Doa Brengsek

Sambil duduk santai, ngerokok dan ngopi, kembali iseng-iseng mendengarkan pengajian Gus Baha. Kebetulan temanya soal doa. Beliau mengatakan doa terbaik tentu saja seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Doa diampuni dosa, terhindar dari api neraka dan bisa masuk sorga, termasuk doa yang normatif.

Doa bisa bertemu dengan Allah, merupakan doa yang khusus dan istimewa. Yang menarik, Gus Baha memberikan beberapa contoh doa yang, secara eksplisit dan guyon-guyon, dia katakan sebagai doa kriminal.

Karena saya bukan wali, saya belum cukup punya ketegaan untuk ikut-ikutan menyebut sebagai doa kriminal. Saya cukup mengatakannya sebagai doa brengsek.

Dalam praktik kehidupan, secara kultural dan sosial (bahkan ekonomi dan politik), sejak dini kita sudah ditanamkan untuk bercita-cita. Zaman-zaman dulu, kita diajarkan untuk menjadi sastria atau pahlawan.

Pernah suatu periode, ketika pelayaran maritim akrab dengan masyarakat Indonesia, cita-cita orang Indonesia ingin menjadi nakhoda. Bisa pergi jauh-jauh keberbagai pelosok. Tak pelak, dalam doa pun tersebutlah cita-cita atau harapan tersebut.

Ketika dokter dan insinyur berjaya, maka sebagian dari kita pernah bercita-cita menjadi dokter atau insinyur dan terucapkan dalam doa-doa. Ketika pesawat mulai berterbangan, maka banyak pula yang ingin jadi pilot. Paling tidak saya pernah bercita-cita jadi pilot. Kok kayaknya hebat sekali bisa terbang tinggi.

Ada juga doa normatif lain yang banyak disukai, yakni bisa diberi kesempatan untuk mengabdi pada bangsa dan negara, mengabdi pada agama, mengabdi pada orang tua. Ini cita-cita yang abstrak dan multi-tafsir.

Kadang, brengseknya ada ditafsirnya. Dalam arti, dengan cara apa dan bagaimana yang namanya mengabdi itu. Belakangan, banyak yang buat status mengabdi itu ditafsirkan sebagai “sedang melaksanakan tugas negara”. Padahal, ternyata cuma presentasi proyek tertentu.

Cita-cita yang masuk dalam doa seperti itu, masih termasuk doa yang biasa-biasa saja. Asal, dalam merealisasikan cita-cita tersebut, tidak mengorbankan dan tidak merugikan pihak lain. Cita-cita tidak boleh menghalalkan segala cara, apalagi sampai melakukan hal kriminal.

Zaman dan harapan-harapan terus berubah. Kini, cukup banyak orang yang bercita-cita menjadi pejabat, menjadi bupati, menjadi anggota DPR, pengusaha atau menjadi orang kaya. Ada juga yang berdoa agar partai politiknya menang. Dengan harapan, kalau jagonya menang, kelak bisa terpilih menjadi salah satu orang penting dalam jajaran kekuasaan pemenang pemilu.

Pernah kita saksikan, seorang yang cukup punya nama berdoa, di ruang publik, agar Allah memenangkan salah seorang presiden. Kalau tidak menang partai yang didoakan tersebut, maka siapa yang akan menyembah Alllah di negara yang mayoritas muslim ini.

Doa seperti itu sungguh doa yang sangat bernafsu karena terlalu memaksakan kehendak pirbadi atau partai. Di balik asumsi doa tersebut, doa itu tidak percaya begitu banyak orang yang masih bersemangat dan dengan gembira menyembah Allah siapa pun pemenang pemilu. Itu sungguh doa yang kriminal karena mengatur dan mengabaikan rencana Allah yang Maha Berkehendak.

Seseorang, yang katanya ulama, bahkan pernah berdoa agar Tuhan memberi penyakit dan memampuskan tokoh politik yang sedang dilawan dan mungkin dibenci ulama tersebut. Itu sungguh doa kriminal yang brutal. Bukan saja seperti mengatur kewenangan Allah, tetapi seperti mengajak Allah berbuat tidak baik.

Di lain sisi, sebagai misal, kita berdoa diberi kesempatan menjadi orang kaya dan memiliki perusahaan besar dengan jumlah 1500 karyawan. Ini termasuk doa brengsek yang tidak tahu diri. Tuhan seolah perlu menganggurkan 1500 orang agar bersedia dan “terpaksa” menjadi karyawan perusahan kita.

Seperti juga dicontohkan Gus Baha, sebagai misal kita berdoa “Ya Allah, jika saya kaya, kekayaan saya sebagian akan saya sedekahkan untuk yayasan anak yatim piatu. Ini juga doa brengsek dan konyol. Pertama, kita baru bersedekah jika kita telah kaya dan sukses. Kedua, Allah perlu meyatim-piatukan sejumlah orang agar kita kelak menyumbang yayasan yatim piatu tersebut.

Artinya, banyak cita-cita atau harapan dalam doa kita, berpotensi brengsek dan kriminal. Mari kita tetap berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Namun, jika mungkin, dalam berdoa tersebut jangan sampai mengatur Allah, jangan sampai ada pihak-pihak yang seolah perlu menjadi korban. Hanya Allah Yang Maha Tahu. * * *

Tulisan oleh Aprinus Salam
Foto oleh Rodolfo Clix dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Modal Orang Awam

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

(BER-)KELAKAR

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih

Read More »
Sosial dan Politik
admin

Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin