Trauma Kolektif

Banyak peristiwa atau kejadian yang dialami oleh seseorang atau bersama-sama. Mungkin di antara beberapa periswa tersebut menjadi semacam trauma. Artinya, peristiwa tersebut menjadi trauma atau tidak baru diketahui di kemudian hari. Dalam hal ini, trauma adalah peristiwa yang dialami seseorang (atau kolektif), diakui atau tidak, telah “merusak” atau mengganggu struktur kesadaran dan memori seseorang (atau kolektif).

Bentuk peristiwa yang mengakibatkan trauma tersebut bermacam-macam. Ada hal-hal yang bersifat kekerasan fisik maupun simbolik, atau berbagai peristiwa yang menyebabkan kesedihan, penderitaan, rasa merana, kesepian, dan sebagainya. Derajat trauma setiap individual berbeda dan beragam. Implikasinya juga dalam bentuk yang kadang tidak terduga.

Sementara itu, peristiwa seperti pengalaman dijajah, perang, pandemi, kelaparan, kemiskinan, gempa bumi, bencana alam, banjir bandang, dan sebagainya, kelak bisa dibayangkan sebagai sesuatu yang bisa menyebabkan trauma kolektif. Tulisan ini meneruskan apa yang disebut sebagai trauma kolektif dan akibatnya. Pertanyaan yang ingin diajukan pun terkait dengan trauma kolektif sebagai bangsa yang pernah mengalami penjajahan.

Selama masa penjajahan, bangsa Indonesia (paling tidak sebagian besar masyarakat), mengalami pendudukan dan kekalahan (dalam berbagai bentuknya). Di samping itu, masyarakat juga mengalami hierarkisasi ras, dianggap sebagai bangsa yang bodoh, malas, dan kotor, dan berbagai penghinaan lain. Ternyata, jejak-jejak itu masih berbekas dan tidak mudah dihilangkan begitu saja.

Implikasi trauma kolektif itu kini dirasakan dan terimplementasikan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Kita tahu, kini zaman sedang berjayanya modernime dan kapitalisme yang dikontrol sepenuhnya oleh mereka, dalam terminologi poskolonial, bangsa Barat, yang menuntut kompetisi. Ada dua hal implikasi, pertama kita menjadi seolah merasa telah kalah bersaing. Kedua, melawan dalam berbagai cara untuk mengejar, mengalahkan, atau minimal sejarah dengan bangsa Barat.

Cara mengalahkan pun bermacam-macam. Sebagian memanfaatkan sejarah dan berbagai mitos kejayaan. Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit diungkit-ungkit kembali. Bahkan sebagian memanfaatkan “mitos” peradaban Atlantis yang telah hilang yang disinyalir dulu sebagai pusat peradaban dunia yang canggih dan itu berada di wilayah Nusantara.

Hierarkisasi ras berimplikasi pada sulitnya membanggun kesetaraan. Di satu sisi kita sering menggelorakan anti rasisme, di sisi lain diam-diam kita rasis. Di satu sisi kita menolak bule karena alasan-alasan ideologis, sebagian yang lain masih memuja. Di internal Indonesia, kita juga mengalami perbedaan penerimaan terhadap suku dan ras yang berbeda. Hal ini masih merupakan problem bagi masyarakat Indonesia.

Anggapan bahwa sebagai bangsa Indonesia, di mata Barat pada masa kolonisasi, sebagai bangsa yang bodoh, malas, dan kotor kadang tanpa disadari diterima dengan tidak ikhlas. Bahkan kemudian, dalam berbagai cara kita mendidik para pelajar dalam dengan cara-cara yang melebihi standar-standar manusiawi dan kemanusiaan. Kita dipaksa mempelajari banyak hal yang tidak jelas asas kemanfaatannya.

Kita tahu, di peringkat dunia, kita merupakan bangsa peringkat tiga besar dalam rangking kotor dan bersampah. Mungkin hal ini bertumpang tindih dengan kemiskinan dan kemalasan. Maksudnya, hal kotor dan bersampah kadang diterima sebagai sesuatu yang bersifat kultural dan kebiasaan. Ada penerimaan dan kepasrahan bahwa begitulah kultur kita yang masih buang sampah sembarangan.

Berbagai bentuk resistensi terhadap masa lalu yang menyebabkan trauma kolektif tersebut secara internal bersaing, baik atas nama agama, budaya, dan berbagai politik ideologi lainnya. Kini, sebagai bangsa, kita terjebak dalam satu labirin trauma kelektif yang tidak jelas mana ujung dan mana awalnya. Pertengkaran dan perselisihan internal bercampur-baur dengan nafsu-nafsu individual atau kolektif.

Karena terjebak dalam labirin trauma kolektif, kita lupa apa tujuan berbangsa dan bernegara. Keharmonisan dan kekompakan untuk membangun peradaban yang keren terbengkalai. Energi kita habis terkuras untuk melawan bangsa dan saudara sendiri karena adanya perbedaan ekspresi dalam mengatasi atau mengobati trauma kolektif. * * *

Oleh Aprinus Salam (KR, Rabu 9 Juni 2021)

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Modal Orang Awam

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

(BER-)KELAKAR

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih

Read More »
Sosial dan Politik
admin

Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin