Kerajaan Perusahaan

Terdapat kekuasaan global yang hidup dan terus bekerja (biopower), yang berperan penting menghadirkan kekuasaan kerajaan/perusahaan besar. Kekuasaan tersebut sulit ditolak, karena kekuasaannya bekerja dan beroperasi dalam ranah pikiran, kesadaran, dan pekerjaan. Setelah proses-proses ekonomisasi dan teknologisasi memegang peranan penting dalam kehidupan, terbangunlah rezim duniawi berdasarkan mekanisme tersebut. Politik menjadi bagian dari cara untuk terus menerus mempertahankan dan memperbesar rezim tersebut.

Kini, mau tidak mau, suka tidak suka, kita hidup dalam satu sistem kekuasaan duniawi perusahaan besar tersebut. Hal itu terlihat dari cara kita melihat dunia dan mempraktikkan kehidupan. Kita hidup dalam suatu desain yang serba ditentukan. Kapan kita makan, tidur, istirahat, atau bahkan mengerjakan sesuatu. Kita hidup dalam desain yang serba mengikuti aturan kerajaan perusahaan, berpakaian apa, makan apa dan di mana. Kita hidup dalam pedoman dan patokan-patokan (standardisasi) yang telah ditentukan kuasa kerajaan duniawi tersebut.

Memang, dalam praktiknya, kita seolah masih merasa penduduk dan warga Indonesia. Kita masih tinggal di lokal-lokal kultural tertentu. Kita masih makan, minum, dan berhobi sesuai dengan kondisi-kondisi domestik dan kelokalan kita. Akan tetapi, hal itu dipacu untuk mempertahankan identitas, meningkatkan daya saing, demi kompetisi-komptisi yang dibangun oleh kuasa kerajaan yang menguasai dunia.

Memang, kita masih berteriak-teriak dan melakukan berbagai resistensi berhadapan dengan kekuasaan kerajaan duniawi tersebut. Resistensi kita bisa saja atas nama agama, suku, ras, gender, atau bahkan atas nama rakyat. Sangat mungkin resistensi kita atas nama akal sehat, demokrasi, kesetaraan, keadilan, dan sebagainya. Bahkan, banyak resiko yang diambil untuk mengelola resistensi tersebut, sehingga konflik-konflik kekerasan tidak dapat dihindari.

Akan tetapi, kita tahu bahwa distribusi perjalanan uang tidak berlangsung secara proporsional, karena uang lebih banyak berjalan ke kas-kas kerajaan. Hal itu terkait bahwa sebagian besar dari kita membeli/membelanjakan kebutuhan-kebutuhan, dalam berbagai lapis nilainya, sebagian besar ke toko-toko, mal, dan berbagai supermarket lainnya milik kerajaan. Melakukan berbagai kegiatan ekstra pun, seperti berolahraga, berwisata, mungkin demi eksistensi dan kesehatan diri (dengan standarisasi kerajaan), sebagian besar energi yang kita abdikan tersebut adalah tontonan paling nyata sebagai sebagai warga kerajaan perusahaan.

Kita pun tahu bahwa glamourisitas dan glorifikasi kehidupan terus berjalan. Toksit-toksit hubungan kemanusiaan terus berlangsung. Demokrasi dan keadilan palsu merupakan praktik-praktik kehidupan yang kita hidup di dalammnya. Hal itu semua merupakan bagian dari skenario kerajaan besar tersebut, karena kondisi itu justru menguntungkan dan melanggengkan kekuasaan kerajaan. Berbagai proses sosial, ekonomi, dan politik, tetap menguntungkan kerajaan.

Kerangka melihat kenyataan ini, meminjam filsuf Antonio Negri, dia menyebutnya sebagai empire. Empire merupakan kekuasaan kasat mata, yang terus bekerja dan beroperasi menembut batas-batas negara, teritori, hingga memiliki kemampuan menembus ke ruang-ruang keluarga dan privat. Sebetulnya ini bukan konsep baru. Yang berbeda adalah semangatnya dalam menjelaskan dua hal. Pertama, bahwa dalam kekuasaan duniawi (empire) tersebut, manusia kehilangan subjektifitas kepribadiannya. Kedua, mandulnya komunitas-tak berkomunitas berhadapan dengan politik identitas. Kedua hal tersebut sebenarnya suatu rangkaian logis.

Kenapa hal tersebut menjadi penting untuk kembali diingatkan. Hal itu terkait dengan upaya untuk mengembalikan harkat dan martabat kemanusiaan yang terus tergurus. Kita terlalu bersemangat berkompetisi mengejar kemenangan (standarisasi yang dibuat oleh kerajaan/empire) dan keuntungan duniawi. Kita terlalu bersemangat bertanding dalam dunia politik kekuasaan, yang pertandingkan itu justru menguatkan posisi empire. Kita terlibat dalam sistem kerajaan, yang kita sama sekali tidak terlibat dalam menentukan dan membuat berbagai aturan itu.

Dalam berbagai kompetisi, kontestasi, konflik, dan pertarungan tersebut, kita lupa dan tidak sempat hidup sebagai manusia yang memiliki cinta, kasih sayang, dan persaudaraan. Kita lupa dan tidak sempat saling berbagi perasaan rindu dan cemas. Kita lupa dan tidak sempat berbagai cerita tentang makna-makna kehidupan. Yang terjadi adalah manusia di luar diri kita adalah saingan, lawan yang harus dikalahkan. Kita tidak lebih hanya menjadi seolah-olah manusia yang berharga, tetapi sebenarnya hanya berharga bagi dan di dalam empire. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin