Yang Maha Menghibur

Belajar kepada Gus Baha, satu hal yang ingin saya simpulkan (mohon maaf jika tidak pas), adalah bahwa Allah itu sesuatu Yang Maha Menyenangkan. Akan tetapi, di balik itu, yang juga sangat penting adalah Yang Maha Menghibur. Sebagai mahkluk yang serba bergantung pada-Nya, jika merasa dimiliki dan memiliki-Nya, kita perlu punya perasaan disenangkan dan selalu terhibur.

Dalam sebuah dialog spiritual, seorang Wali dengan Pangeran (demikian Gus Baha cukup sering menyebut), Wali tersebut berdoa jika dalam hidupnya dihindari dari berbuat dosa/maksiat. Pangeran menjawab, jika doanya dikabulkan, maka wewenang-Nya sebagai Yang Maha Mengampuni bisa nganggur alias percuma.

Pangeran tidak terlalu suka jika manusia hanya mengingat dosanya. Dalam hal tersebut, seolah kita tidak pernah berbuat kebaikan sedikit pun. Pagi hari sempat sujud, sempat mengucap bismillah dan alhamdulillah, itu persembahan yang tidak mungkin tidak tercatat. Tidak ada kebaikan yang cuma-cuma dan terlupakan. Maka, hari telah dibuka dengan gembira.

Jika dalam qolbu kita telah terucap dan bersemayam kalimat laillahaillallah, tak mungkin kelak api neraka menyentuh tubuh kita yang memiliki kalam Allah tersebut. Karena neraka, sebagai mahkluk Tuhan, juga terikat dengan fikih. Tak mungkin neraka melanggar hukum Pangeran.

Selanjutnya, Gus Baha juga mengingatkan kita bahwa pada dasarnya masuk neraka itu lebih sulit daripada masuk surga. Dulu asal kita dari surga, dan dititipi kunci surga untuk kelak kembali ke tempat itu. Sementara itu, kita tidak pernah tahu dan tidak memiliki kunci neraka.

Pangeran itu Sesuatu yang tidak diketahui. Dalam jangkauan yang sangat terbatas, Pangeran butuh diketahui. Itulah sebabnya, Dia menciptakan mahkluk untuk mengetahui-Nya. Semua hal Dia berikan kepada mahkluk-Nya sebagai sarana untuk dinikmati dan sekaligus sebagai cara untuk bersyukur.

Allah adalah sesuatu Kepastian. Sebaliknya, mahkluknya adalah sesuatu yang serba tidak pasti. Tidak ada yang boleh memastikan segala sesuatu selain Pangeran. Dalam ketidakpastian tersebut, Allah selalu menghibur makhluknya dengan berbagai kenikmatan.

Dalam hal tersebut, lebih banyak kenikatan halal daripada kenikmatan tidak halal. Kenikmatan yang mendatangkan kebaikan lebih (keberkahan), daripada kenikmatan yang justru membuat kita tidak bahagia. Tidak ada manusia yang gembira ketika berusaha mendapatkan kenikmatan yang tidak berkah.

Lantas, mengapa kita tidak terhibur dengan kenikmatan halal? Kenikmatan makan dan minum, kenikmatan mendengarkan hal-hal indah dan baik, kenikmatan melihat sesuatu yang dahsyat dan menarik, kenikmatan merasakan keterharuan, hingga kenikmatan syahwati.

Akan tetapi, kenapa kita masih mencari-cari kenikmatan dan hiburan lain yang justru lebih sulit didapatkan? Kenapa kita masih mencari hiburan lain yang bahkan perlu membayar dengan harga mahal? Sementara, hiburan gratis yang lebih asyik sering kita abaikan.

Dalam filsafat bahasa, juga sastra dan ilmu sosial, terdapat konsep yang disebut The Real. Sesuatu yang biasanya diartikan sebagai Senyatanya, Yang Nyata. Sesuatu yang belum terbahasakan, belum terjangkau karena sesuatu yang Tak Terbatas. Ketika segala hal terbahasakan, Ia menjadi sesuatu yang simbolik, menjadi bukan lagi The Real.

Sebenarnya, dalam bahasa agama, The Real itu secara tidak langsung ingin mengatakan Tuhan, tetapi yang bukan Tuhan juga. Karena Tuhan adalah sesuatu yang terbahasakan. Sesuatu yang kemudian masuk ke ruang Simbolik. Kemduian, dia menjadi Sesuatu yang Other, bukan others (mahkluknya).

Sebagai Others, others berusaha melengkapi ketidaksempurnaannya untuk menuju dan kembali kepada Others. Hal kesempurnaan yang dimaksud antara lain, Kebahagiaan, Kebenaran, Kemerdekaan, Kebebasan, Keabadian, dan sebagainya. Namun, di sini saya ingin menambahkan hal Kesenangan, Kenikmatan, sebagai jalan utama mendapatkan hiburan atau keterhiburan.

Ilmu bahasa dan ilmu sosial tidak berpretensi untuk menjelaskan kehidupan di luar kehidupan duniawi. Bukan saja soal percaya atau tidak, tetapi bahkan bukan menjadi urusan ilmu bahasa atau ilmu sosial. Kesulitan lain dari ilmu bahasa dan ilmu sosial adalah soal ketidakjelasan ke mana ilmunya harus bersanad.

Berbeda dengan ilmu bahasa dan ilmu sosial, ilmu agama (bagi yang mengikutinya), justru dengan meyakinkan mengajak ilmu harus bersanad. Dalam Islam misalnya, terutama yang diyakini para ahlusunah waljamaah, sanad tersebut harus rinci dan tercatat dengan rapi sampai ke Rasulullah.

Memang, jalan keilmuan berbeda-beda. Yang satu tidak bersanad secara jelas mau ke mana ujungnya dan tidak memberikan janji-janji di luar hal duniawi. Sementara itu, ilmu agama memiliki sanad yang jelas dan bahkan memberikan kepastian hingga Manusia Terkasih, dengan sejumlah hiburan yang menjanjikan hingga kehidupan di luar duniawi. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin