Masokisme Kultural: Catatan Buat Penggurit Wanodya

wanodya pdf

Orang Jawa, terlebih wanita penggurit, secara kultural cenderung masokis di dalam dirinya. Begitu banyak wacana emansipatif, liberasi, demokratisasi, dalam konteks dan kepentingan yang beragam dan berbeda, wanita penyair yang meng-gurit, justru memilih untuk menjadi masokis secara kultural. Situasi seperti apa yang menyebabkan itu.

Saya melihat pilihan tersebut lebih sebagai satu resistensi dan strategi kultural untuk keluar dari pertaruhan dan pertarungan dalam tatanan modern. Di samping itu, sekaligus sebagai upaya terus menerus melakukan pencarian diri ke dalam budayanya. Disebut resistensi dan sekaligus strategi dikarenakan pilihan-pilihan yang demikian beragam untuk menjadi subjek yang mana, bukan saja pilihan itu tidak menggiurkan, tetapi juga bertentangan dengan perasaan dan hati.

Akan tetapi, hal tersebut bukan tidak mengandung kontradiksi. Seperti terdapat dalam beberapa geguritan di kumpulan buku ini, bahasa Jawa telah mengawal penyairnya untuk berselera dan merasa Jawa, tetapi subjek penggurit dalam beberapa hal sempat dimodernkan. Dalam subjek yang “terlanjur” modern tersebut penggurit menemukam banyak penderitaan, dengan perasaan sepi dan kesepian. Itulah sebabnya, cukup banyak geguritan beraroma dan bernuansa keluhan, kesedihan, kekecewaan, sekaligus harapan dan kesetiaan.

Walaupun terlanjur, tetapi bukan berarti kesadaran subjek Jawa-nya hilang sama sekali. Dalam subjek yang bertumpang tindih itulah, kadang tetap muncul geguritan yang justru menempatkan kesedihan dan sakit hati, dan segala kekecewaan lainnya sebagai kenikmatan. Sesuatu berbasis pasrah dan nrima. Secara kultural, kondisi ini sangat jarang dijumpai dalam budaya-budaya lain.

Pada titik balik inilah kekuatan wanita penggurit akan mampu mengeluarkan dirinya dari tatanan simbolik modernitas, atau bahkan kapitalisme, untuk secara perlahan tapi pasti masuk ke proses reaktualisasi dan revivalisasi diri. Pada mulanya, pilihan  tersebut mungkin lebih sebagai keterpaksaan. Akan tetapi, dalam perjalanannya, ketika kemudian diketahui dunia dan “budaya eksternal” tidak menjanjikan keteguhan dan kemantaban hatinya, maka pilihan meng-gurit menjadi strategi sekaligus resistensi.

Dari segi kebahasaan, wanita penggurit juga ke luar dari tatanan sastra nasional (Indonesia), dan membangun tatanan tersendiri dalam arena-arena yang spesifik dan membangun legitimasinya secara internal. Dengan rasa kecewa karena sastra Jawa dikeluarkan dari arena sastra nasional, para penggurit menikmati itu sebagai cara mentertawakan atau bahkan mengekskusifkan diri bahwa bahasa Jawa justru lebih emosional dan nges daripada Bahasa Indonesia. Ini merupakan persoalan tersendiri yang juga menarik untuk dikaji lebih jauh.

Persoalan inherennya, apakah dengan cara itu wanita penggurit akan menemukan diri dalam kulturnya. Sebagai strategi pancarian jati diri (dengan huruf kecil), atau dalam bahasa Zizek, others, hal itu merupakan satu proses yang terus menerus akan terjadi. Ini lebih sebagai satu tuntutan terhadap proses dan perintah menuju Others. Kadang-kadang kita terjebak untuk merasa mengetahui jati diri. Itu pun tidak salah. Akan tetapi, itu lebih sebagai simbolisasi dari Others, tetapi bukan Others itu sendiri. Ketika segala hal Jadi Diri (dalam huruf kapital) bisa terbahasakan, dia menjadi sesuatu yang bersifat simbolis atau bahkan fantasi imajiner belaka.

Kbali ke persoalan semula, saya menduga pilihan masokisme kultural merupakan strategi yang jitu. Walau pahit dan sakit, wanita penggurit mampu secara elegan berhadapan dengan berbagai kekuatan wacana dalam pembentukan subjek yang saat ini didominasi oleh modernisme dan kapitalisme. Juga sebagai pilihan penting berhadapan dengan dominasi Bahasa Indonesia dan nasionalitas. Wanita penggurit tidak tertarik untuk menjadi orang modern, tidak bernafsu menjadi bagian dari tatanan kepitalisme, tetapi sekaligus bertahan untuk tidak terjebak dalam arena nasional.

Perjuangan tersebut tentu membutuhkan stamina yang besar dan tahan banting. Salah satu energi tersebut telah disinggung di depan. Hal yang perlu dipahami adalah kebertahanan dan kemampuan untuk terus menerus berjuang melawan cengkraman simbolik dominan. Pada tataran ini memang diperlukan satu pemikiran yang mendalam. Wanita penggurit perlu mengelola dirinya secara lebih intensif dan sadar diri, sehingga segala keputusan sastra, keputusan politik, keputusan simbolik, keputusan intelektual, dan keputusan estetik yang dambilnya, dilakukan secara sadar.

Jika itu yang terjadi, maka geguritan secara bertahap, sambil berjalan dalam batas-batas ruangnya, akan kembali menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembangunan dan bangunan estetika sastra khususnya, dan dalam bangunan estetika budaya bernegara pada umumnya. Namun, dalam tatatan cengkraman kapitalisme dan modernisme itu, ini perjuangan yang sangat berat.

Jangan sampai, yang terjadi justru sekadar masokisme kultural itu sendiri, sebagai tanda ketidakberdayaan. Enggak tahulah.

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin