Memelihara Fantasi

Saya pernah menulis bahwa manusia sering terjebak oleh fantasinya sendiri dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan fantasi adalah keinginan atau hasrat untuk mendapatkan sesuatu yang ideal, sesuatu yang sempurna, seperti kebahagian, kesuksesan, kedamaian, kemakmuran, keadilan, atau bahkan kebenaran. Termasuk di dalamnya kesuksesan mendapatkan akhirat.

Fantasi terutama didapatkan ketika kita (subjek) masih kecil, dari lingkungan keluarga (orang tua), atau lingkungan awal dari masyarakat berupa nilai-nilai ataupun berbagai norma yang hidup dalam masyarakat. Termasuk kalau subjek ditanam tentang cita-cita dan harapan hidup ke depan. Kemudian subjek menjawab; berbakti pada bangsa dan negara, berbakti pada orang tua, berbakti pada agama, dan sebagainya.

Kalau kemudian ada di antara subjek yang cita-citanya tidak hebat, maka kita merasa geli mendengarnya. Saya punya teman kecil, yang bercita-cita ingin menjadi pemadam kebakaran. Setahu saya, orang tuanya tidak suka dengan cita-cita itu. Padahal, di mata teman kecil tadi, pemadam kebakaran ada pekerjaan keren yang membutuhkan keberanian dan ketrampilan tinggi. Bagi teman kecil itu, pemadam kebakaran adalah pekerjaan yang setara dengan para pahlawan.

Akan tetapi, orang tuanya tetap saja keberatan, dan mengatakan bahwa itu hanya kelakar anaknya. Si orang tua tetap bersikukuh agar anaknya kelak bisa “menjadi orang”. Konsep “menjadi orang” itu tentu bukan pemadam kebakaran. Banyak profesi yang tidak kita kehendaki karena dianggap tidak berhasil “menjadi orang”. “Menjadi orang” di sini tentulah maksudnya profesi yang keren yang menjadi cita-cita fantastik kita.

Untuk mendapatkan fantasi itu, tidak jarang manusia berupaya dan bekerja keras agar, bahkan tidak jarang dalam berbagai cara. Dalam cara-cara untuk meraih fantasi itulah tidak jarang kita saling bertabrakan rencana, bertabrakan kepentingan, bertabrakan strategi, dan bertabrakan praktik-praktik hidup. Beberapa di antaranya berlangsung dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun simbolik.

Di bagian tabrakan dan konflik itulah yang tempo hari saya tolak. Saya menolak jebakan fantasi karena kita menempatkan subjek di luar diri kita sebagai saingan, bahkan sebagai musuh. Karena setiap orang juga berusaha meraih fantasinya, tidak jarang kita menempatkan orang lain sebagai penghalang. Sebagai penghalang, liyan itu harus dilawan dan dikalahkan, juga dalam berbagai cara.

Pertanyaannya, apakah mungkin kita menjalani hidup meraih fantasi tersebut tanpa harus bertabrakan dengan fantasi subjek yang lain? Dalam Quran umat Islam, ada pernyataan mari kita berlomba-lomba dalam/menuju kebaikan. Artinya, tetap saja kita boleh berlomba menuju kebaikan, bukan bertanding. Berlomba dan bertanding itu berbeda. Dalam berlomba, kita berusaha secara individual untuk mendapatkan prestasi. Semua subjek ditempatkan dalam posisi berusaha secara individual tersebut, tanpa harus menghalangi apa yang dikerjakan subjek lain.

Sebagai ilustrasi lomba lari dan pertandingan sepak bola. Ketika lomba berlari, kita semaksimal mungkin bisa berlari, tanpa harus mengganggu/menghalangi larinya subjek lain. Dalam pertandingan sepak bola, kita berhadapn langsung, dan dalam berbagai cara berusaha memenangkan pertandingan, jika perlu dengan kekerasan. Tentu perbandingan itu tidak sepenuhnya benar.

Memang ada usaha-usaha (dengan meningkatkan kinerja diri) sebelum berlomba dan bertanding. Akan tetapi, mekanisme peraihan fantasi kemenangannya berbeda. Dengan mengikuti aturan main yang telah ditentukan, hal ini setara dengan tata norma dan etik kehidupan, hampir tidak ada orang berkelahi dalam lomba lari. Berbeda dengan sepak bola, walau ada aturan yang ketat, tidak jarang masih ada perkelahian.

Tatatan kehidupan, sebenarnya mengatur hidup kita dalam “perlombaan individual” dalam menuju kebaikan hidup subjek masing-masing. Untuk mendapatkannya, negara diberi mandat untuk mengatur sedemikian rupa, agar tujuan warga, tujuan subjek, dan tujuan bernegara itu sendiri dapat tercapai. Namun, terjadi banyak politisasi kehidupan, sehingga yang terjadi adalah pertandingan fantasi. Anehnya, bahkan negara juga ikut bertanding.

Wacana dan tatanan perlombaan perlu terus menerus diperjuangkan. Setiap subjek (warga negara) mengambil posisi sebagai pemain yang meraih prestasi fantastik tanpa ada kesempatan menjegal yang lain. Jika posisi-posisi ini semakin dapat disadari bersama, maka dalam konteks ini memelihara fantasi menjadi tetap diperlukan. Karena, fantasi itulah yang membuat hidup kita selalu bersemangat dan bergairah. * * *

MEMELIHARA FANTASI Oleh Aprinus Salam terbit di KEDAULATAN RAKYAT, SELASA, 16 FEBRUARI 2021

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin