Konteks dan Individualisasi Humor

(Disampaikan pada Seminar Nasional Budaya Nusantara, Seri 8, Kelakar Nusantara, 25 September 2021)

Kita sering menyaksikan beberapa kasus bahwa untuk satu konteks ”teks” yang dianggap mengandung kelucuan, tidak semua orang menemukannya sebagai hal yang lucu. Tidak jarang kita mendapatkannya, dalam kasus itu, ada yang tertawa, ada yang diam saja, ada yang tidak suka, bahkan ada yang marah atau ngamuk.

Kemungkinan lain, unsur-unsur atau bagian-bagian yang lucu dari sebuah teks yang dianggap ada kandungan humor tersebut tidak sama bagi setiap orang. Bahkan kelucuan (seseorang bisa tertawa) terkadang bersifat insidental, tidak direncanakan.  Artinya, suatu humor terikat konteks dan individu seseorang.

Terkait dengan hal itu, ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukan. Pertama, konteks apa saja yang “mengondisikan” suatu teks berpretensi dan berpotensi menjadi lucu. Kedua, hal-hal apa saja yang perlu dilihat terkait terhadap keberadaan seseorang yang bisa mendapatkan kelucuan “suatu teks” atau tidak.

Untuk menjadi suatu teks humor, unsur utama terpenting adalah bahasa (baik verbal, visual, maupun audio-visual). Pada awalnya, keberadaan bahasa adalah sesuatu yang berada di luar manusia. Kemudian, bahasa “ditanamkan” atau diinternalisasi ke dalam diri dan kesadaran manusia.

Memang, adanya humor dibuat oleh manusia. Namun, berangkat dari situasi di atas, keberadaan teks humor yang terbangun dengan dan dalam bahasa, teks homor adalah menjadi sesuatu yang berada di luar, sesuatu yang mandiri atau berdiri sendiri. Sama halnya seperti membuat rumah, rumah pada akhirnya berdiri sendiri sebagai rumah.

Keberadaan teks humor yang mandiri dan berdiri sendiri itu, ia bisa masuk ke dalam berbagai situasi ruang. Dalam kenyataannya, tidak ada ruang yang sama, karena sebuah ruang terikat dengan waktu, tempat, individu (subjek) dan objek yang terlibat di dalamnya, suasana (resmi atau tidak resmi, formal atau informas), dan sebagainya.

Sementara itu, ruang juga terikat dengan strukturisasi banyak hal; seperti struktur ekonomi (kelas), pendidikan, gender, usia, bahkan berbagai ideologi yang bersaing. Hal penting dari proses strukturisasi itu justru ideologi di balik ideologi kelas, pendidikan, gender, usia, kesukuan, agama, bahkan dikotomi lokal global. Singkat kata, ruang adalah satu konstruksi sosial.

Suatu “peristiwa teks humor”, terjadi dalam satu ruang konteks tertentu. Tidak ada yang sama untuk setiap konteksnya.

Manusia, baik sebagai individu atau kolektif, hidup dalam satu ruang tertentu. Berdasarkan logika tersebut, manusia adalah bagian utama yang mengikuti alur dan perubahan-perubahan strukturisasi dan konstruksi sosial. Namun, dalam prosesnya, walaupun individu biasanya sama dalam genre kolektifnya, tetapi tetap tidak sama dalam batas individualnya.

Individu menjadi tidak sama dikarenakan unsur-unsur pengalaman dan konstruksi sosial, meliputi habitus, trajektori, ataupun peristiwa-peristiwa sehari-hari yang dialami yang membangun ke-subjekan-nya tidak sama antara orang per orang. Latar belakang keluarga, kampung halaman, dan kelompok-kelompok pertemanan yang dialami seseoroang menentukan “selera” mana yang lucu dan tidak. Algoritma sosial menjadi sangat menentukan.

Pengalaman hidup yang pahit dan getir mungkin menyebabkan seseorang tidak mudah gembira. Sebagai konsekuensinya, tidak tertarik dengan hal-hal yang dianggap lucu. Ideologisasi dan kecenderungan fanatisme tertentu, juga tidak gembira melihat dunia yang dianggap telah merepresi mereka ke dalam “semacam kekalahan” duniawi.

Dalam perjalanan pengalaman tersebut, kode-kode, hal-hal indeksial, dan simbol-simbol diinternalisasikan. Kemudian, selera humor dan hal-hal yang menjadi lucu mengalami kategori, sifat, dan bentuk yang berbeda. Ada humor yang hanya dikenal dalam keluarga dan komunitas tertentu. Ada humor yang lebih besar dari itu, seperti humor berbasis kesukuan dan bahasa.

Ada juga humor yang menuntut pengetahuan umum yang cukup. Bagaimana teks tentang Presiden Amerika yang dihadirkan secara konyol, dengan pengetahuan yang cukup tentang apa dan bagaimana Amerika, akan menyebabkan masyarakat internasional bisa tertawa. Dalam konteks itu ada logika terbalik yang membuat kejutan menggembirakan.

Artinya, sesuatu menjadi humor (dan lucu) karena “suatu teks” itu ada dalam konteksnya. Jika “suatu teks” tidak dalam konteks, maka kode-kode, indeksial, dan simbol-simbolnya tidak dikenali. Jika tidak dikentali, maka “suatu teks” tidak akan mendatangkan efek (lucu) apapun.

Hal-hal yang dikenali itu dari hal-hal yang bersifat umum dengan logika-logika yang di balik, sesuatu yang menipu, hal tidak lumrah, kebodohan yang menyelamatkan, melecehkan kelebihan atau kegagalan/kekurangan, hingga hal-hal mentertawakan kisah-kisah tertentu, dan lain-lain. Saya tidak merinci hal ini, karena tekanan tulisan ini pada konteks dan individualisasi humor.

Seperti telah disinggung, tentu ada kasus ketika bagaimana “suatu teks” yang dimaksudkan sebagai humor, tetapi tidak dalam konteksnya, dan bisa jadi menimbulkan rasa tidak suka bahkan amarah.  Memang, pada awalnya, “suatu teks” melibatkan hal-hal dalam dalam konteks dan relasi-relasi individual.

Akan tetapi, bisa saja “suatu teks” yang dimaksudkan sebagai humor, namun dihadirkan tidak dalam konteksnya, maka kehadiran “teks” tersebut tidak lagi menjadi humor dan tidak ada kelucuan di dalamnya. Jika ada seseorang yang di luar konteks tersinggung,  sangat mungkin individu tersebut mempersoalkan “suatu teks” tersebut sebagai masalah kolektif. Sebagai misal, kasus itu dianggap sebagai penistaan agama atau penistaan kesukuan. Hal itu akan menjadi berbahaya. Hal ini akan didiskusikan di lain kesempatan. * * *

Tulisan Oleh Aprinus Salam
Foto oleh Alexandr Podvalny dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Uncategorized
Aprinus Salam

Manipulasi Konteks

Hal yang dimaksud dengan manipulasi konteks adalah bagaimana mengemas atau menghadirkan suatu informasi, melaporkan suatu hal, menyatakan suatu peristiwa/kejadian, tetapi disampaikan tidak sesuai-dengan konteksnya. Bahkan,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Konteks dan Individualisasi Humor

(Disampaikan pada Seminar Nasional Budaya Nusantara, Seri 8, Kelakar Nusantara, 25 September 2021) Kita sering menyaksikan beberapa kasus bahwa untuk satu konteks ”teks” yang dianggap

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin