Meniadakan Ketidaksempurnaan

Kondisi demokratis, sejahtera, adil, dan makmur itu adalah sesuatu yang sempurna. Kemudian kita berlomba-lomba, bekerja keras, dan merekayasa sedemikian rupa untuk meraih kesempurnaan tersebut. Kita pun tahu bahwa demokrasi, kesejahteraan, kemakmuran, bahkan keadilan itu tidak atau belum tercapai. Pertanyaannya, di mana kesalahan kita?

Hal itulah yang disebut sebagai fantasi ideologis. Fantasi ideologis terjadi karena kita tahu bahwa manusia itu tidak sempurna, dan kita berjuang untuk terus menerus menjadi sempurna. Persoalannya adalah kita tidak tahu bahwa kesempurnaan tersebut tidak akan pernah bisa terjangkau. Kesempurnaan adalah The Real(Nyata). Kesempurnaan adalah Kesempurnaan itu sendiri. Artinya, ketika kita merasayang sempurna tersebut terealisasi, dia hanya menjadi simbolik, dan bukan kesempurnaan.

Sebagai misal, demokrasi. Substansi terpenting dari demokrasi adalah menerima cacat-cacat ketidakharmonisan dari sesuatu yang diandaikan seimbang antara hak dan kewajiban. Kita menerima berbagai perbedaan sebagai suatu keragaman yang subtansial. Kenyataannya, kita sering mamaksakan hak-hak untuk demokratis, tetapi justru dengan cara-cara yang tidak demokratis dengan mengabaikan hak-hak demokrasi orang lain.

Dalam konteks tersebut, demokrasi menjadi paham yang diatasnamakan saja sehingga yang kita dapatkan adalah ketidakdemokratisan. Kita memaksa suatu situasi untuk sempurna, tetapi dengan tidak menerima kondisi yang tidak sempurna. Padahal, demokrasi adalah penerimaan terhadap sesuatu yang tidak sempurna. Begitu kita menerima bahwa selalu ada cacat, kesalahan, dan perbedaan yang dilakukan manusia, maka jalan menuju demokrasi lebih dimungkinkan.

Demikian pula halnya dengan keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran, dsb. Konsep tersebut lebih sebagai big others yang secara imajiner kita ingin mencapainya. Sebagai konsep hal tersebut disimbolisasi dengan sejumlah pengertian atau kriteria. Akan tetapi, semua hal tersebut adalah sejauh jangkauan yang bisa diketahui tentang big others. Big others adalah cerminan dari The Others, yang sempurna. Big others tidak sama dengan The Others.

Hal yang menjadi masalah adalah bukan pada keinginan untuk mendapatkan keadilan, kesejahteraan, atau kemakmuran itu sendiri. Yang menjadi masalah dari mana hasrat datangnya keinginan tersebut. Dalam konteks inilah kemudian konstruksi ideologis tentang ketidaksempurnaan manusia mendapatlan landasan filosofis dan teologisnya. Ketika terpisah dari The Real (dalam kandungan dan harus dilahirkan ke dunia simbolik), manusia menyadari kekurangannya. Kesadaran itu menyebabkan ia berusaha terus berjalan untuk kembali ke The Real.

Akan tetapi, manusia tidak pernah tahu apa itu The Real, Kesempurnaan. Manusia hanya tahu kesempurnaan-kesempurnaan sebagai the little others, yang secara imajiner lebih sebagai cerminan The Real. Yang paling berbahaya adalah ketidaktahuan bahwa Kesempurnaan itu tidak pernah terjangkau. Sekarang yang terjadi adalah bahwa kita merasa mengetahui Kesempurnaan, dan bahkan mengklaim Kesempurnaan itu sebagai milik kita, milik kelompok tertentu, miliki agama tertentu.

Kita tidak menerima ketidaksempurnaan sebagai satu situasi keberadaan. Padahal, penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, justru sebagai syarat untuk menuju bersama-sama ke situasi sempurna. Sebagai manusia kita adalah makhluk yang tidak Sempurna. Ketika kita mengakui bahwa kita bukan Sempurna, justru pada saat tersebut kita telah meniadakan berbagai pengertian tentang sempurna dan tidak sempurna.

Negara memang perlu diposisikan keberadaannya sebagai big others itu sendiri. Akan tetapi, hal itu tidak harus menjadi ambisi individual/pribadi. Karena jika itu yang terjadi, maka banyak hal dari kita telah melakukan kesalahan fatal karena tidak bisa membedakan mana posisi atau keberadaan negara, mana keberadaan manusia, dan mana keberadaan The Real (dalam konteks ini Tuhan). Inilah yang menyebabkan beragai kekacauan, kerancuan, dan kekerasan simbolik atau pun kekerasan fisik.

Menerima dan meleburkan ketidaksempurnaan selayaknya sebagai satu situasi kesadaran yang kodrati. Kita memang ingin sekali berkemakmuran, berkeadilan, dan berkesejahteraan. Akan tetapi, kita juga harus paham bahwa kita tidak pernah tahu di mana ujung dari keberadaan kemakmuran, keadilan, atau kesejahteraan itu sendiri. Karena sama-sama tidak tahu, maka tidak boleh seorang pun menjadi penguasa terhadap klaim Kesempurnaan.

Dengan demikian, syarat untuk bisa menuju ke arah kesempurnaan itu justru dengan menerima dan meleburkan ketidaksempurnaan pada titik tidak membutuhkan apa-apa lagi. Kesemprunaan adalah fantasi ideologis yang menutup pengetahuan dan pemahaman kita terhadap sesuatu kenyataan yang Sempurna. Padahal, yang Sempurna itu hanyalah sesuatu yang Nyata (The Real). Kita adalah fana. Sesuatu yang fana tidak mungkin menjangkau yang Nyata, kecuali melebur dan meniadakan diri atas ketidaksempurnaan hingga kita tidak membutuhkan atau tidak memiliki keinginan dalam fantasi ideologis apa pun. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin