Teori Sosial dan Sketsa Penelanjangan Diri

(Tulisan ini pernah dimuat dalam Bulak Jurnal Sosial dan Budaya Universitas Gadjah Mada, Volume 8, Oktober 2016).

Pada awalnya, ketika menjadi mahasiswa awal dan mulai menyenangi belajar teori-teori sosial, dan terutama teori-teori sastra, sejauh yang bisa saya pahami, teori tersebut saya harapkan bisa membantu saya untuk mengkaji atau menganalisis berbagai permasalahan sosial (masyarakat). Saya tidak ingat persis tulisan-tulisan apa saja yang saya baca. Yang saya ingat kebanyakan buku-buku berupa kumpulan tulisan, teori yang sepenggal-sepenggal.

Ada dua tema yang bisa saya ingat, yakni tulisan-tulisan tentang pembangunan dan peranan agama dalam kehidupan masyarakat. Ada kecenderungan tertentu, ilmu sosial sangat “tematik” berkaitan dengan kuasa rezim sehingga saya yang mahasiswa juga belajar apa yang menjadi kecenderungan tersebut. Pemahaman yang sepenggal-sepenggal itu tentu saja membuat saya sering panik jika menjawab pertanyaan yang saya buat sendiri.

Dalam pamahaman yang sangat terbatas itu, saya memposisikan diri sebagai orang kebanyakan (rakyat) yang melihat dari dekat ataupun dari jauh, berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tida cukup banyak hal yang menjadi perhatian saya. Di antara yang menarik persoalan dan coba saya analisis adalah masalah ketidakadilan. Muncul pertanyaan, di antaranya, kenapa begitu banyak orang miskin dan kenapa sangat sedikit orang kaya. Pertanyaan lain yang kadang mengganggu kenapa orang banyak berbicara, tapi tidak sesuai kenyataan. Mengapa orang melakukan tindakan tertentu dan untuk apa.

Berdasarkan pemahaman waktu itu, saya menganalisisnya bahwa hal itu dimungkinkan karena berkaitan dengan nasib, takdir, atau karena yang miskin itu malas, dan yang kaya itu rajin bekerja. Mengapa orang melakukan tindakan tertentu karena ia perlu bertahan dalam hidupnya. Terdapat beberapa teori sosial struktural yang cukup membantu menjawab bahwa yang terjadi adalah kebijakan ekonomi yang  hanya menguntungkan pengusaha besar. Ekonomi dan kekuasaan memegang kendali penting dalam struktur kekuasaan. Konstelasi yang timpang itu terus berjalan.

Dalam perjalanan waktu, sempat juga saya terombang-ambing untuk “mengambil posisi pribadi” seperti apa yang bisa saya ambil. Sejumlah teman sukses menjadi penyair dan cerpenis/sastrawan. Karya-karya mereka berkibar di media massa, dan sejumlah buku karya mereka terbit. Banyak tema yang mereka tawarkan, mulai dari hal-hal yang relijius hingga kritik sosial. Pada umumnya, secara umum mereka menempatkan diri sebagai satu barisan yang kecewa terhadap negara dan kekuasaan.

Sekali dua saya menulis puisi dan cerpen. Tidak pernah ada puisi atau cerpen saya yang memuaskan. Pernah juga saya menulis naskah drama. Walaupun sempat diterbitkan dalam sebuah antologi, dan pernah juga dipentaskan, saya merasa tidak layak untuk menjadi penyair atau sastrawan. Aktif di satu komunitas teater juga tidak memberikan banyak hal yang signifikan dalam hidup saya, selain mendapatkan sejumlah teman.

Beberapa teman yang lain sukses menjadi “sarjana” yang baik dan tertib. Mereka melakukan berbagai penelitian, mengajar dengan baik, dan dengan tertib pula mengurus kenaikan pangkat. Tentu tidak semua teman dosen mampu berjalan dengan mulus. Ada yang mungkin punya kesibukan indivial, sehingga profesi kesarjanaan mereka kadang sedikit terlantar. Akan tetapi, status kesarjanaan telah memberi kedudukan stuas sosial yang memadai di masyarakat.

Bertambah usia, tantangan untuk bekerja lebih serius merupakan pilihan yang tidak bisa dihindari. Jalan pintas yang pada waktu itu saya tempuh adalah menulis di media massa. Ketika mulai menekuni dunia tulis menulis, saya menjadi tahu bahwa banyak hal yang tidak saya kuasai dengan baik. Walaupun hampir semua tulisan saya dimuat di media massa, tapi saya tahu tulisan saya itu banyak yang ngawur, sensasional, hampir tidak memiliki perspektif yang dapat dipertangungjawabkan.

Akan tetapi, kadang saya berpikir menarik juga berbicara agak ngawur. Itulah masa-masa saya merasa banyak mengekplorasi diri. Hal yang saya yakini pada waktu itu adalah ada semacam soft ware dalam diri saya yang terus bekerja meng-upgrade diri, baik dalam keadaan terjaga maupun di kala tidur. Saya tidak tahu di mana letak soft ware itu bersembunyi. Akan tetapi, menurut keyakinan saya waktu itu, dan mungkin hingga kini, dia terletak antara otak/pikiran dan hati/perasaan.

Soft ware inilah yang kemudian menjadi ciri khas seseorang, sesuatu  pada diri dan pribadi. Ia merupakan satu proses panjang kehidupan, sesuatu yang bersifat rasional sekaligus emosional, sesuatu yang bersifat indrawi sekaligus non-indrawi, sesuatu yang bertumpang tindih berbagai nilai, di satu sisi mungkin terstruktur, di sisi lain sedikit rumit dan tumpang tindah (interseksi). Dia menyerap, sekaligus mengeluarkan. Ada sirkulasi keluar masuk yang membentuk dan bertransformasi, bermetamorfosis. Dia serba tergantung, tapi ada sesuatu yang sangat mandiri dan tidak tersentuh, bisa sesuatu yang sadar, tetapi kadang tidak sadar.

(Sedikit meloncat), dalam perspektif yang dibangun Boudieu, ia mengenalkan satu konsep yang disebut arena/field, sesuatu yang berada di luar, maka software yang saya maksud suatu “arena di dalam”. Memang, bangunan perspektif Bourdieu dikenal struktural, tetapi sebetulnya secara tidak langsung Bourdieu juga ingin menekankan adanya misteri dalam “arena dalam” yang tidak sepenuhnya bisa diketahui dan memiliki kemandirian, dan sekaligus menjadi ciri khas pribadi kita.

Berdasarkan pemahaman itulah, kemudian, saya justru merasa lebih sreg untuk memposisikan beberapa teori sosial (terutama yang dikembangkan oleh Gramsci, Althusser, dan Foucault) sebagai berbagai upaya untuk memahami apa yang terjadi pada diri sendiri. Bagaimana dan di mana posisi sosial kita, apa yang telah terjadi, apakah berbagai tindakan kita sebagai satu bentuk kesadaran yang disengaja atau sesuatu yang telah terkondisi oleh soft ware kita. Pemahaman itu membuat, kadang, saya menjadi merasa malu dan risih sendiri.

Hal yang menarik adalah bagaimana soft ware pribadi bekerja menghadapi, mengantisipasi, atau bersiasat “memperbarui” diri berhadapan dengan berbagai nilai, norma-norma, aturan-aturan, atau menghadapi berbagai event/multiple (meminjam istilah Alain Badiou). Bagaimana soft ware terinkoporasi atau berinkoporasi dengan dan dalam perjalanan hidupnya dan berproses untuk menjadi subjektivasi baru.

Pemahaman itulah yang saya sebut sebagai proses-proses ke arah penelanjangan diri karena perlahan semakin mengetahui posisi hidup saya di mana, mengapa saya melakukan berbagai hal, dan kenapa saya punya harapan. Itu pula sebabnya, kadang saya merasa geli sendiri ketika mengetahui bahwa dalam perspektif Gramsci, saya itu lebih dalam posisi intelektual. Pertanyaannya, misalnya, apakah hal yang saya lakukan lebih sebagai upaya perecokan terhadap kesadaran kelas subaltern atau justru melegitimasi dan memapankan kekeuasaan. Jangan-jangan justru hal kedua yang selama ini terjadi.

Ini pula yang dalam beberapa tulisan saya yang lain, saya berusaha mengingatkan, terutama pada diri sendiri (wah sok berdakwah saya, sialan) bahwa kadang berbagai kritik sosial itu justru menguatkan pihak yang dikritik. Kritik terhadap pemerintah, sesuatu yang dibutuhkan sekaligus dibenci, justru menguatkan pemerintah karena pemerintah akan bekerja  menguatkan diri berdasarkan masukan kritik terhadap dirinya. Kapitalisme akan memperkuat dirinya karena dikritik terus sehingga kapitalisme terus menerus melakukan transformasi atau bermetamorfosis sehingga ideologi dan praksinya justru semakin hadir dalam kehidupan kita.

Dalam konteks inilah kemudian saya jadi teringat Slavoj Zizek. Bahwa apa yang kita lakukan, bukan karena kita tidak mengetahuinya, kita mengetahui, dan kita tetap melakukannya. Ini yang Zizek sebut sebagai kesadaran sinis. Akan tetapi, saya juga ingin mengatakan bahwa ada hal-hal yang dalam soft ware kita yang tidak kita ketahui apa yang dimaui dan tidak dimauinya. Selalu ada misteri-misteri dalam berbagai proses negosiasi (Gramsci, juga Foucault), inkorporasi (Badiou) yang membuat kita tidak tahu soft ware kita meng-upgrade diri, bermetamorfosis, ke hal yang mana.

Pengertian itu mengingatkan kita bahwa diri dan pribadi kita yang ada sekarang ini, tidak sepenuhnya sesuatu yang kita harapkan, sesuatu yang sesuai dengan rencana, sesuatu berdasarkan kehendak kita (terimakasih Bang Ali Shahab atas diskusinya). Itulah sebabnya, selalu ada ketegangan antara harapan dan kenyataan. Dalam medan itulah sebetulnya kita terus melakukan berbagai sikap dan tindakan, dalam berbagai pengertiannya yang beragam.

Hal yang bisa kita lakukan adalah mengontrol diri agar kesadaran tetap terjaga, walaupun berbagai event yang akan terjadi tidak pernah diketahui. Hal yang bisa kita lakukan adalah bahwa berbagai proses, negosiasi, ataupun inkorporasi yang terjadi sangat sering di luar perhitungan dan semakin membungkus dan memanipulasi diri kita. Pemahaman terhadap teori sosial, yang semakin relijius dan mistis, akan menelanjangi bungkus-bungkus dan manipulasi itu.

Kita telah mengalami banyak hal yang membuat kita semakin tidak mengenal diri kita sendiri, semakin jauh dari kemanusiaan kita. Proses-proses itulah yang akan terjadi. Tentu kita berharap bahwa kelak kita menjadi subjek yang dalam istilah Badiou disebut subjek yakin (faithful subject).

Demikianlah, perjalanan ringkas, semacam sketsa yang garis-garisnya ada yang tebal ada yang halus, suatu perjalanan dalam bergulat dengan ilmu-ilmu sosial humaniora. Hal yang ingin saya garisbawahi adalah bahwa proses pemahaman berbagai teori itu berproses pada upaya pemahaman diri, bahkan upaya penelanjangan diri, bahwa kita ngapain sih hidup di muka bumi ini. Dan proses itu akan terus berjalan, tanpa kita ketahui ke arah mana dia bermetamorfosis, mungkin sebagian sesuai rencana, sebagian yang lain pasti tidak. Kita hanya bisa berusaha. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin