Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte Allah. Manusia memang diberi kesempatan oleh Allah untuk berdoa dan Insyaallah dipenuhi dengan cara Allah. Allah tidak terikat dengan apapun. Namun, tetap saja terdapat doa-doa yang konyol.

Suatu hari, ketika masih remaja, saya melihat sebuah mobil bagus di jalan. Karena terpesona, saya berdoa “Ya Allah, mbok suatu ketika saya diberi kesempatan memiliki mobil sebagus itu”. Sebetulnya saya sudah cukup punya bakat sopan, dengan adanya kata mbok. Dengan adanya ada mbok itu, permintaan saya sebenarnya sedikit tidak memaksa.

Kini, saya tahu doa seperti itu termasuk doa konyol. Kalau dipenuhi, seolah-seolah doa saya mustajab. Saya akan besar kepala. Namun, akan ada pihak-pihak yang cemburu melihat mobil saya berseliweran di jalan. Artinya, ada pihak yang tidak bahagia atau tidak begitu suka dengan kehadiran mobil saya di jalan. Doa saya, jika dikabulkan, ada yang melihat dengan perasaan menderit.

Tapi, jika tidak terpenuhi, seolah-seolah Tuhan tidak memenuhi janji-Nya yang akan mengabulkan doa-doa. Pengetahuan ini sungguh keterlaluan dan bodoh. Manusia tidak pernah tahu bagaimana Allah mengabulkan permintaan atau doa-doa manusia yang mempercayai keberadaan-Nya. Kehendak Allah bebas dari kehendak manusia.

Suatu hari yang lain, juga ketika masih remaja, saya pernah berdoa jika diperkenankan mendapatkan istri yang cantik. Sekarang, saya tahu doa itu juga termasuk doa yang konyol. Jika saya mendapatkan istri cantik, saya pasti senang dan merasa hebat. Tapi, akan ada keluarga yang tidak gembira melepaskan anaknya yang cantik untuk menjadi istri saya. Lah, memang saya siapa kok menuntut mendapatkan istri yang cantik.

Mungkin, kita juga pernah berdoa siapa yang menjadi presiden kita, atau siapa yang menjadi gubernur atau bupati. Hal ini bahkan sering dipertontonkan secara publik. Sekali lagi, walau penggunaannya tidak sama, kata Rhoma Irama, terlalu.

Jika ada tiga calon presiden, maka akan ada tiga kelompok kepentingan yang berdoa dengan permintaan presiden yang berbeda. Jika calon XY yang menang, akan ada satu pihak yang gembira, dan dua pihak yang susah. Jika ada 9 calon bupati, jika salah satu bupati yang menang, maka akan ada 8 pihak yang tidak gembira karena merasa doanya tidak dikabulkan. Mungkin pihak yang doanya tidak dikabulkan akan menyalahkan banyak hal, termasuk Tuhan.

Apakah kemudian Allah hanya mengabulkan doa satu pihak dan tidak mengabulkan doa pihak yang kalah. Pikiran seperti itu pun sungguh tidak bermutu dan konyol. Sekali lagi, semua doa dipenuhi cengan cara Allah yang kita tidak pernah paham atas kehendak dan skenario-Nya.

Memang, kita tetap perlu berjuang dengan tetap berdoa. Karena hanya itu posisi yang dimungkinkan. Akan tetapi, doa-doa yang yang “seolah” dengan pilihan-pilihan sesuatu dengan kemungkinkan kita diuntungkan, itu sungguh memalukan. Doa seperti itu seperti tidak bersyukur atas rahmat Allah yang kita selalu diberi secara cuma-cuma terus menerus.

Sudah diberikan secara cuma-cuma, gratis, dan terus menerus, eh masih meminta-minta dengan pilihan-pilihan duniawi yang jika Allah tidak mengabulkan, seolah Allah tidak mau mendengarkan doa-doa hamba-Nya.

Kita seolah sok tahu bahwa jika doa kita dikabulkan, seolah itu yang terbaik untuk kita. Kita tidak pernah tahu bahwa jika doa kita tidak dikabulkan, itu justru dikabulkannya doa kita dengan cara lain. Bahwa jika doa kita dikabulkan, justru hal itu tidak baik buat kita. Hanya Allah Yang Maha Tahu.

Tentu saja tetap ada doa yang baik. Doa kepasrahan atas Kehendak Allah yang terbaik buat kehidupan mahkluk-Nya. Bagaimana pun Allah Yang Maha Terbaik, dan dia akan memtuskan segala sesuatunya sebagai Hal Terbaik. Kita tidak pernah mampu menjangkau pengatahuan Allah yang tidak berbatas.

Jadi, jangan sok tahu dan merasa pintar dengan berbagai analisis yang seolah-olah canggih. Padahal, itu tidak lebih cuma memperlihatkan kekonyolan. Apa pun yang terjadi pada masa-masa di depan kita, kita tidak pernah tahu. Kita hanya bisa menduga-duga dengan banyak keterbatasan.

Doa kita terpenuhi atau tidak, semata-mata karena Allah Maha Berkehendak. Bagaimana pun, kita tetap berhak berdoa dan berharap. Kalau tidak berdoa dan berharap, ya rugi juga dong, karena mungkin itu yang bisa kita lakukan. Karena, kita juga berhak untuk tetap konyol. Yongallah. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Modal Orang Awam

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

(BER-)KELAKAR

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih

Read More »
Sosial dan Politik
admin

Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin