Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan. Orang awam adalah orang-orang yang biasanya dianggap sebagai bagian dari kerumunan.

Karena menjadi orang kerumunan, orang itu dianggap tidak penting, dipandang sebelah mata. Karena menjadi bagian yang hanya sekedar melengkapi, banyak yang tidak tertarik menjadi orang awam. Adanya dan tidak adanya tidak mempengaruhi apa-apa. Suatu pemahaman yang konvensional tidak seksi.

Salah satu hal yang penting dari orang awam adalah orang kebanyakan itu secara dominan memiliki kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif adalah suatu peresepsi dan pengetahuan bersama yang diwariskan secara historis. Kesadaran koleksif perlu diwariskan karena merupakan pengetahuan dan pengalaman yang telah teruji sejarah sebagai pengetahuan bersama.

Dalam sejarahnya, kesadaran kolektif mengalami apropriasi dengan tuntutan dan kondisi alam yang berbeda-beda. Inspirasi-inspirasi yang disebabkan oleh tuntutan alam menimbulkan inisiatif-insisiatif yang berbeda pada keyakinan dan kepercayaan manusia yang diapresiasi secara kreatif untuk setiap ruang yang berbeda.

Sebagai kepercayaan dan keyakinan, salah satu yang penting sebagian disebut sebagai agama, sebagian yang lain disebut sebagai kearifan, norma-norma, dan kebajikan lokal. Sebagian yang lain menyebutnya sebagai pandangan dunia, ideologi, dan sebagainya.

Pada gilirannya, kesadaran kolektif terkonsolidasikan sebagai warisan budaya para pendahulunya (para leluhur dan nenek moyang) sebagai praktik kebiasaan hidup. Dalam kesadaran kolektif itulah orang awam bersemayam, baik disadarinya, dan terutama tidak lagi disadarinya.

Kelebihan posisi ini, peluang orang awam untuk tersesat jauh lebih kecil daripada seseorang yang justru berusaha keras untuk menjadi individualistis dan eksklusif. Jika ternyata posisi dalam dan bersama kesadaran kolektif itu dianggap salah, maka yang salah sangat banyak.

Seorang yang individualis sebenarnya tidak punya pedoman, dan tidak tahu harus ke mana ketika kesadaran kolektifnya ditekan/diabaikan, sehingga seorang individualis akan tersesat sendirian.

Keutamaan lain orang awam adalah mereka tidak dengan mudah teridentifikasi. Kalau ada orang yang justru keberatan dinilai sebagai orang awam, maka orang tersebut justru terkurung atribusi yang justru mengelompokkanya. Pengelompokkan (sekaligus pengurungan) justru tidak membebaskan seseorang untuk berbuat sesuatu yang bisa dengan bebas dilakukan dan dikenai orang awam.

Apalagi jika pengelompokan tersebut dengan sebutan mahasiswa, dosen, ulama, budayawan, seniman, tentara, polisi, dan sebagainya. Profesi dan identitas yang dibuat-buat dalam hierakisasi struktur.

Sungguh menyedihkan ketika seseorang terikat dan terkondisikan dalam atribusi profesi atau kategori pengelompokan lainnya, orang tersebut terpenjara untuk tidak secara leluasa menjadi manusia apa adanya. Menjadi manusia apa adanya yang boleh kelihatan bodoh, boleh tidak tahu apa-apa, boleh terlihat konyol.

Secara umum, orang awam boleh tampil tidak bermutu, karena memang tidak ada hal yang dibebankan kepadanya sebagai satu kualifikasi kualitatif tentang kehidupan. Orang awam justru sangat melonggarkan, bahkan menetralkan apa yang disebut sebagai dunia ideal.

Coba bayangkan, alangkah sulitnya hidup dalam predikasi dosen, ulama, cendekiawan, dan sebagainya. Karena, dalam atribusi seperti itu, orang tersebut harus jaim terus untuk terlihat tampil piawai. Alangkan lelah dan melelahkan hidup seperti itu. Berapa puluh persen kebebasan hidup terampas untuk menjadi manusia apa adanya, manusia awam.

Keberadaan orang awam membebaskan dirinya dari tanggung jawab eksklusif. Kalau suatu bangsa atau masyarakat melakukan kesalahan, sehingga terjadi kekerasan dan konflik, maka secara relatif jarang orang awam disalahkan. Walau mereka terlibat di dalamnya, biasanya orang awam yang terlibat dengan peristiwa tertentu yang tidak menyenangkan, tetapi sebagai orang awam mereka hanya ikut-ikutan.

Sebagai orang yang ikut-ikutan, mereka tidak bisa dipersalahkan. Toh orang awam sangat boleh dan memiliki kebebasan untuk tampil tidak bermutu dan salah. Dalam kondisi itu, hal yang perlu disalahkan dan dilacak sumber masalahnya adalah gagasan-gagasan individualistik dan eksklusif yang memanfaatkan orang awam untuk mencapai tujuannya.

Selain itu, kelebihan orang awam, dia membebaskan dirinya untuk tidak terlihat canggih. Sebagai orang awam, tidak ada tuntutan dalam dirinya untuk tampil tampan, cantik, molek, dan berbagai hal yang dianggap bukan milik orang kebanyakan. Sebagai orang awam, tidak ada keharusan sama sekali untuk tampil sempurna.

Hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah orang awam itu ditempatkan sebagai bagian yang bukan bagian. Sebagai ilustrasi, dalam satu institusi formal ada bagian-bagian fungsional yang menjadi bagian yang merakit sehingga satu perusahaan menjadi perusahaan. Akan tetapi, tukang bersih-bersih, atau office boy, yang membuatkan minuman, dan sebagainya, tidak dianggap sebagai bagian dari institusi.

Memang, ada atribusi dan predikasi yang dilekatkan pada part of no part tersebut. Akan tetapi, sebagai atribusi dan predikasi itu lebih dianggap sebagai “pekerjaan rendahan”. Nah, sebagai orang awam, tidak ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan keberadaannya. Orang awam bisa bekerja apa saja dan di mana saja.

Orang awam dengan gembira menjalani hidupnya walaupun mungkin dianggap tidak penting. Padahal, tidak ada pretensi dalam diri orang awam untuk terlihat penting. Orang yang merasa tidak awam saja yang kurang kerjaan untuk mencari bahwa hidup ini seolah harus menjadi penting. Penting untuk siapa dan mengapa juga tidak jelas.

Masalahnya, sangat mungkin orang awam mendapat tawaran masuk ke ruang eksklusif dengan berbagai identitas, profesi, dan status sosialnya. Sebagai orang awam, sangat mungkin juga tergoda. Namun, nanti akan dirasakannya bahwa ternyata menjadi orang awam jauh lebih nikmat daripada berbagai profesi dan identitas yang menjebaknya.

Orang awam adalah ketika seseorang dileburkan ke dalam satu ruang yang bukan siapa-siapa, tidak ada kepentingan, tidak ada tujuan. Alangkah kerennya hidup menjadi dan sebagai orang awam. * * *

Tulisan oleh Aprinus Salam
Foto oleh Helena Lopes dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin