Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial, budaya, dan sebagainya. Intinya adalah kesepakatan simbolik dengan implimentasi dan implikasi yang berbeda-beda.

Pada ranah politik kita sepakat bersama-sama hidup bernegara dan berbangsa, sepakat ada pemerintah yang mengatur, sepakat dengan berbagai keputusan politik lainnya. Di bidang ekonomi kita sepakat ada mekanisme transaksi yang diakui dan yang diresmikan. Uang, dalam berbagai parameternya, menjadi titik pertemuan kesepakatan.

Di bidang hukum kita sepakat ada yang dilegitimasi berbagai aturan yang mengikat kita untuk menjadi negara hukum. Jika kita melanggar kesepakatan (konsensus) yang telah ditentukan oleh hukum, kita akan menghadapi persoalan hukum, bisa jadi dinyatakan bersalah dan mendapatkan sanksi. Di bidang sosial kita sepakat terhadap berbagai norma sosial. Kita sering merasa bersalah jika melanggar kesepakatan yang menjadi norma sosial.

Bahkan untuk hal-hal yang lebih teknis, berbagai bentuk permainan, pertandingan, dan berbagai aktifitas dalam praktik kehidupan, semuanya bisa berjalan karena ada prosedur dan aturan kesepakatan yang diakui untuk diikuti dan dipatuhi bersama. Berbagai praktik kebudayaan berjalan atas berbagai kesepakatan tersebut.

Tentu, tidak mudah untuk mendapatkan kesepakatan. Tidak mudah sepakat bernegara NKRI. Tidak mudah memilih pemerintah yang akan dimandatkan untuk berkuasa mengatur kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Tidak mudah mengakui, apalagi mengikuti, ada pihak yang berkuasa mengatur dan menegakkan kesepakatan. Walaupun pihak yang berkuasa tersebut juga terikat dengan kesepakatan.

Sebaliknya, sebagai pihak yang diatur oleh kesepakatan tentu juga tidak mudah. Kadang, tidak semua kesepakatan, kita terlibat dan “pernah” menyetujuinya. Mungkin, dalam proses mendapatkan kesepakatan tersebut, terdapat pihak-pihak yang menggunakan kekuasaannya untuk memaksakan konten kesepakatan yang terimplemtasikan dalam berbagai UU dan berbagai Peraturan.

Namun, substansi terpenting dari mendapatkan kesepakatan (konsensus) adalah proses demokratisasi itu sendiri. Dalam suatu bangsa yang tidak bisa keluar dari struktur kenegaraan dan struktur kemasyarakatan, tidak pelak hierarki berbasis kelas, agama, gender, suku, dan ras tidak dapat diabaikan begitu saja. Kekuasaan struktur yang hierarkis tersebut bahkan telah “mengatur” banyak hal dari proses awal mendapatkan konsensus.

Dalam prosesnya, berbagai pihak yang merasa tidak mendapat keadilan dalam konsensus tersebut berhak terus berjuang dalam cara-cara yang kritis. Cara-cara yang kritis tersebut tentu bukan berarti mengabaikan atau meniadakan kaidah kesepakatan lain terkait dengan persoalan kesepakatan norma sosial, hukum, dan nilai-nilai etika peradaban.

Hal memperjuangkan itulah yang dimaksud dengan langkah-langkah strategis memaksimalkan kesepakatan. Artinya, dalam konsensus yang telah berjalan, selayaknya terdapat pengakuan (baca kesepakatan) terhadap proses dan ajakan disensus. Inilah hal terpenting dari proses demokrasi. Jangan sampai mereka yang menggelorakan disensus justru mendapat ancaman atas nama konsensus, atas nama kesepakatan mayoritas.

Memang, sikap disensus dapat saja mengatasnamakan kebebasan atau Hak Asasi Manusia (HAM). Atas nama kebebasan dan HAM, kemudian subjek disensus bertindak, berperilaku, atau berkata-kata dengan tidak mempertimbangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Karena, nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan justru di atas atau bahkan di luar kesepakatan, yang dengan cara berbeda juga diperjuangkan oleh suatu konsensus.

Artinya, kesepakatan (konsensus) yang sedang kita praktikkan, dalam cara yang terbatas dan bahkan membawa cacat bawaan (karena lahir dari struktur yang timpang), secara substansial juga sedang memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Itulah sebabnya, dalam kondisi dan situasi yang tidak mungkin memuaskan semua warga, konsensus tetap layak dihargai.

Hal penting yang perlu disepakati adalah memaksimalkan kesepakatan masih sangat dimungkinkan dengan membolehkan dan menghargai berbagai sikap disensus. Di luar adanya ambisi-ambisi kekuasaan, sebenarnya niat kita sama, yakni memperjuangkan keadilan dan menjunjung harkat dan martabat manusia. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Modal Orang Awam

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

(BER-)KELAKAR

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih

Read More »
Sosial dan Politik
admin

Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin