GUS BAHA (1)

Saya termasuk sangat telat mengenal Gus Baha. Hampir tiga tahun lalu, sekitar pertengahan 2019, teman saya Farid (Dosen Filsafat UGM), memperkenalkan ke saya nama ulama yang katanya masih belum tua, tetapi ceramah atau pengajian-pengajiannya sangat keren dan riuh. Waktu itu, saya iyakan. Farid memberi tahu hal itu karena jauh sebelumnya saya pernah tanya ke dia, siapa ulama yang sekarang kalau memberikan pengajian layak didengar.

Sayangnya, informasi dari sahabat saya itu saya abaikan. Bukan apa-apa, saya jarang buka Youtube, atau sejenisnya, untuk melihat berbagai ceramah atau pengajian. Hal itu terjadi karena saya agak cemas mendengar atau menghadiri pengajian karena kok kesannya beragama itu berat, merepotkan, dan serba salah. Saya hanya sekali-sekali membuka Youtube untuk melihat penggalan film atau pertandingan olahraga yang saya sukai.

Belakangan, karena terpaksa banyak di rumah dan sedikit kurang kerjaan, akhirnya sekali-sekali saya melihat/mendengar pengajian Gus Baha secara on line. Bahkan, pernah beberapa malam saya memantau berbagai pengajiannya. Sungguh, saya terpesona dengan Gus Baha.

Kesan dari pengajian-pengajian beliau itu, ternyata beragama, maksudnya Islam, itu tidak sulit. Dengan pengetahuannya yang luas, mendalam, dan hapal Quran serta ribuan hadis, Gus Baha selalu mencari celah agar ilmu dan pengetahuan Islam itu mudah dipahami, dan mudah dipraktikkan. Bukan saja mudah, tetapi bahkan menyenangkan.

Gus Baha beberapa kali mengatakan yang namanya ulama itu (bahkan secara guyon ia mengatakan dirinya wali) selalu peragu dan tidak jelas. Alasannya, memang, banyak hal bisa dijawab atas berbagai persoalan yang dihadapi manusia. Akan tetapi, ujung-ujungnya Allah lah yang Maha Menentukan dan Maha Berkehendak. Tidak ada yang bisa memastikan takdir manusia selain Allah itu sendiri.

Gus Baha selalu menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks, bukan saja konteks lahir, tetapi yang lebih penting daripada itu adalah konteks batin, sesuatu yang tidak terlihat. Konteks selalu berbeda sehingga setiap persoalan harus dilihat konteks lahir dan batin tersebut.

Dalam melihat konteks lahir dan batin tersebut, Gus Baha mencontohkan dengan berbagai kejadian( historis) berdasarkan kitab-kitab yang mantab dan kokoh. Beliau hapal semua dan tahu persis apa yang dikatakannya. Hapalan beliau itu membuat saya terpesona.

Hal lain yang membuat saya lebih tertarik, Gus Baha menyampaikan risalahnya secara rileks, santai, sambil guyon-guyon. Banyak ulama hebat, antara lain yang saya sukai seperti Habib Quraish Shihab. Sayangnya, Pak Shihab sangat serius sehingga kadang saya tidak cukup terhibur. Akan tetapi, Alhamdulillah, saya termasuk pembaca buku-buku Pak Shihab.

Gus Baha, sebagai orang desa yang ndeso, guyon-guyonnya norak, egaliter, dan nyelekit, tetapi sekaligus menyenangkan karena selalu terkait dengan praktik hidup keseharian. Semua persoalan dijawab dengan cerdas, sederhana, sekaligus meyakinkan karena Gus Baha mengedepankan logika. Ilmu dan Kebenaran itu selalu ada logikanya. Formulasi logikanya dengan mudah dipahami karena didukung dengan berbagai ayat-ayat dan dalil yang meyakinkan.

Namun, Gus Baha juga menekankan bahwa kita tidak perlu berlogika dengan apa yang Allah Kehendaki atas Kehidupan manusia dan alam semesta. Banyak orang merasa tahu dengan rencana-rencana Allah, apa yang dipikirkan Allah, dan apa Kehendaknya. Perasaan merasa tahu itu sungguh menyesatkan. Apalagi tentang siapa yang akan masuk surga atau neraka.

Dalam sebuah ceramahnya, Gus Baha mengingatkan janganlah kita membesar-besarkan neraka dengan segala azabnya. Neraka itu toh juga ciptaan Allah. Biarlah Allah saja yang dibesar-besarkan, tidak perlu neraka. Sebagai ciptaan Allah, neraka itu sema sekali bukan sesuatu yang hebat.

Pelajaran lain yang ingin saya teguhkan terutama tentang keiklasan. Iklas menjadi manusia ciptaan Allah. Iklas menjalankan makluk beragama bukan karena berharap imbalan, tetapi iklas karena cinta kita kepada yang meciptakan dan menghidupkan kita. Tidak ada sesuatu yang terlewatkan oleh Allah, bahkan semua hal yang tersembunyi dalam pikiran dan hati kita. Allah itu Maha Detil.

Bersama Gus Baha, saya yang penuh dosa dengan shalat yang tidak jelas, merasa optimis lagi bahwa beragama itu ternyata tidak sulit dan berat. Paling tidak, sekarang saya merasa lebih santai dengan tetap menjaga prasangka baik saya kepada Allah. Terimakasih Gus Baha.

* * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin