Menjijikkan Sebagai Estetika: Catatan untuk Memorabilia

(Tulisan Tahun 1999)

Pengantar

Belum lama berselang, Agus Noor, cerpenis dari Yogya menerbitkan sejumlah cerpennya dalam sebuah buku. Buku cerpen itu dinamakan Memorabilia (Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia, 1999). Buku itu memuat limabelas cerpen berjudul “Akuarium” ( ditulis 1995-1997), “Sepotong Bibir di Jalan Raya” (1992-1996), “Anak Ayah” (1998-1999), “Kelepak Sayap Jibril” (1996), “Mawar, Batu, Kaca yang Pecah, Badak-Badak” (1998), “Pemburu” (1995-1998), “Keluarga Bahagia” (1997-1998), “Kupu-Kupu di Bawah Sepatu” (1996-1997), “Hikayat Anjing” (1998-1999), “Cerita Tentang Otok” (1994-1999), “Dunia Serena” (1996-1997), “Masterpiece” (1998-1999), “Dongeng Buat Pussy (Atawa: Nightmare Blues)” (1999), “Hujan” (1997-1999), dan “Bouquet” (1999).

Seperti dapat dibaca, cerpen “tertua” Agus Noor dalam kumpulan tersebut bertahun 1992 yaitu “Sepotong Bibir di Jalan Raya”, walau mungkin dikemas ulang pada tahun 1996. Sementara itu, hampir sebagian besar cerpennya bertahun 1996, 1997, 1998, dan yang paling banyak 1999. Informasi ini bagi saya cukup penting karena tampaknya pada tahun-tahun tersebutlah kita, masyarakat Indonesia, secara keseluruhan mengalami berbagai hal luar biasa. Banyak peristiwa yang aneh-aneh, seolah-olah nyata tapi mungkin tidak nyata, seperti terjadi tapi sulit dipercaya.

Hal-hal yang nyata, tetapi sering tidak masuk akal tersebut dialami oleh masyarakat Indonesia termasuk Agus Noor. Peristiwa itu seperti sebuah cerita yang tidak ada juntrungannya, tetapi anehnya, selalu menarik perhatian. Dari satu kejadian ke kejadian yang lain, seolah tak terduga, mungkin mengejutkan mungkin tidak, tapi yang pasti selalu membuat penasaran.

Kira-kira seperti itu pulalah kecenderungan umum cerpen-cerpen Agus Noor yang terkumpul dalam Memorabilia. Agus Noor tidak peduli apakah cerita yang ditulisnya itu bisa dimengerti atau tidak, dapat dipercaya atau tidak, mengagetkan atau tidak, sekadar isu atau tidak, bahkan bisa diacu dalam kenyataan atau tidak. Yang penting adalah bagaimana setiap satu kejadian ke kejadian lain terikat dalam satu jalinan kental sebuah cerita dan demi bercerita itu sendiri. Cerita Agus Noor meliuk-liuk ke sana ke mari dengan pretensi utama untuk bercerita dengan berusaha membuat tegangan dari satu kejadian ke kejadian lain. Dapat dikatakan kecenderungan umum dalam hampir seluruh cerpen yang terkumpul dalam Memorabilia berkaitan dengan teknik bercerita yang menunjukkan kecenderungan “surealis”.

Teknik dan bentuk cerita ini saya kira berkaitan dengan ketidakmampuan atau keterbatasan realisme dalam menampung berbagai hal yang tidak dapat “diceritakan begitu saja”. Ada keterbatasan-keterbatasan yang “membelenggu” . “Seperti Serena, anak-anak itu kemudian merasa tak diperhatikan, kemudian membangun impian. Mengembara di dunianya sendiri ….” (hlm. 134). Mengembara ke dunia khayal yang bebas dari segala tata tertib, peraturan, logika, dan batas-batas bahkan batas-batas nyata-tidak nyata.

Menjijikkan

Mungkin ada baiknya ditinjau secara singkat beberapa cerpennya yang tekumpul dalam antologi tersebut. Di sini saya tidak berpretensi “meringkas” cerpen. Akan tetapi, yang saya lakukan cuma menangkap garis besar yang diceritakan. Sebagai misalnya, cerpen berjudul “Akuarium”. Dikisahkan dalam cerpen ini seorang tua Pitaya (bahkan seperti seekor anjing) sedang kesepian menunggu mayat istrinya yang diawetkan dalam sebuah akuarium. Dalam kesendirian dan kesepiannya itu Pitaya mencoba merefleksikan banyak hal yang menyebabkan imajinasi dan fantasinya terbang ke mana-mana. Teringat ia akan kebersamaan dengan istrinya, masa-masa penuh kedamaian dan ketentraman, walaupun dunia di luar itu penuh hiruk pikuk pembantaian, pemerkosaan, dan sebagainya. Kontradiksi itu hanya menyebabkan Pitaya bosan dan muak memahami realitas kehidupan yang dihadapinya. Ia berkesimpulan bahwa dunia ini tidak lebih sekumpulan hewan najis yang menjijikkan, termasuk dirinya. Di selah keputusasaan tersebut Pitaya berusaha mencari keabadian, cinta, yang barangkali bersembunyi dalam kehidupan istrinya.

“Sepotong Bibir di Jalan Raya” adalah cerpen berikutnya. Cerpen ini bercerita bagaimana Winarti secara tiba-tiba menemukan sepotong bibir tergeletak di jalan raya. Cerita berkembang ketika Winarti mencoba mengira-ngira bibir siapakah gerangan, apa sebab bibir tersebut ada di jalan raya, bagaimana kisah pemilik bibir yang indah itu. Yang menarik, Winarti selalu mengira bahwa pemilik bibir itu adalah seorang wanita sebagai akibat siksaan (diintrogasi) dan bibir itu berkat sayatan silet atau pisau lipat. Bayangan itu membuatnya sering bermimpi ada sekawanan yang berpakaian loreng, dengan tutup kepala ala ninja, segerombolan makhluk misterius yang sering menyiksa. Dengan teknik set-back cerpen ini ingin menceritakan bahwa jangan-jangan bibir itu milik Winarti sendiri.

Sementara itu, “Anak Ayah” menceritakan bagaimana seorang ayah yang bajingan mendidik anaknya yang laki-laki dengan caranya sendiri, dengan bangga dan pongah. Kebanggaan itu ia bangun justru dengan merendahkan dan menghinakan istrinya, ibu si anak, sebagai wanita lemah, menjijikkan dan hanya bisa hidup berkat pertolongan laki-laki, ayah si anak. Barangkali, berkat didikan tersebut si anak sukses menjadi “orang”. Suatu hal yang tentu saja sangat dibanggakan ayahnya.  Pada puncak kejayaan si anak, ternyata ayahnya yang mulai tua justru pudar kejantanannya. Ia terperosok dalam kehidupan yang hina. Si anak tidak percaya jika ayahnya hidup dengan cara yang hina. Untuk mengembalikan kepercayaan tentang kenangan kegagahan orang tuanya, si anak membunuh ayahnya sendiri, agar yang dikenangnya adalah ayahnya yang dulu, yang jantan, yang bajingan tengik, dan gagah berani.

Sementara itu, “Anak Ayah” menceritakan bagaimana seorang ayah yang bajingan mendidik anaknya yang laki-laki dengan caranya sendiri, dengan bangga dan pongah. Kebanggaan itu ia bangun justru dengan merendahkan dan menghinakan istrinya, ibu si anak, sebagai wanita lemah, menjijikkan dan hanya bisa hidup berkat pertolongan laki-laki, ayah si anak. Barangkali, berkat didikan tersebut si anak sukses menjadi “orang”. Suatu hal yang tentu saja sangat dibanggakan ayahnya.  Pada puncak kejayaan si anak, ternyata ayahnya yang mulai tua justru pudar kejantanannya. Ia terperosok dalam kehidupan yang hina. Si anak tidak percaya jika ayahnya hidup dengan cara yang hina. Untuk mengembalikan kepercayaan tentang kenangan kegagahan orang tuanya, si anak membunuh ayahnya sendiri, agar yang dikenangnya adalah ayahnya yang dulu, yang jantan, yang bajingan tengik, dan gagah berani.

“Bagaimana?” tanyaku setelah ia selesai membaca.
“Hmm,” ia menatapku sejenak. “Aku kok tidak begitu suka.”
“Kenapa? Karena bahasanya jelek?”
“Bukan.”
“Lantas kenapa?”
“Sepertinya, kamu terlalu melebih-lebihkan, terlalu mengada-ada. Apa mungkin peristiwa itu terjadi di negeri ini? Apa pernah terjadi peristiwa semacam itu di sini? Lagi pula, aparat tak pernah menyiksa begitu rupa…”

Penutup cerita itu barangkali semacam “pembelaan” terhadap cerita yang dibangun oleh Agus Noor. Artinya, dalam banyak hal sebetulnya Agus Noor ingin bercerita seenaknya dan asal-asalan, seperti disinggung di depan. Cuma, ada saat-saat tertentu sepertinya ia merasa “tidak enak hati” agar tidak kelihatan berlebihan, walaupun bisa jadi cerita seperti itu bukan soal mungkin atau tidak mungkin terjadi.

Akan tetapi, baiklah saya merasa tidak perlu menyinggung semua cerpen. Yang jelas, secara umum membaca cerpen Agus Noor, seorang Agus Noor tidak bermaksud ingin menyenang-nyenangkan pembaca. Agus Noor tidak bermaksud melucu, atau sebaliknya ingin menteror. Ia hanya ingin bercerita bahwa banyak hal yang aneh, yang menjijikkan, yang membuat kita muak, yang membuat kita takut, dan putus harapan. Bahkan ia hampir tidak percaya bahwa di dunia ini ada keindahan, cinta, dan keabadian. Kalau toh itu masih ada, maka itu hanya tersimpan dalam kenangan, sesuatu yang mungkin perlu dikenang, mungkin juga tidak.

Agus Noor tidak cukup peduli dengan jalan cerita, dan ini menyebabkan cerpen Agus Noor tidak terjebak menjadi esei atau kolom.  Ia sangat mengandalkan denotasi dalam pengertian tidak ostentif, khususnya berkaitan dengan tokoh, setting, dan berbagai kejadian dalam cerpennya itu. Memang, ada beberapa kejadian yang simbolis menyiratkan satu peristiwa seperti peristiwa Mei 1998, atau identitas tertentu seperti pakaian loreng, kepala ditutup (ala ninja), laki-laki tegap berambut cepak, dan sebagainya. Namun secara umum, ia tidak mencoba mengikat tokoh atau setting, atau berbagai kejadian berdasarkan sesuatu yang dapat diacu dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya, dalam hal ini cerpen Agus Noor secara relatif bisa dibaca oleh siapa saja. Memang, dalam beberapa hal ia memakai bahasa atau nama Jawa yang secara semantik memiliki arti tertentu. Akan tetapi, kalau toh pembaca tidak mengetahui arti kata tersebut sama sekali tidak mengganggu pembaca yang tidak memiliki referensi denotatif tersebut.

Di samping mengandalkan denotatif, cerpen Agus Noor juga sangat mengandalkan polisemi. Walaupun sangat mengandalkan denotasi dan pelisemi, Agus Noor sekali dua, tidak jarang menarik berbagai cerita yang dibangunnya seolah-olah memang pernah terjadi dalam kehidupan. Hal ini barangkali hanya semacam siasat bercerita agar cerita seolah-olah cerita itu juga dimiliki oleh para pembaca. Siasat atau strategi penceritaan seperti ini yang menyebabkan cerpen Agus Noor menjadi menarik untuk dinikmati, walaupun dengan perasaan mual. Karena pembaca juga membayangkan kalau hal itu dapat terjadi pada dirinya. Akan tetapi, pembaca menjadi lega kembali jika sekali dua berbagai peristiwa seolah hanya khayalan belaka, sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Menyimak uraian di atas, sebagai siasat bercerita cerpen Agus Noor selalu bergoyang-goyang antara teks dan konteks. Jika pembaca sekadar ingin menikmati cerita sebagai teks itu sendiri, cerpen ini sudah menarik. Namun, jika pembaca mengaitkan berbagai peristiwa sesuai dengan konktes di mana cerpen tersebut dibuat dan dibaca hal itu justru menambah keasyikan tersendiri. Barangkali siasat itu dalam banyak hal semacam upaya membuat dongeng modern. Cerita yang faktual dan niscaya terjadi dan diketahui bersama, tetapi dengan “dramatisasi” tertentu membuat cerita itu menadi tidak logis, tidak masuk akal, walau hal itu menjadi tidak penting lagi.

Hal yang juga menonjol, tampaknya Agus Noor sangat mengandalkan perlocution yaitu jenis ujaran atau kata-kata  yang bertujuan menimbulkan dan menghasilkan efek tertentu kepada lawan bicara, (dan tentu juga kepada pembaca). Yang paling menonjol adalah kata-kata atau ujaran yang mengarah pada pengertian sadis, kejam, sekaligus menjijikkan. Hal ini dapat ditemukan dalam hampir semua cerpen yang terkumpul dalam buku tersebut seperti akan diuraikan dalam keteranan berikut.

Konteks Cerita

Persoalan yang barangkali perlu disinggung adalah konteks apa yang memungkinkan Agus Noor membuat cerpen seperti itu? Mengapa Agus Noor menulis cerpen seperti itu? Apa di balik hal-hal yang diceritakannya dengan cara yang menurut saya selalu mengejutkan. Beragamnya peristiwa invraisemblable yang aneh dan logika absurd yang hanya dapat dipahami dalam dirinya, dan teknik sintaksis naratif yang diacak dengan logika yang diperhitungkan.

Sebagai warga negara dunia, generasi Agus Noor adalah generasi anak-anak ilmu pengetahuan dan teknologi dalam wacana rasionalisasi dan sekularisasi, dan dalam wacana kapitalisme global. Suatu generasi tidak lagi mengalami keterpukauan atas keagungan adikodrati, atau “pesona dunia” (meminjam Weber yang juga dipakai Faruk untuk judul bukunya, 1999). Aura adikodrati sudah tergeser, sudah demikian terdegradasi ke dalam lubuk-lubuk dunia yang di dalamnya, … saya lihat, kaki, kepala, tangan bergelantungan seperti potongan-potongan daging  di tempat penyembelihan hewan. Sementara kaleng bekas pelumas, pecahan botol-botol dan kardus berisi jeroan bermacam binatang, setengah membusuk, bergeletakan di tiap pojok ruangan. … Di atasnya, pada selember seng bekas, kulihat tulisan cat-pilox sebagai corat-coret anak-anak gangster, merah menyala:  Requim aeternam deo (hlm. 141-142).

Dunia yang dicatat Agus Noor sebagai aforisme Nietzche: “Semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi” (hlm. 145). Atau, dunia ketika Seorang perempuan tergeletak dengan perut menggunung penuh sampah, … melahirkan rongsokan panci, kaleng, botol-botol plastik, potongan kayu, sepatu, lonjoran besi dan rombengan baju (hlm. 6).

Kepukauan terhadap yang adikodrati, telah hilang di bumi ini. Pesona keindahan yang natural sekaligus subjektif-emosional telah terkubur jauh dalam sejarah masa lalu. Akan tetapi, oleh karena itu, ruang peradaban dunia menawarkan kebebasan yang besar kepada manusia untuk berbuat semaunya. Saking bebasnya, dunia seperti tak beradab.

Secara kontradiktif, sebagai warga nasional Agus Noor adalah seorang anak manusia, dari sebuah generasi yang hampir sepanjang usianya dibesarkan dalam sebuah rezim totaliter dan otoriter, yang biasa disebut rezim Orde Baru, berada pada posisi puncaknya. Rezim yang mengharuskan warganya untuk tertib, sopan dan santun, serta harus patuh pada kekuasaan.

Dalam situasi dan kondisi tersebut masyarakat Indonesia dipaksa untuk “realistis” dalam segala aspek kehidupannya. Realistis saja siapa yang berani dengan kekuasaan Babe yang demikian kuat dan mencengkram. Realistis saja banyak hal yang tidak dapa diungkapkan, tidak dapat diceritakan, tidak dapat dibuka-buka, jika hal tersebut harus berhadapan dengan realitas kekuasaan. Realistis saja bahwa begitu banyak ketidakadilan, kejahatan, kekejaman, kebengisan, kesadisan, berlaku di depan mata kita, tapi kita memang tidak berdaya apa-apa untuk mengatasinya.

Mengenang

Untunglah rezim kekuasaan yang demikian besar dan menakutkan mulai cedera khususnya dimulai pada paruh kedua 1990-an. Hal tersebut terjadi ketika kejenuhan masyarakat Indonesia terhadap kekuasaan yang sewanang-wenang berubah dan mengental menjadi perlawanan yang signifikan sehingga kekuasaan sedikit demi sedikit tergrogoti, bahkan turjungkal, walaupun hal itu tidak lagi penting.

Untuk sekedar diingat, paling tidak dimulai pada 1996, begitu banyak kejadian di Indonesia yang membuat perasan kita luka dan nanar. Peristiwa kekerasan dan kekejaman itu datang silih berganti; peristiwa Medan (1994), Purwakarta (Jawa Barat (1995), Pasuruan (1995), Situbondo (1996), Tasikmalaya (1996), Rengasdengklok (1997), Pekalongan (1997), Banjarmasin (1997), Ujung Pandang (1997), Medan (1997), Jakarta, (1997, dan teristimewa peristiwa 27 Juli), Bandung (1997). Aceh, Banyuwangi, Ambon, Timor Timur, Jakarta, (1998-1999), dan sebagainya.

Semua memakan korban menusia. Yang paling luar biasa tentulah peristiwa Mei 1998, yang kita tahu dan kita catat sebagai peristiwa terkelam sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Semua memakan korban besar, darah berceceran, Ah, darah yang begitu indah, membuatku diluapi gairah. … Ketika melihat satu dari monyet-monyet itu mengerjat sekarat, aku merasakan saat-saat yang khidmat. Tak ada yang lebih menggetarkan melebihi kenikmatan pertama kali membunuh. Inilah pengalaman yang tak mungkin aku lupakan. Pembunuhan akan selalu mengesankan. (hlm. 34).

Padahal, pada saat itu usia Agus Noor dalam proses titik-titik kematangan intelektual dan mental. Ia mengalami hal tersebut secara paradoksal dan ironis. Ia menyerap semua atmosfir anyir tersebut dalam dirinya; ia tidak percaya bahwa ada orang baik di dunia ini!

Pada saat-saat kritis dan menentukan itu, Agus Noor melakukan pemberontakan yang bagi saya sangat radikal. Dia tidak mau dan tidak bisa untuk dipaksa menjadi “realistis” sajalah. Ia “lari” atau lebih mengingat-ingat, mencari-cari, mencoba memaksa kehadiran pesona keterpukauan natural yang telah diperkosa dan dibunuh oleh manusia-manusia modern, manusia-manusia yang berhambakan pada ilmu pentahuan dan teknologi, manusia yang percaya bahwa dia dapat berbuat apa saja, manusia yang percaya bahwa tuhan itu hanya omong kosong.

Tak pelak, bahwa pemberontakan Agus Noor tertolong oleh sejarah. Walaupun di lain pihak Agus Noor sangat menyadari bahwa hal tersebut tampaknya sangat tidak mungkin. Karena, sepertinya Agus Noor percaya, bahwa yang ada di dunia ini sekarang hanyalah kekejaman. Beberapa waktu lalu, PBB mengeluarkan rekomendasi bahwa abad ini adalah abad paling berdarah, paling banyak pembunuhan dan perperangan, paling banyak orang mati kelaparan, sakit, kecelakaan, kena musibah alam, dan sebagainya. Karena kesalahanku yang terbesar adalah menjadi manusia. Sejak dilempar dari sorga, manusia terus dikutuk untuk tidak bahagia. Menjadi manusia adalah kutukan (hlm. 82).

Sebagai Estetika

Itulah sebabnya, di antara salah satu cerpen Agus Noor dalam kumpulan ini selalu ada semacam isotopi-isotopi kejahatan dan kekejaman (saya ambil kata dasarnya) seperti; bunuh, bantai, perkosa, gorok, siksa, tembak,  cemas, celaka, sepi, busuk, mati, bacok, sembelih, gantung, darah, silet, kelewang, jarah, interogasi, eksekusi, tentara, habisi, mangsa, amuk, gigit, jadah, musuh, lolong, kutuk, meradang, rusuh, rangsak, seret, bekap, ringkus, cacah, bakar, jagal, hangus, congkel, penggal, tarung, dan sebagainya. Tidak terhitung sederet caci maki lain.

Dalam dunia seperti itu, yang bisa dilakukan Agus Noor adalah mencari momen-momen pukau, yang indah alami, dalam setiap peristiwa kekejaman. Ya, mana tahu dalam kekejaman pun sesungguhnya masih tersisa semacam keindahan. Hebatnya, paling tidak untuk “merealisasikan” kepukauan itu Agus Noor bekerja keras justru pada cara bercerita, sintaksis-naratif. Agus Noor berupaya menghadirkan bahwa ada keindahan ketika membantai jika itu dilakukan sambil senyum manis, menggorok balita sambil makan coklatnya.

Bagi Agus Noor, “kelogisan” cerita bukan sesuatu yang penting (karena logika juga tidak mampu menampung invraisemblable, tetapi yang lebih penting siasat-siasat atau strategi ke arah mencari keindahan sintaksis-naratif. Pada gilirannya, Agus Noor justru terperangkap dengan “keasyikan” pencarian itu sendiri, sehingga tanpa disadarinya ada “kemonotonan” teknik narasi/penceritaan. Ini barangkali bahwa irama penulis cerpennya ia bangun justru dalam suasana ketika berbagai peristiwa kelam itu sudah terjadi.

Sebagai buntut, semua peristiwa keji yang dipersepsi Agus Noor mengubah pendapat dan pandangannya tentang dunia yang ditempatinya, tentang masyarakat dan manusia yang digaulinya, dunia yang… keras, …culas, … celaka, …terkutuk . Tidak heran, misalnya pula, hampir sebagian besar dalam cerpennya itu, bayang-bayang atau kenangan tentang berbagai kekejaman (dan kerusuhan) tersebut menyusup secara “verbal”. Ada nafsu yang tak tertahankan untuk ikut mencacat sejarah, agar tercatat, agar tak terlupakan. Secara keseluruhan, Agus Noor telah berhasil menjadikan hal yang menjijikkan sebagai estetika. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin