Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak lupa persis tahunnya). Menurutku, masih cukup banyak yang lebih lumayan mainnya dibanding Nia. Bisa juga kualitas sinetron kita secara umum tidak cukup bagus sehingga kinerja Nia sebagai pemain sinetron tidak terdongkrak.

Entah karena terkenal, entah karena memang cantik, entah karena memang jodoh sih, kita tahu, kemudian Nia dinikahi oleh Ardi Bakrie, putra seorang konglomerat dahsyat. Paling tidak saya, setelah itu, hampir tidak pernah lagi mendengar kiprah dan kegiatan hidup Nia.

Tapi, tentu dapat dibayangkan bahwa Nia hidup dalam kemewahan, bergelimang harta dan kenikmatan, dan sangat mungkin berselimut kebahagiaan. Waktu itu, saya mengatakan ke beberapa teman sambil nongki dan minum kopi, “Yah, nasib orang berjalan sesuai dengan rezeki dan nasibnya sendiri-sendiri. Semua sudah ada yang mengatur.”

Tentu ada sedikit referensi dalam benak saya. Bahwa kekayaan, popularitas, ketampanan, kecantikan, kecerdasaan, bahkan kebahagiaan, tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa menjamin berjalan secara bersamaan dalam hidup seseorang. Manusia, tidak lebih menjalani, yang mati dan jalan hidupnya, bahkan manusia tidak tahu kisah seperti apa yang akan dijalaninya beberapa jam ke depan.

Di luar itu, bagi saya, kisah Nia lebih daripada sebuah sinetron atau fiksi yang berkilau. Selintas, banyak juga yang bermimpi menjadi Nia-Nia atau menjadi Ardie-Ardie. Selintas, ada juga yang tahu diri, dan tidak berani bermimpi. Dengan kebahagiaan dan kecemasan, hidup tetap berjalan sesuai proporsinya masing-masing.

Sebuah kisah selalu ada kandungan makna dan berbagai pesan di balik kisah itu. Selama ini, saya banyak bergerak untuk menganalisis berbagai kisah fiksional. Kadang saya berpikir, kisah fiksional bahkan terasa lebih dahsyat dibanding kisah-kisah faktual yang bisa dan biasa kita lihat dan dengar.

Dulu, saya pembaca novel-novel Sidney Sheldon. Di antaranya yang masih saya ingat antara lain The Other Side of Midnight (1973), The Bloodline (1977), Rage of Angels (1980), dan Master of the Game (1982). Kisah perjalanan hidup yang sangat mengharu biru dan luar biasa menghunjam dalam ingatan saya. Hingga saya berkesimpulan mungkin tidak ada orang atau manusia yang mengalami hidup seperti tokoh-tokoh novel Sidney Sheldon.

Novel Sheldon banyak dibicarakan, menggemparkan dunia. Tidak banyak yang mempersoalkan apakah itu novel populer atau serius. Mungkin pembicaraan itu tidak penting dan tidak menarik. Namun, sebuah fiksi tetap sebuah fiksi. Banyak yang bisa kita pelajari dari sebuah fiksi. Jika fiksi tidak bisa dijadikan bahan pelajaran tentang kehidupan, fiksi akan bangkrut dengan sendirinya.

Kisah Nia sangat berbeda dengan kisah fiksi apapun. Dari Nia, kita belajar tentang fakta kehidupan yang memiliki daya terjang terhadap fiksi dan fakta yang lain. Fiksi memiliki daya jelajah yang jauh dalam membongkar kejujuran dan kebohongan manusia. Namun, fiksi tidak mampu menerobos fakta-fakta kehidupan, atau mungkin memang bukan tugas fiksi.

Melawan fiksi karena Nia membantu kita menjelaskan tidak ada fiksi yang bisa menampung kompleksitas faktual yang dialami Nia.
Saya pernah membayangkan bahwa hanya fiksi yang bisa menggambarkan kisah bencana yang hebat. Akan tetatapi, setelah saya melihat bagaimana tsunami Aceh 2006 terjadi, maka bayangan saya tentang kehebatan fiksi sedikit memudar. Beberapa fiksi yang saya baca tentang bencana alam, terasa sedikit hambar jika dibandingkan tsunami Aceh.

Terbuka dan terpublikasinya kehidupan Nia, hingga ternyata ia diketahui seorang yang menikmati narkoba, Nia bukan saja seperti sedang melawan fiksi, tetapi sekaligus juga melawan fakta-fakta yang lain.

Karena fakta Nia orang terkenal yang kaya raya keren, banyak fakta lain yang harus dibenturkan, seperti jaringan narkoba, kinerja aparat kepolisian (dan kelak aparat kejaksaan), relasi-relasi penguasa dan pengusaha, dan lembaga-lembaga yang terkait dalam jaringan-jaringan ekonomi dan politik.

Jika tempo hari saya tidak terlalu kagum dengan Nia sebagai pemain sinetron dan istri orang kaya, sekarang saya baru mulai kagum padanya. Saya kagum karena ternyata Nia sabar, cukup santun, dan tidak lebay menghadapi masalah yang dihadapinya.

Saya optimis, dia akan menghadapi masalah ini secara sportif dan beretika. Mudah-mudahan, cara sportif dan etis tersebut sebagai bentuk syukur Nia atas kenikmatan hidup yang telah dan akan dijalaninya. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Modal Orang Awam

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

(BER-)KELAKAR

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih

Read More »
Sosial dan Politik
admin

Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin