Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai kw1 atau kw2. Dalam bahasa beliau, bagaimana orang berupaya meningkatkan status sosial, atau berusaha meninggikan citra harga diri dengan biaya yang murah.

Tapi, sebenarnya Bourdieu tidak melihat situasi itu dalam posisi sinis. Semangatnya justru seperti sedikit kasihan bahwa banyak manusia modern dalam tatanan kapitalisme jusru dikonstruksi untuk seolah-oleh memiliki harga diri kelas sosial. Harga kelas itu, terutama untuk dianggap sebagai kelas atas, adalah dengan mengonsumsi dan memiliki berbagai barang yang secara simbolik diketahui berharga dan bermerek mahal.

Berbeda dengan Bourdieu, dulu saya terheran dan penasaran luar biasa bagaimana mungkin seseorang bisa membeli dan mengonsumsi makanan-minuman, barang, dan tempat-tempat mahal. Mungkin waktu itu saya sedikit sinis. Ada dua hal yang menyebabkan saya sinis.

Pertama, orang kok mau diakali oleh nilai-nilai dan simbol-simbol modern dan kapitalisme. Orang kok tidak mau menjadi dirinya apa adanya. Orang kok mau duitnya diberikan kepada mereka para kapitalis yang sudah sangat kaya.

Kedua, mungkin saya sinis karena saya tidak bisa membelinya. Apakah kalau uang saya banyak saya akan membelinya? Mudah-mudahan tidak juga sih. Kalau saya ikut-ikutan membeli, itu artinya saya menelan ludah saya sendiri. Saya merasa tidak ada yang perlu saya perjuangkan untuk meningkatkan harga diri, citra, martabat, atau apapun terkait dengan status sosial.

Sebaliknya, jika ada yang percaya suatu konstruksi nilai bahwa harga kelas sosial berjalan paralel dengan harga diri, silakan saja. Seseorang bisa mengambil sudut pandang dan pengalaman yang berbeda. Selain itu, mungkin saja terdapat di antaranya yang memang punya kelebihan rejeki sehingga membeli dan mengomsumsi benda-benda bermerek tersebut bukan sesuatu yang mahal.

Bagi saya, ada mekanisme lain yang lebih amanah, bagaimana rejeki yang besar disalurkan dengan cara-cara yang lebih produktif bagi ekonomi nasional dan ekonomi kerakayatan. Di samping itu, terdapat mekanisme lain yang lebih relijius yang saya merasa tidak perlu membicarakannya karena sudah cukup banyak disampaikan oleh para ulama.

Tetap saja ada pembelaan, bahwa mereka sudah melakukan itu semua. Kalau itu yang terjadi, Alhamdulillah. Akan tetapi, dalam pandangan saya, mengeluarkan rupiah dalam jumlah yang besar hanya untuk prestise, dan uang itu terakumulasi ke pemilik modal, tetap saja bangsa dan negara Indonesia dirugikan. Sejumlah negara lain sangat ketat mengatur warganya agar tidak membeli barang-barang impor dalam negaranya.

Nah, dalam situasi inilah kemudian saya menjadi maklum dan perlu membela mereka yang tetap ingin punya prestise kelas sosial, tetapi tidak punya cukup uang untuk membeli. Kemudian, kita tahu bahwa teman-teman kita itu tetap membeli barang-barang bermerek mahal tersebut dengan harga sangat murah. Kasarnya, mereka membeli barang-barang palsu, atau kw1, atau bahkan kw2.

Tidak jarang banyak barang bermerek yang harganya terjangkau, yakni dengan kisaran harga 50.000 rupiah hingga 100.000 ribu rupiah, atau katakanlah di atas itu sedikit. Brang-barang itu seperti jam tangan, tas, kacamata, baju dan celana, hingga berbagai asesoris simbolik tertentu. Mungkin sebagian dari barang-barang itu diproduksi di China atau sebagian di tempat lain, atau sebagian buatan dalam negari.

Memang, jika yang membeli sangat banyak, uangnya menjadi besar juga. Akan tetapi, dalam batas tertentu, dengan membeli barang bermerek dengan harga 50.000, itu saya sebut, lumayanlah bisa menipu kapitalisme secara kecil-kecilan.

Itu sebabnya, saya perlu mendukung negara kita membuat barang-barang asli produk Indonesia yang bisa pretise, bahkan jika perlu kw1 dan kw2. Kalau nanti banyak yang beli, uang tidak terlalu banyak yang keluar negeri. Sayangnya, itu belum sepenuhnya bisa terjadi.

Jika Indonesia akan membuat produk kw1 dan kw2, akan banyak benturan peraturan dan berbagai hukum lain yang akan dihadapi. Mungkin sebagian sudah jalan dan berjalan secara bawah tangan.

Sejauh ini negara-negara lain yang membuat kw1 dan kw2 juga tenang-tenang saja. Mungkin karena banyak pendukungnya. Mungkin sebagai cara kapitalisme untuk menutup celah bocoran kecil-kecilan ekonominya. Mungkin juga membuka peluang untuk rakyat yang tidak mampu membeli, dengan cara agar bocoran kecil itu bisa ditutupi.

Kalau tidak itu yang terjadi, maka memang dalam batas tertentu adalah menipu kapitalisme kecil-kecilan. Akan tetapi, jika celah produk palsu itu memang disengaja, maka menipu kapitalisme terbukti sulit. Dalam situasi itu, yang tertipu sebenarnya kita sendiri.

Makanya, tidak perlu mau diakali atau ditipu apa itu yang disebut sebagai harga diri kelas sosial atau apapun yang terkait dengan harga diri. Harga diri itu sungguh mainan penguasa modal yang dikelola sedemikian rupa seolah-olah ada dan kita perlu percaya. Buktikan deh, kita tidak pernah akan menemukan apa itu yang disebut sebagai harga diri. Itu barang yang tidak ada, tetapi seolah-olah ada. * * *

Tulisan oleh Aprinus Salam
Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin