Tidak Ada Penistaan Agama

Penistaan agama dimaksudkan sebagai terdapat manusia yang melakukan penistaan, menghina, merusak, merendahkan, atau membusukkan agama. Hal itu biasanya terjadi ketika terdapat manusia yang melakukan ujaran tertentu, atau melakukan tindakan tertentu, di luar ketentuan agama tertentu. Kalau dipikir ulang, pengertian dan/atau penggunaan frasa tersebut kurang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Agama adalah seperangkat nilai, pemahaman, ajaran, bahkan sebagian di antaranya menjadi doktrin tetap yang mengajarkan manusia untuk percaya akan keberadaan Tuhan; yang mengajarkan manusia untuk hidup menjadi manusia dan dalam hubungannya sesama manusia, dalam hubungan manusia dengan alam. Agama, dalam prosesnya, tidak saja menjadi pengetahuan dan ilmu tentang Tuhan (Allah), manusia, dan alam-semesta, tetapi agama telah menjadi kepercayaan dan keyakinan.

Dalam keyakinan tersebut, hal pertama dan utama yang diyakini adalah Kemahamuliaan, Kamahabesaran, dan Kemahasusian Tuhan. Namun, Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, sesuatu yang tidak terjangkau, sesuatu yang tidak akan pernah diketahui, sesuatu yang tidak akan pernah dipahami oleh manusia. Hal itu disebabkan Tuhan adalah sesuatu yang Tidak Terbatas, Sesuatu yang Nyata (The Real), tetapi sekaligus tidak diketahui sebagai Nyata.

Hal yang bisa dilakukan manusia adalah mencoba membahasakan segala hal apa itu Tuhan. Artinya, segala hal simbolik tentang apa itu Tuhan bukan Tuhan itu sendiri. Semua bahasa untuk mengatakan Tuhan menjadi dimungkinkan, tetapi bukan Tuhan yang Nyata. Karena pengetahuan, keyakinan, ilmu manusia memang tidak mungkin menjangkan ke-Nyata-nya Tuhan. Bahasa hanya berfungsi sebagai mediasi simbolik.

Dengan demikian, Tuhan sebagai hal Nyata (Tuhan) tidak akan terganggu, apalagi dintervensi, oleh semua bahasa manusia tentang diri-Nya. Karena semua bahasa manusia tentang Tuhan memanfaatkan bahasa untuk hal-hal simbolik, sebagai perantara untuk mengatakan Tuhan yang Nyata. Sesuatu yang simbolik, ketidaknyataan, tidak mungkin mampu menjangkau Kenyataan.

Kalau ada penyataan penistaan Tuhan, hal itu dimaksudkan sebagai penistaan simbolik yang tentu bukan Tuhan Sebenarnya. Tuhan bukan sosok yang dapat disejajarkan pengertiannya dengan manusia.

Agama mengajarkan secara simbolik (dengan seperangkat nilai yang diyakini) bahwa manusia itu adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, makhluk Tuhan yang disucikan, makhluk ciptaan Tuhan yang dipercaya memiliki keindahan. Atau paling tidak agama mengajarkan manusia bagaimana agar hidup benar, baik, suci, dan mensucikan.

Artinya, agamalah yang mengajarkan manusia untuk selalu berusaha mensucikan dan memuliakan dirinya (manusia). Manusialah yang memiliki martabat, jika hidupnya berusaha maksimal untuk memenuhi kebaikan dan kebenaran seperti yang diajarkan agama.

Dengan demikian, agama juga bukan sosok yang bisa disetarakan dengan manusia. Agama adalah ajaran dan keyakinan itu sendiri. Agama memang selalu ditafsirkan sesuai dengan kebutuhan dan berbagai perubahan yang terjadi. Akan tetapi, secara subtansial ajaran tentang dan pengertian Tuhan, tentang manusia, tentang alam, tentang kebaikan dan kebenaran bersifat tetap.

Perbedaan-perbedaan tafsir dimungkinkan karena terjadinya posisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Akan tetapi, maksud dan tujuan agama selalu sama dan tetap.

Sebagai kasus, mohon maaf, berbagai nilai dan ajaran dalam agama Islam. Semua hal telah terdapat dalam Quran dan Hadis. Quran dan Hadis bersifat tetap. Yang berubah adalah tafsirnya, praktik terhadap tafsir. Atau sangat mungkin permainan atau dengan melakukan penyalahtafsiran terhadap agama. Akan tetapi, semua hal dalam Quran dan Hadis adalah tetap.

Sangat mungkin terjadi permainan, politisasi, dan penyalahtafsiran, baik sangaja atau tidak, tetapi itu bukan merendahkan agama. Agama tidak dapat direndahkan, tidak dapat ditidaksucikan, karena agama tidak manusia. Agama bersifat tetap dan selalu sakral.

Apapun yang terjadi, Quran dan Hadis selalu stabil dan “tidak melakukan apa-apa”. Ilmu, pengetahuan, dan berbagai ajaran (atau doktrin) dalam Quran dan Hadis terdapat di dalam dirinya sendiri. Manusialah yang melakukan tindakan, berpikir, dan melakukan berbagai praksis dalam kehidupannya.

Dalam praksisnya, dalam berbagai tujuan, motif, niat, terhadap tafsir dan praktik keagamaan, manusialah berpeluang untuk menjadi tetap suci dan disucikan, mulia dan dimuliakan, atau sebaliknya.

Hal yang terjadi bukan penistaan terhadap agama, tetapi manusia melakukan penistaan terhadap kesucian dan kemuliaan dirinya. Dengan demikian, frasa yang lebih memadai adalah penistaan manusia. Dalam hal ini, maksudnya, terdapat manusia yang melakukan penghinaan, perendahan, pelecehan terhadap martabat kemuliaan dan kesucian manusia; mungkin atas nama agama, mungkin atas nama Tuhan, mungkin atas nama keyakinan dan ideologi lainnya.

Tindakan penghinaan, penistaan, pelecehan, perusakan terhadap harkat dan martabat manusia dan kemanusiaan adalah melanggar hukum. Karena melanggar hukum, manusia yang melakukan itu harus diperkarakan dan diproses secara hukum karena telah melakukan kejahatan kemanusiaan. * * *

Foto oleh Artem Beliaikin dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin