Kalau mau sedikit lebih mudah memahami cinta dan benci, saya kira Jokowi bisa dijadikan kasus. Sebenarnya, tidak hanya Jokowi. Siapa pun tokoh yang menonjol, Dia sekaligus representasi untuk penghadiran cinta dan benci. Seorang Presiden, atau Raja, di mana pun, merupakan sosok tumpuan untuk menumpahkan rasa cinta dan benci itu.

Untuk kasus Indonesia Jokowi, mungkin yang mencintainya lebih banyak. Itu terbukti Beliau bisa jadi presiden dua kali. Memang, sangat banyak alasan memilih Jokowi, mulai dari alasan-alasan yang rasional hingga alasan-alasan yang ideologis. Mulai dari sekedar perasaan yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan hingga hanya sekadar ikut-ikutan teman, keluarga, atau bahkan karena tidak tahu dan tidak punya pilihan lain.

Namun, ujung dari pilihan terhadap Jokowi adalah “takdir” Dia menjadi presiden. Ini sudah wilayah Tuhan yang Maha Menentukan dan Maha Berkehendak. Dalam prosesnya, akumulasi dari kehadirannya, ketika yang memilih merasa memiliki Beliau sebagai presiden, munculnya juga rasa suka dan cinta, terutama ketika kita membicarakan dengan rasa hormat.

Tidak ada yang dengan sempurna bisa mendefinisikan apa itu cinta. Kita hanya mengetahui gejalanya seperti adanya kegembiraan, kesenangan, keriangan, kebahagian, dan keterharuan dalam relasi suka sama suka, bahkan dalam relasi formal sekalipun.

Bahwa tidak ada presiden yang sempurna dan 100 persen sukses, kita sudah tahu semua, termasuk Jokowi. Sangat banyak kelemahan Jokowi, baik sebagai presiden, apalagi sebagai manusia. Akan tetapi, bahwa hingga hari ini kondisi Indonesia tidak terlalu terpuruk, baik karena lemahnya kinerja beberapa sektor pemerintahan, maupun berbagai tekanan kapitalisme internasional dan terjangan pandemi, tidak ada alasan untuk tidak mendukung Jokowi.

Teman akrab saya, seorang pakar ekonomi makro, memang pernah bercerita tentang posisi ekonomi Indonesia yang cukup kritis, terkait dengan hutang dan kinerja produksi masyarakat Indonesia yang lemah. Kita serahkan pada menteri yang menangani krisis itu.

Jika mendengar penjelasan Menteri Sri Mulyani soal proporsionalisasi hutang dan kondisi umum ekonomi Indonesia, bahkan dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika, Jepang, dan beberapa negara Eropa lain, kondisi ekonomi Indonesia masih cukup rasional.

Kembali ke soal posisi Jokowi, kemudian, cukup banyak peristiwa dan kegiatan Jokowi menjadi viral, sudah dapat dipastikan. Kini era media sosial. Bukan hanya Jokowi, apa saja sekarang bisa menjadi viral. Pada masa-masa sebelumnya, tentu semua kegiatan presiden bisa menjadi viral. Akan tetapi, waktu itu memang belum era sosial media.

Yang viral dari Jokowi, tentu dalam dua atau tiga hal, dari sudut pandang yang mencintainya, dari sudut pandang yang membencinya, atau yang netral (tidak dibicarakan). Kita dahulukan yang pertama. Peluang untuk ini tentu sangat banyak. Untuk tampilan peristiwa dan kegiatan publik, dapat dipastikan Jokowi (dan orang-orangnya) akan sangat hati-hati. Beliau tentu tahu, jika sedikit saja “salah penampilan”, maka itu akan menjadi bumerang.

Maka, namanya juga presiden, sorot pandangan cinta dan benci selalu tertuju. Tidak ada kata yang pas, karena secara umum kita sering menamakan pencitraan. Pastilah ada pencitraan. Bahwa Jokowi berhati-hati melakukan penampilan apapun di ruang publik, hal itu adalah pencitraan tersendiri dan sekaligus menjaga pencitraan.

Hal yang menarik, mereka yang mencintainya dan terlibat dalam proses penampilan Jokowi, akan mengambil sudut pandang yang gayeng, gembira, lucu-lucu, yang khitmat, sahdu, khusuk, dan sebagainya. Kita tidak bisa menuduh bahwa, berdasarkan sudut pandang ini, mereka rakyat Indonesia yang ikut tertampilkan atau ditampilkan merupakan bagian dari rekayasa pencitraan Jokowi.

Tuduhan itu sungguh menghina dan merendahkan masyarakat yang mencitainnya. Toh, tidak ada larangan untuk mencintainya. Hal itu adalah satu situasi yang sah dan normatif.

Ketulusan dari sudut pandang tertentu bukan bagian dari pencitraan, tetapi dia hadir secara tidak kasat mata. Akan tetapi, kalau memang ada yang disebut sebagai pura-pura tulus, itupun secara tidak kasat mata bisa diketahui. Mencermati konteks dan ekspresi-ekspresi secara detil dapat mendeteksi hal-hal yang tidak kasat mata sebagai ketulusan atau kepalsuan.

Pasti ada yang tidak tulus di dalamnya, tetapi bukan berarti itu meniadakan hal ketulusan. Pemerhatian yang cermat akan dapat melihat persoalan itu, walaupun tentu saja ada hal-hal yang spekulatif di dalamnya. Ilmu manusia itu terbatas. Kita tidak perlu juga merasa yakin bahwa analisis kita tentang ketulusan pasti benar.

Sampai dalam posisi ini, tidak tertutup akan tetap banyak yang memuji Jokowi, dan tetap akan banyak yang mencelanya. Itu biasa saja. Sekali lagi, itu resiko yang diambil siapa saja yang muncul sebagai tokoh, apalagi sebagai pemimpin.

Selain yang suka dan cinta Jokowi, banyak pula yang membencinya. Membenci itu lebih mudah, dan sebenarnya tidak perlu banyak alasan daripada mencintai. Pencinta sejati memang tidak bersyarat, tetapi itu konteksnya berbeda.

Sebanyak alasan mencintai Jokowi, dan sesedikitnya alasan untuk membencinya, tetap saja perlu dimaklumi. Mungkin karena alasan-alasan sejarah, ideologis, kultural, agama, bahkan hingga alasan-alasan tidak suka karena melihat sosoknya. Namanya juga selera, ada yang cocok, ada yang sama sekali tidak cocok.

Pada mulanya, membenci memang seperti minta persyaratan. Akan tetapi, perasaan kalah bersaing, bisa memupuk berbagai persyaratan tersebut menjadi benci dalam arti yang sesungguhnya. Dengan demikian, benci di sini hampir identik dengan tidak suka, tetapi jauh lebih dalam hingga mengintervensi perasaan dan hati seseorang.

Bedanya, benci menguras energi positif. Cinta membangun dan membercayakan energi positif.

Dalam konstruksi negara Indonesia, alasan merasa kalah dan tidak berkuasa menjadi alasan cukup penting untuk membenci presiden, gubernur, bupati, hingga lurah. Alasan-alasan pribadi dan subjektif tidak kalah ikut membakar. Kalau kita mau jujur, hal itu juga terkait dengan akses-akses terhadap sumber ekonomi.

Padahal, kita tahu bahwa siapappun pembenci presiden, gubernur, dan sebagainya, tidak ada yang terhalang akses ekonominya, tidak ada yang terhalang sumber rejekinya. Bahkan bisa saja kebencian menjadi komoditas tersendiri untuk menggaruk sumber-sumber ekonomi. Karena hal itu terkait dengan kolaborasi sesama para pembenci.

Kemudian, dalam praktiknya, tidak ada yang benar yang dilakukan orang yang dibencinya, semuanya salah. Akhir-akhirnya, kita tahu, juga berkat media sosial, bagaimana Jokowi ditampilkan dalam sudut pandang pembenci. Bahkan hal-hal pribadi pun menjadi sorotan.

Namanya juga benci, termasuk kemudian mengatakan Jokowi PKI, sekular, anak keturunan Cina, hingga ke hal-hak fisik, dan sebagainya. Jika pernyataan itu tidak benar, maka pernyataan itu sangat memalukan dan sekaligus penghinaan.

Karakter pembenci seperti ini akan dapat diduga jika kelak menjadi pemimpin atau penguasa. Tidak ada larangan untuk membenci Jokowi, sangat boleh. Tapi, jadilah pembenci yang elegan, tetap jujur, dan sportif. Karena hal itu bisa menajdi modal juga senadainya sejarah dan “takdir” menjadi lain, dan terjadi perubahan-perubahan yang tidak bisa kita tentukan sepenuhnya.

Dulu, ada presiden yang saya kurang suka. Akan tetapi, tidak pernah ada satu kata pun yang keluar dari tulisan atau pernyataan saya yang mencaci, mencela, merendahkan, apalagi menghinanya. Saya berusaha mengkritisinya dalam batas-batas kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki.

Yang dibutuhkan Indonesia bukan soal siapa dan bagaimana Jokowi, tetapi bagaimana bersama-sama menyelamatkan Indonesia dari berbagai badai dan ancaman. Ini tidak ada kaitannya dengan siapa presiden pun Indonesia. Ini masalah bangsa dan negara bersama.

Indonesia, ke depan berpotensi berhasil dan/atau bangkrut atau bubar. Keduanya adalah potensi yang sangat mungkin. Saya tidak tahu, apakah ada yang berharap ke depan kita mengalami kebangkrutan dan Indonesia bubar? * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin