Negara Bersama

Saya memilih kata dan pengertian negara, bukan bangsa dan bukan masyarakat. Ketiga hal tersebut merupakan hal berbeda. Contoh sederhana; pengertian bangsa bersama, masyarakat bersama, itu sangat berbeda dengan negara bersama. Negara di sini memiliki kekuatan sebagai satuan politik yang mengikat warga untuk sesuai dengan berbagai aturan (hak dan kewajiban) sebagai warga negara. Sementara itu, bangsa dan masyarakat tidak mengikat sebagai satuan politik kewargaan.

Dengan demikian, sebagai anak bangsa, warga masyarakat, dan sebagai warga negara, itu memberikan pengertian dan tujuan yang tidak sama. Bangsa dan masyarakat lebih dalam konteks historis, sosial, dan kultural. Sementara itu, pengertian negara biasa dipakai dalam diskursus politik-bertujuan (yang dimandatkan ke pemerintah) serta relasi-relasi hak dan kewajiban warga dan pemerintah untuk bersama-sama mengelola negara.

Dengan demikian, negara adalah sebuah ruang publik milik bersama. Setiap warga boleh dan berhak memiliki negara. Setiap warga juga wajib melindungi negara sebagai miliknya. Siapa pun berhak mengekspresikan dirinya dalam ruang publik tersebut, sesuai dengan haknya sebagai warga negara, sejauh hak berekspresi tersebut tidak melanggar hak warga lain dalam ruang milik bersama tersebut. Yang perlu diklarifikasi adalah posisi hak dan kewajiban dalam memiliki dan sekaligus melindungi negara sebagai ruang milik bersama tersebut.

Hal awal yang perlu disadari bersama adalah sebagai ruang publik milik bersama, tidak ada yang boleh memonopoli kepemilikan. Pemerintah pun, dengan dukungan aparatus negara, dalam segala levelnya, tidak boleh memonopoli pemilikan. Ruang publik bukan milik pemerintah. Pemerintah justru dan hanya dalam posisi mengatur, sekaligus melindungi, hak bereksrpsesi tersebut. Dalam hal ini, memang pemerintah berhak (dan sekaligus wajib), atau memiliki wewenang untuk menegakkan aturan berekspresi warga. Penegakkan tersebut dalam rangka agar tidak terjadi ekspresi warga yang melanggar hak sesama warga.

Jadi, jika ada kebijakan dan aturan atas nama pemerintah, sebagai misal, melarang institusi apapun mewajibkan warga memakai jilbab, tidak ada yang salah dari pemerintah karena dalam posisi ini pemerintah melindungi hak warga untuk bebas berekspresi. Memakai jilbab atau tidak memakai jilbab, dalam ruang bernegara sama sekali tidak mengganggu dan melanggar hak ekspresif sesama warga. Apalagi, ruang publik bernegara bukan ruang publik beragama.

Wacana dan ajakan cara berpakaian, berwacana (tidak dinomenklaturkan dalam berbagai peraturan) sebagai usaha melakukan “penyeragaman” beragama, gaya hidup, juga ajakan penyeragaman pangan dan hingga hal-hal teknis lain dalam kehidupan bernegara, tetap boleh dilakukan sejauh itu diakui sebagai ekspreksi kolektif. Artinya, ekspresi kolektif tetap diakui. Namun, bukan berarti ekspresi kolektif tersebut dapat, boleh, dan berhak menghukum ekspresi individual sejauh ekspresi individual tidak melanggar apapun dalam ruang bernegara dan sebagai warga negara.

Namun, pemerintah (dengan aparatus negaranya) harus konsisten dalam menegakkan mana yang melanggar hak publik warga lain dan mana yang tidak. Kebut-kebutan di jalan dengan suara yang memekakkan telinga, pemaksaan terhadap etik dan ideologi tertentu, hal-hal rasis dan penghinaan terhadap sesama warga, harus diatur dan ditentang agar tidak terjadi penguasaan, penghinaan, dan pemonopolian pemilikan di ruang publik.

Memang, ruang publik bernegara itu kemudian seolah menjadi bermacam-macam. Apalagi ketika ruang besar yang selayaknya dilindungi hukum bernegara itu disekat-sekat atas nama banyak hal, sehingga ada ruang beragama, ruang pendidikan, ruang kampung, ruang suku, atau atas nama kepentingan golongan, partai, dan sebagainya. Dalam ruang tersebut masih disekat-sekat lagi atas nama ruang privat.

Sementara itu, sekat-sekat tersebut kadang tidak jelas di mana batasnya, sehingga yang terjadi adalah politisisasi batas ruang itu sendiri. Kita sering, sengaja atau tidak, mengaburkan batas kepentingan privat, ruang yang diekslusifkan (atas nama kepentingan dan kolektif tertentu) dengan mengabaikan bahwa kita hidup dalam ruang bernegara sebagai milik bersama. Tidak ada yang boleh menang-menangan.

Dalam posisi politisasi batas ruang itu, yang sering menjadi permainan batas berekspresi sebagai warga di ruang publik bernegara. Batas yang dimaksud adalah sangat sering sebenarnya seorang warga memiliki ambisi-ambisi tertentu yang bersifat politik atau ekonimi, tetapi diatasnamakan kepentingan warga, atau atas nama kepentingan sekelompok masyarakat tertentu, dan sebagainya. Dalam kondisi itu, berbagai pertentangan dan konflik, yang bisa jadi mengarah pada kekerasan, selalu dimungkinkan untuk terjadi.
Negara ini milik bersama bos! * * *

Foto oleh Tom Fisk dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin