KALIPA, Kampung Literasi yang Mana?

Kalipa itu kumpulan sejumlah pertemanan dan persahabatan. Mereka bermimpi membuat perkampungan yang diharapkan bisa melakukan berbagai kegiatan literasi. Akan tetapi, awal-awal saya ingin mengatakan bahwa sebaiknya Kalipa tidak memiliki target apa-apa; dan tidak menjanjikan apa-apa.

Kemudian, Kalipa menyewa tanah seluas 3,4 hektar untuk rentang waktu 20 tahun, di daerah Pakem, Sleman. Separuhnya untuk pemukiman, separuhnya untuk fasilitas dan kegiatan publik. Walau baru mulai, atas kebaikan seseorang, dan dihibahkan untuk pemilikan pribadi, di Kalipa ada seperangkat pusaka gamelan, seperangkat wayang, dan sejumlah keris.

Persoalannya menjadi sedikit bermasalah, literasi seperti apa, kegiatan seperti apa, dan mengapa literasi. Di negeri ini, persoalan literasi memang naik daun. Sebagai bangsa, dengan tradisi lisan yang kuat, kolonisasi yang mengkonstruksi perasaan sosial sebagai bangsa yang tertinggal, kemudian modernisasi (dan modernisme), membuat keliterasian bangsa Indonesia tersungkur.

Karena tersungkur keliterasiannya, sebagai bangsa kita bukan bangsa yang cukup memiliki kebiasaan untuk meluangkan waktu berkontemplasi, berdiam diri dan berpikir, membaca, dan menuliskannya sebagai hasil refleksi.

Dalam situasi itu, sebagian orang Islam Indonesia yang punya hobi baca Quran tentu tidak dianggap berliterasi. Pengajian-pengajian yang mengaji kitab-kitab di berbagai pesantren juga tidak dianggap dan tidak dihitung sebagai kegiatan literasi. Padahal, pesantren di Indonesia itu jumlahnya ribuan, pengikutnya juga jutaan.

Dapat diduga bahwa literasi di sini dimaksudkan sebagai kegiatan akademik, membaca dan menulis untuk jurnal dan buku-buku. Itu pun yang dapat diketahui dan tercatat “secara internasional”. Kalau ukurannya internasional, bangsa Indonesia tercatat jauh di bawah. Pada tahun 2015, Indeks literasi Indonesia ada dalam posisi 64 dari 65 negara yang disurvei.

UNESCO tahun 2011 pernah melapor bahwa dari 1000 orang, hanya 1 orang yang berminat membaca buku. Hal ini kemudian dikaitkan bahwa indeks pembangunan manusia tahun 2005 ada dalam peringkat 117 dari 175 negara yang ditinjau. Walau itu data agak lama, kita masih bisa melihat dari kenyataan tersebut, dan sejauh mana data tersebut akan berubah.

Sebagai catatan tambahan, meski sudah 70 tahun merdeka, angka melek huruf kita masih rendah. UNDP merilis, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Sebagai perbandingan, angka melek huruf di Malaysia, mencapai 86,4 persen.

Hal ini terkait dengan pendidikan kita yang masih belum maju. Sebagai gambaran, berdasarkan data UNESCO, Indonesia berada di urutan ke-69 dari total 127 negara dalam indeks pembangunan pendidikan.

Memang, tentu ada kenyataan lain bahwa saya tidak menolak kenyataan masih cukup banyak tulisan dan buku yang terbit. Akan tetapi, keberadaan buku menjadi bagian dari tradisi kelisanan. Buku lebih sebagai ruang kompetisi administratif, prosedur-prosedur ekonomi dan sosial, dan sesuatu yang berbau popularitas.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa, bahkan di ASEAN saja, keliterasian Indonesia tertinggal di belakang. Kualitas buku dan mutu buku Indonesia sejauh ini belum menggembirakan. Apa lagi jika kemudian ukuran buku “bermutu” harus ditulis dalam bahasa Inggris.

Tidak heran jika negara demikian terobsesi melakukan berbagai upaya meliterasikan rakyat Indonesia. Dengan berbagai program yang ramai dan riuh, dengan berbagai kegiatan atas nama literasi, bahkan sangat mungkin negara dan masyarakat justru mengelaborasi kembali tradisi kelisanan.

Tentu tidak ada yang salah dengan kelisanan dan tradisi lisan. Jangan-jangan, sebagai bangsa keunggulan kita ada pada tradisi lisan. Sebagai bangsa dengan tradisi lisan yang dominan, banyak hal telah berjalan dalam ruang-ruang ritual, seni, dan praktik kehidupan keseharian, yang penuh dengan persaudaraan dan keakraban.

Banyak masyarakat Indonesia (nusantara) yang hidup penuh dengan keasyikan, berbalas dan menghadirkan bahasa secara indah, bersenda gurau, dan hidup dengan gembira dalam tradisi laisannya. Hidup di perkampungan berjalan dengan hormoni, acara-acara rutin tradisi lisan tetap berjalan dengan menyenangkan.

Sebagai bangsa yang sangat banyak orang miskinnya, tetapi hidup telah berjalan dengan cukup nyaman. Komunitas-komunitas berkembang dengan keriangannya masing-masing. Untuk mendapatkan kegembiraan dan tersenyum-senyum, ruang-ruang tradisi telah menyediakannya secara jembar.

Namun, justru situasi seperti itu yang tidak dikehendaki oleh suatu kekuasaan dominan. Terdapat suatu sistem kekuasaan yang ingin mengatur segalanya, agar masyarakat tertib, agar warga berdaya guna membangun dan memacu pembangunan; pembangunan masuk ke dunia modern dan bahkan posmodern.

Terdapat kekuasaan dan kekuataan agar masyarakat patuh dan tidak sempat atau tidak boleh gembira. Kekuasaan itu memaksa masyarakat bersaing, berkompetisi, saling berhadapan dengan keras, harus masuk ke dalam sistem internasional yang banyak aturan.

Masyarakat Indonesia dipaksa masuk ke dalam aturan literatif sesuai dengan tuntutan kekuasaan teknologi yang mendukungnya. Tidak heran kemudian, terdapatlah sejumlah aturan main literasi, literasi digital, literasi hukum, ekonomi, peternakan, perikanan, perkebunan, pertanahan, dan ratusan literasi lainnya.

Negara (khususnya pemerintah) tampaknya tunduk dan patuh dengan berbagai tuntutan kekuatan literasi internasional tersebut. Sebagai resikonya, masyarakat menjadi korban peliterasian internasional. Mungkin, Kalipa (Kampung Literasi Pakem) juga sangat terkondisi dengan situasi dominan tersebut.

Namun, dinamika yang terjadi adalah justru persepsi dan idealisme tentang kampung literasi itu sendiri. Kampung literasi yang mana yang paling sesuai, paling strategis, paling idealis, paling ampuh, sesuai dengan standar nasional atau internasional?

Dalam dinamika mendikusikan mana yang paling ampuh tersebut, Kalipa terdorong mendiskusikannya dengan berbagai polemik (tentu secara lisan) yang membuat warga-Kalipa sedikit melupakan kegembiraan, rasa persaudaraan, dan hal-hal indah menyenangkan lainnya. Tidak enaknya, semua atas nama literasi.

Sebenarnya, bukan berarti Kalipa tidak memiliki modal literatif. Sebagian besar warga Kalipa adalah para penulis, dan yang lain bergerak di bidang penerbitan dan percekatan buku. Sebagian yang lain juga bergerak di bidang literasi digital.

Kini, Kalipa menyenggarakan Sayembara Resensi Novel. Diskusi Panggung Literasi Indonesia dan diskusi karya dan buku dalam bentuk kegiatan Kalipa Selasa Sore juga masih terus berjalan. Kalipa juga akan menyenggarakan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan hal-hal literasi.

Namun, muncul juga pengakuan bahwa modal yang dimiliki Kalipa cukup banyak dalam ruang-ruang tradisi lisan dengan segala kapasitas dan kebiasaan-kebiasaan yang dimilikinya. Tidak heran kemudian, Kalipa juga mengekspresikan kembali berbagai tradisi kelisanan tersebut.

Pengakuan yang lain, modal ekonomi Kalipa memang sangat minimal. Namun, sedikit-sedikit kami merasa memiliki modal sosial, budaya, mungkin juga simbolik. Masih perlu kerja keras dan kerja bakti agar suatu ketika Kalipa diharapkan memiliki konversi-konversi yang mengarah pada modal simbolik.

Dalam konteks tersebut, Kalipa sedang mempersiapkan museum dan berbagai kegiatan lain terkait dengan dongeng dan permainan tradisional untuk anak-anak, dan beberapa rencana lain yang akan direalisasikan ke dalam berbagai bentuk kegiatan.

Untuk sementara, Kalipa sudah memiliki pawon dan ruang yang memadai untuk kongkow-kongkow, bisa untuk diskusi, rapat, dan workshop. Bahkan di pawon tersebut disediakan panggung untuk pemanggungan apa saja. Sederhana tapi manis.

Berbagai kegiatan tersebut tentu saja diharapkan bisa melibatkan masyarakat. Saya belum dapat menduga apakah efek dari pelibatan masyarakat tersebut akan dapat disebut sebagai upaya-upaya literatif atau tidak. Kalau ada yang menyebutnya sebagai indeks literasi, biarlah UNESCO saja yang mensurvei dan mengukurnya karena memang itu pekerjaannya.

Secara pribadi, saya cukup acuh dengan penilaian-penilaian bahwa penghadiran tradisi lisan itu seperti kegiatan main-main, ecek-ecek, semacam kelas cepete. Jangan sampai kita lupa bahwa kalau kita cuma omong-mong doang, itulah kelas tradisi lisan yang paling rendahan.

Hal yang penting yang ingin Kalipa (sekali lagi ini tulisan dan suara pribadi) perjuangkan adalah semangat bekerja sama, saling berbagi makna hidup dan pengalaman, saling berbagi rasa sayang dan cinta. Kalipa adalah ruang untuk bergembira, tentu kalau bisa sambil terus berkarya.

Bergembira adalah cara, tanpa terikat dengan berbagai target dan tujuan. Jangan sampai karena banyak target dan tujuan, kita lupa bergembira dan bahagia. Yang ingin bergembira dan berbagi pengalaman, mari bergabung dengan Kalipa. Pintu Kalipa selalu terbuka. Bismillah. * * *


Foto dan Tulisan oleh Aprinus Salam (Tulisan dan Catatan Pribadi)

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin