Kuasa Pasar

Cukup banyak analisis yang mencoba mengaitkan berbagai kejadian penghapusan, peniadaan, atau bahkan pelarangan berbagai kegiatan, acara, atau apapun yang terkait dengan aktivitas kemasyarakatan, aktivitas ekonomi, politik atau acara-acara komersial lainnya, sebagai hal yang tidak dikehendaki kekuasaan politik. Singkat kata, bentuk penghapusan tersebut sebagai hal yang tidak disukai pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Memang, kekuasaan pemerintah pusat (termasuk daerah) bisa menjangkau banyak hal. Akan tetapi, perlu dilihat dan dibedakan mana permainan kekuasaan demi memperkuat pelanggengan kekuasaan, dan mana posisi kekuasaan untuk mengamankan dan menstabilkan kehidupan berbangsa-bernegara, dan mana kekuasaan yang justru bagian dari kekuasaan yang lebih besar, yakni kekuasaan pasar.

Kalau berbagai aktivitas demonstrasi, berbagai kritik yang tajam hingga yang kasar, berbagai sindiran, saya kira pemerintah tidak takut dengan aktivitas seperti itu. Sejak runtuhnya Orde Baru, masyarakat bebas berbicara dan mengkritik. Pemerintah sudah kebal dan imun dengan berbagai kritik dan sindiran. Bahkan sekarang kritik menjadi komoditas. Sebagai jalan baru untuk mendapatkan kursi dan popularitas.

Akan tetapi, berbeda dibanding kritik, jika masyarakat melakukan hujatan, caci maki, dan umpatan dengan kata-kata kotor dan kasar, jelas hal tersebut bukan pada tempatnya. Apalagi berbagai aktivitas yang membahayakan masyarakat luas, hal itu memerlukan fungsi kekuasaan pemerintah untuk mengamankannya. Salah satu tujuan penting bernegara dan berbangsa adalah kehidupan yang tentram dan adil, dan bersama-sama berkemakmuran.

Akan tetapi, sebagai misal, mengaitkan penghapusan atau peniadaan program di Televisi, sebagai kehendak kekuasaan politik pusat, mungkin terlalu jauh. Apalagi, sangat jarang dan sulit dibuktikan, pemerintah takut, apalagi jatuh, karena berbagai aktivitas kritik sekritis apapun. Televisi, apalagi sebagai lembaga komersial, pengadaan dan penghapusan program/acara itu lebih mempertimbangkan kehendak dan aspirasi pasar, atau dalam hal ini biasa disebut sebagai kuasa pasar.

Akan tetapi, kuasa pasar sebenarnya tidak sedangkal itu. Di ujung kekuasaan Soeharto, ketika ketidaksukaan masyarakat Indonesia semakin menggumpal, ketidaksukaan itu ditangkap oleh pasar internasional. Kuasa pasar internasinal ikut membantu dan mengonsolidasikan kekuatan-kekuatan internal dalam masyarakat Indonesia. Soeharto juga tahu bahwa kuasa pasar internasional mulai tidak menghendakinya. Bukan kritik yang menjatuhkan Soeharto, tetapi rasa tidak nyaman dan tidak bahagia ketika kekerasan mulai terjadi di mana-mana. Kekerasan yang dikehendaki kuasa pasar internasional.

Kita loncat ketika SBY berkuasa. Kurang apa SBY dikritik, dan bahkan dihujat, dalam berbagai forum dan berbagai kegiatan kemasyarakatan. Terdapat sejumlah kegiatan dan aktivitas kenegaraan dan kemasyarakatan yang silih hilang berganti. Akan tetapi, tidak terlihat kuasa pasar internasional (dalam hal ini kekuatan Amerika dan sekutunya) tidak menyukai SBY. Kita tahu, kekuasaan SBY berlangsung dua periode. Sepuluh tahun berjalan dengan mulus. Bukan berarti SBY telah melakukan banyak hal dan tanpa kritik.

Tentu sekarang, periode kekuasaan Jokowi, periode kedua, ketika peran, fungsi, dan keberadaan media sosial semakin besar dan sangat penting, kekuasaan Jokowi menjadi terlihat lebih transparan. Apalagi, tampaknya, kiblat pasar internasional era Jokowi berbeda dengan masa-masa kuasa pasar sebelumnya. Hal ini tentu saja menimbulkan bangkitnya peluang perlawanan kuasa pasar internasional lainnya.

Berbagai kekuatan kelompok kepentingan, sebagai jejak-sisa persaingan masa lalu, semakin mendapat kesempatan untuk berkonsolidasi dengan kekuatan pasar Amerika dan sekutunya. Di balik itu, tentu ada bumbu-bumbu persaingan ideologis, termasuk persaingan agama antara kekuatan Islam, Kristen, Katholik, khususnya. Sulit menolak jika kenyataan tersebut secara laten masih berlangsung.

Aspirasi pasar internal di Indonesia, semakin memperlihatkan cabang-cabang yang menimbulkan persaingan menjadi tajam. Aspirasi kuasa pasar tersebut, di satu sisi mendapat akomodasi dalam kiblat yang dikomandani China dengan sekutunya. Di sisi lain, berbagai kelompok kepentingan pemain lama masih berpegang pada kekuatan kuasa pasar internasional yang didominasi oleh kekuatan Amerika.

Kini, Indonesia masuk ke dalam arena pertarungan kuasa pasar internasional yang semakin teridentifikasi. Berbagai kekuatan bertarung dalam berbagai cara, termasuk dengan memanfaatkan sebagian masyarakat dalam posisi ambang dan tidak jelas, baik dalam posisi ekonomi, politik, bahkan ideologis. Tokoh-tokoh perlawanan muncul ke permukaan. Akan tetapi, sayangnya, tidak dilihat bahwa tokoh-tokoh tersebut hanya boneka pasar internasional. * * *

Foto oleh George Becker dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *