Kita Ini (Pecundang) Berbahaya

kuntowijoyo pertemuan antara yang profetik dan transendental download pdf

(Tulisan ini dimuat dalam buku Kuntowijoyo: Pertemuan Antara Yang Profetik dan Transendental, Yoyakarta: Interlude, September 2016).

1

Selain di kampung dan keluarga, sehari-hari saya hidup di lingkungan kampus dan sebagian yang lain bergaul dengan para seniman dan budayawan (katanya begitu). Tentu saya punya teman polisi, tentara, pejabat pemerintahan, bahkan beberapa pengusaha sukses. Akan tetapi, sayang, kami tidak memiliki cukup banyak ruang yang membuat kami lebih akrab.

Saya ingin membicarakan dunia yang cukup saya akrabi, yakni dunia kampus dan dunia seniman/budayawan. Ada kesamaan antara para akademisi di kampus dan para seniman. Kesamaannya, meminjam konsep Gramsci, mereka sama-sama golongan atau kelas intelektual. Perbedaannya, terletak pada cara mereka mempraksiskan hidupnya.

Sambil mengenang Prof. Dr. Kuntowijoyo, tulisan ini mencoba memperbincangkan hal tersebut.

2

Kalau bersama kolega kampus, diskusinya soal teori dan riset, proposal, dan proyek-proyek. Arus utama tujuan riset adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ideologi proposal masih sangat berbau pembangunan, atau peningkatan kesejahteraan masyarakat. Mimpinya seperti apa yang bisa dicapai oleh negara-negara maju. Selera kami dalam posisi ini juga banyak yang mecoba “tampil modern”, dengan asesoris penampilan serba bermerek.

Dengan teman kampus, biasa pulalah berbicara tentang musik, mungkin jazz, klasik, juga film-film. Di samping itu, kami juga sangat sering berbicara tentang kesibukan, barusan dari Jepang, Jerman, Inggris, Australisa, Amerika, dan sebagainya. Sebagian bepergian atas nama riset dan kerja sama, sebagian memang jalan-jalan. Sekali-sekali bicara tentang kesehatan yang semakin menurun, dan itu sebabnya, kegiatan olahraga jadi hiburan senggang. Ada juga yang suka barang-barang antik.

Tentu masih ada perbedaan-perbedaan di antara para teman kampus itu. Ada yang melihat dunia “seolah bisa direkayasa” sedemikan rupa dengan kalkulasi-kalkulasi yang bersifat teknologis dan ekonomis. Tampaknya, rezim ini cukup dominan. Hal itu dapat dilihat dari sedemikian banyak dana dan peluang riset yang berkaitan dengan rekayasa pembangunan dan pengembangan masyarakat dalam aspek teknologi dan ekonomi. Sebaliknya, kecilnya peluang riset sosial dan budaya karena dianggap tidak penting.

Sebagian melihat dunia itu berjalan dalam dinamikanya sendiri, sesuai dengan proses yang inheren dalam berbagai perubahan yang terjadi. Beberapa teman juga melihat berbagai kemungkinan bahwa terdapat kekuatan politik dan ekonomi yang sangat menentukan proses-proses perubahan menuju suatu masyarakat yang lebih baik di masa depan. Tentu frame lebih baik di masa depan itu frame modernitas sehingga banyak juga yang salah paham bagaimana menempatkan kekuatan budaya dalam masyarakat yang dijadikan uji coba riset tersebut. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa, pertama, banyak dari kaum akademisi tidak memposisikan dirinya menjadi masyarakat bersangkutan. Kedua, frame modernitas adalah frame kelas penguasa sehingga banyak kebijakan penguasa, yang didukung oleh akademisi, bukan saja melanggengkan kekuasaan yang telah mapan, tetapi di lain sisi justru njelomprongke masyarakat.

Kasus perbedaan itu memperlihatkan satu setting sejarah pendidikan yang panjang, sesuatu yang tidak terintegrasi secara konseptual sehingga terdapat perbedaan-perbedaan yang membuat banyak kegiatan di kampus, pada akhirnya, berjalan sendiri-sendiri. Banyak kegiatan yang tidak menjadi suatu kinerja yang terintegrasi, sehingga banyak pula kegiatan atas nama kegiatan, atas nama program, dan mungkin atas nama agenda pribadi tertentu.

Salah satu perbincangan lain yang tidak kalah asyiknya tentu membicarakan seorang teman (sekarang)  menduduki jabatan apa dan program apa yang bisa disinergikan dengan posisi kuasa teman tadi. Selain itu, bisa juga perbincangan bahwa ada jabatan-jabatan tertentu yang bisa “diduduki”, dan semacam perjanjian diam bahwa “aku membantu kamu menduduki jabatan tersebut lho”. Artinya, banyak juga pembicaraan yang sangat tidak berhubungan dengan persoalan akademis dan keahlian. Perbincangan yang kadang agak menghindar dari sesuatu yang akademis itu, kadang saya melihatnya semacam kesantunan kultural untuk tidak kelihatan seperti “sok pintar”.

Kalau kebetulan terdapat jabatan kuasa yang sedang “tidak diduduki dalam lingkaran teman” maka tentu kelemahan dari kebijakan kuasa “non-teman” tadi dilihat kekurangan dari berbagai segi, bahkan sampai perspektif pribadi. Tidak jarang, banyak teman yang vokal, dan mengklaim mewakili suara rakyat kebanyakan, atau mewakili posisi sebagai dosen kebanyakan, semua hal dikritik, seolah dunia berjalan dalam ketidakberesan. Akan tetapi, ketika teman tadi dipangku, dan diminta untuk menjabat kedudukan tertentu, maka suaranya hilang seperti ditelan bumi yang selalu diam.

Kampus dan para akademisi, apalagi dengan gelar simbolik yang penuh, memang sangat dekat dengan kekuasaan. Banyak jabatan kuasa tertentu dipegang oleh mereka yang berasal dari kalangan kampus/terpelajar. Walau agak ketinggalan, UGM sekarang sedang berbunga hatinya karena, akhirnya, memiliki alumni yang bisa jadi presiden. Tiba-tiba banyak kelompok yang merasa dekat dengan Jokowi, dan merasa “berhak” menagih hutang historisnya.

Kalau boleh berbicara sedikit kurang sopan, mohon maaf, jarang ada dosen atau akademisi yang kehidupan ekonominya tidak baik. Tentu ada fakultas-fakultas yang makmur dan kaya dengan dosen yang juga makmur dan kaya. Kebijakan dan politik ideologi pembangunan menyebabkan proyek-proyek teknologi rekayasa dan inovasi perbaikan terhadap kehidupan demikian laris. Persoalannya, rekayasa untuk siapa dan untuk apa. Seolah teknologisasi kehidupan bisa menyelesaikan banyak masalah. Dan yang pasti, kemiskinan masih begitu banyak mengidap Indonesia, krimilitas tidak berkurang, dan proyek berjalan terus.

Di samping itu, banyak fakultas yang biasa-biasa saja, walau para sivitasnya sangat tidak bisa disebut miskin, ada juga sebagian dari mereka rangkap profesi, banyak juga yang buka usaha swasta, dan dipercaya. Bahkan sebagian, kasarnya lagi, mereka dalam posisi kelas menengah ke atas, dekat dengan kekuasaan, dan merasa selalu memakili suara masyarakatnya. Yogya, yang penuh sesak dengan kelas intelektual dan kampus, kontribusi terpentingnya adalah membuat jalan-jalan penuh sesak dengan mobil-mobilnya.

Kalau kebetulan belum memiliki jabatan tertentu, apalagi kekuasaan di pusat, kita bersikap kritis, tapi di satu sisi yang lain kita bersikap ndermimis. Saya memgikuti beberapa Group Washap yang isinya, kadang seolah dan sembari guyon, bahwa istilah mroyek dan lagi peye, merupakan perbincangan yang cukup menyita pembicaraan.

Kita juga tahu, bahwa tentu banyak juga dari kita melakukan penelitian, mungkin bersifat individual. Akan tetapi, banyak riset atau penelitian demi penelitian itu sendiri. Adalah  rahasia umum bahwa sebagian besar dari “semacam penelitian” itu, hampir dipastikan cuma memenuhi gudang perpustakaan. Masih syukur jika sebagian terjangkau untuk dibaca, tapi sebagian seolah hilang dalam tumpukan buku-buku dan laporan penelitian berdebu lainnya. Hal yang lebih penting dari itu adalah bahwa hasil riset “seperti penelitian itu” bisa kita pakai untuk naik pangkat, dan sebagainya, termasuk memperpanjang CV kita.

Selain sudut pandang itu, tentu banyak teman akademisi dan intelektual yang baik dan santun, yang mungkin berbicara dengan tulisan, mengajar dengan baik, dan selalu hidup bersahaja, walau keberadaan mereka semakin jarang. Dalam kesempatan ini, sambil mengenang kebaikan beliau, saya ingin menyebut Prof. Dr. Kuntowijoyo, dia adalah seorang guru besar yang cukup asketis dalam hidupnya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya cukup dekat dengan beliau secara pribadi, tetapi dalam keterbatasan ketidakberanian untuk mengatakan bahwa saya cukup dekat dengan beliau itu, saya berani mengatakan bahwa beliau seorang yang bersahaja dan jernih dalam berbagai tulisannya.

Sayangnya, beliau terlalu santun dan baik hati untuk mengkritisi kita kaum inetelektual dan akademisi di Indonesia. Padahal, itu salah satu keahlian beliau dalam mengkritisi kaum atau kelas borjuasi, sehingga beliau banyak memperbicangkannya itu untuk konteks kelas borjuasi Eropa. Dalam pemahaman yang mendalam tentang posisi kaum berjuis dan intektual tersebut, beliau tampaknya lebih leluasa mengkritisi itu justru dalam karya-karya sastra. Sindiran-sindiran yang tajam tentang itu dapat dilihat dalam karyanya, bahkan sejak karya Khobat di Atas Bukit, hingga Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah. Tidak terhitung sejumlah cerpen beliau yang dengan “lucu tapi satir dan ironis” mempersoalkan payahnya kelas intelektual kita,

Persoalan posisi akademisi, intelektual, atau cendekiawan, tentu bukan kisah baru. Tuduhan bahwa kita adalah intelektual tukang, intelektual yang siap menjadi pengabdi dan penggembira kekuasaan, adalah tuduhan lama yang hingga hari ini, di satu sisi ditolak, tetapi di sisi lain, dengan pura-pura tidak tahu, kita mempraktikannya. Ini pula yang oleh Zizek, disebut sebagai kesadaran sinis, konsep yang membedakan dengan kesadaran palsunya Marx.

Banyak akademisi dan intelektulal sadar, bahwa sistem birokrasi kita adalah sesuatu yang korup. Kemudian, ketika kita sibuk melakukan riset, seminar, dan sebagainya, sambil dengan sadar masuk dalam sistem yang korup itu, dan dengan sadar melakukan dan melaksanakan sistem itu. Yang paling menggelikan adalah seminar tentang anti korupsi. Dalam kegiatan tersebut ada pelelangan barang-barang sitaan hasil korupsi. Kita membelinya. Kita tahu, sistem itu justru melanggengkan korupsi.

Yang paling pahit adalah, apa yang saya tulis di atas sudah sama-sama kita ketahui, tetapi hingga hari ini kita terus mempraktikannya. Kita tahu bahwa mungkin kita tidak terlalu berguna bagi banyak aspirasi yang berkembang di masyarakat, tapi kita bermimpi lain tentang berbagai perubahan global. Kita tahu bahwa problem masyarakat adalah bagaimana mencari nafkah dengan aman, berkah, dan “stabil”, tapi kita bericara tentang filsafat yang tinggi-tinggi yang kita tahu kadang tidak bersentuhan dengan hati nurani dan problem masyarakat.

3

Banyak dari kehidupan kita yang bisa kita telanajangi. Seperti telah disinggung, saya juga banyak bergaul dengan teman-teman di dinas-dinas dan SKPD, mereka yang berposisi sebagai instrumen pemerintah dalam menjalankan roda kekuasaannya. Akan tetapi, kita pun tahu, bahwa banyak dari beragai kegiatan dinas dan SKPD, lebih sebagai satu program menghabiskan dana yang telah ter atau disediakan oleh pemerintah. Sebagian dari kegiatan itu adalah proyek demi proyek itu sendiri. Jarang ada kontrol tentang progres kinerja dalam satu sistem yang dapat dipertangungjawabkan.

Akan tetapi, dalam kesempatan ini, seperti telah disinggung di depan, saya ingin mebicarakan lingkaran pertemanan saya yag lain, yakni koalisi kaum seniman, sastrawan, penyair, atau mungkin budayawan, dalam pengertian mereka banyak mengabdikan hidupnya dalam satu tradisi yang dekat dengan kesenian.

Barangkali, kaum seniman justru lebih memprihatinkan. Mereka banyak ngobrol dan guyon, dan diselang-selingi ngritik kekuasaan. Di mata mereka, kekuasaan (dalam hal ini pemerintah)  telah berjalan sewenang-wenang, dan tentu saja, dianggap tidak memberi perhatian terhadap seni, sastra, puisi, teater, dan sebagainya. Ideologinya bukan pembangunan, tetapi justru di balik itu; pembangunan telah berjalan tanpa nilai-nilai kemanusiaan, tanpa nilai-nilai keadilan. Singkat kata, pembangunan telah berjalan secara “tidak berbudaya”. Perspektif “tidak berbudaya” tentu suatu kondisi yang “salah paham” tentang apa itu ilmu atau teori kebudayaan.

Biasanya ada juga pembicaraan tentang perusahaan-perusahan besar yang dicoba diminta bantuannya untuk kegiatan seni (bukan seni yang populer). Dan hampir dapat dipastikan, biasanya sangat jarang perusahaan yang berkenan memberikan bantuan. Kalau toh ada sangat kecil, dan dengan sejumlah syarat dan permintaan yang cukup merepotkan. Memang, banyak perusahan dapat berkembang dengan lancar dan sukses tanpa ada keterlibatan seni/sastra di dalamnya.

Tentu sekali dua mereka berbicara tentang proyek. Akan tetapi, proyek yang dimaksud adalah membuat proposal kegiatan untuk pemeran, pentas teater, atau nerbitin buku sastra. Biaya kegiatan yang dimaksud biasanya tidak besar. Syukur alamdulillah, kadang ada juga bantuan-bantuan kecil. Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa kegiatan pameran, pentas teater, dan kegiatan seni sastra lainnya adalah kegiatan tombok. Hampir jarang ada kegiatan ini yang bisa meraup keuntungan. Kegiatan seni bisa jalan karena keterlibatan senimannya adalah keterlibatan gotong royong.

Juga bukan hal yang cukup tabu untuk dikatakan bahwa, berbeda dengan para akademisi, biasanya kehidupan ekonomi para seniman secara ekonomi hanya berkadar pas-pasan, sekedar bisa hidup cukup pas. Satu dua yang kehidupan ekonominya cukup bagus, dan itu dapat dipastikan bukan karena profesi dia sebagai seniman. Hidup pas yang dimaksud adalah mereka bisa hidup wajar, bisa menyekolahkan anak, dan selebih dari itu mereka sungguh makhluk ekonomi yang memprihatinkan.

Oh ya, ada sedikit hierarki tentang jenis kesenian yang laku dan tidak laku. Ada beberapa seniman yang ekonominya sangat bagus karena profesinya, tetapi itu sangat sedikit. Ada beberapa lukisan teman yang, karena berhasil membangun “mitos” dan seperti memenangkan pertandingan wacana, maka lukisannya menjadi sangat mahal. “Mitos” dan wacana yang dimaksud adalah kemampuan bermain dalam sistem kapitalisme.

Persaingan internal sesama seniman juga tak kalah serunya. Ada yang merasa senior, tetapi ternyata senior umurnya. Ada yang merasa lebih sejati dan tinggi nilai wibawa seni dan mutunya, tetapi ternyata tidak lebih cuma gede rumangsa saja. Ada seniman yang merasa tidak perlu bergaul dengan seniman jalanan dan seniman mediocre lainnya. Akan tetapi, sebetulnya hal itu lebih berkaitan dengan peran media massa dalam “mempopulerkan” seorang seniman. Dalam hal ini saya perlu mengatakan bahwa hal itu hampir tidak berhubungan dengan mutu karyanya.

Di antara para seniman dan budayawan, tentu ada pula yang menjual suaranya untuk kekuasaan. Di satu sisi pekerjaannya adalah ngiritik pemerintah, dan kita tahu sekarang ini kritik menjadi komoditas. Di sisi yang lain, di belakang layar, mereka berkongkalingkong dengan kekuasaan termasuk berkongkalingkong dengan partai-partai politik. Tidak berbeda dengan para  akademisi, posisi seniman, sastrawan, aktor teater, budayawan, adalah posisi yang berbahaya. Jika tidak hati-hati, ya tidak lebih cuma menjadi pecundang.

Secara teoretik, memang seniman lebih punya “kepantasan” untuk lebih merasa “bersenyawa” dengan hati nurani dan batin masyarakat. Terdapat sejumlah ruang yang membedakan soal keterlibatan seniman dengan masyarakat, dibanding para akademisi dalam masyarakat. Paling tidak ruang yang membuat seniman lebih akrab dengan masyarakat adalah ruang “gotong royong ekonomi” yang banyak seniman bagian penting dari ruang itu. Akan tetapi, perkembangan teknologi gejet juga menyebabkan seniman bisa saja menjadi para narsis selebiriti kelas face book, atau situs on line lainnya.

Memang, ini soal pilihan dan strategi bagaimana, seharusnya, posisi-posisi menjadi mediator antara subaltern (mengikuti istilah Gramsci) dan kelas penguasa dapat “dimediasi” oleh kelas intelektual; akademisi, dan termasuk di dalamnya seniman. Masalahnya, melihat baik wacana maupun program aksi yang dilakukan, berdasarkan pengalaman, dan saya pastikan saya adalah bagian dari mereka, justru memperkuat posisi penguasa, dan posisi kelas intelektual itu sendiri.

Dalam situasi itu, saya kembali teringat dengan Prof. Dr. Kuntowijoyo. Kuntowijoyo bukan saja seorang akademisi  yang handal seperti telah dibicarakan di atas, tetapi beliau juga seorang penyair dan sastrawan yang sangat disegani. Beliau menulis puisi, cepen, naskah drama, dan novel. Mungkin karena beliau paham bahwa dalam kedua posisi itu bisa saja menjadi sangat berbahaya, maka beliau sangat hati-hati untuk tidak menjadi pecundang. Dan beliau juga paham bahwa apa yang beliau perjuangkan tidak sepenuhnya berhasil. Proses-proses hegemoni bersarang di mana-mana.

Kuntowijoyo yang saya kenal, sebagai seniman, dia tidak pandai membaca puisi, dan dia bukan pembaca cerpen yang baik. Namun, ketika masyarakat ragu apakah, maaf, orang Islam boleh berkesenian seperti teater, Kuntowijoyo, dengan otoritas keilmuannya menjawab bahwa orang Islam sangat boleh berkesenian dan kesenian sangat penting. Dengan nama besarnya, beliau bersedia berdiskusi di forum atau komunitas kecil, yang mungkin komunitas itu dianggap kemunitas pinggiran atau komunitas ecek-ecek. Dia jauh dari kesombongan intelektual ataupun merasa seniman sejati. Dia mengkritisi banyak hal walau dia sadar dia bagian dari yang dia kritisi itu.

4

Masyarakat tentu berjalan dengan dinamika di dalam dirinya. Mungkin ada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi berbagai perubahan. Akan tetapi, perubahan tersebut berjalan tanpa satu strategi yang terkonsep dan terencana dengan baik. Hal itu memperlihatkan bahwa peran akademisi, seniman, sastrawan, bukan dalam posisi strategis terhadap berbagai perubahan itu sendiri. Posisi kaum akademisi, seniman, sastrawan, atau kaum intelektual justru dengan taktis memanfaatkan posisinya untuk menjaga status quo itu sendiri, agar mereka tetap diakui dalam posisi itu.

Begitulah kondisi kita. Kita ini, seperti para pecuncang yang mengetahui bahwa ada pebuatan tidak baik, tapi kita tetap melakukannya. Dalam sejarah Indonesia baru, kaum kampus menduduki jabatan-jabatan kuasa, dan sebagian menjadi pecundang-pecundang. Dalam sejarahnya, mereka yang paling keras ngiritik para penguasa adalah akademisi dan seniman dalam berbagai tujuan dan kepentingan yang berbeda. Akan tetapi, yang jelas, ketika kritik menjadi komoditas, maka kritik itu justru memperkuat posisi kuasa itu sendiri. Artinya, ada kerja sama tersembunyi, antara para penguasa dan mereka yang mengkritik. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

1 thought on “Kita Ini (Pecundang) Berbahaya”

  1. Bad news is good news..sehingga masarakat nggak jelas punya cerita citra apa yg pas dari dan untuk dirinya sendiri.. karena representasi dirinya sudah dikooptasi oleh kekuasaan….yg spt sekarang ini…dagelan politik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin