Politik dan Sukarelawan Cinta

Apa yang paling kita butuhkan dalam setiap proses-proses politik, katakanlah politik pemilu, dan politik pilihan lainnya. Seperti dapat kita saksikan bersama, politik pemilu secara relatif menjadi wacana dan praktik sentral politik di Indonesia. Berdasarkan perhitungan kasar (di atas kertas), maka mulai dari pemilihan kades, bupati, gubernur, legislatif (DPRD dan DPR), dan presiden, maka alangkah banyaknya pemilu. Ini mengingat di Indonesia ada sekitar ribuan kades, lebih dari 514 kabupaten kota, dan 34 propinsi.

Pemilu menjadi ajang paling absah dalam merebut kekuasaan untuk segala levelnya. Di Indonesia, mayoritas masyarakat hampir menempatkan politik-kekuasaan bukan semata sebagai realisasi diri, melainkan sebagai ajang “mencari nafkah”, hingga ajang memenuhi keserakahan. Ini terjadi mengingat sulitnya mencari pekerjaan. Kalau toh ada pekerjaan, sebagian besar kualifikasi masyarakat Indonesia tidak memenuhi persyaratan terhadap profesi pekerjaan itu.

Karena kondisi itu, politik, yang dalam hal ini diakomodasi oleh puluhan partai, menjadi ajang terbuka untuk “mencari nafkah”. Kekuasaan di Indonesia hampir identik dengan pusat sumber keuangan. Karena kelak siapapun yang berkuasa, maka merekalah yang akan menentukan bagaimana sumber keuangan itu diberdayakan, didistribusikan, atau bahkan dimainkan.

Itulah sebabnya, politik di Indonesia berjalan amat ketat sekaligus kacau, penuh persaingan, dan perlu dukungan modal uang dan orang. Partai dan orsospol perlu mempersiapkan dirinya secara kuat jika tidak mau kalah sebelum bertanding (berperang). Maka muncullah kesatuan-kesatuan pengamanan yang memang dipersiapkan untuk hal-hal insidental jika terjadi kekacauan karena ketatnya persaingan.

Kondisi itu juga memaksa negara, dengan aparat keamanannya mempersiapkan dirinya secara matang. Polisi dan tentara siap dikerahkan jika dalam prosesnya terjadi hal-hal kekerasan, yang kita tahu, sangat sering terjadi. Beberapa kasus di berbagai daerah, baik prosesi pemilu tingkat gubernur atau bupati yang berakhir dengan kericuhan adalah segelintir potret politik pemilu kita.

Namun, yang kita butuhkan bukan polisi, bukan banser, bukan laskar-laskar, atau satuan khusus pengamanan, bukan hansip, bukan tentara. Bukan mereka yang berseragam kaku, mungkin berwana hitam, merah, atau loreng-loreng dengan membawa pentungan. Hal itu hanya membuat proses politik berjalan menakutkan, seram, dan berbahaya.

Yang kita butuhkan adalah sukarelawan-sukarelawan cinta. Sukarelawan cinta dalam hal ini adalah mereka yang mensinergiskan dirinya hanya berdasarkan ikatan cinta; cinta damai, keadilan, kejujuran, kebenaran, dan cinta sesama manusia. Mereka diharapkan tidak terikat dengan kelompok kepentingan tertentu, apalagi partai politik, mereka manusia bebas (independen), dan dengan kesadaran penuh menjunjung kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam menjalankan peran-perannya, selayaknya mereka tidak memakai seragam tertentu, atau hal-hal yang memberikan identitas tertentu. Hal itu hanya akan membuat pengelompokan yang tidak perlu. Jika terjadi pengelompokan, maka akan terjadi pengeluaran terhadap mereka yang merasa tidak menjadi bagian dari kelompok tersebut. Jika itu terjadi, maka akan ada kita dan lainnya. Itu akan menghilangkan kebersamaan.

Sukarelawan cinta bekerja tanpa pretensi keberpihakan, karena yang ia perjuangkan adalah apa yang menjadi komitmen cintanya. Ia bukan siapa-siapa, dan tidak perlu menjadi siapa-siapa. Ia juga bisa dari mana saja, dari profesi apa saja, atau dari suku, agama, dan ras, apa saja. Di atas semua itu yang penting dia cuma manusia yang berniat memberikan cintanya kepada sesama manusia.

Ia siap tidak populer dan bahkan tidak dikenal. Ia siap menjadi pihak yang dikambinghitamkan, sampah makian, asal hal itu menimbulkan kebaikan bagi berbagai pihak. Ia siap dirugikan asal mendatangkan kebenaran, kejujuran, dan kedamaian. Ia siap bekerja di mana saja, tanpa terikat ruang dan waktu karena cintanya kepada kehidupan dan kebaikan.

Tentu sulit mensinergiskan para sukarelawan cinta. Pertama, aktivitas itu nyaris tidak mendatangkan keuntungan finansial apapun. Kedua, karena ini gerakan kasih-sayang maka dampaknya mungkin tidak kelihatan, atau tidak bisa segera dirasakan. Ketiga, aktivitas ini nyaris tanpa organisasi, sehingga sangat mungkin kegiatannya tidak terkelola dengan baik. Karena tidak terkelola, sangat mungkin para sukarelawan cinta tidak dapat mengklaim bahwa kebaikan yang terjadi sebagai hasil dari pekerjaan mereka.

Menjadi persoalan pula, siapa yang bersedia menjadi sukarelawan-sukarelawan cinta dalam membenahi dan mengatasi berbagai persoalan kehidupan dengan cara-cara seperti itu. Itulah sebabnya, saya pastikan mereka yang bersedia menjadi sukarelawan cinta adalah sebagai berikut.

Pertama, mereka yang bersedia menjadi sukarelawan cinta tentulah mereka yang sakti, mereka yang dalam banyak hal sudah selesai dengan “urusan duniawi”. Kedua, mereka yang memiliki energi positif yang besar dalam dirinya, yang berkorelasi langsung dengan kejujuran, kebenaran, dan cinta-kasih. Ketiga, mereka yang dalam kondisi satu dan dua itu, siap untuk tidak diketahui keberadaannya.

Akan tetapi, bukan berarti Anda tidak bisa menjadi sukarelawan cinta. Karena siapapun sebetulnya kita, kita memiliki kemampuan untuk menjadi sukarelawan cinta. Menjadi sukarelawan cinta juga tidak harus berkonotasi penuh. Ketika Anda selalu memberikan wajah senyum kepada siapa saja, maka Anda telah memulai diri Anda menjadi sukarelawan cinta.

Ketika Anda telah merasa sangat tidak menyukai perseteruan, pertengkaran, percekcokan, maka Anda sudah menjadi bagian dari sukarelawan cinta. Ketika Anda menolak diajak melakukan ketidakjujuran, tipu muslihat, korupsi, memburuk-burukan pihak lain, tidak bersedia merugikan atau menjahati orang lain, maka Anda sudah menjadi bagian dari sukarelawan cinta.

Ketika Anda siap dikecewakan dan disakiti hanya demi berharap kemuliaan hidup dan kehidupan, maka Anda telah menjadi sukarelawan cinta. Sekaligus menunjukkan bahwa Anda memang sakti mandraguna. * * *

Foto oleh August de Richelieu dari Pexels

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Doa-doa yang Konyol

Saya ingin sedikit meneruskan tulisan “Doa Brengsek” dengan judul “Doa-Doa Yang Konyol”. Prinsipnya sama, doa brengsek atau konyol adalah doa yang seolah mengatur atau mendikte

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Memaksimalkan Kesepakatan

Kehidupan dapat terus berjalan, dalam ruang dan kepentingan yang berbeda-beda, karena adanya dan atas nama kesepakatan. Kesepakatan tersebut meliputi kesepakatan politik, ekonomi, sosial, hukum, sosial,

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Modal Orang Awam

Dalam persepektif teori yang dikembangkan oleh Bourdieu, seseorang dalam hidupnya tidak lain mencoba mengakumulasi modal. Kemudian, dia membagi modal itu ke dalam modal sosial, modal

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

(BER-)KELAKAR

Kelakar, atau maksudnya berkelakar, adalah suatu pengertian yang inheren dalam ruang-ruang humor, komedi, anekdot, senda-gurau, lucu-lucuan, dagelan, lawak, jenaka, dan berbagai hal lain yang lebih

Read More »
Sosial dan Politik
admin

Nia Ramadhani

Saya bukan seseorang yang cukup mengagumi Nia Ramadhani ketika dia masih menjadi pemain sitentron pada tahun 1990-an akhir hingga pada awal 2000-an (Maaf saya agak

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin