Sebagai Misal HTI atau FPI

Kadang-kadang, ada juga asyiknya (katakanlah semacam hikmah), ketika HTI dan FPI (juga beberapa organisasi agama lainnya yang sudah dilarang),  masih “dibiarkan” bersemangat dan beraktifitas. Para pengikutnya, dalam berbagai cara, menggelorakan kehidupan bermasyarakat, terutama dalam ranah politik dan hal-hal lain yang mengikutinya.

Tentu HTI dan FPI memberikan karakter yang berbeda. Kesan saya, para tokoh HTI tidak terlalu galak di depan dan di ruang publik. Mungkin karena saya tidak terlalu mengikuti sepak terjang HTI. Walaupun, sekilas saya melihat justru para pengikut HTI cukup vokal dan berani, dengan simbol-simbol yang bernuansa Arab. Hal itu dapat kita lihat terutama dalam berbagai peristiwa demonstrasi yang jejak digitalnya yang masih dapat kita lihat.

Berbeda dengan HTI, hal kegalakan dari FPI justru menonjol dari para pemimpin dan tokoh-tokohnya. Tentu banyak juga dari para pengikut FPI yang keren dan bersemangat dan di antara mereka tidak lupa meneriakkan Allahu Akbar jika tampil di ruang publik.

Tokoh utamanya, misalnya, tidak segan-segan berteriak, dengan bahasa yang kasar dan bahkan memaki, terutama terhadap rezim yang dianggap FPI zalim dan penuh dusta. Terlepas dari tuduhan itu benar atau tidak, kita perlu bersama-sama membuktikan soal dusta dan kezaliman tersebut.

Belajar dari gerakan dan politik Rasulullah, setahu saya, Rasul Muhammad tidak pernah mengajarkan sedikitpun untuk berkata-kata kasar, apalagi memaki-maki. Teladan paling utama umat Islam tersebut sungguh santun, rendah hati, dan tentu saja melakukan berbagai aktifitas dengan sangat cerdas.

Politik kasar dan frontal hanya mengajarkan dan menimbulkan perlawanan. Jika gerakan dan politik dipraksiskan secara santun, mungkin akan banyak hal kondusif yang bisa kita kerjakan bersama demi kedamaian, kebaghagiaan, dan kemakmuran Indonesia.

Dalam perihal ke ketauhidan, dari hal yang kita anggap salah, mungkin ada sedikit kebenaran. Di dalam hal yang benar, mungkin ada sisi-sisi tipis yang berbatasan langsung dengan hal salah. Namun, tauhid itu sendiri mutlak.

Tapi, sudahlah. Hal yang ingin saya sampaikan, bagaimana kita mengambil hikmah dan belajar dari keberadaan dua model gerakan, sebagai misal HTI dan FPI tersebut. Pertama, terutama pada tataran fiqih. Kedua, pada tataran dinamika-konsolidasi, dan ketiga pada tataran hiburan.

Pertama, kita tahu pada tataran fiqih, terjadi perbedaan cara dakwah dan pemikiran (mazhab) di antara berbagai ulama, ada yang disebut sebagai wahabi, ada yang disebut sebagai ahli sunnah waljamaah, dan sebagainya. Hal itu pun saya hanya melihat di media sosial yang dihadirkan dalam sudut pandang tertentu yang berbeda-beda.

Dalam perjalanannya, hal yang penting adalah terjadi debat dan “adu ilmu” yang diunggah di media sosial. Di balik debat dan “adu ilmu” tersebut, tentu saja para ulama tersebut harus belajar, mendalami, dan menyegarkan pemahamannya untuk disampaikan di ruang publik.

Dari debat dan “adu ilmu” tersebut terjadi proses pembelajaran yang lebih intensif. Para ulama kembali belajar dan buka-buka kitab. Kita, atau paling tidak saya, dengan melihat berbagai perdebatan dan ceramah para ustad, kiyai, dan ulama tersebut terus menerus menyebarkan dan memperbarui pemahaman saya tentang praksis beragama.

Dengan dibubarkannya HTI dan FPI, seolah kemudian negara berpihak kepada gerakan, politik, dan organisasi berbasis ajaran yang tidak wahabi, atau yang berpotensi pada ekstrimisasi ajaran atau ideologi agama. Ini tentu pilihan yang membuat dinamika perdebatan dan “adu ilmu” seolah mereda.

Di tataran ini, saya masih berharap terdapat mekanisme lain bagaimana para ustad, kiyai, dan ulama, punya bahan atau objek yang tidak kalah substansial untuk dipersoalkan secara publik. Persoalan pengembangan ilmu teknologi dan ekonomi, saya kira termasuk yang penting untuk diperdalam secara publik (tidak semata-mata menulis buku).

Kita tahu, pada zaman medsos ini jangkauan sesuatu yang menjadi viral jauh lebih produktif daripada menulis buku. Kecuali bisa membuat buku yang viral.

Kedua, pada tataran dinamika-konsolidasi, paling tidak dengan adanya organisasi yang bergejolak tersebut, yang sering berbuat sesuatu yang tidak seperti biasanya, yang pada tataran tertentu mungkin “mengganggu” kenyamanan masyarakat luas, menyebabkan aparatus negara perlu konsolidasi secara lebih dinamis.

Artinya, ada aksi ada reaksi.  Aparatus negara di satu sisi, dan berbagai kelompok kepetingan dalam masyarakat, dikondisikan untuk terus melakukan konsolidasi yang dinamis. Suasana kontestasi secara relatif memaksa setiap kontestan untuk selalu siap berhadapan dalam suasana yang tidak dapat diprediksi.

Konsolidasi dinamis ini pula yang menyebabkan adanya gairah untuk berkompetisi merebut pengaruh, merebut wilayah-wilayah yang perlu dikuasai, merebut pengikut-pengikut baru yang belum terkonsolidasikan. Dinamika konsolidasi-dinamis ini, sejauh tidak mengarah pada kekerasan, diperlukan agar gairah kompetitif relatif terjaga.

Ketiga, dan ini tidak kalah pentingnya. Sekali lagi, jika berbagai gerakan organisasi atas nama agama tersebut tidak menimbulkan kekerasan dari kedua belah pihak, kadang saya  melihatnya sebagai hiburan. Saya tempatkan sebagai hiburan dalam rangka melatih kesabaran. Ini salah satu hikmah penting.

Saya sering merasa kaget dan terheran-heran jika ada yang dengan terbuka di ruang publik memaki-maki orang lain dengan kata-kata bajingan, pendusta, munafik, bahkan tiak jarang memakai nama-nama binatang yang biasa dipakai memaki, dan sebagainya. Untuk memanipulasi rasa tidak nyaman dan terpancingnya emosi, saya dengan cepat menempatkan aktor-aktor tersebut sebagai pelawak di siang bolong. Maka, tidak jarang saya pun jadi tertawa-tawa kok ada orang sekonyol itu.

Nah, sekarang, beberapa aktor pelawak sebagian panggungnya semakin mengecil (bukan tidak ada). Tentu akan muncul aktor-aktor baru dalam berbagai cara dan  bentuk organisasi atau komunitas. Tapi tentu kita berharap, aktor dan organisasi yang muncul adalah mereka  yang memperlihatkan kecerdasan dan kedalaman ilmu pengetahuan.  Lebih utama lagi kematangan akhlak. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

1 thought on “Sebagai Misal HTI atau FPI”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin