Tubuh Ikhlas

Mungkin sebaiknya tulisan ini judulnya ikhlas (keikhlasan) dan kaitannya dengan tubuh. Akan tetapi, saya mau sedikit potong kompas dengan mengambil judul “ke arah kesimpulan”. Jadilah judulnya Tubuh Ikhlas.

Lama juga saya mempelajari, memahami, dan mencoba mempraktikkan apa yang dimaksud dengan keikhlasan. Kata itu sudah saya dengar dari kecil ketika menguping-nguping pengajian di surau atau madrasah. Waktu berjalan, banyak hal yang membentuk diri dan kepribadian saya, atau mungkin kita.

Salah satu yang kemudian membentuk pribadi kita adalah tentang adanya harapan, cita-cita, dan berbagai harapan baik dan indah hidup ke depan. Kita membayangkan bahwa masa depan adalah masa yang damai, bahagia, tenang, serba tercukupi, serba menyenangkan, dan tentu saja kemakmuran dan kebahagiaan.

Bahkan, dengan keyakinan tertentu, harapan dan cita-cita itu, bukan saja untuk hal duniawi, tetapi juga untuk kehidupan setelah dunia, yakni akhirat. Kita berjuang bersama untuk memenuhi impian dan mimpi tersebut.

Kadang, terbukti banyak cara untuk memenuhi impian (di satu sisi sangat mungkin menjadi fantasi). Di antara berbagai cara tersebut, sangat mungkin terjadi perbedaan. Perbedaan tersebut ada yang menimbulkan harmonisasi, tetapi ada yang saling bertabrakan.

Berdasarkan pengalaman, perbedaan-perbedaan dalam meraih impian tersebutlah keikhlasan sulit dicapai. Jika dalam perbedaan cara tersebut terjadi harmonisasi, mungkin tidak masalah. Masalahnya yang cukup sering terjadi adalah adanya ketegangan, ketersinggungan, bahkan pertengkaran dan berbagai konflik lainnya.

Dalam berbagai ketegangan yang tidak kondusif tersebutlah kemudian keikhlasan tidak bisa hadir dengan baik. Sebagai akibatnya, kita sering merasa terganggu. Kuping kita merasa mendengarkan kebisingan. Mata kita seperti melihat hal yang tidak kita sukai.

Apa yang kita makan sering dirasa kurang sesuai selera dan bahkan seperti tidak enak. Penciuman kita sering merasa ada bau yang mengganggu. Secara prinsip, bahwa karena kita belum ikhlas terhadap kehidupan, maka indra tubuh kita pun menolak banyak hal. Kita mudah merasa tidak nyaman dan terganggu.

Implikasi dari belum hadirnya keihlasan tersebut, seperti saya alami, saya gampang stres. Karena gampang stres, tubuh saya tidak cukup prima, mudah terserang penyakit, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Paling tidak, hal itu lah yang saya alami. Kami hidup dalam sebuah perkampungan yang ramai karena berhimpitan dengan rumah ibadah. Di depan rumah kami terdapat ruang publik yang selalu ramai. Bertahun-tahun (paling tidak sekitar tujuh tahun), secara pribadi saya merasa terganggu, terutama apa yang saya sebut sebagai hidup dalam kebisingan.

Lama saya menterapi diri untuk tidak perlu terus-menerus terganggu. Hal pertama yang saya lakukan adalah dengan mengalihkan perhatian, meditasi, dan fokus dengan apa yang saya kerjakan.

Dalam prosesnya, saya juga belajar kembali ilmu agama dan bahkan teori sosial posmarxis yang, jika keduanya dintegrasikan, mengajarkan saya justru untuk meniadakan cita-cita, harapan, mimpi-mimpi kebahagiaan.

Dalam praksisnya, bagaimana menjalani hidup dengan kebahagiaan itu sendiri. Bagaimana menjalani hidup bahwa semua hal telah tersedia dan tercapai, bahwa menjalani hal hidup adalah kedamaian, ketenangan, dan keindahan itu sendiri. Bahwa kebahagian dan kemakmuran bukan hal jauh di depan nun di sana.

Pelan dan perlahan, teori yang kemudian menjadi keyakinan itu mulai saya paktikkan. Saya perlu menerima dengan kesyukuran bahwa kondisi kehidupan saya adalah hal terbaik yang telah ditentukan, dipilihkan, dan dikehendaki oleh Allah. Mungkin, pada tahap inilah, kemudian, apa yang disebut sebagai keiklasan mulai hadir dalam diri saya. Perlahan-lahan, saya mulai tidak terganggu dengan banyak hal.

Saya tidak terganggu lagi dengan kebisingan. Saya merasa makan apa saja terasa enak. Tidak terganggu dengan bau-bau tidak harum yang mungkin menyelinap seketika-seketika. Saya mulai tidak terheran-heran, dan Insyaallah tidak terkejut, dengan apa yang saya lihat.

Saya mulai menerima apa adanya, bahwa begitulah kehidupan yang menjadi kenyataan bersama. Mungkin, keikhlasan di sini bisa dimaksudkan sebagai menerima takdir. Inilah yang saya sebut sebagai tubuh saya pun ikut ikhlas, tubuh ikhlas.

Mudah-mudahan, dalam keikhlasan tersebut ada keridhaan di dalamnya. Mungkin ini masih bersifat doa dan harapan. Benar. Dalam batas kelengkapan keikhlasan yang saya coba praktikkan, bagaimana pun saya menyadari bahwa soal ridha itu semata-mata sudah bagian dari hak dan wewenang Allah.

Itu pula yang menyebabkan bahwa yang bisa saya lakukan adalah selalu tetap berdoa, dalam kebahagiaan dan kegembiraan. Tentu, kita perlu opitimis bahwa keridhaan itu pun mungkin sudah didapatkan, atau mungkin sekedar menunggu waktu yang tidak terlalu lama. Itu juga janji Allah. Hanya Allah yang Maha Tahu. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Modal Orang Awam

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

(BER-)KELAKAR

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih

Read More »
Sosial dan Politik
admin

Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin