Seberkas Cinta untuk Para Penyair

seberkas cinta untuk penyair pdf

Saya diminta saudara saya, Bambang Eka Prasetya, untuk memberikan semacam pengantar untuk kumpulan puisi Berkas Cinta untuk Indonesia. Dengan suka cita saya memberikan catatan berikut.

Menulis puisi itu mudah. Yang sulit adalah bagaimana menjadi penyair.

Karena menjadi penyair itu sungguh berat syaratnya. Ia harus bisa hidup bersahaja (bukan miskin). Ia harus tenang dan selalu berpikir. Ia harus tahan untuk tidak banyak bicara, dan bicara sepantasnya bila diperlukan. Ia harus pandai mengelola emosi. Ia harus sabar dan tahan bersedih. Ia tidak boleh cengeng. Ia bukan hedonis yang suka enak-enakan. Ia harus mau bekerja keras.

Ia harus terus menerus bersedia belajar kepada siapa dan apa saja. Ia harus tidak mudah tergoda untuk mengikuti pendapat dan pengetahuan umum. Ia harus siap dihina dan dipersalahkan. Ia harus siap untuk tidak menjadi orang penting. Ia harus berkenan untuk tidak mendapatkan kue duniawi. Ia harus siap selalu membersihkan hidupnya dari berbagai kotoran. Ia harus tahan banting. Ia tidak boleh pengecut.

Menulis puisi itu mudah. Yang sulit adalah bagaimana menjadi penyair.

Ia harus berani belajar dan mempraktikan hidupnya sebagai manusia merdeka. Ia harus selalu berani belajar menerima dan menghirup berbagai kebusukan hidup. Ia harus berani hidup kesepian. Ia harus cerdas mengelola sunyi. Ia harus tahan menderita dan menahan perih luka.

Sekali lagi, menulis puisi itu mudah. Yang sulit adalah bagaimana menjadi penyair.

Ia harus berani menahan lapar, dan kalau makan tidak sampai kenyang. Ia seorang yang pandai berterimakasih dan bersyukur. Ia seorang penyayang dan pencinta. Ia sangat jauh dari kesombongan. Ia tidak pernah membesar-besarkan dirinya. Ia seorang yang hati-hati dan waspada. Ia seorang yang cermat dan teliti.

Sungguh berat menjadi penyair.

Dan tidak sulit menulis puisi.

Dan dalam antologi Berkas Cinta untuk Indonesia yang memuat puisi 88 penyair Indonesia ini, Anda telah diklaim sebagai penyair. Artinya, melihat syarat untuk menjadi penyair itu berat, akankah kita sanggup memikul atau memanggulnya?

Jika kita sanggup menjadi penyair, penyairlah manusia yang memikul nilai-nilai peradaban dunia. Penyair itulah yang harus menanggung luka dan derita. Akan tetapi, saya pun tahu, ketika kita membuat puisi, tentu bukan maksud kita untuk menjadi penyair. Bukan saja menjadi penyair itu berat, tapi bercita-cita menjadi penyair pun seperti bertentangan dengan syarat-syarat menjadi penyair itu sendiri.

Tentu banyak jalan dalam cara mencintai. Membuat puisi seperti merupakan salah satu cara kita belajar dan mencoba terus menerus mencintai negeri ini, rakyat ini, bangsa Indonesia. Karena cinta kepada Indonesia, kita melakukan banyak kritik agar Indonesia bisa lebih baik. Karena cinta kepada Indonesia, kita mebongkar kebusukannya. Karena cinta kepada Indonesia, kita muak pada kemunafikan. Kita mencintai Indonesia, tapi banyak yang menyalahgunakan cinta kita.

Puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini memperlihatkan hal itu, cinta yang dikecewakan. Untung penyairnya tidak patah hati, karena penyair tidak boleh patah hati.

Akan tetapi, terlepas dari persoalan teknis kepuitisan sebuah puisi, saya ingin mengatakan bahwa bobot puisi tidak hanya terletak pada persoalan teknis itu sendiri. Puisi adalah sekompleks karya, sehimpunan sesuatu, yang tidak terlepas dari siapa yang menulis puisi. Artinya, laku menjadi penyair, seperti telah disinggung di atas, dan sekaligus menjadi syarat untuk menjadi penyair, tidak bisa diabaikan.

Sebagai puisi yang merupakan sehimpunan sesuatu, laku kita (kalau istilahnya Bourdieu, trajektori) untuk menjadi penyair akan ikut mengakumulasi bobot puisi kita agar menjadi lebih legitimet. Karena laku itu akan mengakumulasi berbagai modal yang kita miliki, dalam hal ini modal budaya, ekonomi, sosial, dan simbolik.

Dalam menjalani trajektori itu, konsekrasi juga menjadi penilaian penting bagaimana kelak seseorang bisa menjadi penyair. Saya melihat banyak penulis puisi yang tergabung dalam antologi ini masih berusia muda. Artinya, jalan untuk melakukan trajektori dan konsekrasi masih terbuka lebar.

Artinya lagi, laku untuk menjadi penyair itu bukan laku iseng, bukan laku bonek, bukan laku emosional. Laku menjadi penyair membutuhkan keseriusan, kesungguhan, dan pengabdian tak kenal lelah.

Jika laku untuk menjadi penyair itu betul-betul kita kerjakan dengan keikhlasan, maka saya yakin puisi kita akan menjadi sangat bermartabat dan berharga. Bukan saja berharga bagi masyarakat Indonesia, juga berharga bagi sejarah kehidupan.

Sekali lagi, menulis puisi itu tidak sulit. Yang sulit adalah bagaimana menjalani laku menjadi penyair.

Aprinus Salam

Penikmat Puisi, tinggal di Yogyakarta

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *