Manipulasi Konteks

Hal yang dimaksud dengan manipulasi konteks adalah bagaimana mengemas atau menghadirkan suatu informasi, melaporkan suatu hal, menyatakan suatu peristiwa/kejadian, tetapi disampaikan tidak sesuai-dengan konteksnya. Bahkan, sebagian di antaranya, penyampaian informasi itu dimasukkan ke dalam konteks yang berbeda dengan maksud dan tujuan tertentu.

Kenyataannya, memang tidak ada fakta kejadian/peristiwa yang terjadi lebih dari satu kali atau bisa dihadirkan secara persis sama. Kejadian/peristiwa hanya terjadi sekali dan tidak pernah terulang lagi. Hal itu dikarenakan sebuah konteks melibatkan ruang dan waktu tertentu, perubahan relasi subjek-objek yang terlibat di dalamnya, ekspresi-ekspresi dan suasana, situasi dan kondisi yang tidak pernah sama.

Tujuan suatu peristiwa ditempatkan ke dalam dan sesuai konteksnya, maka sangat mungkin penafsiran terhadap peristiwa tersebut jauh lebih akurat dibanding tidak dalam konteksnya.

Kini teknologi perekaman audio-visual sangat membantu bagaimana suatu peristiwa dilihat kembali dalam konteksnya. Itupun dimungkinkan dari sudut pandang bagaimana teknologi perekaman tersebut digunakan. Masih cukup banyak yang perlu diinvestigasi, dari berbagai sudut pandang yang saling melengkapi, sehingga “kebenaran” terjadinya suatu peristiwa dapat dicari hingga pada titik yang dianggap “paling mendekati kebenaran”.

Kajian-kajian arkeologi dan sejarah sebagian besar berusaha menempatkan kajiannya untuk melihat kembali konteks arkeologis dan sejarah bagaimana peristiwa pada masa lalu terjadi. Akan tetapi, hal itu pun menjadi sulit dikarenakan banyak artefak dan catatan sejarah dihadirkan, pada masanya, telah termanipulasi oleh kuasa tertentu.

Artinya, sudut pandang dari berbagai sisi yang utuh hampir tidak mungkin. Suatu peristiwa terkait dan berhubungan dengan berbagai peristiwa lain, baik dalam hubungan langsung atau tidak. Selain itu, dalam prosesnya, suatu peristiwa sangat mungkin terjadi karena ada manipulasi terhadap berbagai peristiwa/kejadian sebelumnya.

Ujungnya, setiap peristiwa telah terjadi dengan kebenarannya sendiri-sendiri, dan tidak bisa diulang kembali. Suatu kejadian telah berdiri sebagai satu konteks. Penghadiran konteks yang telah terjadi, hadir sebagai konteks yang termanipulasi atau sebagai konteks dalam frame tertentu. Suatu penghadiran konteks, dengan berbagai analisis dan penafsirannya, pun telah berdiri sebagai konteks yang mandiri.

Persoalannya, hal-hal apa saja yang termanipulasi. Pertama, manipulasi awal adalah perubahan konteks ruang dan waktu. Sekecil apapun perubahan ruang dan waktu, penghadiran sebuah konteks menjadi tidak sama. Paling tidak dalam skala waktu, walaupun dalam ruang yang sama, sebagai misal pergeseran waktu 1 jam, maka dalam waktu 1 jam telah banyak hal yang terjadi.

Berbagai peristiwa yang terjadi dalam satu jam tersebut telah dan akan mengubah banyak hal. Jika peristiwa demonstrasi berlangsung dari pukul 8 hingga pukul 12, maka penghadiran kembali peristiwa tersebut pada pukul 13, telah dan akan terjadi sejumlah perubahan. Perubahan tersebut karena kesengajaan ataupun karena ketidaksengajaan (ketidaktahuan).

Perubahan kedua, dan mungkin akan menjadi manipulasi tersendiri yang berbeda dari manipulasi awal, adalah relasi-relasi subjek-subjek dan subjek-objek yang terlibat dan/atau yang dilibatkan dalam peristiwa demonstrasi tersebut. Begitu relasi-relasi berubah, juga karena semakin luasnya ruang-ruang yang memiliki konteksnya sendiri-sendiri, maka banyak peristiwa akan kehilangan “kebenarannya”.

Konstruksi kuasa dan kekuasaan sangat menentukan bagaimana suatu peristiwa hadir dan dihadirkan terkait dengan kuasa struktur. Struktur ruang dan waktu, juga struktur relasi-relasi, secara signifikan ikut menentukan karakter suatu peristiwa. Artinya, suatu peristiwa adalah suatu suatu peristiwa yang telah ternoda.

Maksud, tujuan, kepentingan, dan berbagai hasrat (dan rencana, harapan) tentang kehidupan ikut mewarnai, dan menjadi noda, bagaimana suatu kehidupan terikat dengan hukum-hukum sosial dominan. Dalam konteks ini, hanya hukum alam yang kelak berperan “membersihkan”.

Hadirnya hukum alam bisa dengan aroma “kekerasan”, tetapi sangat mungkin dengan kelembutan yang kita tidak tahu bagaimana hukum alam bekerja. Dalam hal ini, optimisme terhadap kekuasaan hukum alam perlu tetap dipertahankan agar harapan terhadap terjadinya manipulasi konteks yang terus menerus dapat terus dikontrol.

Selain itu, hal yang menarik adalah persebaran manipulasi konteks ke segala ruang yang berbeda-beda. Satu konteks kejadian atau peristwa, dalam ruang yang berbeda, sudah dapat dipastikan mengalami kontekstualisasinya sendiri. Apalagi, di ruang-ruang baru tersebut, keterlibatan subjek dan objeknya dalam kepentingan yang juga berbeda. Perbedaan tersebut menyebab berbagai tafsir menjadi beranak-pinak.

Memang, tidak ada masalah dengan berbagai analisis dan tafsir yang beranak-pinak tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika suatu konteks mengalami politisasi yang mengarah untuk kepentingan-kepentingan kontestasi dan perseteruan.

Berbagai analisis dan tafsir tersebut akan membawa suasana, situasi, dan kondisi ke dalam ruang dan waktu yang berbahaya. Dalam konteks tersebut, akhirnya kita tetap berharap bagaimana hukum alam, dengan permohonan terhadap kelembutannya, bekerja sesuai dengan kehendak hukum alam itu sendiri.

Namun, tentu tidak semua analisis dan tafsir menggiring suasana ke dalam ruang-ruang yang berbahaya. Hukum alam dan sosial masih berjalan dalam keseimbangannya, sehingga banyak manipulasi konteks dapat diketahui dan dibongkar. Juga banyak manipulasi konteks yang digunakan dengan tujuan-tujuan kebaikan.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah subjek-subjek yang mencoba memahami satu peristiwa dalam konteksnya. Subjek-subjek selalu dalam posisi yang tidak stabil, tidak bebas relasi dan kepentingan, dan terikat dalam konstruksi ruang dan waktu yang berbeda.

Alhasil, sebenarnya kita hidup dalam ruang yang telah termanipulasi, dalam ruang yang telah ternoda. Saya tidak menyangkal, bahwa perjuangan hidup kita sebagian dimaksudkan untuk membongkar dan membersihkan berbagai manipulasi tersebut.

Perjuangan kemanusiaan adalah perjuangan memuliakan kehidupan manusia yang bebas manipulasi, sekaligus sebagai upaya membersihkan noda-noda. * * *

Tulisan oleh Aprinus Salam
Foto oleh Maksim Goncharenok dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Uncategorized
Aprinus Salam

Manipulasi Konteks

Hal yang dimaksud dengan manipulasi konteks adalah bagaimana mengemas atau menghadirkan suatu informasi, melaporkan suatu hal, menyatakan suatu peristiwa/kejadian, tetapi disampaikan tidak sesuai-dengan konteksnya. Bahkan,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Konteks dan Individualisasi Humor

(Disampaikan pada Seminar Nasional Budaya Nusantara, Seri 8, Kelakar Nusantara, 25 September 2021) Kita sering menyaksikan beberapa kasus bahwa untuk satu konteks ”teks” yang dianggap

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin