“Revolusi Mental” dalam Perspektif

*Tulisan pengantar untuk Seminar Nasional di FSSR UNS Solo, 22 Desember 2004.

Saya diminta untuk membicarakan berbagai kemungkinan hubungan dan sinergitas revolusi mental dan upaya pemberdayaan industri kreatif masyarakat. Tentu ini pembicaraan yang menarik dan penting, tetapi sekaligus problematis. Untuk itu, kita perlu membicarakan konsepnya, preseden historis kulturalnya, dan kondisi-kondisi situasional yang telah berlangsung dan tengah berlangsung.

1.

“Revolusi Mental” dikonseptualisasikan sebagai upaya sengaja (sadar) dan drastis mengubah kondisi mental, meliputi cara berpikir, karakter dan kepribadian, dari satu kondisi tidak kondusif ke kondisi kondusif. Kondisi mental yang dianggap kondusif tersebut adalah suatu mental yang sigap dan tangkas menghadapi berbagai perubahan, memiliki kemandirian dan kemerdekaan pribadi, rasional dan luas dalam berpikir, tahan terhadap godaan-godaan yang melanggar norma dan etika, mau bekerja keras membangun kedaulatan politik, ekonomi, dan budaya bangsanya/negaranya.

2.

Dalam lapis dan spektrum yang luas, tujuan dari suatu proses berkehidupan dan berkebudayaan adalah suatu usaha bersama, dalam suatu bangsa dan negara tertentu, berdasarkan potensi-patensi yang dimilikinya, berdasarkan kemampuan akal, budi, dan kreativitasnya, menuju suatu kehidupan yang indah, membahagiakan, dan memakmurkan. Artinya, posisi “revolusi mental”, adalah salah satu upaya atau cara menuju ke arah tujuan berkehidupan dan berkebudayaan tersebut.

3.

Persoalannya, tidak mudah mengubah kondisi mental itu secara drastis. Banyak hal yang perlu diperhitungkan, terutama nilai-nilai dan norma budaya yang menjadi tempat berpijak seseorang atau masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Hal lain yang peru diperhitungkan kondisi geografis, komposisi besaran dan struktur penduduk, agama, dan preseden-preseden sejarah budaya masyarakat bersangkutan.

Amerika, berdasarkan preseden historis dan kulturalnya, harus berperang (internal) sekitar 100 tahun, yang memakan korban jutaan jiwa, sehingga, dalam

prosesnya, bangsa Amerika sangat berhati-hati membangun karakter bangsanya, dan terus enerus berporses, dan jadilah seperti bangsa Amerika sekarang. Dengan berbagai kekurangan, kita tahu bahwa Amerika merupakan negara paling kuat, paling maju, paling makmur, dan mungkin paling kreatif di dunia.

Beberapa negara di Eropa, yang telah memiliki universitas pada sekitar abad ke- 10-11, perlu perang puluhan dan ratusan tahun di antara sesama mereka, dan memakan korban jutaan jiwa, dalam berbagai maksud membangun dan mempertahankan karakter bangsa mereka. Perang-perang tersebut membentuk karakter mental mereka menjadi manusia-manusia tangguh. Jerman, Inggris, dan Perancis berdiri di depan sebagai negara-negara terkemuka di dunia. Bukan saja perekonomian mereka kuat, tetapi banyak temuan orisinal dan kreatif yang ditemukan oleh warganya dan banyak hal yang kita “tiru” dari bangsa Eropa tersebut.

Pada tahun 1500-an sebelum Masehi, Cina telah memiliki kerajaan besar. Dalam rentang ratusan tahun, Cina mengalami horeg internal ratusan tahun. Jutaan nyawa punah. Bangsa Cina berjuang keras (mungkin terlalu keras) mengatasi berbagai masalah dalam dirinya. Berbagai peraturan dibuat dan ditegakkan dengan keras. Bahkan siapa yang ketahuan meludah sembarangan, akan dihukum atau didenda satu sampai dua juta rupiah (bila dirupiahkan), tanpa ampun. Kini, orang Cina bisa membuat apa saja sehingga muncul ungkapan; Tuhan menciptakan manusia, selain itu buatan Cina.

Dalam cara yang lain, Cina menerapkan hukuman mati bagi para koruptor sehingga hampir sekitar 13.000 an orang dihukum mati per tahun untuk menekan atau “membasmi” karakter korup bangsa tersebut. Sekarang, Cina telah keluar dari 20 negara paling korup di dunia, yang sebelumnya termasuk 5 negara paling korup. Jepang, yang berujung pada restorasi meiji, sebelumnya telah memakan korban ratusan ribu orang untuk mengubah bangsanya menjadi modern  dan maju dalam koridor budaya Jepang. Korea Selatan dan Singapura menerapkan aturan yang ketat dalam berbagai praktik ekonomi sehingga dalam beberapa hal cukup sukses membangun kemajuan negara. Khusus untuk Korea Selatan,  industri kreatif mereka, katakanlah begitu, bisa menyumbang ke negaranya lebih dari 200 trilyun per tahun.

Sebaliknya, India tidak banyak melakukan perubahan. Di negara ini masih terjadi perang-perang secara internal dan telah berjatuhan jutaaan nyawa. Sebagai akibatnya, pada tahun 2008, terdapat 200 juta orang kelaparan di berbagai wilayah India. Sekitar 550 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan. Cerita yang lebih kurang senada terdapat di negara-negara Afrika. Kita tahu, sejumlah negara Afrika hingga hari ini masih hidup dalam kemelaratan, kelaparan, dan kedaruratan. Apa yang terjadi di negara bersangkutan? Kondisi-kondisi apa yang menyebabkan terjadi atau tidak terjadinya perubahan (tidak adanya revolusi

mental?) Pertanyaan yang ingin dijawab dalam tulisan ini, bagaimana dengan Indonesia?

4.

Sebetulnya, preseden historis-kultural Indonesia tak kalah panjang. Pada abad ke 6-7, kita telah memiliki kerajaan yang cukup besar, Sriwijaya. Di Jawa, kita disisakan sedikit pengetahuan tentang ilmu pengetahuan teknologi abad ke-8, Borobudur. Akan tetapi, kita tahu, Sriwijaya, sebagai satu sistem politik, sosial, ekonomi, dan kultural, hampir tidak meninggalkan jejak sama sekali. Pada abad ke-13, kita juga memiliki kerajaan yang lebih besar, Majapahit. Sangat miskin informasi dan ilmu pengetahuan Majapahit yang sampai ke kita. Setelah itu, kerajaan-kerajaan di Indonesia sibuk mengurus dirinya masing-masing. Beberapa masih eksis hingga sekarang, terutama kerajaan Kesultanan Mataram.

Kita juga mengalami berbagai peperangan, baik internal kerajaan-kerajaan di Nusantara, ketika melawan penjajahan, dan perang-perang antaretnis, perang politik internal (misalnya peristiwa 1965 dan 1998), dan sebagainya. Banyak konflik lebih sebagai ambisi-ambisi merebut sumber-sumber ekonomi dan prestise kekuasaan. Filosofi dan ideologi “mumpung berkuasa” menyebabkan jangkauan pandangan sejarah bangsa Indonesia tidak cukup panjang ke depan, dan ingatan kolektifnya juga pendek. Tampaknya pengaruh agama dan nilai-nilai kultural cukup berpengaruh bahwa dunia ini fana, dunia ini cuma tempat untuk mampir ngombe, sehingga tidak perlu serius-serius amatlah dengan kehidupan duniawi.

Terjadi beberapa perubahan penting dalam diri warga Indonesia ada tahun 1900- an. Terlepas itu sebagai “hasil politik etis penjajah”, tetapi tampaknya, kalau bisa disebut, ada semacam revolusi mental yang terjadi pada sejumlah elite orang Indonesia. Dalam konteks itu, keterdidikan menjadi pemicu revolusi  mental. Maka terjadi berbagai aktivitas yang penting yang dipelopori sejumlah elite, terlaksana berbagai Konggres, termasuk konggres Pemuda, Budaya, dan sebagainya. Sejumlah orang mendirikan partai-partai politik, sindikat-sindikat ekonomi, organisasi budaya, dan seterusnya. Dan kemudian, Indonesia merdeka.

Ternyata Indonesia tidak siap mengisi kemerdekaan. Soekarno, yang lebih berpikir politis, ekonominya kedodoran, negara inflasi hingga 600%. Terjadi kemiskinan dan kelaparan di sejumlah tempat. Tidak ada perubahan penting pada masa-masa itu. Pemerintahan tidak stabil, warga tidak sempat duduk untuk berpikir dan berkarya. Dalam bidang seni, sastra dan budaya, pada masa itu adalah masa-masa yang memprihatinkan. Soekarno ditumbangkan.

Pada masa Soeharto, pembangunan memang berjalan dan cukup banyak kemajuan. Akan tetapi, Soeharto memilih jalan “berbahaya” dalam kebijakan-

kebijakan ekonominya. Terbukti, pada tahun 1998 Soerhato menyerah. Bukan itu saja, Soeharto juga memilih jalan runyam bagi arah dan kreativitas warga Indonesia. Kita tahu, berbagai proses berpikir, kebebasan, kemandirian, dan kedaulatan warga untuk menjadi warga merdeka relatif dipasung. Padahal, hal- hal itu tak pelak merupakan amunisi penting bagi proses-prosses mentalitas dan karakter yang kondusif, kreatif, dan berdaulat.

Alhasil, kondisi kita hari-hari ini adalah sekitar 8 juta-an orang masih hidup sebagai pengangguran (pada usia produktif), sekitar 28 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan (data 2013). Indonesia masih termasuk 10 negara paling korup di dunia, kekayaan Indonesia dipegang oleh sekitar 5% para elit dan penguasa ekonomi, di sejumlah daerah masih ada beberapa kelaparan,  index pembangunan SDM ada di posisi 113-115 (dari sekitar 140 negara yang diindex), birokrasi kita masih berbelit-belit dan menyebalkan, konsumtivisme masih merajalela, orang memilih berobat ke Singapura daripada di rumah sakit Indonesia, jalan-jalan semakin padat dan macet, kriminalitas meningkat, membeli pakaian yang penting mahal, dan kita adalah orang yang memiliki sejumlah gejet yang hanya dipakai untuk selfie, dan bernarsis-ria di Face Book, Instagram, dan Path, dan seterusnya.

Dan untuk itu, untuk mengatasi masalah itu, katanya, (kembali) kita membutuhkan revolusi mental, bukan revolusi fisik, karena kalau revolusi fisik, akan terbunuh (kembali) ribuan orang.

5.

Secara kultural, ada hal-hal menarik. Orang Minang, jika ingin mengembangkan karier dagangnya, mereka hijrah ke kota lain untuk mencari nafkah. Sebagian besar orang Minang sukses di perantauan. Sejumlah orang Minang menjadi orang penting di pusat pemerintahan. Orang Batak juga banyak yang memiliki keberanian untuk hijrah dan sebagian dari mereka menjadi pengacara yang top- markotop. Walaupun dengan alasan yang sedikit berbeda dengan orang Minang, Orang Makasar dan Bugis, dan Madura, dalam cara dan maksud yang lebih kurang sama, pindah ke kota/tempat lain untuk mencari kehidupan yang layak. Sebagian besar mereka sukses di perantauan dan kesuksesan itu mereka ciptrakan di kampung halaman mereka. Yusuf Kalla dan Jenderal Andi Yusuf merupakan representasi dari mereka.

Sejumlah orang “terpaksa” menjadi TKI/TKW di negari lain, untuk memperbaiki kehidupan mereka. Menjadi TKI/TKW (termasuk orang Jawa) tentu membutuhkan keberanian dan ketabahan mental. Banyak yang sukses di antara mereka, tetapi tidak urung banyak yang gagal dan mengalami penyiksaan. Apakah hijrah mereka dalam beberapa hal setara dengan tindakan revolusi mental?

Orang dan budaya Jawa yang kita kenal dan dipahami (katakanlah yang berporos Yogya dan Solo), punya “filosofi”, alon alon waton kelakon, mangan orang mangan sing penting ngumpul, dan sebagainya. Artinya, walau tidak banyak, orang Jawa yang bersedia menjadi TKI/TKW, mereka yang menjadi TKI/TKW sudah melakukan revolusi mental yang luar biasa dan habis-habisan. Bahkan mereka siap untuk berkorban menjadi dan demi apa saja, asal ada perbaikan terhadap ekonomi keluarga mereka. Akan tetapi, mereka menjadi TKI/TKW karena sangat terpaksa karena negara tidak mampu memperkerjakan dan memberi kelayakan hidup.

Dalam perspektif budaya, secara umum budaya-budaya di Indonesia (terutama Jawa) basis nilainya adalah keharmonisan, kebersamaan, bukan progresifitas. Artinya, kemenonjolan, bahkan prestasi, jika itu dianggap mengganggu harmoni, menggangu kebersamaan, orang Jawa bersedia mengalah dan “menekan” berbagai keinginannya untuk tidak terlihat menonjol dan berprestasi. Walaupun nilai-nilai tersebut sudah bergeser adanya, tetap saja orang Jawa masih banyak yang merasa tidak nyaman dengan kemenonjolan diri.

Sebagai mayoritas warga Indonesia, tentu orang Jawa yang paling menyangga beban Indonesia. Daya tahan dan kemapanan filosofi dan etik orang Jawa menyebabkan mereka berdiri sebagai center of excellent orang Indonesia. Tidak terhitung prestasi yang telah dibuat orang Jawa. Satu kelebihan orang Jawa yang paling signifikan, dalam hubungannya dengan revolusi mental dan kreativitas, adalah sikap nrima, yang bisa diterjemahkan secara sangat luas. Apa dan siapa saja diterima oleh Jawa tanpa konlik yang mengganggu, karena mereka memang nrima apa adanya. Kelak, kondisi ini menjadi preseden penting bagi porses-proses kreatif.

Secara umum dapat dikatakan bahwa secara kultural kebudayaan kita tidak cukup mengajarkan kita menjadi sosok yang mandiri. Tidak dari kalangaan orang kaya ataupun miskin, nilai dan ideologi sayang anak tampak menjadi berlebihan sehingga banyak orang Indonesia pada saatnya tidak siap untuk mandiri, bukan saja secara ekonomi, juga politik dan budaya. Pengakuan dan legitimasi kultural terhadap hierarki tua muda, senior yunior, orang baru orang lama, menyebabkan proses regenerasi relatif terhambat. Sebagai resikonya, kita tahu bahwa independensi, kemandirian, dalam masyarakat nyaris menjadi barang langka.

Bahkan hanya untuk menyatakan pendapat saja kita mengalami ketakutan, takut berbeda, takut tidak direstui, takut dinilai tidak pas, atau bahkan khawatir dinilai bodoh. Dalam konteks ini revolusi mental sungguh mendapat tantangan yang serius. Butuh keberanian luar bisa untuk dan dalam diri kita mempraktikkan kriteria revolusi mental.

Memang, adalah kenyataan bahwa sudah banyak pula orang Indonesia yang mengalami loncatan, baik secara ekonomi, politik, maupun budaya. Bahwa kisah orang miskin menjadi pengusaha sukses, orang biasa menjadi politisi handal, atau seseorang bisa menjadi intelektual bermartabat, bukan cerita baru di Indonesia. Secara khusus, fenomena Jokowi memperlihatkan bahwa sekarang siapa  saja, dari kelas sosial apa saja, bisa menjadi orang paling top di Indonesia. Pertanyaannya, apakah Jokowi, yang pada tanggal 10 Mei 2014 menulis “Revolusi Mental” di Kompas, karena ia dulu-dulu telah melakukan revolusi mental?  Apakah Jokowo layak disebut sebagai contoh orang yang telah melakukan revolusi mental itu sendiri. Apa indikatornya?

Beberapa kasus yang bersifat individual (bukan kultural), mungkin tak pelak bisa disebut sebagai seseorang yang mengambil tindakan radikal mengubah strategi hidupnya, atau mungkin pada tataran tertentu disebut revolusi metal. Seseorang yang merasa dihina karena ditolak calon mertua karena dianggap dari keluarga miskin, maka bisa jadi orang tersebut akan mengubah kinerja hidupnya menjadi seorang pembelajar dan pekerja keras hingga sukses menjadi orang. “Akan saya buktikan bahwa saya layak mendapatkan anak Bapak/Ibu. Akan saya buktikan bahwa bapak/Ibu menyesal telah menolak saya”.

Misal lain, tersebutlah seorang laki-laki yang telah berkeluarga, yang hobinya mabuk dan berjudi, tanpa disadari uangnya habis, padahal anaknya (tidak ketetahui apakah anak satu-satunya atau tidak) dalam keadaan sakit.  Karena tidak punya uang si laki-laki tadi tidak mau dan tidak mampu mengobati anaknya. Nyawa di tangan Tuhan, tetapi yang jelas anak laki-laki pemabuk/penjudi tadi meninggal tidak terobati. Istrinya kecewa dan minta cerai. Si laki-laki pemabuk dan penjudi itu demikian terpukul, dan suatu malam ia berjanji mengubah mentalitas dirinya demikian drastis untuk menjadi orang baik-baik, dan mengabdikan dirinya dengan bekerja keras untuk masa depan yang cerah.

Kisah di atas tentu kadang seperti dongeng. Akan tetapi, kita tahu bahwa kisah seperti itu ada. Berbagai versi cerita yang bersifat individul mungkin beratus dan beribu ragam kejadian. Masalahnya apakah seseorang untuk mendapatkan revolusi mental, ia harus dihina dulu, ia harus menjadi pesakitan lebih dahulu, ia harus tersiksa dan disiksa dulu, ia harus di-kapok-kan lebih dahulu?

6.

Dalam kenyataan sosial, baik karena tekanan historis dan/ataupun dorongan modernitas dan kapitalisme telah bertumbuhan pula jenis mentalitas baru yang dimungkinkan oleh modernisasi dan kapitalisme untuk memiliki harapan dan cita- cita baru yang lebih mengakomodasi tuntutan masyarakat baru tersebut. Dalam

praktiknya, terjadi permisifikasi berbagai tindakan dan prilaku sehingga segala cara boleh ditempuh untuk mengejar harapan dan cita-cita tersebut.

Bagi masyarakat modern dan kapitalis, dan Indonesia tidak bisa dibantah adalah bagian dari negara seperti itu, telah mengondisikan masyarakat terlibat aktif untuk percaya bahwa kekuasaan bukan pada kekuatan dan ketangguhan mental, tetapi pada ketangguhan modal. Orang menjadi tangguh, kalau modal kuat dan banyak. Sebagai akaibatnya, sangat mungkin masyarakat percaya bahwa mental bisa dibeli. Sesuai dengan konsep di atas, kondisi mental bisa disetel sesuai dengan kebutuhan, sesuai dengan wani piro.

Kondisi itu perlu diperhitungkan dengan asumsi bahwa kesetiaan, kedisiplinan, kejujuran, kerja karas, bahkan resionalitas dan pengetahuan, bisa dibeli dan dikondisikan oleh modal. Kita mendapat informasi bahwa banyak orang hebat Indonesia bekerja di luar negeri karena mendapat gaji yang besar dan fasilitas yang memadai. Itu juga mengimplikasikan bahwa gaji di Indonesia kecil dan fasilitas tidak memadai. Kita mendapat cerita bahwa banyak orang bekerja asal- asalan, terpaksa korupsi dan manipulatif, karena kita tahu sama tahu bahwa pendapatan kita kecil sekali, tidak sesuai dengan profesionalitas pekerjaan kita.

Pertanyaannya, apakah jika di Indonesia orang digaji besar dengan fasilitas memadai, lantas bisa dipastikan mereka tidak korupsi dan bekerja dengan baik. Jawabannya ternyata juga tidak. Lantas dimana kesalahannya?

Pendidikan, yang diharapkan bisa menjadi tempat persemaian revolusi mental, hingga kini terbukti lebih sebagai ajang formal untuk mendapatkan modal simbolik daripada suatu tempat pengakumulasi pengetahuan. Pendidikan formal diharapkan berperan terhadap perubahan-perubahan mental dan kontrol terhadap arah dan tujuan kebudayaan menjadi tak kunjung berdaya. Bahkan, pendidikan kini tidak lebih berposisi sebagai agen kapitalisme, dan ke depan justru memperkuat bangunan dan sistem kapitalisme itu sendiri. Hal itu juga sudah diingatkan oleh para pemikir, terutama yang paling mutakhir adalah Bourdieu.

Itulah sebabnya, di samping itu, telah pula terjadi pembentukan “nilai-nilai lain” dalam kehidupan kita yang bisa disebut sebagai mental pragmatis. Tujuan kegunaan yang diorientasikan pada kepentingan pasar jauh lebih penting sebagai bahan kalkulasi seseorang atau masyarakat dalam menjalani masa  depan. Artinya, perlu diperhitungkan berbagai kekuatan “ideologis” yang mengatur dan mengkonstruksi struktur, komposisi, dan relasi-relasi dalam masyarakat (dan negara) sehingga berbagai peluang terjadinya revolusi mental seperti merangkak ke jalan buntu.

Kekuatan media (penghiburan), sebagai salah satu agen kapitalisme, berpengaruh penting terhadap pembentukan mentalitas. Acara-acara atau program hiburan populer disaksikan dengan hiruk-pikuk, dan mimpi menjadi populer, artis, musisi terkenal, adalah mimpi yang mulai banyak digandrungi. Mungkin untuk mendapatkannya, akan terjadi apa yang juga disebut sebagai revolusi mental. Akan tetapi, tujuannya jelas berbeda dengan revolusi mental yang dikonseptualisasikan.

Dengan demikian, terlalu bersahaja bila mengaitkan revolusi mental dengan pengembangan industri kreatif jika itu dimaksudkan dan dengan mendapatkan modelnya seperti Korea Selatan. Industri kreatif tidak membutuhkan revolusi mental seperti yang dikonspetualisasikan. Akan tetapi, revolusi mental bisa dimulai dengan proses-proses kreatif.

7.

Berdasarkan keterangan di atas, agak sulit mencari dan mendapatkan basis kultural untuk melakukan sesuatu yang disebut revolusi mental, dan mungkin juga tidak penting. Preseden perang, horeg, gonjang-ganjing, cheos, dan berbagai konflik memang didahului oleh satu kondisi degradisi dan ketimpangan- ketimpangan relasi ataupun struktur dalam masyarakat. Akan tetapi, hal itu tidak bisa dikatakan sebagai akibat atau dampak, bahkan mungkin bertentangan dengan revolusi mental, jika itu direferensikan sebagai satu tindakan drastis dalam mengatasi keadaan yang tidak kondusif.

Sebaliknya, revolusi mental bisa saja merupakan satu kondisi pra atau pasca horeg dan gonjang-ganjing dalam diri seseorang, atau suatu masyarakat, yang diharapkan setelah itu terjadi kestabilan yang kondusif. Kepada mereka yang merasa kapok, terhadap berbagai preseden yang membuat kehidupan menjadi kacau-balau, banyaknya kelaparan dan kemiskinan, banyaknya kekerasan dan krimitalitas, dan kondisi mental itu secara per orangan atau kolektif berusaha dilestarikan dan dipertahankan, demi satu tatanan kehidupan yang nyaman, indah, makmur, dan membahagiakan.

Terlepas dari sulitnya mencari basis kultural rovolusi mental, tuntutan revolusi mental juga membebaskan negara dari tuntutan moralnya menjaga dan mempertahankan mutu kemanusiaan warganya. Bagaimanapun, negaralah yang memiliki kekuasaan, yang memiliki aparat hukum represif dan ideologis, sehingga negara justru memiliki perluang besar untuk menyelenggarakan revolusi moralnya. Negaralah yang seharusnya lebih dituntut untuk menegakkan revolusi moralnya, sehingga revolusi mental warga/rakyat dapat bermunculan dengan sendirinya. Untuk itu negara perlu melakukan strategi pembangunan berbasis moral

Revolusi mental terkesan bersifat kultural, dan dalam konotasi dan konteks lokal- lokal bagi setiap negara atau bangsa. Tentutan revolusi mental tidak bisa dikenai secara merata untuk berbagai masyarakat di Indonesia. Cita-cita, mimpi-mimpi, dan ideologi masyarakat/warga berbeda-beda. Artinya, perlu upaya “universalisasi” konseptual yang mampu mengatasi hal-hal yang bersifat kultural dan lokal. Benang merah universalisasi itu terdapat pada nilai-nilai kebajikan yang diakui semua agama, semua suku-bangsa dan budaya-budaya lokal yang berbeda- beda.

8.

Efek positif dari preseden kultural bangsa Indonesia, seperti telah disinggung terutama untuk kasus Jawa, terbentanglah taman safari demikian luas dan beragam berbagai budaya, tradisi-tradisi lokal, dan berbagai tradisi dari berbagai belahan dunia. Dalam konteks ini kreativitas kita ditantang (kembali) untuk melakukan berbagai revitalisasi tradisi dan budaya tersebut, apakah itu bersumber pada tradisi dan budaya lokal-lokal, bisa pula bersumber dari Islam, Kristen, Hindu, Katholik, dan Budha, bisa dari Belanda, Cina, Arab, atau berbagai tradisi dan budaya dari Barat lainnya.

Memang, terdapat sejumlah polemik yang menyebabkan strategi kebudayaan Indonesia tidak berjalan secara sinergis. Biarlah hal itu tetap berjalan sebagai proses dinamis berbangsa. Akan tetapi, dalam proses-proses kreatif, revolusi mental untuk melakukan tindakan dan sikap-sikap demi proses penciptaan yang terus menerus baru dan otentik perlu direalisasikan secara terprogram, sistematis, dan aktual. Dalam posisi dan situasi inilah relasi-relasi revolusi mental dan industri kreatif menemukan tempat berpijaknya.

Kita tahu, sekitar 15 tahun belakangan ini hal-hal tersebut telah mulai berjalan dan terus berjalan. Salah satu puncak dari proses industri kreatif tersebut bisa  kita lihat pada sejumlah pameran tradisi dan budaya di sejumlah kota. Beberapa kota bahkan telah memamerkan industri kreatif mereka berupa karnaval-karnaval dan festival-festival. Terlihat dalam pameran karnaval dan festival tersebut, suatu otentisitas kreatif yang canggih dan kompleks, sebagai perpaduan berbagai tradisi dan budaya.

Hal yang perlu diatur dan dilembagakan adalah bagaimana memanfaatkan semaksimal mungkin museum-museum, ruang atau gedung-gedung publik, dan berbagai tempat wisata lain, dan disinergiskan dengan berbagai kerja industri kreatif. Jika hal ini dapat berlangsung secara terorganisir, sistematis, dan terprogram, saya membayangkan dalam waktu dekat kinerja industri kreatif kita akan berefek secara langsung dengan kinerja ekonomi masyarakat.

9.

Masalahnya, dunia dengan (cepat) terus berjalan. Terjadi atau tidak terjadinya revolusi mental, jumlah penduduk bertambah besar dan menuntut penanganan dan antisipasi yang serius karena kemampuan alam mengakomodasi kebutuhan manusia semakin terbatas. Dalam berbagai kendala dan keterbatasan, tentu revolusi mental sangat dibutuhkan, untuk dan justru ketika dunia memasuki  suatu keruwetan kontestasi terhadap penguasaan dan pengamanan sumber- sumber ekonomi dan alam.

Beberapa kecencerungan mengembirakan tak pelak harus terus menerus didorong, yakni ketika munculnya kesadaran (dan dalam beberapa hal bisa disebut sebagai revolusi mental kolektif), bahwa ke depan berbagai bentuk kerja sama dunia semakin didambakan. Negara-negara kuat dan maju semakin sadar bahwa negara berkembang tidak bisa secara terus menerus dijadikan pasar. Negara-negara maju dan kuat juga mulai menempatkan nagara lain sebagai mitra untuk sejahtera secara internasional.

Proses-proses demokrasi yang semakin menyebar ke segala lini, ketika kekuasan tidak lagi terkesan angker, hal ini membuka peluang bagi masyarakat untuk melakukan berbagai proses transformasi diri, baik dalam konteks revolusi mental, ataupun sesuatu yang lebih bersifat kreativitas yang menuju ke arah universalitas. Dengan demikian, negara juga berkewajiban untuk menjaga demokrasi agar peluang transformasi diri bermuara pada tujuan-tujuan kebudayaan.

Indonesia, singkat kata, sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, tidak hanya membutuhan revolusi mental, revolusi moral, dan berbagai revolusi lain. Dari semua itu, hal yang paling mendesak dilakukan sekarang adalah, duduk, diam, membaca, dan berpikir, dan tidak melakukan apa-apa (Zizek, 2009: 10-11). Jika kita bisa melakukan ini sebulan saja, ini suatu perlawanan yang luar biasa, terhadap apapun, lebih dari apa yang dimungkinkan oleh revolusi mental.

Referensi: Zizek, Slavoj. 2009. First As Tragedy, Then As Farce. London: Verso

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin