Modal Sosial

Modal sosial adalah segala hal baik yang kita miliki. Hal baik itu antara lain niat atau semangat untuk berbuat baik dengan tujuan yang baik. Niat dan semangat baik itu kemudian hadir dalam lingkungan dan norma-norma sosial, termasuk hukum yang berpihak pada nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan. Kita perlu melihat kembali modal sosial tersebut, karena terlanjur mengatakan bahwa sebagai bangsa kita memiliki modal sosial yang besar.

Karena mengklaim memiliki modal sosial yang besar, kita akan dapat mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Kini, demikian banyak masalah yang dihadapi; senjang ekonomi yang melebar dan ancaman kebangkrutan ekonomi, minimnya demokrasi, masih banyaknya konflik dan permusuhan atas nama agama dan politik ideologi, pandemi, dan lain-lain.

Modal sosial meliputi dua hal, yakni modal kolektif dan modal individual. Modal kolektif antara lain segala hal yang kita miliki secara kolektif, antara lain norma-norma sosial, adat atau kebiasaan-kebiasaan, dan termasuk praksis ritual-ritual yang telah kita jalani bersama. Kebiasaan melakukan gorong-royong, kerja sama, saling tolong menolong, saling peduli dengan sesama, sikap toleran, termasuk modal sosial yang paling bisa diandalkan. Pada umumnya, norma dan kebiasaan tersebut tidak ada aturan tertulisnya. Semua tersimpan secara lisan dalam kebudayaan kita.

Keberadaan dan pemilikan hukum, sebagai produk dan modal kolektif yang tertulis, sangat penting untuk dan dalam mengelola modal sosial. Pancasila dan UUD ’45 adalah modal sosial terbesar bangsa dan negara ini. Yang masih bermasalah adalah berbagai hukum dan peraturan turunannya, seperti peraturan presiden/pemerintah, permen, pergub, perbub, perwakot, dan sebagainya. Banyak kasus di lapangan masih memperlihatkan berbagai benturan terkait praksis dan pelaksanaan hukum dan peraturan tersebut dalam segala levelnya.

Berbagai benturan tersebut terjadi dalam sudut pandang dan kepentingan yang berbeda. Dari pihak pemerintah mengatakan masyarakat tidak tertib, bekerja seenaknya, tidak disiplin, dan sebagainya. Dari pihak masyarakat mengatakan bahwa pemerintah tidak adil, hukum dan peraturan berpihak pada pemilik modal yang besar, hukum berjalan secara tebang pilih, dan sebagainya. Berbagai benturan dan konflik tersebut tentu saja mengurangi kinerja modal sosial kita dalam menuju masyarakat yang damai dan makmur.

Bagaimana halnya dengan modal sosial individual yang kita miliki. Memang, kita sering mengatakan sebagai bangsa kita ini toleran dan ramah. Bahkan di banyak tempat, masih terlihat sikap saling tolong menolong, mau bergotong royong, dan berbagai sikap simpatik lainnya. Akan tetapi, kita tahu, telah banyak juga perubahan. Yang paling signifikan adalah jumlah penduduk yang semakin membesar sementara lahan tetap, dan peluang pekerjaan tidak terlalu bertambah.

Karena hal itu, sebagai bangsa dan negara (juga dihadapi banyak negara), kita memasuki tahap dikondisikan untuk berjuang sendiri-sendiri. Sistem sosial dan ekonomi memaksa kita untuk bersaing satu dengan yang lain. Waktu dan perhatian kita semakin berkurang untuk hal-hal sosial karena kita semakin sibuk untuk urusan-urusan pribadi atau maksimal keluarga. Yang paling berbahaya adalah munculnya perasaan dan pikiran bermusuhan antara satu dengan yang lain.

Dalam situasi kompetitif (persaingan) tersebut, secara individual mungkin kita melakukan dua sikap. Sikap pertama adalah melakukan praksis kehidupan sesuai dengan norma, peraturan, dan hukum yang berlaku. Kita bekerja keras dalam berbagai norma dan peraturan tersebut. Akan tetapi, karena kondisi-kondisi yang berubah dan mendesak, niat dan semangat kita berubah. Kita melakukan berbagai improvisasi yang tidak sejalan dengan norma dan hukum yang berlaku.

Hal-hal tersebut cukup banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam praktiknya, ada perilaku improvisasi yang kita tahu sama tahu dan dimaklumi bersama. Mungkin, di pihak lain, yang merasa dalam posisi bersaing tidak terima. Mungkin akan terjadi benturan langsung di lapangan, atau masuk ke ranah hukum. Konsentrasi kita turun bukan lagi untuk bekerja demi bangsa dan negara, tetapi justru terbelit mengatasi masalah-masalah benturan tersebut.

Artinya, sebenarnya keberadaan dan situasi modal sosial yang selama ini kita banggakan terus menerus tergerus. Kinerja modal sosial yang kita miliki semakin melemah dan akan mengalami banyak hambatan dalam menghadapi masalah-masalah besar berbangsa dan bernegara. * * *

MODAL SOSIAL Oleh Aprinus Salam telah terbit di KEDAULATAN RAKYAT, SABTU 30 JANUARI 2021

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Uncategorized
Aprinus Salam

Manipulasi Konteks

Hal yang dimaksud dengan manipulasi konteks adalah bagaimana mengemas atau menghadirkan suatu informasi, melaporkan suatu hal, menyatakan suatu peristiwa/kejadian, tetapi disampaikan tidak sesuai-dengan konteksnya. Bahkan,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Konteks dan Individualisasi Humor

(Disampaikan pada Seminar Nasional Budaya Nusantara, Seri 8, Kelakar Nusantara, 25 September 2021) Kita sering menyaksikan beberapa kasus bahwa untuk satu konteks ”teks” yang dianggap

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin