Gus Baha (2)

Lama saya mencari guru ngaji yang bukan saja menyenangkan, menghibur, dan menggembirakan, tetapi tak kalah pentingnya meyakinkan. Terlalu lama saya tidak ikut pengajian karena setiap ikut pengajian saya merasa tidak lebih sebagai pecundang yang memalukan. Resikonya, saya harus mengakui pengetahuan dan ilmu agama saya sangat parah.

Seperti telah saya singgung dalam Gus Baha (1), belakangan saya mulai tertarik ngaji (on line) bersama kiyai murid langsung dan murid kesayangan Mbah Maimun Zubair. Berhari-hari saya mencoba meletakkan dan mengidentifikasi mengapa saya tertarik dengan kiyai yang mungkin memang wali ini .

Gus Baha, dalam upayanya menjawab dan menjelaskan berbagai hal yang perlu dijelaskannya, terdapat tiga lapis jawaban. Pertama, lapis ilmu nalar, logika, atau akal. Tentu pengertian nalar, logika, dan akal tidak cukup sama, tetapi untuk sementara saya sedikit mengabaikan perbedaannya. Payung pengertian terutama pada akal.

Kedua, lapis fikih. Hal fikih terkait dengan berbagai hukum dan (per-)aturan beragama. Pengetahuan fikih perlu detil dan diektahui dengan pasti karena hal tersebut akan menjadi basis utama berbagai jawaban, berdasarkan dalil dalam Quran dan Hadis (Alhamdulillah Gus Baha hapal dan sangat menguasai). Artinya, dalam banyak hal, kita memang membutuhkan kepastian.

Ketiga, lapis tasawuf. Ini memang pengetahuan khusus terkait keberadaan Allah dalam hubungannya sebagai Yang Maha Ada, Yang Maha Benar, Yang Maha Baik, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Segalanya. Apapun yang kita bayangkan sebagai Allah, maka kita akan terpeleset. Kita hanya bisa berusaha untuk berjalan (agar tidak terpeleset) menuju dan bersama Allah.

Berlandaskan tiga lapis ilmu tersebut (tentu ada kategori lain, tetapi tidak cukup dominan), Gus Baha menjelaskan berbagai hal tentang keberadaan Allah dan kehidupan menusiawi, dalam hubungannya dengan keberadaan Kesemestaan, bukan dalam pengertian kronologis. Akan tetapi, dengan sengaja saling mendukung dan terintegrasi dalam suatu alur diskursus pemikiran yang segar.

Ada persoalan yang cukup mengandalkan nalar atau akal sehat. Ada persoalan yang harus dijawab dengan dalil-dalil fikih, dan ada persoalan yang harus dirasakan dengan tasawuf. Seterusnya, cukup banyak persoalan harus dijawab dalam tiga dimensi ilmu tersebut.

Hal menarik dari Gus Baha adalah bukan saja penguasaannya terhadap fikih dan tasawuf yang begitu keren, tetapi bagaimana Kiyai ini menjelaskan dengan logika-logika yang jungkir-balik, yang kadang menjadi sangat lucu dan menghibur. Beliau sering meretas logika manusia (secara eksplisit beliau sering mengatakan manusia bodoh, atau si cangkem elek), dalam satu spektrum bagaimana Rasul SAW berpikir dan bernalar.

Sebaliknya, hal-hal fikih dan tasawuf justru dijelaskan dalam logika-logika sederhana, di luar dugaan. Kasus ketika Yasid Busthomi bertanya siapa yang bisa menjadi pesaingannya dalam bertaqwa, maka Allah memberi tahu orang yang tidur di dekatnya. Ada penjelasan perbandingan logika dalam memahami fikih dan tasawuf.

Bagaimana Gus Baha menjelaskan masuk surga itu lebih mudah daripada masuk neraka. Sebagai contoh lain, ketika Anda masih cemas dengan melafalkan kalimat tauhid La ilaha Illallah, atau masih merasa ragu apakah bakti kita setelah membaca Quran diterima atau tidak. Itu sama saja kita meremehkan kalimat tauhid tersebut atau meremehkan Quran. Secara logika, pengetahuan seperti itu terlihat salah.

Sebaliknya, nalar pengetahuan kita dalam menyembah Allah dihadang Gus Baha dengan fikih dan tasawuf. Jika kita meyembah Allah karena ada pamrih dan hasrat untuk mendapat imbalan pahala dan surga, ini sesuatu memalukan. Apakah jika Allah tidak menciptakan sorga dan neraka Allah tidak layak disembah. Apakah jika Allah tidak menghadirkan akhirat, Allah tidak layak disebut Allah.

Yang jelas, saya sering terpingkal-pingkal dan merasa optimis kembali. Pemahaman saya yang selama ini normatif terhadap cara beragama, ternyata hanya remeh dan menjebak saya ke cara berpikir yang penuh prasangka. Kegelisahan saya yang selama ini membuat hati saya mendung, saya berharap, Insyaallah, bisa terurai perlahan.

Akan tetapi, saya cuma bisa berharap dan berdoa. Saya tidak tahu, ke mana angin kehidupan saya akan berhembus ke depan. Seperti penjelasan Gus Baha, Allah pernah bermakalah, jika kita tidak melakukan kesalahan atau dosa, lah jangan sampai sifat dan keberadaan Allah yang Maha Pengampun menjadi nganggur.

Kembali ke persoalan utama pada awal tulisan, di atas semua itu, hal yang meyakinkan yang saya temukan pada Gus Baha, terutama pada ilmunya yang detil dalam fikih dan tasawuf. Alhamdulillah. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin