RAKYATLAH YANG BERDAULAT

Selama ini, banyak yang berkeyakinan, para petinggi, para pejabat, para pengusaha, para ulama, dan para orang top lainnya yang memiliki kekuasaan dalam segala level dan sifat/bentuk kekuasaan. Sebenarnya, tidak selalu logika kekuasaan itu benar. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengatakan justru rakyatlah yang tetap memiliki kekuasaan atau kedaulatan. Kenapa bisa begitu?

Sebenarnya, rakyat awam itu sangat banyak dengan kebutuhan yang sangat sedikit. Selama bisa bertahan dengan perut tidak lapar, rakyat yang banyak itu sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi. Rakyat awam yang banyak itu biasanya terus bekerja dan tidak terlalu ambil pusing dengan kekuasaan, tidak ambil pusing dengan penguasa dan kekuasaan di luar dirinya. Sudah bisa terhindar dari kelaparan, alhamdulillah.

Jika musim pemilu dan pilkada datang, para pemimpin dan mereka yang berambisi terhadap kekuasaan, para pemilik modal dan ulama, sibuk bekerja mencari dan merebut suara. Mereka bekerja siang malam, ngobral janji dan rayuan ke sana ke mari, jika perlu melakukan berbagai hal kolusi, korupsi, dan manipulasi. Sementara, rakyat yang dicari dan akan direbut suaranya, santai-santai duduk-duduk sambil ngopi atau ngeteh dengan beberapa potong singkong rebus.

Jika musim suksesi tiba, para pemimpin dan penguasa bekerja mati-matian mempertahankan kekuasannya. Mereka membuat dan membangun citra kesuksesan, membuat berita-berita palsu dan hoaks, membuat baliho besar-besar di pinggir jalan.

Sementara mereka yang katanyanya dikuasai, sedang asik jalan-jalan, nyanyi-nyanyi, atau sedang bergembira kerja di ladang-ladang, kebun-kebun, pasar, dan pabrik-pabrik. Bahkan sebagian rakyat nelayan sedang bahagia karena hasil mereka melaut mendapatkan berkah besar.

Untuk memberi kesan demokratis, para pemimpin sibuk bekerja mati-matian siang malam, dengan mengumbar senyum, dan membuat kabar-kabar bahwa bangsa dan negara telah berjalan dengan adil, hak dan kewajiban telah berjalan secara proporsional. Terlihat dan terdengar berita bagaimana para pejabat dan tokoh penting bekerja ke sana ke mari. 

Sementara itu, mereka yang disebut rakyat, dengan tekun terus berkreasi, terus membuat dan berbuat sesuatu, bermain sambil berolahraga, atau sebagian menulis fiksi, bercerita, berdiskusi, atau bahkan membuat puisi-puisi cinta yang romantis.

Kadang-kadang, ada juga sih yang rewel, terutama mereka yang merasa seharusnya layak memiliki dan mendapat kekuasaan, tetapi ternyata hanya menjadi dosen, menjadi guru, menjadi karyawan, menjadi aktifis, atau bahkan sebagian dari mereka adalah para aparatur sipil negara.  Mereka mengklaim dirinya mewakili dan menjadi bagian dari rakyat. Mereka sibuk bekerja, menulis, melakukan kritik ke sana kemari, termasuk saya.

Sementara, rakyat yang katanya diwakili suaranya, melihatnya dengan geli. Rakyat kebanyakan merasa tidak perlu diwakili, karena tidak ada kekuasaan atau kedaulatan yang hilang dari diri mereka. Dalam kondisi yang berbeda-beda, secara periodik dan sepanjang waktu, suara dan keberadaan rakyat akan dicari dan direbut kembali. Artinya kedaulatan dan kekuasaan secara inheren melekat dalam diri rakyat.

Rakyat kebanyakan juga tidak pernah merasa tertipu, tidak pernah merasa dibohongi, tidak pernah merasa dikhianati, tidak pernah merasa dikangkangi oleh janji-janji politik.  Jangan lupa, rakyat memiliki kecerdasan alami. Rakyat sudah tahu semua bahwa janji-janji politik, atau semua janji apapun dari para penguasa adalah tipuan yang tidak perlu dipercaya. Dalam pengertian ini, kita tahu bahwa rakyat tidak tertipu karena mereka dari awal sudah tahu semua.

Secara logis, kita jadi mengetahui, siapa yang berkuasa, atau siapa yang berdaulat dalam sebuah negara. Dalam sistem apapun, yang bekerja habis-habisan adalah mereka yang merasa berkekurangan, mereka yang merasa lemah, mereka yang sangat bergantung kepada pemilik, dalam hal ini pemiliki suara dan kedaulatan.

Para penguasa  bekerja sampai stres karena takut kehilangan sesuatu. Sementara itu, rakyat menjalani hidupnya dengan santai-santai, bekerja dengan gembira, bermain dan bersilaturahmi dengan krabat dan kolega, menyanyi, menari, dan menggabar karena memiliki banyak kelonggaran waktu untuk cari hiburan, karena tidak ada yang ditakuti untuk merasa kehilangan.

Bagaimana merasa kehilangan, karena rakyat memang tidak memiliki sesuatu yang bisa hilang atau lepas dari dirinya. Rakyat hanya memiliki suara dan hati nurani dan itu tidak pernah hilang dari diri mereka. Alangkah nikmatnya menjadi rakyat biasa, rakyat kebanyakan.
* * *

Tulisan oleh Aprinus Salam
Foto oleh Markus Spiske dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *