Morfologi Ketidakadilan

Puisi Aprinus Salam

Di sudut kepalamu, kau sembunyikan timbangan dan jam tangan. Sudah berkarat katamu sambil mencuil potongan-potongan keju. Kopimu ikut terdiam di meja. Matahari dan pohon-pohon tak berdaya dengan akal-akalanmu itu.

“Tuhan kita berbeda. Kita tidak boleh saling membenci. Ini soal hak,” ujarmu sambil membuang ingus.

Kemudian, dengan mulut berbusa, kita berbicara tentang demokrasi, rokok, hukum, dan singkong, sambil kakimu bergoyang-goyang mengikuti irama dangdut yang terdengar dari kejauhan. Katamu kau tidak suka jazz. Sayang, seleraku terlalu buruk untuk memahami pernyataanmu.

“Aku suka beli barang-barang unik”, katamu lagi. Maka kau beli kurikulum, sepatu, cangkir, dan sejumlah lukisan. Juga rencana-rencana. Barang-barang itu bertumpuk rantak di gudang. Berharap debu dan kegelapan membantu melupakan.

Ketika kau membeli bensin, kau protes karena menurutmu terlalu mahal, sambil kau bercerita bahwa kau baru saja membeli BMW berwarna oranye. “Aku memang kolektor mobil”, katamu sambil mengeluh harga sembako terus membubung.

Di sebelah rumahmu, seorang anak sibuk mengumpulkan barang-barang bekas. Dia menemukan timbangan yang kau sembunyikan. Angka-angkanya tidak terbaca, tertutup lumut dan berbau.

Sambil berjalan goyah, si anak berpikir, apakah timbangan itu akan dikilo, atau ia kembalikan. Pelan-pelan, ia melangkah ke rumahmu.

….
Foto oleh Sora Shimazaki dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *