Menggagalkan Pemerintah

Menggagalkan pemerintah itu ternyata tidak sulit dan juga banyak caranya. Pemerintah terlihat gagal jika banyak dari program kebijakan dan rencana pelaksanaan pembangunan (dalam pengertian luas), yang tercatat dalam berbagai statistik dan berbagai indeks, terlihat buruk. Kita tahu, berbagai statistik dan indeks itu dapat dilihat bersama secara internasional. Hal berdasarkan catatan dalam statistik dan indeks tersebut, kita akan mengatakan suatu pemerintah telah gagal.

Hal paling mudah untuk menggagalkan pemerintah adalah dengan melakukan korupsi. Mereka yang bisa korupsi tentu saja mereka yang secara langsung diserahkan untuk mengelola uang negara, mungkin karena jabatannya, mungkin karena posisi struktural tertentu yang memang berurusan dengan uang. Tidak banyak alasan yang bisa menjelaskan mengapa ada orang (bisa kolektif) melakukan korupsi. Akan tetapi, sangat banyak alasan mengapa seseorang (kolektif) melakukan korupsi.

Sebenarnya, tidak cukup banyak pula alasan mengapa pemerintah selalu gagal untuk menekan atau memberantas korupsi. Sekarang, memang apa-apa telah terdigitalisasikan, sehingga seharusnya banyak hal bisa dikontrol dan dicermati bersama. Akan tetapi, toh yang menginput data ke sistem digital manusia yang bisa diatur. Ada pengertian tahu sama tahu yang tidak tercatat dalam sistem digital. Semua uang tercatat, tetapi selalu ada uang yang tidak tercatat dan entah pergi ke mana.

Implikasinya, uang yang tertahan untuk warga (masyarakat), akan tidak berguna, tidak termanfaatkan. Banyak kegiatan dan program tidak bisa jalan dengan baik jika dana tidak cukup/tidak ada. Masyarakat, ketika bekerja melaksanakan program pemerintah, juga perlu dana. Sebagai akibatnya, proses sosial, ekonomi, dan politik program pemerintah berjalan seret.

Contoh lain, misalnya. Soal bagaimana pemerintah menangai pandemi. Semua telah bekerja keras, apalagi tenaga medis. Kita pun tidak mau jika keluarga kita terjangkit atau tertular virus. Tapi, jika kita tidak berkenan pemerintah terlihat sukses dalam menangani pandemi, maka caranya juga mudah. Kita tinggal tidak mengikuti protokol kesehatan, ikut berkurumun. Nanti, jika yang terjangkit ternyata banyak (dapat dilihat dari laporan yang terjangkit per hari), maka pemerintah telah gagal.

Cara lain yang cukup mudah untuk memperlihatkan pemerintah telah gagal adalah dengan membuat dan memposting berita-berita palsu dan hoaks. Kita tahu, ini banyak terjadi dan sehari-hari kita hadapi. Ada juga posting-posting tandingan yang mengedepankan kesuksesan pemerintah. Saya tidak mau terjebak dalam kontestasi tersebut. Hal yang ingin saya katakan adalah tidak sulit menggaggal citra sukses pemerintah.

Cara lain yang mudah untuk menggagalkan pemerintah adalah dengan menyenggarakan berbagai demonstrasi. Dalam situasi “ketidakpastian” dan silang-sengkarut informasi (dan wacana), maka sangat banyak dan mudah membuat alasan untuk berdemonstrasi. Apalagi jika dalam demonstrasi itu ada kerusuhan. Hal itu akan dicatat sebagai pemerintah mengalami kebingunan dalam menghadapi demonstrasi. Kadang, bukan demonstrasinya itu yang penting. Akan tetapi, efek yang terjadi karena adanya demonstrasi itu.

Masih banyak cara lain menggagalkan pemerintah dalam kepemerintahannya. Siapa saja bisa melakukan berbagai kekerasan yang berimplikasi pada perusakan dan kejahatan. Hal yang akan dicatat adalah pemerintah gagal membuat warganya aman, nyaman, dan bebas dari ketakutan. Banyaknya kekerasan yang mengarah pada kejahatan adalah indikator penting pemerintah yang gagal

.Saya memang bermaksud ingin mengatakan bahwa tidak ada pemerintah yang sukses dalam menjalankan mandat mengelola negara. Berdasarkan penelusuran dan kajian sejarah (karena waktu itu belum ada media informasi yang beroperasi secara massif), kita hampir berkesimpulan pemerintahan Soekarno berjalan tidak sukses. Inflasi yang membumbung, banyaknya warga yang miskin, sulitnya mengendalikan berbagai penyakit medis dan sosial, tidak tertangani secara baik oleh pemerintahan Orde Lama itu.

Pada masa Soeharto, informasi dikontrol sedemikian rupa. Kekuasaan disentralisasikan. Aparatus kekerasan negara dalam genggaman yang siap bekerja secara loyal dan kapan saja. Pembangunan terkesan berjalan, walaupun korupsi juga menggila. Akan tetapi, dalam perpektif apapun, kita tahu bahwa pemerintah Orde Baru mengalami gagal akut yang berat. Tidak ada perspektif apapun yang bisa menjelaskan bahwa pemerintah Orde Baru telah berjalan dengan sukses. Masyarakat yang mengalami Orde Baru bisa merasakannya dan menilainya.

Setelah Soeharto, kepemerintahan berjalan lebih dinamis. Habibie masih menanggung beban kegagalan Orde Baru. Masa-masa transisi pada kepemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati, tidak ada indikator untuk mengatakan sukses. Eforia dan beban psikologis yang diidap masyarakat, dan dendam kepada Orde Baru, masih belum bisa menepis persepsi bahwa kekuasaan pemeritah sebagai sesuatu yang jahat, culas, dan gudang kebobrokan. Artinya, jika eforia itu belum hilang, tidak akan pernah ada pemerintah yang sukses di Indonesia.

Pada masa SBY, kekuasaan pemerintah berjalan lebih stabil. Akan tetapi, bukan berarti SBY mampu menghilangkan atau mengurangi cara mudah menggagalkan kepemerintahannya. Pada masa SBY, media sosial telah bekerja dan digunakan secara maksimal, dan terdokumentasikan dengan baik. Sekarang kita bisa menilai apakah pemerintah SBY sukses atau gagal.

Kini, kekuasaan kepemerintahan Jokowi telah berlangsung satu periode, dan masih sedang berjalan untuk empat tahun ke depan. Cukup mudah menggagalkan pemerintahan Jokowi karena memang banyak cara yang bisa dilakukan. Yang paling cerdas adalah menggagalkan pemerintahnya atas nama demokrasi dan HAM itu sendiri. Setelah itu, mari kita lihat bersama catatan-catatan yang di-input dalam berbagai statistik dan indeks-indeks. * * *

Foto oleh Tom Fisk dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin