Wakaf Itu Bahasa Apa?

Kata wakaf menjadi dipersoalkan terutama dengan munculnya Gerakan Nasional Wakaf (GNW) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Kata wakaf hidup dalam keseharian dan cukup sering digunakan. Pada awalnya, kata itu dari bahasa Arab, waqf, yang artinya menahan diri.

Dalam Kamus Fiqih artinya memindahkan hak atau pemilikan pribadi menjadi milik umum atau badan yang berfokus untuk kepentingan masyarakat. Kembali ke persoalan, wakaf itu bahasa apa? Apakah bahasa agama atau bahasa nasional Bahasa Indonesia.

Ada persoalan sebagai ilustrasi. Dalam berbagai peraturan, terdapat kata wajib dan harus. Misal, selama pandemi kita wajib atau harus menggunakan masker. Kita sering menyamakannya dan dipakai secara bergantian. Akan tetapi, kita tidak bisa menolak kenyataan kalau ada yang merasa terdapat nilai rasa yang berbeda di antara kedua kata tersebut. Kata wajib, artinya, kalau tidak menggunakan masker, bisa dikenai semacam perasaan berdosa.

Jadi, bukan sekedar ke-harus-an. Berbeda dengan kata harus, hanya ditafsirkan jika kita tidak mengikuti aturan tersebut, kita akan berhadapan dengan sangsi sesuai dengan hukum yang berlaku.

Berbeda lagi dengan kata sholat (shalat) dan sembahyang. Kata shalat, dalam sejarahnya memang dipakai dalam terminologi agama Islam yang dari bahasa Arab.

Artinya, pengertian shalat hanya dikenai kepada mereka yang beragama Islam, dalam pengertian berdoa dengan menyembah, menghadap, dan menyerahkan diri kepada Allah. Berbeda dengan sembahyang, kata tersebut dapat dipakai oleh semua agama untuk menyembah Tuhannya.

Saya juga punya pengalaman berikut. Di beberapa masjid (termasuk masjid dekat rumah saya), terdapat dua kotak yang dapat dipakai untuk menyemplungkan uang. Kotak satu tertulis infaq dan kotak yang satu lagi tertulis dana sosial. Selalu saja jika saya bermaksud menyemplungkan uang, saya memilih kotak infaq. Ada perasaan telah melakukan sedekah yang bersifat relijius. Secara pribadi, saya merasa mendapatkan pahala jika menyemplungkan uang ke kotak infag.

Itu berbeda jika saya ingin menyemplungkan uang ke kotak dana sosial. Saya hanya bermaksud urunan/iuran tanpa berpretensi mendapatkan pahala. Bahkan saya merasa tidak ada “unsur sedekah” di dalam iuran. Jadi, sedekah memang dekat dengan sesuatu yang bersifat relijus. Sedekah pun bisa bermacam-macam; sedekah benda atau pemilikan pribadi, sedekah ilmu, sedekah waktu, dan sebagainya.

Dengan demikian, sedekah berbeda dengan iuran. Iuran itu terminologi atau register sosial. Mungkin bisa dikaitkan dengan terminologi ekonomi untuk kegiatan pengumpulan dana tertentu untuk keperluan ekonomi atau bantuan sosial lainnya yang bersifat ekonomi. Iuran bukan sedekah.

Sebenarnya, sangat banyak Bahasa Arab yang diserap dan menjadi kosakata Bahasa Indonesia. Dalam sejarahnya, penyerapan tersebut berjalan paralel dengan Islamisasi di Nusantara, terutama ke dalam Bahasa Melayu. Kemudian, bahasa tersebut menjadi lingua franca, dan dalam perjalanannya, pada 28 Oktober 1928, dalam Sumpah Pemuda, disepakati menjadi Bahasa Indonesia. Kini, kadang kita tidak tahu lagi apakah kata-kata tertentu pada awalnya dari Bahasa Arab atau tidak.

Pertanyaannya, kata wakaf dalam Gerakan Nasional Wakaf (GNF) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) itu dipakai dalam terminologi bahasa agama atau bahasa sosial Bahasa Indonesia. Tentu, dapat diduga bukan suatu ketaksengajaan atau karena tidak tahu. Jika hal tersebut merupakan kesengajaan dengan maksud merangkul “rasa relijius” mayoritas masyarakat Indonesia yang sekitar 88% muslim, tetapi juga mayoritas dalam kemiskinan.

Bagaimana “rasa relijius” masyarakat non-muslim yang justru mayoritas memegang ekonomi Indonesia. Dalam konteks sejarah penggunaan bahasa, klaim penggunaan kata wakaf banyak digunakan dalam diskursus yang dekat dengan hal-hal agama Islam.

Saya menduga, mayoritas masyarakat non-muslim tidak cukup nyaman dengan penggunaan kata wakaf jika hal itu dimaksudkan sebagai ajakan dalam ruang nasional, bukan dalam ruang agama.

Kemungkinan lain, jika memang dengan sengaja, ada tuduhan, pemerintah sedang melakukan “syariahisasi” ekonomi, keuangan, bahkan hal-hal yang bersifat sistem dan menejemen keuangan. Akan tetapi, tafsir ini sedikit lebay. Sangat mungkin yang terjadi adalah politisasi ekonomi dengan memanfaatkan idiom keagamaan untuk mendapatkan kompromi dan “keiklasan” dari umat Islam.

Memang, berberapa hal yang syariah-syariah ada yang jalan di Indonesia. Akan tetapi, memang itu dimaksudkan untuk mengelola aset umat. Bahwa dalam praktiknya hal-hal syariah itu belum tentu sesuai dengan kaidah syariah yang sesungguhnya, itu persoalan lain. Apalagi, hal-hal yang syariahitu tidak mengklaim dirinya sebagai dan atas nama kebijakan nasional.

Tentu jalan keluarnya, kata wakaf perlu disepakati sebagai bahasa sosial dalam bahasa Indonesia. Namun, penyepakatan itu butuh waktu puluhan tahun. Bahkan kata sedekah yang sudah sangat banyak digunakan dalam terminologi sosial, masih sangat sulit dilepaskan dari nilai rasa agama dan relijiusitas.

Kemungkinan lain, jika kata wakaf tidak bisa dilepaskan dalam pengertian dan nilai rasa bahasa agama yang relijus, maka tidak perlu menggunakan kata wakaf. Atau jangan mangkel kalau ditafsirkan itu politisasi agama.

….
Foto oleh Julia Volk dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin