sengaja mengintegrasikan seolah-olah batas-batas tersebut memang semakin tidak jelas dan kabur. Tampaknya, batas-batas tersebut semakin tidak penting.

Keempat. Struktur relasional negara dan negara juga berubah. Kalau pada masa Orde Baru warga masih mengalami ketakutan berhadapan dengan negara, saat ini ketakutan tersebut sudah tidak ada. Paling tidak ketakutan itu sudah sangat menipis. Demokrasi dan demokratisasi menyebabkan negara menjadi lebih dewasa dengan membuat berbagai aturan yang relatif kondusif.

Berbeda dengan masa Orde Baru, kini masyarakat semakin leluasa dan tidak canggung-canggung untuk berkomunitas. Jika dulu warga terikat dengan perkumpulan politik atau agama, saat ini komunitas menjamur dengan profesi, tujuan, sifat, dan bentuk yang berbeda-beda.

Dalam konteks berkomunitas, bisa sastra yang ditumpangkan ke dalam berbagai kegiatan. Bisa juga sastra sebagai penggerak untuk berkomunitas. Dengan latar yang berbeda-beda itu, komunitas menjadi ruang tersendiri untuk asyik-asyikan dalam bersastra. Sastra hanya menjadi sebuah media, bukan cara berekspresi.

Dengan keasyikannya sendiri-sendiri itu, tanpa kritik dan kritisisme, keren dalam komunitas yang didukung media sosial (sibernetika), sastra berjalan ke segala arah. Tidak perlu ada tuntutan untuknya. Mungkin, hanya di ruang itu warga masih mendapat sedikit kemewahan, walau itu kemewahan simbolik dan semu. * * *

Oleh Aprinus Salam (Untuk Bincang-Bincang Sastra SPS Yogyakarta, Edisi 183, Taman Budaya Yogyakarta, 22 Oktober 2021)

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin