Said Aqil Siradj

Tidak seperti pada umumnya kiyai-kiyai NU yang jika ngisi pengajian atau ceramah pintar melucu, Kiyai Siradj tidak cukup tangkas jika melucu. Di beberapa tempat bahkan terasa sedikit formal kelucuannya. Tapi, ketidakcapakannya dalam melucu itu tidak penting.

Hal yang keren dari Kiyai Siradj adalah kecerdasan dan keluasan pengetahuannya. Dia bisa dengan faseh menyampaikan nama-nama silsilah Rasul Muhammad dengan 52 generasi ke belakang hingga ke Nabi paling awal. Ini salah satu bentuk hapalan yang meyakinkan.

Kiyai Siradj hapal nama-nama ulama besar dan utama, tahun kelahiran dan kematian, juga judul kitab-kitab dan isinya. Dia tahu dan hapal silsilah atau sanad Islam di Nusantara.

Beliau hapal silsilah para ulama penting di Indonesia, kitab-kitabnya, dan posisi ajaran para ulama tersebut. Beliau hapal Burdah (termasuk barzanji dan simthuddurar). Walau bukan seorang aktor panggung yang keren, cara Kiyai Siradj melantunkan Burdah sangat mempesona. Walaupun, setahu saya yang dangkal, Beliau tidak mengaku secara eksplisit hapal Quran dan ratusan/ribuan Hadis, tapi saya menduga beliau hapal Quran dan ribuan Hadist.

Ini tidak lain berkat bimbingan yang keras yang Siradj dapatkan dalam pendidikan tradisi Pesantren Kempek di Cirebon tempat kelahiran Beliau. Ujung pendidikannya, Beliau menyelesaikan disertasi di S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah, tahun 1994, dengan predikat summa cumlaude.

Seperti diakui Beliau, keberhasilan Siradj menjadi Tokoh dan Ketua Umum PB-NU, tidak lepas dari tangan dingin Gus Dur. Ketika Gus Dur umroh ke Mekah, sekitar tahun 1990, Gus Dur sebelumnya dikenalkan oleh seseorang yang memberi informasi ada mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Mekah.

Dalam kunjungan resmi ke Mekah bersama presiden, Gus Dur memilih tinggal dan berdiskusi di tempat kediaman Kiyai Siradj. Kelak ternyata Gus Dur tidak salah, Siradj memang bisa diandalkan untuk memimpin umat NU yang berjumlah sekitar 35 juta nahdliyin, di luar para simpatisan NU yang bisa jadi juga sekitar 35-40 juta warga Indonesia.

Secara pribadi, saya bertanya apa yang penting yang bisa dipelajari dari Kiyai Siradj dan para ulama NU pada umumnya. Ini terkait dengan kegelisahan saya belajar di kampus-kampus “sekuler” seperti di UGM.

Beda ilmu agama dan ilmu sekuler memang menarik untuk diperbandingkan. Jika ilmu agama mengembangkan keilmuannya berbasis keyakinan (kepercayaan kepada Tuhan/Allah), maka ilmu sekuler berangkat dari prasangka dan keraguan. Jika ilmu agama mengeksplorasi sesuatu lebih karena kepercayaan terhadap yang Nyata, ilmu sekuler memperdalam dan menganalisis sesuatu karena penjelasan yang rasional dan empirik.

Dalam beberapa sisi, saya kira tujuannya sama, yakni asas kemanfaatan bagi kehidupan yang lebih baik. Namun, tujuan lain dari ilmu agama adalah juga untuk mendapatkan keberkahan. Kita sulit mencari sisi apakah kedua ilmu tersebut memiliki kesamaan untuk pemaknaan terhadap kata-kata manusia, iklas, hati nurani, harga diri dan sebagainya, misalnya.

Ilmu-ilmu sekuler mengabdikan dirinya untuk kehidupan di dunia, sehingga tidak memiliki referensi terhadap kehidupan di luar dunia.

Ilmu-ilmu sekuler punya kesempatan untuk berpikir dan membuktikan berbagal hal di luar campur tangan Tuhan. Ilmu agama justru sebaliknya bahwa segala hal karena campur tangan Tuhan. Ilmu sekuler membolehkan berpendapat di luar tradisi, dalam pengertian di luar sanat. Ilmu agama jika tidak bersanad ke Rasul Muhammad, lantas bersanad ke mana?

Persoalannya, tidak berarti Siradj bukan seorang akademikus yang tangguh. Dengan kepakaran sebagai Guru Besar akidah, Beliau merupakan salah satu model seorang akademisi, pemimpin organisasi besar, seorang bapak, dalam beberapa hal juga politisi (walau tidak diakuinya), dengan keyakinan ilmunya yang bersanad.

Dia hapal banyak hal sesuai dengan tuntunan dan koridor keilmuannya. Saya tidak memiliki hapalan apapun terhadap hal yang saya pelajari.

Tidak banyak orang yang memiliki pencapaian terbaik seperti Siradj. Kini, paling tidak dalam rentang satu dekade terakhir, jamaah NU yang besar, relatif terkondisikan untuk terus mengikuti berbagai suasana kompetitif, baik dalam skala pemikiran, praksis ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Saya berharap, Beliau tetap rendah hati. Namanya juga manusia, tempat segala kelemahan dan ketidaksempurnaan. Mungkin sekali dua Beliau “kepleset” berpendapat sesuatu yang kurang pas, seperti belakangan ini sempat viral. Mungkin niat dan maksudnya baik, tetapi tidak tertutup kemungkinan pendapat Beliau itu bisa disalahpahami. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin