Hegemoni Kenormalan

Kita hidup dalam suatu situasi dan kondisi yang dianggap normal, atau bisa juga sesuatu yang dianggap normatif. Hal-hal yang dianggap tidak normal (sesuatu di luar nilai-nilai normatif) dianggap aneh, janggal, tidak biasanya, tidak lumrah. Kondisi dan situasi itu biasanya ada yang menolak dan ada yang menerima. Hal tidak normal itu bisa menimbulkan keramaian dan pertengkaran, tetapi sangat mungkin bisa dengan cepat berlalu.

Persoalannya, apa itu yang dianggap normal? Normal, atau kenormalan, adalah hal-hal praktik hidup dan nilai-nilai yang secara turun temurun biasa dipahami dan dilakukan. Awalnya, tentu saja segala sesuatu praktik hidup terkait bagaimana manusia menjalani, mengatasi, dan menyelesaikan kehidupannya. Dalam pewarisan tersebut, terdapat hal yang secara kodrati dilakukan, terutama terkait kebutuhan-kebutuhan naruliah dan mendasar.

Namun, lebih banyak sesuatu menjadi praktik sosial sebagai hasil manusia berpikir dan mempraksiskan kehidupan yang harus dijalani sesuai dengan tuntutan alam dan kondisi keberadaannya. Hal inilah yang kemudian dianggap sebagai konstruksi sosial. Di luar hal kodrati, kita hidup dalam konstruksi sosial tersebut. Tanpa disadari lagi, kita hidup dalam konstruksi sosial yang dianggap normal, suatu hegemoni kenormalan.

Masalahnya, sekarang, batas kodrati dan konstruksi sosial menjadi kabur karena banyak hal yang pada awalnya kodrati juga dianggap (dan ternyata) sebagai konstruksi sosial. Hubungan kelamin beda jenis, yang pada awalnya harusnya begitu, hal itu juga dianggap konstruksi sosial. Orang boleh saja berhubungan kelamin sesama jenis.

Misal lain, soal pakaian, terdapat tanda-tanda atau mode tertentu yang dianggap mana pakaian perempuan dan mana yang laki-laki. Ketika batas kode dan model tersebut dilanggar, maka orang tersebut dianggap aneh, tidak normal. Dulu kalau ada yang pakai masker dianggap lucu dan aneh, seperti menyembunyikan sesuatu. Pada masa pandemi, orang yang tidak pakai masker dianggap nekat dan tidak memperlihatkan sikap yang normatif.

Hal yang terjadi, banyak praktik kehidupan dilihat dari posisi kenormalan. Yang normal adalah yang mengikuti prinsip kebanyakan orang melakukan hal itu. Apalagi jika itu terkait dengan warisan praktik dan nilai-nilai sosial dan budaya. Kita paham, dalam sejarahnya, konstruksi sosial dibidani dan dipelopori oleh mereka yang memegang dan mengontrol relasi-relasi kuasa.

Di dalam hal yang dianggap normal tersebut, terdapat struktur kuasa yang bisa saja bias patriarkis, atau bias nasionalitas, kelas, agama, suku, dll. yang secara inheren terapat kandungan ideologis di dalamnya. Misalnya, kita tentukan ruang kenormalan nasional. Dalam ruang itu, orang yang berpakaian dengan seluruh tubuh tertutup, hingga hari ini kadang masih dianggap aneh. Karena, paling tidak dalam ruang pakaian nasional, pakaian itu belum dianggap pakaian nasional normal.

Secara umum, dalam ruang mayoritas dan arus utama kenormalan, terdapat pihak yang dianggap tidak normal. Pihak yang tidak normal tersebut menjadi korban dan sekaligus tekanan kenormalan. Tekanan dan kontrol itu pun bisa secara spesifik masuk ke ruang yang berbeda-beda. Kalau terkait dengan korban ketidaknormalan etik, mungkin sekedar mendapat sangsi sosial atau sangsi moral.

Akan tetapi, bisa juga ketidaknormalan itu, karena berbagai politisasi ekonomi, politik, teknologi, dan sosial, masuk ke ranah yang dianggap sebagai pelecehan, penghinaan, atau bahkan kriminal bagi kondisi-kondisi dan terhadap pihak yang merasa memegang otoritas kenormalan. Bahkan kondisi itu didukung atau diatur dalam sejumlah undang-undang dan peraturan. Tentu yang membuat adalah yang merasa sebagai penjaga kenormalan.

Pada masa pandemi, tindakan berkurumun atau melakukan keramaian, bisa saja dianggap tidak normal dan bahkan dinilai sebagai telah melakukan kejahatan sosial, ekonomi, atau politik. Hegemoni kenormalan memang tergantung situasi dan kondisi, yakni ketika terdapat sejumlah keharusan yang menjadi kebiasaan. Apalagi jika keharusan dan kebiasaan itu dikontrol oleh undang-undang yang mengikat secara hukum. * * *

Tulisan Oleh Aprinus Salam
Foto oleh Sorapong Chaipanya dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin