Politisasi atau Rancunya Ingatan: Beberapa Catatan tentang “Sejarah Kampungku”

politisasi ingatan pdf

Apa pun yang kita alami dan kita lewati, dia bergerak menjadi masa lalu, dia tersimpan dalam ingatan, baik ingatan aktif maupun pasif. Sebagian dari pengalaman itu menjadi ingatan-ingatan individual dan sebagian yang lain akan menjadi ingatan kolektif. Dia bisa berupa wacana (dalam satu mekanisme yang terstruktur), tetapi sangat mungkin hanya berupa fragmen-fragmen lepas tidak terstruktur. Dia mungkin sebagian bisa hilang, tapi sebagian akan tak terlupakan.

Sebagian besar berbagai hal yang dialami dan berbagai peristiwa yang telah berlangsung tersimpan dalam berbagai dokumen dan alat bukti lainnya. Tentu, mereka yang menulis dan menyimpan masa lalu tersebut dalam satu perspektif dan kepentingan tertentu. Sejarah tidak dapat dicatat secara menyeluruh. Berbagai catatan dan dokumen hanya saling melengkapi. Itulah sebabnya, pengetahuan kita tentang masa lalu lebih bersifat sepenggal-sepenggal, tergantung dalam posisi apa kita perlu mengenang dan memahami masa lalu tersebut.

Sejarah juga disimpan dalam cerita-cerita rakyat dan fiksi-fiksi populer yang diturunkan oleh masyarakat tempat kita dibesarkan. Sebagian dari cerita dan fiksi-fiksi tersebut menjadi folklore atau mungkin mitos-mitos, sebagian yang lain menjadi common sense tertentu, yang kadang kita tidak lagi merpersoalkan apakah hal-hal yang menjadi sejarah itu benar atau tidak. Artinya, gejala post-truth bukan gejala baru. Kepercayaan-kepercayaan dalam lokal-lokal tertentu, kadang dipercaya begitu saja oleh pemeluknya.

Dalam konteks tersebut, kemudian, “suatu ingatan” ditransmisikan dari satu waktu ke waktu berikutnya, dari satu generasi ke generasi setelahnya. Tentu, dalam perjalanannya, “suatu ingatan” mengalami sejumlah “gangguan”, baik sengaja atau karena memang terbatasnya ingatan itu sendiri. Dalam hal ini, hal kesengajaan itulah yang saya sebut sebagai politisasi ingatan. Ingatan diplintir baik dalam konteks negatif maupun positif. Hal negatif dan positif tersebut tergantung tujuan bagaimana ingatan diberdayakan.

Namun, terdapat kemungkin jika ingatan juga mengalami keterbatasan akurasi sehingga tidak ada ingatan yang sangat akurat sesuai dengan fakta sejarah yang sesungguhnya. Dalam prosesnya, ingatan mengalami kerancuan baik dari segi penamaan, tokoh-tokoh yang berperan, alur peristiwa, setting sosial, waktu dan tempat, dan sebagainya. Apalagi ketambahan mitos, fiksi, dramatisasi dan politisasi ingatan, maka sempurnalah kerancuan dan kekacauan itu.

Hal-hal seperti itulah yang terjadi dalam sejumlah tulisan tentang “Sejarah Kampungku”, berbagai tulisan yang masuk dalam “lomba” penulisan tentang sejarah kampungku yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan (PSK) UGM pada tahun 2018. Terdapat 68 tulisan yang masuk, dengan format, sistematika, sudut pandang, konsep, cara penulisan, dan jumlah kata yang berbeda-beda. Terdapat tulisan dengan kisaran 500-an kata, tetapi terdapat pula tulisan dalam kisaran 8000-an kata. Sebenarnya, standar yang diminta PSK sekita 5000-6000 kata, sesuai dengan standar untuk penulisan jurnal.

Persoalan yang cukup menonjol dari berbagai tulisan itu adalah perbedaan dalam memahami kampung. Artinya, bayangan tentang kampung memang berbeda-beda. Dalam tulisan-tulisan tersebut, ada tulisan yang mengambil lokasi kampung setingkat Kelurahan/Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota. Bahkan, tulisan tentang Nias, walaupun tulisan itu hanya sebagian kecil peristiwa di pulau itu, tulisan tersebut menempatkan Pulau Nias sebagai kampung.

Hal memposisikan istilah kampung merupakan kasus yang berbeda-beda. Saya sendiri, misalnya, dari Desa Lambang Sari, pada sebuah lokasi bernama Lirik. Akan tetapi, dalam komunikasi apapun, kami selalu mengatakan bahwa kampung kami adalah Lirik, tidak pernah kami akan berkata bahwa kami dari Desa Lambang Sari. Padahal, Lirik itu adalah sebuah kecamatan yang cukup luas yang terdiri dari 13 desa. Itu sama halnya dari teman kita yang datang dari Nias. Mereka akan mengatakan bahwa kampung mereka dari Nias. Padahal, Nias adalah sebuah pulau yang cukup besar.

Dalam berbagai tulisan tersebut, terdapat perspektif yang berbeda. Pertama, mereka yang secara empirik pernah hidup di kampung tersebut dalam waktu yang cukup lama. Kedua, mereka yang tinggal di kampung tersebut dalam waktu yang tidak cukup lama dan kemudian lebih lama di tempat lain. Mungkin ada sesuatu yang berkesan dari kampung tersebut dan tertarik untuk menulisnya. Akan tetapi, sumber tulisan secara umum sama. Hal pertama akan banyak didukung oleh ingatan dan wawancara terhadap nara-sumber yang masih hidup dan didukung sedikit literatur (lokal). Sementara itu, hal kedua tulisan lebih banyak mengandalkan literautr (data sekunder), dengan dukungan sedikit wawancara terhadap nara-sumber yang masih hidup.

Delam konteks soal dukungan sumber sejarah, memang terdapat masalah, terutama jika dukungan sumber mengandalkan ingatan dan wawancara terhadap nara-sumber yang masih hidup. Kita tidak dapat menguji secara pasti posisi sosial, politik, ekonomi dan keterlibatan nara-sumber sehingga hasil wawancara lebih bersifat sepenggal-sepenggal dengan tingkat akurasi yang sulit dipertanggjawabkan. Hal itu juga dapat dilihat bahwa untuk kasus yang sama, dua nara sumber saja informasinya sudah berbeda. Sudut pandang dan posisi seseorang dalam melihat masa lalu menentukan bagaimana sejarah diapresiasi.

Hal lain yang menarik dalam sejumlah tulisan “Sejarah Kampungku” adalah persoalan rentang waktu. Ada tulisan yang mengambil rentang waktu dari zaman dahulu kala, tetapi terdapat juga tulisan yang hanya melihat masa lalu dengan mundur lebih kurang 30 tahun terakhir. Hal dahulu kala ditulis secara sekilas, untuk memposisikan satu periode tertentu munculnya kampung atau desa tertentu. Hal dahulu kala bersumber mitos, folklore, atau cerita-cerita lisan. Masa-masa yang lebih kemudian mungkin berdasarkan literatur tertentu, tetapi sebagian juga berdasarkan nara-sumber yang dianggap cukup mengetahui sejarah kampungku.

Cara melihat masa lalu dapat dipastikan juga berbeda-beda. Sejumlah tulisan memperlihatkan perspektif ekonomi, sosial, dan yang cukup banyak adalah perspektif politik. Bagaimana sebuah kampung lahir karena peran tokoh-tokoh politik, sosial dan agama pada waktu itu, tetapi peran tokoh-tokoh tersebut dijelaskan dalam alur politik. Namun, seperti telah disingung, banyak ingatan yang cukup rancu dalam mengingat nama, alur pristiwa, dan konteks. Terutama dalam mengidentifikasi nama dan peran tokoh-tokoh, apakah tokoh tersebut tokoh kunci, atau cuma tokoh yang dibesar-besarkan dalam kepentingan poltik tertentu.

Dari sejumlah tulisan, dapat diketahui bahwa banyak kisah pahit tentang masa lalu daripada kisah sukses yang membahagiakan. Apakah sejarah memang lebih layak ditulis karena ada kepahitannya daripada kesuksesannya. Kisah tentang semakin hilangnya jejak-jejak kampung. Kisah tentang terbelahnya kampung karena peristiwa politik, terutama misalnya peristiwa 1965. Kisah tentang berubahnya kampung menjadi sebuah daerah yang serba modern dan keras. Ada sebuah kampung yang dulu pernah jaya karena terdapat pabrik. Akan tetapi, ketika pabrik itu tutup karena tekanan politik ekonomi, maka kampung tersebut menjadi kampung miskin dan kumuh.

Usia penulis “Sejarah Kampungku” dibatasi maksimal usia 25 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana anak muda sekarang, apa yang disebut sebagai generasi millenial, dalam mengapresiasi dan memahami kampungnya. Karena bersifat terbuka, maka banyak dari mereka yang ketika menulis, yang sama belum mengetahui bagaimana menulis sejarah. Ada tulisan yang seperti cerpen, ada tulisan seperti catatan harian, ada tulisan seperti opini.

Dapat dipahami, banyak anak muda yang sebenarnya tidak lagi cukup mengenal kampungnya secara empirik. Terdapat ruang sejarah yang demikian cepat berubah dalam konteks 50 tahun belakangan ini, yakni masa-masa hidup anak-anak muda yang baru berusia 25 tahun belakangan. Mereka yang pada masa kecilnya pada tahun 1960-an hingga pada 1980-an, lebih dibesarkan secara empirik pada tempat-tempat (place) mereka bermain.

Namun, mereka yang besar pada tahun 1990-an, dan terutama pada tahun 2000-an, mereka telah kehilangan ruang empirik mereka, dan masuk ke ruang-ruang yang tidak empirik (space). Hal ini tentu saja berpengaruh dalam cara mereka melihat masa lalu. Karena kehilangan ingatan empirik, maka sejarah yang mereka ceritakan adalah sejarah menurut “orang lain” yang dianggap mengalami masa lalu. Hal itu menjadi masalah katika tidak ada klarifikasi apapun siapakan “orang lain” itu.

Singkat kata, sejarah anak muda kita yang pada tahun 2018 baru berusia 25 tahun adalah mereka yang pengalaman sejarahnya bukan saja tidak cukup empirik, tetapi perubahan sejarah yang berjejalan menyebabkan masalah lalu adalah kenangan yang demikian cepat dan berjejalan, bahkan pahit, bukan sebagai kenangan yang indah dan tenang. Yang menarik dari kisah-kisah anak muda millenial ini adalah cara pandang mereka yang tidak mampu membedakan mana informasi yang telah mengalami politisasi dan mana tidak. Namun, sebagai generasi post-truth, hal itu bukan lagi menjadi suatu kesadaran yang perlu dibersihkan.

Untunglah, dari sebagian kecil yang ikut menulis, terdapat juga mahasiswa, bahkan sarjana yang baru lulus, dengan latar pendidikan sejarah, arkeologi, antropologi, dan sebagian yang lain dari fakultas sosial dan politik, filsafat,  dan sastra. Secara relatif tulisan mereka cukup memenuhi kaidah untuk disebut sebagai kertas kerja (paper) yang sesuai dengan aturan penulisan akademis. Tulisan-tulisan mereka, walaupun tentu saja jauh dari kesempurnaan, tetapi mungkin perlu juga untuk dibaca. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin