Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan Jayabaya dalam kitab antara lain Serat Jayabaya Musarar dan Serat Pranitiwakya. Ramalan Jayabaya disinggung juga dalam Babad Tanah Jawi. Ronggowarsito banyak mengadobsi gagasan ramalan Jayabaya. Itu pula sebabnya, kadang Serat Kalatida dan Jaka Lodang dipakai untuk meramal kejadian yang akan datang di Nusantara.

Saya tidak membicarakan apakah berbagai ramalan dalam kitab tersebut benar atau tidak, berhubungan dengan berbagai kejadian di Indonesia apa tidak. Misalnya, pada tahun 1930, Soekarno menyebut Ratu Adil dalam risalahnya Indonesia Menggugat. Dalam risalah tersebut Soekarno menyebut dan berdoa akan datang Ratu Adil di Indonesia yang akan menyelamatkan rakyat Indonesia dari penderitaan. Beberapa tahun kemudian, Soekarno menjadi presiden.

Pemahaman tentang Ratu Adil adalah akan datangnya seorang tokoh (dalam keyakinan agama disebut sebagai Imam Mahdi), yang akan menyelamatkan atau menolong rakyat dari penderitaan, bencana yang menimpa, dan sebagainya. Tulisan ini tidak membicarakan persoalan tersebut, tetapi membicarakan pengunaan Ratu dan Adil itu sendiri, terutama dalam kaitannya dengan politik Ratu Adil.

Dari sejarah dan semantika kebahasaan, pengertian dan penggunaan Ratu tidak dimaksudkan untuk perempuan atau laki-laki. Kata Ratu tidak berjenis kelamin. Kata itu bisa dikenakan untuk laki-laki atau perempuan. Banyak pemimpin pada masa lalu, baik laki-laki maupun perempuan, bergelar Ratu. Ratu diartikan secara umum sebagai pemimpin, kemuliaan, sebagian mengartikannya sebagai kelembutan, kehalusan, bahkan kesantunan.

Tidak dapat dipastikan kapan kemudian pengertian Ratu bergeser menjadi dan dikaitkan dengan pengertian feminin atau keperempuanan. Mungkin sekitar akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kemudian, banyak kata kepemimpinan bergeser menjadi Raja untuk laki-laki, dan Ratu jika perempuan. Pengertian Raja dan Ratu masuk dalam perangkap bias gender. Masih kuatnya budaya patriarki menempatkan kepemimpinan sebagai suatu konteks yang tidak cocok untuk kelembutan atau kehalusan.

Tentu, terdapat desain politisasi gender untuk keperluan politik. Kekuasaan politik digiring untuk percaya bahwa politik identik dengan dunia keperkasaan, kegagahan, atau sesuatu yang macho. Kini, perangkap politisasi gender tersebut menyulitkan untuk membawa kembali bahwa pada dasarnya politik bukan sekedar dunia keperkasaan dan kegagahan, tetapi lebih dari itu adalah dunia kelembutan, kehalusan, dan kesantunan.

Jika politik hanya dikaitkan dengan dunia keperkasaan dan kegagasan, politik berjalan tanpa kesantunan yang memadai. Politik lebih sebagai menang-menangan dengan filosofinya sendiri. Sementara itu, jika politik juga mengakui etik kelembutan, kehalusan, dan kesantunan, politik berjalan secara proporsional. Pertama, kemampuannya membebaskan diri dari bias patriarki. Kedua, adanya keseimbangan antara keperkasaan dan kegagahan di satu sisi, dan kelemautan, kehalusan, dan kesantunan di sisi yang lain.

Persoalan kedua, rakyat sedang menderita atau menghadapi bencana dan akan datang Ratu Adil yang akan menyelamatkan. Ramalan seperti itu sebenarnya sesuatu yang tidak produktif. Dikatakan tidak produktif karena rakyat dibiarkan menunggu, pasif, tetapi tetap memiliki harapan. Hal ini sebenarnya lebih semacam tipuan ideologis. Rakyat dikondisikan untuk bersabar, tidak perlu melakukan aksi dan reaksi, karena Ratu Adil akan datang menolong sesuai dengan waktunya.

Ramalan itu juga telah merendahkan kemampuan rakyat. Seolah rakyat tidak memiliki kemampuan untuk mengubah dan mangatasi situasi menjadi baik. Karena dianggap tidak mampu, maka bersabarlah karena tak lama kagi akan datang Ratu Adil yang akan menolong.

Hal yang lebih parah adalah bahwa ramalan itu seolah mendikte masa depan sesuai yang dimaksud ramalan. Nanti, jika ramalan itu tidak sesuai, akan banyak penjelasan yang membelanya, karena ternyata rakyat tidak sedang menghadapi bencana penderitaan. * * *

Tulisan oleh Aprinus Salam
(KEDAULATAN RAKYAT, KAMIS, 18 NOV 2021)

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin