Masyarakat Teknologis-Emansipatif Dunia Persilatan

(Tulisan ini pernah dimuat dalam buku Mempertanyakan Jatidiri Bangsa, Fakultas Ilmu Budaya UGM, UGM Press, 2004)

1. Keniscayaan Cerita Silat

Cerita-cerita silat (cersil) merupakan bagian penting dalam khasanah kesusastraan dan kebudayaan Cina khususnya, dan secara signifikan berpengaruh di beberapa wilayah luar Cina. Di Indonesia, misalnya, cersil pada awalnya ditulis dalam stensilan-stensilan atau buku ukuran kantong yang banyak ditulis oleh orang Cina (Peranakan) di Indonesia. Cersil Cina Peranakan awal yang populer dalam bahasa Melayu-Cina salah satunya adalah Sam Kok (Kisah Tiga Negara) (1912). Kelompok penulis Cina Peranakan dianggap memberikan kontribusi penting bagi perkembangan kesusastraan (awal) modern Indonesia, khususnya cersil.[1]  Namun begitu, penulis cerita silat Indonesia keberatan jika mereka dituduh terpengaruh cerita-cerita silat Cina tersebut.[2] Mungkin karena pengarang Indonesia merasa bahwa masyarakat Indonesia juga punya tradisi persilatan sendiri.

Cersil memiliki pembaca fanatik. Menurut perhitungan Kho Ping Hoo, yang mengetahui seberapa jauh kelarisan karyanya,  cersilnya setiap edisi dibaca tidak kurang dari 1,6 juta orang.[3]  Dalam bentuknya yang lain, menurut laporan Survey Research Indonesia: Quality Starts Here (SRI, 1995) kisah Kembalinya Pendekar Rajawali karya Ching Yung yang pernah diputar oleh Indosiar pada tahun 1994 dan awal 1995, pernah merebut perhatian pemirsa sehingga menempatkan tayangan tersebut pada peringkat pertama selama beberapa bulan pada tahun-tahun tersebut.

Itulah sebabnya, di Yogyakarta misalnya, radio, ataupun sebagian media massa menyediakan ruangnya untuk cersil. Sebutlah misalnya di radio-radio dengan kisah Bendhe Mataram, Sawur Wulung, Saur Sepuh, Tutur Tinular,  untuk menyebutkan beberapa yang sangat menonjol dan digemari pada tahun-tahun 1970-an akhir dan 1980-an. Di media cetak (juga khususnya di Yogyakarta), media yang dari masa ke masa cukup konsisten mempublikasikan cersil adalah Kedaulatan Rakyat, misalnya karya SH. Mintarja dengan serial yang terkenal Api di Bukit Menoreh (yang saat ini, 2004, dijadikan seri sinetron 11 Pendekar Api di Bukit Menoreh oleh Indosiar), dan Nogo Sostro Sabuk Inten, dll., atau karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang tidak perlu disebutkan satu per satu judulnya. Selain itu, koran Yogyakarta lainnya seperti Bernas pernah mempublikasikan Mendung di Atas Cakrawala karya SH. Mintarja.

Karena perkembangan teknologi, pada periode 1980-an hingga 1990-an cersil mengalami transformasi bentuk dan lebih banyak dikemas dalam bentuk audio visual seperti film, sinetron, dan video (kaset, CD, dan LD). Itulah sebabnya, televisi, terutama swasta, hampir semuanya menayangkan film silat. Di samping Kembalinya Pendekar Rajawali (Return of The Condor Heroes) yang sempat merebut perhatian pemirsa, To Liong To (Pedang Pembunuh Naga) yang ditayang stasiun Indosiar, tidak kalah menarik perhatian. Stasiun teve swasta lain seperti TPI, RCTI, SCTV ikut (pernah) menayangkan film silat (Cina) sebagai sebuah tayangan andalan. Contoh garapan cersil Indonesia  adalah Si Buta Dari Gua Hantu karya Th. Ganes, Panji Tengkorak karya Hans Djaladara, atau Wiro Sableng karya Subastian Tito, dan masih banyak yang lain.

Ada sejumlah alasan bagi mereka yang agak kurang menyukai kisah-kisah persilatan yang nota bene hampir identik dengan dunia perkelahian. Hal itu disebabkan cerita-cerita silat kadang-kadang mudah ditebak, berkarakter stereotip, dengan garis dasar tematik kebenaran akan mengalahkan kejahatan, yakni ketika konflik yang dibangun pada umumnya diselesaikan lewat silat (perkelahian). Berbagai persoalan untuk sementara dianggap selesai ketika salah satu pihak dianggap kalah atau mati.[4]

Terlepas dari alasan ketidaktertarikan terhadap cersil, atau dalam bahasa Cina biasa disebut dunia kang ouw, merupakan kenyataan jika banyaknya penggemar terhadapnya, bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Karena bila tidak memperhitungkan kemungkinan itu, tidak mungkin keniscayaan realitas persilatan dapat dinikmati bahkan hingga hari ini. Tulisan berikut secara lebih spesifik memaksudkan uraiannya mengenai dunia persilatan imajinatif dan diproyeksikan dalam arti sesungguhnya. Dengan demikian, tidak termasuk cerita yang sekadar berbau silat atau sinetron-sinetron yang juga mengandalkan adegan silat (perkelahian) sebagai solusi bagi pemecahan (anti klimaks) sebuah cersil.

2. Tiga Aspek Penting Dunia Persilatan

Apa yang bisa dipelajari dari dunia cersil itu?[5]  Seperti diketahui, kehidupan para pendekar seperti yang sering diceritakan itu agak terpisah dari kehidupan masyarakat awam. Masyarakat persilatan memiliki sistem, etik, simbol-simbol, dan budaya tersendiri yang hanya dikenai dan diketahui sesama mereka. Pembawaan atupun gaya berpakaian (serta asesoris) yang mereka pakai biasanya berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Ada tanda-tanda khusus dari prilaku mereka yang seolah membedakan bahwa mereka berasal dari kalangan kang ouw. [6]

Hal penting dari masyarakat dan aspek persilatan paling tidak meliputi tiga hal. Pertama, terjadinya proses pencanggihan teknis (teknologisasi) dan filosofi perkelahian. Kedua, penguasaan yang maksimal terhadap dimensi, sistem, dan jaringan (syaraf) tubuh (manusia), serta yang ketiga, berkaitan dengan hal kedua, adalah pengetahuan pengobatan dan peracunan yang demikian tinggi. Dalam kesempatan ini, secara khusus dibicarakan hal pertama saja. Hal kedua dan ketiga, walaupun sangat berkaitan, hanya disinggung sejauh berhubungan dengan persoalan yang akan dikembangkan.

Prinsip teknologi adalah sebagai berikut. Pada umumnya teknologi dipahami sebagai gabungan dari kata teknik dan logo, sehingga, dengan demikian, paling tidak mengandung dua pengertian, yakni ilmu mengenai teknik atau tepatnya “ilmu atau studi mengenai ketrampilan praktis dan indutrial”, atau, “ilmu pengetahuan terapan” dalam pengertian teknik yang bersumber pada “logi” atau ilmu pengetahuan ilmiah. Teknik itu sendiri dipahami sebagai “metode prosedur (dengan mengacu pada rincian praktis dan formal) atau cara penggunaan ketrampilan dasar, baik dalam hal pembuatan karya seni maupun pelaksanaan suatu operasi ilmiah atau mekanik”. Arti lainnya dari teknik adalah “segala metode atau cara penyelenggaraan sesuatu”.[7]

Dengan demikian, yang dimaksud dengan masyarakat teknologis adalah suatu tatanan masyarakat yang secara keseluruhan dikondisikan oleh hukum-hukum teknologi. Bukan teknologi yang menyesuaikan perilakunya dengan  karakter manusia, tetapi sebaliknya. Masyarakat yang terikat dengan hukum teknologi itu harus dan akan memiliki pula sikap mental yang sesuai dengan perilaku teknologi itu.[8]

Dalam perkembangan lebih lanjut, Ellul menyebutkan bahwa sebuah masyarakat teknologis selalu mengandaikan sentralisasi. Artinya, terjadinya satu sistem serba kontrol yang terpusat dari suatu organisasi yang secara keseluruhan mengatur dan mengorganisasikan teknologi itu sendiri.[9] Dalam perkembangannya, teknologi yang pada awalnya merupakan upaya menusia untuk “mengatasi dan memudahkan problem hidupnya” berdasarkan gejala-gejala alam dan hukum sebab-akibat yang dapat diprediksi dan  sebagai praksis dari ilmu pengetahuan kumulatif yang dimilikinya, berjalan secara dialektis  antara perkembangan ilmu (teori) ataupun perkembangan teknik itu sendiri.[10]

Di atas disebutkan adanya proses pencanggihan teknis (teknologisasi) dan filosofi berkelahi dalam dunia persilatan. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan pencanggihan teknis (teknologisasi) adalah suatu metode berkelahi yang dikembangkan berdasarkan prosedur-prosedur matematis, fisika, dan filsafat yang dengan suntuk dikembangkan terus menerus berdasarkan praktik-praktik eksperimentasi yang teruji. Berdasarkan metode-metode pengembangan tersebut, pada akhirnya, ditemukan jurus-jurus (prosedur-prosedur) berkelahi yang rumit, teliti, antisipatif, sehingga siap menerima segala perintah secara reflek jika seketika-seketika digunakan. Pengertian filosofis dimaksudkan bahwa tidak jarang teknologisasi silat tersebut “disimpan” dalam rumus-rumus kalimat filosofis yang membutuhkan pengetahuan tertentu untuk memahaminya.

Seorang calon pendekar dalam melatih dirinya berdasarkan metode-metode tersebut, dalam istilah Bonnef seperti memasuki satu “proses pematangan”,[11] akan menjadikan dirinya seorang pendekar. Prinsip-prinsip berlatih dengan motode yang benar (berdasarkan porsedur- porsedur yang memenuhi kriteria teknologi) seperti memformat (meng-instal) diri seseorang ke dalam suatu program dengan spesialisasi jurus yang biasanya diandalkan. Dalam hal ini, seperti dikatakan oleh Friedrich Dessauer, proses berlatih itu adalah proses pendidikan yang memberikan tekanan pada “pengendalian diri” yang sungguh-sungguh. Pengendalian diri berarti  latihan belajar menghayati aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar.[12]

Seseorang yang memprogram dirinya menjadi pendekar, maka teknologi silat “menjadi dirinya” (seperti diuraikan berikutnya) sehingga jurus silat itu tidak bisa hilang begitu saja. Hal ini ada kaitannya dengan teknologi silat yang menguasai jaringan sistem saraf sehingga seseorang yang tubuhnya sudah menjadi bagian dari teknologi silat, bisa tiba-tiba menjadi pendekar dengan ilmu silat tinggi, dan bisa pula dihilangkan seketika-seketika. Thio Buki, dalam To Liong To, mempelajari ilmu silat “Sembilan Matahari” yang sangat tinggi tidak lebih dari enam jam. Ilmu itu dipelajari oleh orang lain paling tidak di atas 30 tahun lebih. Bu Song yang berkhianat kepada perguruan Bu Tong, dihukum oleh Thio Buki dengan menghilangkan (merusak jaringan saraf) sehingga kemampuan silat Bu Song seketika itu hilang. Ayah angkat Thio Buki, Singa Emas, menghancurkan semua kemampuan silat yang dimilikinya oleh dirinya sendiri sebagai tanda pertobatan karena merasa sangat menyesal mendapatkan ilmu dari seorang guru yang jahat dan berkhianat.[13]

Walaupun tidak sepenuhnya benar, keberadaan teknologi sangat memungkinkan terjadinya demokratisasi dalam segala aspeknya.[14] Hal tersebut dimungkinkan ketika setiap manusia memiliki peluang yang sama untuk mengakses hal-hal yang biasanya tidak terdistribusi secara merata, baik karena terjadinya perbedaan kelas ekonomi, sosial, maupun budaya. Saat ini (masyarakat modern), siapapun ia, bisa saja menikmati alunan Mozart, lukisan Picasso, tarian ballet, ataupun lagu-lagu Iwan Fals dan “goyang ngebor” ala Inul, kapan pun dan di mana pun. Tidak terkecuali dari itu, mereka memiliki peluang yang sama untuk mempelajari perkembangan ilmu dan pengetahuan modern. 

Berdasarkan uraian tersebut yang dimaksud dengan masyarakat teknologis dalam dunia persilatan tentulah tidak sepenuhnya dalam pengertian itu. Karena proses teknologisasi dalam pengertian modern adalah sesuatu yang sifatnya “ke luar”. Implementasi dari berbagai akumulasi temuan iptek pada dasarnya berwujud ke dalam sesuatu di luar diri manusia berupa mesin-mesin mekanis dan otomatis yang dalam keseluruhannya bekerja sama dengan kemampuan yang dimiliki manusia.

Dalam dunia persilatan, proses teknologis tersebut adalah sesuatu yang sifatnya “ke dalam”. Artinya, yang menjadi outcome iptek bukan sesuatu “di luar” diri manusia, tetapi lebih-lebih adalah manusianya sendiri. Seorang pendekar yang sakti adalah tahap ketika manusia tersebut telah termekaniskan dan terotomatisasikan kemampuannya dirinya dalam bersilat melalui proses dan motode “pematangan” seperti telah disinggung terdahulu. Keluaran produk teknologi persilatan adalah diri manusia, yakni ketika teknologi silat seorang pendekar menjadi dirinya sendiri.

Ada sejumlah istilah teknis dalam dunia persilatan yang dapat dibandingkan dengan teknologi modern, yaitu singkang, iwekang, dang gingkang. Yang dimaksud dengan singkang adalah tenaga dalam, artinya karena proses motode latihan yang benar, seorang pendekar dapat mensinergikan tenaga yang dimilikinya sehingga memiliki tanaga yang besar dan dapat dikontrol. Kontrol terhadap tenaga tersebut dapat menjatuhkan, memukul, dan “menembak” sesuatu di luar (jauh dari) diri pendekar tersebut. Hal ini, dalam teknologi modern dalam konteksnya tidak berbeda dengan tenaga mesin atau bahkan seperti senjata pistol, senapan, dan sebagainya.

Iwekang adalah tenaga yang bersifat magnetis sehingga bisa mengendalikan sesuatu. Dalam teknologi modern barangkali bisa diandaikan seperti kekuatan magnetis dalam mengangkat barang-barang. Sementara itu, yang dimaksud dengan gingkang adalah ilmu meringankan tubuh. Pada taraf yang sempurna, tidak jarang seorang pendekar bisa berjalan di atas air atau seolah bisa terbang. Padanannya dalam teknologi modern adalah seperti kerja mekanis dan fisika teknologi kapal laut atau pesawat terbang. Dengan demikian, teknologi silat juga telah mampu mengatasi hukum alam, suatu hal yang sama dengan teknologi modern sekarang.

Dalam kaitan dengan uraian itu, ada satu hal yang perlu disinggung, yakni teknologi totok. Seorang pendekar dengan teknologi silat dan tenaga dalamnya, dapat membuat seseorang tidak bergerak sama sekali (seperti patung) jika di-totok. Teknologi totok ini seperti mengandaikan bahwa dalam tubuh manusia itu ada tombol-tombol yang berhubungan dengan satuan sistem syaraf  (satuan sistem elektronik), yang jika di on atau di off-kan dapat membuat manusia bergerak atau tidak bergerak, berbicara atau tidak bisa berbicara, tertawa, menangis, tidur, dan sebagainya. Jika teknologi totok dipakai untuk pengobatan bisa membuat aliran darah berhenti pada sebuah luka yang menganga, menghilangkan rasa sakit, atau bahkan membuat seorang wanita bisa memilih untuk tidak hamil. 

Ada kemungkinan semakin akhir program (jurus) tersebut ditemukan maka semakin canggih pulalah teknologi dan, sekaligus filosofi, berkelahinya. Thio Sam Hong dalam To Liong To menemukan jurus Thai Chi ketika ia telah berumur seratus tahun. Akan tetapi, ukuran ketinggian teknis Thai Chi tersebut hanya bisa dibandingkan dengan teknik bersilat pada generasinya saja.

Masyarakat teknologis persilatan pada gilirannya adalah suatu masyarakat yang terikat dalam satu aturan teknologi persilatan sesuai dengan etik, sistem, simbol-simbol, dan mekanisme persilatan yang mengaturnya. Pengandaian sentralisasi memang terjadi. Akan tetapi, pengertian tersebut agak berbeda dengan pengertian modern. Yang dimaksud sentralisasi adalah ketika guru (suhu) silat mengatur sedemikian rupa kehidupan para murid (tecu) hampir dalam segala hal. Dalam dunia persilatan, kekuasaan dan pengetahuan “tertinggi” memang berada di tangan para suhu. Namun begitu, ada kemungkinan negara, untuk level makro, memiliki kekuasaan yang besar dalam mempengaruhi kehidupan persilatan dengan kekuasaan politik yang dimilikinya. Hal tersebut berkaitan dengan kedudukan raja yang secara makro merupakan sistem yang lebih besar, dan para pendekar dan dunia persilatan dalam banyak hal ada di dalam bagian tersebut.  Padahal konsep sentralisasi dalam pengertian modern berkaitan dengan terjadinya sentralisasi pengetahuan dan kekuasaan yang secara lebih gamblang biasanya dipegang dan dikontrol oleh negara.

Seperti halnya peranan teknologi modern, dalam masyarakat persilatan, walaupun peluang demokratisasi dimungkinkan, tetapi tidak berjalan sepenuhnya. Peluang demokratisasi teknis persilatan hanya sebatas pada pendekar (suhu) yang membuka keguruan-keguruan atau partai-partai. Para murid perguruan Seauw Lim (akan) memiliki kesempatan dan keahlian teknis persilatan yang sama untuk setiap muridnya. Namun, sangat banyak guru yang tinggi teknik bersilatnya tidak membuka “kursus” persilatan secara massal. Tidak jarang seorang guru hanya mengambil satu atau dua murid saja, atau tidak jarang seorang pendekar hanya menurunkan teknik bersilatnya hanya pada anak atau keluarga terdekatnya saja.

Memang terjadi diferensiasi, tetapi itu hanya berkaitan dengan kecenderungan  watak dan “bawaan fisik” seorang murid (yang kelak menjadi pendekar). Misalnya saja, para pendekar Siauw Lim memiliki spesialisasi dengan jurus tombak, atau toya, atau pedang, atau tangan kosong, dan seterusnya.  Demikian pula halnya bahwa seorang anggota Partai Pengemis (Kai Pang) akan memiliki jurus-jurus yang sama di antara sesama anggota Kai Pang.

Dalam masyarakat teknologis-kapitalis modern dengan dengan kemampunan pabrik-pabrik industrialnya mampu memproduk sesuatu secara massal. Persoalan inilah yang menciptakan terjadinya budaya massa, yang pada gilirannya juga membedakan adanya budaya tinggi dan budaya populer (massa).[15] Pada budaya massa, peluang demokrasi menjadi jauh lebih terbuka. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan masyarakat persilatan. Perguruan-perguruan silat yang mengajarkan teknologi silatnya kepada sejumlah murid adalah teknologi silat yang boleh dan bisa diakses oleh siapa saja berupa teknologi silat standar dunia persilatan. Teknologi silat yang tinggi dan spesifik biasanya hanya bisa diakses secara terbatas hanya kepada keluarga atau beberapa murid yang diandalkan. Itulah sebabnya, dalam dunia persilatan pun terjadi pula budaya silat tinggi dan budaya silat kebanyakan. 

Dalam hal di atas, terdapat perbedaan dengan (ip)tek modern sebagai sesuatu yang bersifat akumulatif. Tradisi teknologi persilatan tidak sepenuhnya bersifat akumulatif. Sin Liong, pendekar utama dalam Bukek Siansu (Serial Bukek Siansu) karya Kho Ping Hoo, keahlian teknologis dan filosofis bersilatnya nyaris tanpa preseden. Ia menemukan berbagai temuan teknologis bersilatnya lebih karena talenta, kebersihan hati, dan kecerdasan individual, dan tentu saja nasib baik. Dalam perjalanan hidupnya, Sin Liong yang bergelar Bu Kek Siansu tersebut tidak pernah berniat secara langsung mentransfer teknologi berkelahinya kepada seorang murid. Memang, Bu Kek Siansu memiliki murid tidak langsung yakni Kam Ham Ki. Akan tetapi, tentu saja ketinggian teknologi bersilat Kam Ham Ki tidak seutuh seperti yang dimiliki Sin Liong. Begitu seterusnya, Kam Ham Ki tidak sepenuhnya sempat menurunkan ilmunya kepada murid utama wanitanya Siaw Bwe. Akan tetapi, Siaw Bwe memiliki murid yang tidak kalah tinggi ilmu dan teknologi silatnya dibanding dengan dirinya, yaitu Suma Han (Han Han). Pendekar-pendekar dalam karya Gu Long (Ku Lung) biasanya juga tanpa guru. Paling tidak, pada sebagian besar karya Gu Long, proses bagaimana seorang pendekar menjadi pendekar dan menemukan kepiawaian bersilat tidak begitu diceritakan asal usulnya. 

Hal lain yang menyebabkan teknologi silat tidak bersifat akumulatif dikarenakan tidak jarang seorang guru tidak segera menurunkan semua (ip)tek silat yang dimilikinya kepada anak atau murid kesayangannya. Hal itu cukup menjadi rahasia umum dalam dunia persilatan. Ada dua kemungkinan mengapa hal tersebut terjadi. Pertama, berkaitan dengan terjaganya sentralisasi antara  pengetahuan (ip)tek dan power. Kedua, sang murid belum waktunya menerima transfer teknologi sehingga menunggu waktu yang tepat untuk menurunkannya. Sayangnya, belum sempat semua teknologi ditranfsfer, sangat mungkin seorang suhu meninggal dunia lebih dulu. Di samping itu, keterputusan akumulatif juga dimungkinkan karena seorang suhu tidak berjodoh menemukan murid yang berbakat melebihi diri guru bersangkutan.

3. Masyarakat Teknologis-Emasipatif

Prinsip demokratisasi yang penting dari peran teknologisasi dalam masyarakat teknologis adalah ia tidak mengenal pembedaan wanita atau pria. Artinya, teknologi tidak mengenal pilih kasih  untuk dipelajari, diakses, dan dimanfaatkan oleh siapa saja. Oleh sebab itu, pada tingkat tertentu jika wanita dan pria mengalami proses teknologisasi yang sama maka ia akan memiliki kualitas dan kapasitas yang sama pula. Sebagai ilustrasi saja, seorang dokter atau insinyur sipil pria ataupun wanita akan memberikan kemampuan dan hasil yang tidak berbeda jika secara bersamaan menangani apa yang menjadi keahlian teknisnya. Seorang insinyur sipil wanita dan pria akan memberikan analisis yang lebih kurang sama tentang kelayakan sebuah jembatan atau bangunan.

Demikian pula halnya dalam dunia persilatan. Teknologisasi teknis perkelahian dari dunia persilatan adalah adanya nilai emansipatif yang ekstrim, yakni ketika eksistensi kelaki-lakian dan kewanitaan dianggap tidak ada. Itu terlihat dari siapa pun ia, asal ia bagian dari dunia kang ouw, maka tidak perlu sungkan-sungkan  untuk berkelahi. Seorang pendekar laki-laki tidak pernah malu jika harus berkelahi dengan pendekar wanita. Guru Wiro Sableng, Eyang Sinto Gendheng, adalah seorang pendekar wanita yang pernah menggegerkan dunia persilatan pada masa jayanya. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan Siaw Bwe, guru Suma Han, semasa hidupnya. Serial Jaka Malela karya Jan Mintaraga dalam beberapa serinya menampilkan pendekar-pendekar wanita sebagai tokoh utamanya. Dari daftar (lampiran) judul cersil yang dibuat oleh Leo Suryadinata akan diketahui seberapa banyak cersil yang menampilkan tokoh pendekar wanita yang berteknologi silat tinggi sederajat dengan pendekar laki-laki lainnya.[16]

Boleh dikata, sebagian besar cersil selalu menampilkan pendekar wanita yang tidak kalah tinggi teknologi bersilatnya dibanding para pendekar laki-laki. Dalam cersil tidak ada kamus pendekar laki-laki pasti menang berkelahi melawan wanita, dan lebih dari itu perkelahian seolah merupakan sesuatu yang given dalam kehidupan persilatan. Perbincangan yang mengarah pada perbedaan laki-laki ataupun perempuan hampir tidak muncul. Yang menjadi tolok ukur “eksistensial” adalah tingkat kesaktian (kualifikasi teknis). Padahal, kesaktian bisa dipelajari. Dengan demikian, tidak mengherankan jika seorang pendekar wanita sakti mampu mengatasi seandainya ia dikeroyok oleh sejumlah pria. Suatu hal yang mungkin hampir tidak terjadi di dunia nonpersilatan. Berdasarkan kenyataan tersebut, sekaligus menggugurkan asumsi dan persepsi “awam”, bahwa yang berotot dan berbadan besar pasti menang jika berkelahi melawan si kurus kecil.

Analog dengan kehidupan seperti itu, dalam masyarakat biasa sebetulnya juga terjadi, yaitu terutama di kalangan akademis. Seperti diketahui, kadang-kadang dunia akademis tidak terlalu membedakan mana wanita mana pria. Yang menjadi parameter “pembedaan” adalah kualifikasi akademis yang dimiliki seseorang. Dengannya, terlepas apakah dia wanita atau pria, jika terbukti memiliki kemampuan akademis (kualifikasi teknologis) yang baik, maka eksistensi kewanitaan atau kepriaannya dapat diabaikan.

Memang, kadang-kadang tidak dapat diingkari untuk memberi nilai khusus bagi kesuksesan wanita yang secara “kodrati” mempunyai keterbatasan tertentu dibandingkan kaum pria, misalnya saja, apakah itu berkaitan peristiwa “datang bulan”, ataupun kejadian lain ketika wanita harus melahirkan. Namun, bisa saja asumsi ini ditolak bagi para “feminis”, yang sekaligus ingin menolak logosentrisme keawaman. Artinya, paling tidak mereka menolak persepsi dunia “awam” yang terlanjur dikonstruk oleh persepsi-persepsi dan cara berpikir laki-laki.[17]  Prasangka dan penilaian miring itu hampir tidak terjadi dalam dunia persilatan. Kenyataan, memang, dunia kependekaran didominasi oleh pendekar-pendekar laki-laki. Akan tetapi, itu tidak menutup peluang pendekar wanita mampu menjadi pendekar-pendekar kelas satu. Yang penting adalah guru yang wahid, bakat, dan ketekunan berlatih, dan setelah itu setiap orang punya peluang menjadi pendekar jagoan.

Beberapa cersil memang pernah menceritakan bahwa ada teknologi silat tertentu yang lebih cocok untuk laki-laki dan ada pula yang lebih cocok untuk wanita. Beberapa teknologi silat yang dikembangkan oleh perguruan Go Bi Pai (Guru dan muridnya seluruhnya wanita) tidak cocok untuk laki-laki. Akan tetapi, pembedaan itu bukan karena terjadinya ketimpangan jender. Hal tersebut terjadi dengan mempertimbangkan watak silat itu sendiri. Paling tidak teknologi silat itu diciptakan oleh wanita tanpa dikondisikan oleh prasangka-prasangka jender yang tidak berlaku dalam dunia persilatan. Namun, bukan berarti teknologi silat itu tidak bisa dipelajari oleh laki-laki. Akan tetapi, sangat mungkin jika identifikasi jender merupakan sesuatu yang dianggap signifikan, maka jenis dan karakter silat wanita itu akan berpengaruh terhadap prilaku pendekar laki-laki. Sebaliknya, ada pula teknologi silat yang secara spesifik hanya untuk laki-laki, tetapi bukan berarti wanita tidak bisa mempelajarinya. Mungkin ada efek sampingnya jika pendekar wanita mempelajari teknologi silat khas laki-laki, misalnya wanita itu akan menjadi kelaki-lakian atau sebaliknya. Hal tersebut terjadi lebih karena perbedaan nature pada struktur tubuh laki-laki dan perempuan yang tidak berhubungan dengan kultur ketimpangan jender.[18]

Hal demikian mungkin sedikit berbeda dengan teknologi modern yang dalam banyak hal cenderung terdominasi dalam wacana maskulin sehingga produk-produk teknologi modern tidak sepenuhnya terhindar dari asumsi-asumsi yang timpang itu. Pada gilirannya, proses teknologisasi dan emasipasi terlanjur terkonstruk oleh dominasi wacana nonemasipatif, sehingga dalam dunia persilatan pun, atau yang juga dikenal dengan seni bela diri, memberikan rasionalisasi teknologis yang berbeda dalam memberikan pelajaran teknis antara pria dan wanita. Rasanya, pada zaman sekarang, sejago apa pun seorang pesilat wanita, tetap mengalami kesukaran dalam mengatasi “musuh” prianya. Jangan ditanya apakah mungkin terjadi sebuah pibu (pertandingan bebas dan terbuka) yang memungkinkan bertemunya pesilat wanita dan pria tanpa rasa sungkan.

Hal tersebut memang terjadi dalam masyarakat persilatan itu sendiri. Memang, jika seseorang secara langsung masuk ke dalam satu dunia kang ouw, maka ia wajib mengikuti aturan main dan membebaskan dirinya dalam wacana nonepasipatif. Akan tetapi, kadang-kadang intervensi yang luas dari masyarakat nonpersilatan berupa norma-norma dan sistem nilai yang terlanjur memberi posisi lebih pada laki-laki, dirasakan sebagai satu kekuatan yang tidak dapat dihindarkan begitu saja.

4. Sifat dan Hukum Teknologi

Persoalannya, rasanya tidak mungkin menjadikan masyarakat secara keseluruhan menjadi sebuah masyarakat persilatan. Karena, bagaimanapun, ini kelebihan yang tidak dimiliki oleh dunia persilatan, masyarakat nonpersilatan sebetulnya sangat menolak menyelesaikan persoalan kehidupannya dengan perkelahian dan kekerasan, walaupun realitas berbicara lain. Dalam konteks inilah dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya etika, konsep, dan filosofi teknologi persilatan secara keseluruhan mempengaruhi struktur penceritaan atau khususnya teknik pengaluran. Dalam cersil, banyak cerita seolah-olah “diatur” sedemikian rupa agar para tokoh-tokohnya bertemu dan “menguraikan” komplikasi penceritaan dengan perkelahian.

Sementara itu, catatan lain yang tidak kalahnya pentingnya untuk dicatat adalah, pertama, mempertanyakan apakah teknologi (silat) itu bersifat netral atau tidak. Ini berkaitan dengan istilah dalam dunia persilatan yang mengenal aliran (ilmu) hitam dan aliran putih. Aliran hitam adalah teknologi silat yang berdimensi jahat (hanya dalam rangka membunuh) dan sebaliknya aliran putih lebih dalam rangka mengantipasi atau membela diri. Pembunuhan yang dilakukan oleh pendekar aliran putih lebih sebagai sesuatu yang sifatnya akibat, bukan tujuan.

Akan tetapi, asumsi-asumsi ini layak dipertanyakan lebih jauh. Sangat mungkin teknologi silat, pada tingkat tertentu, sangat netral, tergantung manusia seperti apa yang menjadi pendekar itu. Suma Ong (Ong Cu), cucu pendekar sakti Suma Han (dalam kisah Kisah Sepasang Rajawali karya Kho Ping Hoo) adalah orang yang berwatak belas asih, penyayang, dan sama sekali tidak pendendam. Padahal, hampir semua ilmu dan teknologi silat yang dimilikinya berasal dari teknologi hitam, yakni aliran teknologi silat yang berorientasi menyerang dan membunuh. Hal tersebut terjadi karena dua gurunya adalah datuk-datuk dari aliran hitam. Ong Cu tetap bertahan menjadi pendekar yang baik.

Demikian pula sebaliknya, banyak pendekar yang menyalahgunakan silatnya untuk keperluan yang tidak baik. Seperti halnya sebuah senjata yang pada dasarnya netral dan bebas nilai, senjata tersebut bisa saja digunakan untuk keperluan-keperluan intimidasi dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Dalam situasi tertentu, seperti dicatat M.T. Zen, teknologi tiba-tiba menjadi tidak netral karena mengandung potensi merusak dan potensi kekuasaan.[19]

Hal kedua yang perlu dicatat adalah ketika teknologi menjadi tujuan, bukan sekadar alat sebagaimana lazimnya ketika ia direalisasikan. Banyak para pakar yang berpikir dan meniliti teknologi, tetapi demi perkembangan teknologi itu sendiri. Hal itu tidak terkecuali dalam dunia persilatan. Perseteruan yang merebak dalam kisah To Liong To, pada awalnya, lebih karena begitu banyak pendekar yang memperebutkan Pedang Naga yang menyimpan ilmu sangat tinggi pada waktu itu. Para pendekar percaya jika menguasai Pedang Naga, maka ia akan menjadi pendekar wahid tanpa tanding. Semua orang kang ouw, dengan menghalalkan segala macam cara, mencoba mendapatkan Pedang Naga itu.

Catatan ketiga, pada mulanya teknologi (dan teknologi silat) dikembangkan untuk mengatasi dan meringankan problem hidup kemanusiaannya. Kemudian, karena teknologi memiliki logika dan hukum sendiri, pada tingkat lebih lanjut teknologi justru mengancam kehidupan manusia itu sendiri.[20] Demikian pula halnya dalam masyarakat persilatan, kalangan kang ouw secara terus menerus terikat dengan aturan main dalam logika masyarakat persilatan sehingga kapan pun dan dimana pun ia harus siap menerima ancaman untuk selalu bertarung hidup mati sesuai dengan norma dan sistem nilai masyarakat persilatan. Suma Han bersama dua orang istrinya, Lulu dan Nirahai (dalam kisah Para Pendekar Pulau Es), akhirnya harus mati dikeroyok datuk-datuk kalangan hitam pada usia di atas 90 tahun. Padahal Suma Han sudah menyepi dan hidup tenang di Pulau Es lebih dari 30 tahun. * * *


[1] Lihat Marcel Bonneff, “Sebuah Cermin Ideologi: Cerita Bergambar Indonesia” dalam Citra Masyarakat Indonesia, Jakarta: Sinar Harapan, 1983. hlm.193-196.

[2] Untuk penjelasan lebih jauh lihat Claudine Salmon dalam Literature in Malay by the Chinese of Indonesia, Paris, 1981. Lihat juga Leo Suryadinata dalam “Cerita Silat Tionghoa di Indonesia: Ulasan Ringkas” dalam Leo Suryadinata (Penyunting), Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, Jakarta: Rasindo, 1996. hlm. 72-113. Secara sekilas, Jakob Sumardjo menyinggung persoalan tersebut dalam “Novel-Novel Populer Indonesia” dalam Prisma No. 6 Juni 1977. Tulisan tersebut diterbitkan ulang dalam  Novel Populer Indonesia, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1980.

[3] Leo Suryadinata,  1996. h.102.

[4] Itulah sebabnya, biasanya karya cersil ataupun karya sastra lain yang se-“genre” dengan itu disebut sebagai sastra picisan atau sastra pupoler. Lihat R. Roolvink, “Roman Pitjisan Bahasa Indonesia” dalam A. Teeuw, Pokok dan Tokoh II, Djakarta: Pembangunan, 1959. Jakob Soemardjo, 1977 dan 1980.  Frans M. Parera, “Perkembangan Industri Novel Populer di Indonesia” dalam Prisma No. 8 tahun 1988. Ajip Rosidi, “Penerbitan Buku Bacaan dan Buku Sastra di Indonesia” dalam Prisma No. 4, Juni 1979.

[5] Analisis terhadap data-data yang disebutkan kemudian hanya secara acak saja. Namun, ingatan, dan kesukaan terhadap cersil Cina, tampaknya bukan kesengajaan yang tidak disadari.

[6] Dalam hal ini saya sering bertanya-tanya apakah para pendekar tersebut hanya memiliki satu pakaian atau mempunyai beberapa pakaian, tetapi hanya satu warna dan satu model (kecuali untuk keperluan khusus/penyamaran). Misalnya saja Pendekar wanita Walet Merah (Warti), salah satu pendekar dalam seri Panji Tengkorak, (Cergam karya Hans dan pernah ditayangkan oleh Indosiar berupa sinetron pada awal 1997) pasti selalu memakai baju merah sehingga menjadi ciri khas utama pendekar wanita itu. Demikian pula pendekar utamanya Panji Tengkorak yang selalu berbaju putih dan menutup mukanya dengan tengkorak. Wiro Sableng dalam Pendekar Tapak Geni 212, selalu memakai baju putih, ikat kepala putih. Pendekar Si Buta dari Si Buta dari Goa Hantu selalu mamakai baju dari kulit ular. Singkat kata, seorang pendekar yang terlibat dalam sebuah cerita selalu berpenampilan atau berpakaian sama sehingga sekaligus menjadi ciri lahiriah pendekar bersangkutan.  

Ada perbedaan teknis pakaian dan asesoris antara cersil Cina dan Indonesia. Dalam cersil Cina dapat dilacak model pakaian dan potongan rambutnya dari dinasti apa atau setting  cerita tersebut pada abad berapa. Akan tetapi, hal tersebut tidak begitu kelihatan pada cersil Indonesia.

[7] Keterangan tersebut dapat dilihat pada Websters’s New World Dictionary, 1991.  Lihat juga T. Jacob, Manusia Ilmu dan Teknologi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1988. hlm. 7-14.

[8] T. Jacob, 1988. hlm. 10.

[9] Uraian tersebut merupakan adaptasi bebas dari keterangan J. Elull, “Masyarakat Teknologi” dalam Mangunwijaya (Ed.), Teknologi dan Dampak Kebudayaannya, 1983. hlm. 105-106.

[10] Bandingkan dengan keterangan Ignas Kleden ketika mengutip Juergen Habermas dalam Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Jakarta: LP3ES, 1987. hlm. 87.

[11] Lihat Marcel Bonneff, 1983. hlm. 195.

[12] Friedrich Dessauer,  “Teknik Membentuk Manusia,” dalam Mengunwijaya (ed.). 1983. hlm. 92.

[13] Cersil legendaris biasanya ditulis oleh beberapa orang dengan beberapa versi. Uraian tentang Bu Song mengacu pada film  berjudul To Liong To,  yang diperankan oleh Jet Lee sebagai Thio Buki. Keterangan tentang Singa Emas mengacu pada To Liong To versi video yang pernah ditayang oleh Indosiar.

[14] M.T. Zen, Sains, Teknologi, dan Hari Depan Manusia, Jakarta: Diterbitkan oleh Gramdia untuk YOI, 1981. hlm. 8. Lihat juga Ignas Kleden, 1987. hlm. xxviii-xxix.

[15] Periksa Leo Lowenthal, Literatur, Popular Culture, and Society, Palo Alto, California: Pasifics Books, 1968. Herbert J. Gans. Populer Culture and High Culture: An Analysis and Evaluation of Taste, New York: Basic Books, 1975. Sapardi Djoko Damono, Sosiologi Sebuah Pengantar Ringkas, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1984. Akan tetapi, konsep tersebut secara teoretik sudah dianggap usang oleh teori-teori posmodernisme. Lihat antara lain Fredric Jameson, Posmodernism, Or The Cultural Logic of Late Capitalism, London: Verso, 1991. Robert Dunn, “Pascamodernisme: Populisme, Budaya Massa, dan Garda Depan”, dalam Prisma, Januari 1993.

[16] Leo Suryadinata, 1996. hlm. 117-130.

[17] Untuk keterangan lebih luas lihat Arief Budiman, Pembagian Kerja Secara Seksual, Jakarta: Gramedia, Edisi Yang Disempurnakan, 1985. Lihat juga Ann Jefferson & David Robey (Ed.), “Feminisme Literary Criticism” dalam Modern Literary Theory A Comparative Introduction, London: B.T. Batsfort, 1987. h. 204-220. Atau Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996. Akan tetapi, tentu saja cukup banyak buku yang langsung atau tidak membicarakan persoalan ini. Lihat juga Aprinus Salam dalam Telenovela, Wacana Gender, dan Paradoks Modernitas, Jakarta: YIIS/The Toyota Foundations, 1996. (Tidak Diterbitkan).

[18] Untuk keterangan lain lihat Arief Budiman, 1985. h. 1-5. Arief, mengikuti Skolnick & Skolnick, 1974, memakai istilah nature dan nurture.

[19] M.T. Zen, 1981. hlm. 10.

[20] Lihat juga M.T.Zen, 1981. h. 29-32. T. Jacob, 1988. h. 10-14.

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin