Mbongkar Yogya

Yogyakarta hadir dalam potongan-potongan Malioboro, Keraton, Tugu, rindu, pulang, angkringan, dan malam-malam yang semakin lasak. Bagi yang pernah singgah, Yogyakarta memberi kesan, juga pesan, pada kerinduan yang mengajak untuk kembali tinggal menikmati sudut-sudut kenangan. Bagi yang memiliki kenangan lain, Yogyakarta adalah suasana pagi berkawan Gunung Merapi yang disapu kabut dari utara.

Yogyakarta adalah potret semangat sekelompok pekerja bersepeda, beriringan dengan ibu-ibu pedagang yang berangkat menuju tengah kota dilatarbelakangi cahaya pagi keemasan dari arah selatan. Demikian wajah Yogyakarta yang melekat di ingatan satu dekade lalu. Namun, kini, saat pembangunan terus melaju, Yogyakarta tak lagi bisa dinikmati sebagaimana kerinduan dan kenangan itu ingin diputar ulang.

Kini, Yogyakarta seolah hanya memiliki gambar tunggal. Kota yang dipenuhsesaki dengan himpitan beton dan kuda besi yang  bersiap menghadang manusia. Siapapun yang melintas di jalanan kota Yogyakarta, akan melebur dalam pertunjukkan besar bernama kemacetan. Pertunjukkan yang bisa dengan mudah mengubah karakter para aktor di dalamnya; yang tadinya alon-alon menjadi penghamba pada kecepatan. Tidak ada ruas jalan yang menyisakan ruang kosong, hampir seluruhnya berubah menjadi ruang ekonomi yang diperebutkan.

Di tengah kota, tidak ada tempat tersisa untuk sekadar melepas lelah dan bersantai dari ritme kerja tanpa harus ditarik bayaran. Di ujung desa, sawah-sawah perlahan menghilang digantikan deretan rumah yang seringkali tak punya jalan memutar.  Sementara, para bijak cendekia yang memenuhi kampus-kampus ternama tak juga mampu memikirkan, bagaimana mengembalikan Yogyakarta menjadi tempat yang layak dihuni manusia?

Buku mBongkar Yogya ini diinisiasi dengan sebuah kesengajaan. Mengakomodir kegelisahan yang seringkali hanya berhenti di warung kopi, atau obrolan santai selepas kerja. Pusat Studi Kebudayaan UGM kemudian mengajak beberapa kawan untuk menuliskan apa yang menjadi kegalauan tentang Yogyakarta dan dikumpulkan dalam sebuah antologi tulisan. Membaca seluruh tulisan di dalam buku mBongkar Yogya ini, kita akan melihat potongan kecil dari gambar besar yang sesungguhnya menunjukkan wajah Yogyakarta hari ini.

Wajah yang di permukaan nampak memesona, namun jauh di dalam, kontestasi modal ekonomi, politik, kebudayaan dan hak hidup warga saling menghantam satu sama lain.

Dalam buku ini, makin karut marutnya situasi di Yogyakarta adalah dampak dari inkonsistensi dan kesalahan pemaknaan filosofi kota seperti yang dituliskan dalam “Yogyakarta Bukan Jogjakarta”. Kegelisahan yang mempertanyakan status dan klaim yang dibanggakan oleh Yogyakarta, dapat dibaca dalam Yogyakarta Tidak (Lagi) Istimewa “Membaca Arasy Gerakan Kultur Keistimewaan” dan “Multikulturalisme di Yogyakarta, Ironi Sebuah Keberagaman”.

Usaha untuk menjawab kegelisahan, dicoba untuk diwacanakan dalam “Mencari Identitas Yogyakarta” dan “Mencari Yogya di Kota Budaya”. Gagasan untuk membawa kesadaran retrospektif terhadap tinggalan bersejarah di Yogyakarta hadir dalam “Benda dan Bangunan Cagar Budaya di Yogyakarta”, dan kisah tentang potensi wisata yang belum optimal ditulis dalam “Menggagas Wisata Kreatif di Yogyakarta”. Pudarnya ‘rasa’ Yogyakarta hadir dalam tulisan  “Hilangya Jiwa Kepeloporan” dan “Hilang Halaman, Hilang Permainan” yangakan membawa kita pada nostalgia masa kecil di Yogyakarta.

Meski banyak hal hilang dari Yogyakarta, namun beberapa masih bertahan, kopi dan buku salah satu yang menjadi ciri khas Yogyakarta. Dalam “Kota Para Peminum Kopi” dan “Yogya (Bisa) Kembali Lewat Buku” kita bisa membaca geliat semangat yang berdenyut tak kenal waktu di Yogyakarta. Sebagaimana halnya kesenian yang juga menjadi nyawa Yogyakarta yang dituliskan melalui “Menjadikan Yogyakarta sebagai “Sentong Kebudayaan Indonesia” dan “Kesenian dan Kita : Memandang Indonesia dari Yogya”, dalam dimensi yang lebih luas tulisan “Mencegah Diskriminasi dan Kanibalisasi Budaya” menawarkan gagasan agar kebudayaan dapat menjadi solusi atas situasi kini.

Makin berhimpitnya ruang-ruang sosial budaya ekonomi di Yogyakarta membawa dampak yang sering luput dari perhatian kita, “Heterotropia – Penaklukan Kota Yogyakarta” melihat peran dan upaya yang dilakukan komunitas warga untuk meminimalisir ekses tersebut.  Sebagaimana aksi warga yang menjadi viral beberapa waktu lalu dan kaitannya dengan politik ruang dalam “Jalanan Yogyakarta : Kekuasan, Modal, dan Politik Ruang”. Tulisan “Berjalan di Bawah Guguran Daun-daun Tevesia” akan membawa kita perlahan menjejaki kenangan di kampus biru lewat kisah yang (mungkin) jarang kita dengarkan. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin