Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak mendapat kesempatan memiliki cukup modal dalam hidupnya. Padahal, keberadaannya penting untuk menyangga keradaan sosok-sosok yang menjadi tuannya.

Sejarah keberadaan budak di setiap lokal-lokal berbeda-beda. Ada yang berdasarakan keturunan, berdasarkan warna kulit, atau mereka yang kalah perang. Dalam praktiknya, bahkan budak tidak lebih seperti barang yang bisa diperjualbelikan. Sebagai barang, budak boleh diperlakukan sebagai benda. Sebagai benda, budak hanya berharga sejauh bisa memberikan keuntungan, kenikmatan, pelayanan, dan hal-hal seperti itu.

Persoalannya adalah jika tidak ada budak apakah bisa ada tuan? Apakah menjadi tuan karena harus ada budak atau menjadi budak karena ada tuan? Siapa yang posisinya menjadi bergantung? Siapa melayani apa

Dikatakan bahwa budak setara dengan benda-benda atau barang-barang. Logika itu juga ingin mengatakan bahwa budak setara dengan benda-benda pemilikan lain seperti hewan piaraan atau barang-barang koleksi. Kalau kita melihat praktik dan pelaksanaan sehari-harinya, siapa melayani apa.

Kalau ada orang memelihara burung, siapa yang sibuk melayani apa. Orang itu menjadi sibuk memandikan, memberi makan, dan mengajarkan untuk melakukan aktifitas seperti yang diharapkan. Siapa tuan siapa budak? Siapa melayani apa?

Hal yang sama jika ada yang suka koleksi keris, atau berbagai benda antik/koleksi lainnya. Keris membutuhkan ritual-ritual. Walaupun mendapat “kenikmatan”, pemilik keris menjadi sibuk mempersiapkan ritual njamas (jamasan) misalnya. Keris secara khusus memerlukan perlakuan khusus.

Memang, yang namanya hobi kita menjadi asik dan mendapat kenikmatan dari proses menjadi pelayan, atau kasarnya, menjadi budak untuk mendapat kenikmatan tersebut. Dalam konteks ini, benda-benda menjadi subjek atau bahkan tuan yang mendatangkan kenikmatan.

Kembali ke sosok manusia yang dianggap budak. Kini, tentu kita agak mengalami kesulitan untuk menemukan sosok budak dalam pengertian tradisionalnya. Berbagai perubahan nilai telah semakin membawa kesadaran bahwa manusia itu pada dasarnya setara sesama manusia.

Masalahnya berikutnya adalah manusia tidak pernah merasa lengkap (utuh) pada dirinya jika tidak menggapai hasrat, impian, mimpi, atau bahkan fantasinya. Manusia akan terus berusaha untuk menggapai tersebut. Bekerja keras agar bisa kaya. Dalam kontes itu, banusia menjadi budak pekerjaannya.

Jika diperluas, muncullah beberapa istilah seperti bucin (budak cinta), budak seks, budak popularitas, budak harta, dan sebagainya. Bahkan manusia rela menghamba, menjadi budak untuk mendapatkannya. Manusia menjadi budak akan fantasinya sendiri.

Banyak dari kita kadang-kadang tidak tahu bahwa fantasi tersebut tidak akan bisa dipuaskan, tidak akan tercapai, karena fantasi tidak lebih sebagai suatu keberadaan yang mengarah pada Kenyataan yang memang tidak/belum terbahasakan. Yang akan dicapai tidak lebih satu situasi dan kondisi simbolik yang semu.

Itulah sebabnya, kadang kita pun akan sangat menyangkal bahwa kita telah menjadi budak untuk kondisi dan situasi tersebut. Secara kultural, atau setiap kebudayaan memiliki caranya sendiri untuk “menetralisir” situasi tersebut dengan mengatakan “biarkan hidup mengalir saja”.

Kemudian, kita seolah bisa menerima pernyataan tersebut bahwa orang tersebut telah berjalan secara hormonis dengan kondisi dan keadaan “alamiahnya”, bahkan keadaan sosial dan kulturalnya untuk dibebaskan dari kondisi-kondisi menjadi budak pada dirinya.

Pernyataan itu sebenarnya lebih sebagai tipuan terhadap diri sendiri. Semakin seseorang menyangkal bahwa dia masih diam-diam menjadi budak fantasinya, semakin dia akan semakin sering mengatakan bahwa hidup ini mengalir saja. Persoalannya, mengalir ke mana?

Mengalir secara sosial? Apa ujung atau muara dari hal sosial. Mengalir secara kultural? Apa muara dari hal kultural.

Dalam kondisi tersebutlah kadang perlu juga pengertian bahwa baik hal sosial maupun hal kultural diintegrasikan atau diharmonisasikan, dan sekaligus sebagai pengakuan, terhadap hal-hal Kenyataan (The Real) yang belum atau tidak terbahasakan. Kita perlu mengakui keterbatasan kita dalam semesta Ketidakterbatasan.

Berangkat dari pengakuan keterbatasan tersebut, kita masih berpeluang untuk tetap mengaku menjadi budak, yakni membudak atau menghamba pada sesuatu yang Tidak Terbatas. Kalau itu yang terjadi, maka pengakuan bahwa kita memang hanya menjadi budak, menghamba pada Keberadaan Tidak Terbatas, barangkali terasa lebih elegan.

Kemudian, biarkan hidup kita tetap mengalir pada hal Tidak Terbatas, yang kita memang tidak tahu di mana muaranya. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Uncategorized
Aprinus Salam

Manipulasi Konteks

Hal yang dimaksud dengan manipulasi konteks adalah bagaimana mengemas atau menghadirkan suatu informasi, melaporkan suatu hal, menyatakan suatu peristiwa/kejadian, tetapi disampaikan tidak sesuai-dengan konteksnya. Bahkan,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Konteks dan Individualisasi Humor

(Disampaikan pada Seminar Nasional Budaya Nusantara, Seri 8, Kelakar Nusantara, 25 September 2021) Kita sering menyaksikan beberapa kasus bahwa untuk satu konteks ”teks” yang dianggap

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin