Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran tersebut, kadang terjadi pergesekan dan konflik, kadang hidup rukun. Suatu percampuran memang bukan persenyawaan. Potensi pergesekan dan konflik selalu mengintip.

Persoalan tersebut merupakan kejadian yang banyak terjadi di mana-mana. Hidup bercampur adalah suatu kehidupan bersama, tetapi hidup sendiri-sendiri berdasarkan agama, suku, kelas sosial, ras, atau berbagai kategori lain yang menyertainya. Secara individu atau kelompok masyarakat terikat perkampungan atau desa, tetapi dalam praktiknya hidup dalam kelompok sosialnya sendiri-sendiri.

Dalam pengelompokan tersebut, memang terjadi pembauran. Akan tetapi, pembauran itu tampaknya bersifat dan dalam kepentingan tertentu. Derajat pembauran tersebut pun berbeda-beda. Jika di dalam pembauran tersebut berkumpul sejumlah individu yang memiliki kesadaran tinggi terhadap perbedaan, maka pembauran tersebut cukup berpotensi besar masuk ke ruang persenyawaan.

Tampaknya, kondisi potensial inilah yang terjadi dan selalu dipertahankan. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai kebijakan pendidikan, terutama kurikulumnya, yang mengarahkan dan menanamkan berbagai pengertian tentang multikulturalisme, pluralisme, dan berbagai pemahaman atau ideologi yang mendukung ke arah tersebut. Namun, multikulturalisme dan pluralisme tetap merupakan percampuran masyarakat berbasis perbedaan identitas.

Kondisi yang berbahaya adalah ketika dalam ruang percampuran atau pembauran tersebut, seseorang tetap mengalami algoritma ideologis dalam basis agama, suku, ras, dan kelas sosialnya masing-masing. Belakangan ini, hal tersebut masih selalu terjadi dan lebih dimungkinkan, tertutama terjadinya pengelompokan dalam berbagai platform seperti grup WhatsApp, Line, dan sebagainya.

Memang, tidak semua grup-grup tersebut berbasis pengelompokan, meminjam bahasa lama, SARA. Akan tetapi, kita tahu bahwa pengelompokan berbasis SARA tersebut cukup banyak dengan derajat ideologisasi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dimungkinkan terjadi bergantung proses awal pembentukan grup. Jika pada awalnya ada kesepakatan khusus di dalamnya, maka terjadi penyeleksian berbasis SARA dalam memasukkan anggota/individu yang terlibat.

Sebelum maraknya grup-grup berbasis akun di media sosial, masyarakat mengalami pengelompokan dalam berbagai organisasi sosial, politik, dan ekonomi. Seleksi kelompok berdasarkan mekanisme saling kenal secara temu darat. Kini, dengan media komunikasi on line, berbagai kelompok bebas berkomunikasi kapan dan di mana saja. Informasi dan hal-hal lain yang bersifat ideologis dengan cepat dikomunikasikan. Afiliasi-afiliasi yang bersifat politis banyak memanfaatkan ruang-ruang digital tersebut. Peluang konflik luring berpotensi cukup besar, walaupun selalu terdapat mekanisme kontrol yang menunda konflik langsung.

Sebenarnya, cukup banyak tersedia ruang-ruang kehidupan yang di dalamnya terjadi persenyawaan. Sebagai misal ruang atau komunitas berkesenian dan permainan (permainan tradisonal). Hal yang dimaksud dengan ruang persenyawaan adalah ketika individu masuk ke dalam ruang tersebut, identitas lamanya hilang dan individu tersebut memiliki identitas baru yang sama dan setara dengan yang lain. Jika kita memasuki ruang berkesenian, maka seseorang individu menjadi seniman atau paling tidak pekerja seni.

Jika seseorang masuk ke ruang permainan, seseorang menjadi pemain, semua identitas sebelumnya ditanggalkan. Jika seseorang masuk ke ruang olahraga, seseorang menjadi atlet. Memang, olahraga bisa menjadi konflik kalau sudah membawa nama identitasnya masing-masing.

Yang tidak kalah pentingnya terdapat ruang-ruang budaya, seperti kerja bakti dan gotong royong. Artinya, di dalam masyarakat yang bercampur, selalu ada ruang-ruang persenyawaan. Karena, ketika kita kerja bakti atau gotong royong di kampung, kita hanya sesama warga yang terikat kerja sama untuk menyelesaikan sesuatu.

Memang, di ruang internet terdapat berbagai ruang game. Dalam ruang tesebut semua adalah pemain. Sebagai sesama pemain, ada peleburan identitas. Akan tetapi, tetap saja persenyawaan semu. Itu berbeda jika seorang terlibat dalam berbagai permainan yang melibatkan orang banyak yang disediakan secara kultural dalam masyarakat kita. * * *

Tulisan oleh Aprinus Salam(KR, 5 November 2021)
Foto oleh Artem Beliaikin dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin