TAK ADA KRETEK KALAU TAK ADA ASAP

Orang merokok itu menikmati asap. Komposisi kretek menentukan jenis, sifat, dan rasa asap. Itulah sebabnya, bukan semata harga rokok yang menentukan orang memilih rokok apa untuk menjadi kebiasaannya, tapi juga rasa asap. Rasa asap itu berbeda-beda. Ada rasa asap yang pahit, manis, sedikit pedas dan nyengrak, mungkin ada juga yang seperti gak ada rasanya.

Saya juga dengar, rokok kretek Indonesia merupkakan rokok yang paling enak di dunia, karena tidak ada negara lain yang mampu membuat kretek. Namun, di atas semua itu, Klembak Menyan mungkin yang paling aneh dan eksotik.

Terlepas berbagai alasan seseorang menjadi perokok, sebelum jadi perokok, orang bisa berganti-ganti rokok. Dalam proses itu, ia sedang menyeleksi rasa asap. Ada rokok yang membuat dia batuk, ada rokok yang membuat dia mual atau pusing, tapi ada rokok yang langsung bisa disuka rasanya. Artinya, apakah rasa asap rokok menentukan selera dan kecocokan dengan seseorang atau sebaliknya, atau seseorang menentukan rasa asap rokok yang dipilihnya. Mungkin hal kedua lebih dekat.

Jika seseorang sudah menjadi perokok, dalam rentang waktu yang lama dia akan setia dengan rokok itu. Tidak mudah berpindah-pindah (rasa asap) rokok. Memang banyak cerita kondisi keuangan menentukan jenis pilihan rokok murahan atau agak mahal. Tapi dalam kenyataannya, bagi perokok, kondisi itu tidak terlalu menentukan. Kenyataaannya, banyak rokok agak mahal rasa asapnya “kok ya bagaimana gitu…?” Sulit menjelaskannya.

Namun, bukan saja rasa asap yang menentukan mengapa orang merokok. Keberadaan asap juga sangat penting. Saya tidak bisa membayangkan kalau rokok dan merokok tidak ada asapnya. Menurut beberapa cerita, asaplah yang mempertahankan dan mengapa orang merokok, dalam arti ketika merokok orang menikmati asap yang berterbangan perlahan. Menurut salah satu riset yang pernah saya baca, perokok hampir tidak pernah merokok ditempat gelap yang asapnya tidak kelihatan. Saya juga tidak tahu, katanya, orang yang tidak bisa melihat (orang buta) juga tidak merokok.

Itu pula sebabnya, banyak perokok yang “tidak biasa” merokok dalam keadaan sangat berangin. Ketika asap dengan sangat mudah hilang berterbangan, biasanya perokok tidak menikmati rokoknya karena tidak bisa menikmati asapnya.  Di tempat yang tenang, yang tidak begitu berangin, rokok lebih dinikmati oleh perokok. Apalagi jika ditemani kopi atau the atau gorengan.

Ada jam-jam (waktu) tertentu kapan perokok paling menikmati rokoknya.  Berdasarkan pengalaman saya, saat paling menikmati rokok adalah pagi hari bangun tidur, dan ditemani secangkir kopi atau teh panas. Kenapa pagi, karena daya serap tenggorokan menikmati asap lebih segar dan kuat. Saat kedua yang juga paling dinikmati adalah sehabis makan dan/atau sehabis berolah raga. Hal itu dengan alasan yang sama, yakni karena tenggorokan seperti dalam kondisi “baru” dan siap menerima asap secara maksimal.

Jadi, asap itu penting. Komposisi kretek (rokok) juga menentukan jenis asap. Walaupun tergantung daya sedot seseorang ketika merokok, tapi ada asap yang agak “pekat”, ada asap yang agak “cair” dan gampang terurai. Perokok lebih suka asap yang tidak gampang terurai. Kadang dia menikmati dan memainkan asapnya dalam berbagai bentuk, terutama dalam bentuk lingkaran asap. Kemampuan ini tidak banyak yang bisa.

Yang paling istimewa, ada perokok yang bisa mengeluarkan asap dalam bentuk hati (simbol cinta). Tapi kemampuan itu sangat sedikit yang bisa, perlu ketetrampilan dan latihan khusus.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa harga rokok menentukan rasa asap. Tapi beberapa rokok yang harganya murah, rasa asap rokoknya sangat berbeda. Tapi saya ingin mengatakan bahwa jangan-jangan jenis asap rokok yang agak murah lebih berbahaya daripada rokok yang harganya mahal. Saya perlu dukungan riset untuk hal ini.

Ada beberapa pengalaman lain soal asap rokok. Suatu ketika, dalam suatu pertemuan di ruang ber-ac, Ngarso Delem merokok, dan kita tahu rokok Ngarso Dalem adalah cerutu (pasti cerutu mahal). Saya sempat mencium aroma asap rokok Sultan kita itu. Baunya wangi dan menyegarkan. Saya mencuri-curi aroma asapnya karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya suka banget, tapi saya tidak bisa membelinya karena terlalu mahal buat saya.

(Mudah-mudahan setelah ini ada yang mau berbaik hati kepada saya dan bersedia memberi saya cerutu. Dan asap cerutu itu lebih pekat daripada rokok yang lain. Saya tidak menyebutkan nama cerutu itu, karena nanti dikira promosi. Tapi jika perusahaan cerutu itu bersedia memberi cerutunya kepada saya, maka akan saya promosikan).

Akan tetapi, pesan di balik itu, harga dan jenis rokok dan kondisi (konteks) merokok bisa menentukan kelas sosial. Yang pasti, tidak ada yang “berani” menegur Sultan merokok di mana saja dan kapan saja. Biasanya, orang yang pangkat atau kedudukannya lebih tinggi dalam satu situasi yang sama-sama diketahui,  orang tadi bebas merokok karena Beliau tahu tidak ada yang berani menegur. (Nuwun sewu Ngarso Dalem).

Ada juga cerita lain. Ketika ada orang yang mengalami sakit yang berkaitan dengan pernapasan, maka oleh dokter dia malah disuruh merokok. Dan terbukti orang itu sehat dan hingga kini menjadi perokok. Ada juga terapi abu rokok, yakni abu tadi diolesi ke tubuh orang yang sedang sakit itu. Saya juga ingin ada (dukungan) riset yang berkaitan dengan ini.

Para perokok memang  mendapat informasi bahwa merokok itu berbahaya. Saya agak menghindar dari perdebatan ini. Perdebatan ini sudah puluhan tahun, dan para perokok terus bertambah, dan para pembenci rokok juga bertambah. Tapi yang pasti, dalam ancaman impotensi, dalam ancaman kematian, para perokok telah menyumbangkan uangnya. Dalam sumbangan yang besar itu, para perokok telah menyangga secara sangat signifikan perekonomian Indonesia.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa dalam hal ini negara bersikap munafik dan mendua. Di satu pihak negara ikut mengancam para perokok dengan ancaman yang sangat menakutkan, tetapi di sisi lain, negara dengan senang hati menerima pajak/cukai rokok yang sangat besar itu.

Para perokok juga telah menyelamatkan perekonomian jutaan orang Indonesia. Dengan tetap ada perokok, dia memberi kehidupan dan mensejahterakan  jutaan orang Indonesia. Untuk itu, kasihani dan hormati para perokok. Sama halnya hormati dan lindungi mereka yang tidak merokok. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin