Rasa Berbahasa

Rasa Berbahasa

Dari berbagai kecenderungan pemakaian bahasa dalam praktik sehari-hari, menjadi tahulah kita konstruksi “selera berbahasa” yang mana yang telah menguasai diri kita. Hal ini perlu diingatkan kembali karena, secara umum, sebetulnya ada tiga lapis bahasa dalam diri kita, yakni bahasa Ibu (lokal), bahasa nasional, dan bahasa non-lokal non-nasional (asing). Implikasi dari pilihan berbahasa itu secara langsung juga memposisikan identitas seperti apa yang kita ambil.

Memang, belum ada data statistik yang pasti berkaitan dengan bahasa yang mana yang dominan kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Catatan ini hanya berdasarkan pengamatan umum, dalam ruang-ruang yang berbeda. Di kampung-kampung/lokal tertentu, jika suatu pembicaraan bersifat “komunalitas”, maka bahasa Ibu masih cukup dominan. Akan tetapi, saat ini kampung yang bersifat komunalitas semakin sedikit, karena warga Indonesia berhak hidup di mana saja.

Pada kampung/lokal tertentu yang sudah tidak bersifat komunalitas, ada upaya penggunaan bahasa nasional. Kita menjadi tahu bagaimana Bahasa Indonesia tersebut dipraktikkan; campur baur. Hal yang menarik adalah praktik penggunaan bahasa nasional itu sudah melalui rasa dan cara pandang bahasa lokal. Untuk artikulasi dan penekanan konteks komunikasi tertentu, bahasa lokal akan dirasakan menjadi lebih cocok/pas dalam komunikasi itu.

Fakta itu memperlihatkan masih cukup kentalnya aroma dan muatan kultural dalam aspek berkomunikasi yang bersifat kelokalan. Warga atau masyarakat kampung masih bertahan dan mencoba mempertahankan bahasanya agar tidak terseret ke dalam perasaan dan cara “bahasa kota”. Penggunaan bahasa dalam komunikasi yang melibatkan perasaan, maka tidak ada bahasa lain yang paling pas selain bahasa Ibu (lokal). Konversi-konversi ke bahasa Indonesia masih dimungkinkan dalam perasaan berbahasa yang sangat tidak memadai.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah bagaimanapun juga jangan terlalu berharap praktik penggunaan bahasa nasional warga kampung/lokal itu akan baik dan benar. Dalam kasus itu akan terbukti bahwa penggunaan bahasa nasional terkepung dalam konstruksi bahasa lokal dan bahasa non-lokal non-nasional. Untunglah, begitu banyak bahasa asing yang kemudian dijadikan bahasa nasional. Yang terjadi adalah bagaimana bahasa yang mulanya bahasa asing, kemudian dinasionalkan, digunakan oleh seseorang dalam perasaan bahasa Ibunya.

Pada ruang lain, dalam masyarakat perkotaan dan kelas menengah, bahasa Indonesia cukup dominan digunakan. Percampurannya biasanya bahasa asing yang sudah di Indonesiakan, atau mungkin masih dalam bahasa asingnya. Yang menarik, saya membayangkan bahwa rasa berbahasa Ibu/lokal mungkin semakin tertepis. Praktik berbahasa itu bukan semata secara langsung terkait dengan perasaan berbahasa, tetapi justru persoalan identitas agar masuk menjadi warga Indonesia yang modern. Di hal tersebut di atas, fungsi identitas bahasa Indonesia telah berjalan dengan cukup baik, walaupun sering bertumpang tindih. Tumpang tindih terjadi bukan karena pertimbangan identitas, tetapi lebih dalam konteks perasaan berbahasa yang berlapis-lapis sesuai dengan situasi penggunaan bahasa itu sendiri.

Namun, bisa saja yang terjadi adalah rasa berbahasa yang bersifat perasaan dalam konteks ikatan emosional dengan bahasa Ibu sudah hilang. Atau, yang terjadi adalah sudah banyak dari masyarakat Indonesia yang bahasa Ibunya bahasa Indonesia. Dalam konteks nasionalisme kebangsaan, tentu fenomena ini boleh saja disyukuri. Akan tetapi, persoalannya tidak semudah itu.

Yang menjadi masalah terutama berkaitan dengan kelengkapan kultural bahasa Indonesia bila dibandingkan dengan, misalnya, Bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki kelengkapan dan detil yang sangat memadai terhadap banyak hal. Hal itu diperlihatkan dengan jumlah kata yang lebih banyak dibanding Bahasa Indonesia. Sebagai misal lagi, banyak penulis sastra yang berasal dari Jawa mengalami kesulitan menulis puisi dalam bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia tidak pernah cukup memadai dalam menampung perasaan dan imajinasinya.

Persoalan lain yang perlu dicermati adalah hilangnya kemampuan rasa, bahkan imajinasi berbahasa ketika penambahan kosa kata bahasa nasional justru bukan dari lokal-lokal. Jika itu terkait dengan kosa kata modern yang memang tidak ada dalam banasa lokal, apa boleh buat. Tetapi, secara kultural kita tidak dibesarkan dalam bahasa non-lokal non-nasional.

Di samping itu, justru kelokalan yang akan menjaga warwah identitas kita. Menjadi warga Indonesia modern tidak ada masalah, tetapi yang menjaga warwah budaya kita adalah ketika kita tetap dalam posisi sebagai orang yang memiliki kebanggaan terhadap bahasa Ibunya. Bahasa Ibulah yang menampung dan memelihara semua ikatan emosional dan kultural kebudayaan kita. * * *

Foto oleh fauxels dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

1 thought on “Rasa Berbahasa”

  1. Pingback: Bahasa untuk Anak - JEJAK IMAJI

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *