Budaya di Balik Obat Kuat

Belakangan ini, saya tertarik memperhatikan menjamurnya segala macam obat kuat (laki-laki) di satu pihak, dan berbagai macam obat atau cara bagaimana mendapatkan kepuasan seksual baik pada diri laki-laki maupun perempuan. Fenomena sosial-budaya apa yang menyebabkan itu terjadi?

Paling tidak fenomena tersebut tidak semerebak pada tahun-tahun 1960-an, atau hingga pada tahun 1970-an. Saya mengira masa transisi mulai merebaknya fenomena obat kuat tersebut pada tahun 1980-an, dan menjadi lebih menggila pada masa-masa sekarang. Tentu terdapat beberapa faktor yang perlu diperhitungkan berkaitan dengan merebaknya obat kuat tersebut, seperti perkembangan ilmu dan teknologi, berubahnya nilai-nilai yang semakin permisif, demoktratis, dan terbuka, dan lunturnya moralitas etik kesucian dan/atau tabu.

Saya menduga bahwa di balik merebaknya obat kuat tersebut menyembunyikan pesan semakin meningkatnya kecemasan masyarakat. Hal itu berkaitan dengan bertambah kompleksnya masalah masyarakat dan ketidakmampuan mengatasi masalah tersebut. Kita tahu bahwa masalah hidup tidak berkurang, tetapi semakin menumpuk. Salah satu yang paling signifikan adalah persaingan dalam memperebutkan kepastian ekonomi di masa depan.

Meningkatnya kecemasan dan turunnya kemampuan masyarakat mengatasi persoalan tersebut secara umum berkorelasi dengan turunnya kinerja tubuh dan kesehatan.

Cengkraman Mitos

Manusia memang tidak bisa keluar dari mitos. Manusia hidup dalam mitos, apapun itu, terutama berkaitan dengan nilai-nilai yang menjadi hasrat kemanusiaannya. Hasrat tersebut antara lain hasrat berkuasa, hasrat bahagia, hasrat tentang kepastian dalam menjalani hidup, dan hasrat untuk mendapatkan kepuasan.

Untuk merealisasikan hasrat tersebut, manusia membangun nilai-nilai dalam kehidupan dan dirinya. Nilai-nilai tersebut bukan saja sebagai cara manusia untuk mengatur dirinya, tetapi juga sebagai satu tolok ukur keberhasilan dirinya dalam mencapai konstruksi penataan yang sesungguhnya mitos tersebut.

Salah satu hasrat kepuasan yang dibangun manusia adalah usaha pencapaian kepuasan seksual, yang dalam konteks ini apa yang kita sebut sebagai nilai-nilai

kejantanan. Nilai-nilai itu secara kemitosan adalah upaya memaksimalkan kepuasan itu sendiri, dan kepuasan lawan jenis dari nilai kejantanan.

Kemudian, berdasarkan mitos itu, misalnya, munculah kata-kata; besar, panjang, keras, tahan lama, dan sebagainya. Sebaliknya, dalam mitos itu juga, bertebaran pula ungkapan; rapat, putih, mulus, semok, langsing, dan lain-lain. Tidak heran jika banyak obat kuat beredar dan memiliki konsumen yang secara terus menerus memperlihatkan gejala bertambah.

Jika kita tidak dalam kondisi itu, maka kita akan cemas. Padahal, saat ini, begitu banyak mitos lain yang menekan nilai-nilai tersebut sehingga banyak di antara kita, menjadi tidak percaya diri, bahkan secara relatif menipisnya hasrat. Itulah sebabnya, untuk mendapatkan harapan konstruksi mitos itu, kita berupaya dalam berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi obat kuat, atau bagi wanita dengan melakukan berbagai perlakuan untuk menjadi super wanita.

Padahal, secara medis, belum ada bukti yang signifikan bahwa berbagai obat super itu terbukti bisa membantu seseorang bertambah jantan atau menjadi super wanita. Bahkan menurut beberapa laporan medis, justru beberapa obat kuat, obat kewanitaan, mengandung sejumlah bahan kimiawi yang berbahaya bagi tubuh.

Akan tetapi, karena kita terkooptasi mitos, kita tetap membeli dan mengonsumsinya. Kita menjadi tidak peduli apakah itu berbahaya untuk tubuh atau tidak. Dalam konteks ini, kita sebenarnya cuma mengonsumsi mitos. Karena merasa telah mengonsumsi mitos, maka mungkin untuk beberapa hal ada sugesti yang bekerja dalam diri pengonsumsi tersebut, sehingga seolah-olah obat kuat itu dapat bekerja.

Singkat kata, karena persaingan yang semakin ketat, maka kita menempuh berbagai cara untuk memenangkan persaingan. Cara-cara mengatasi persaingan tersebut bisa legal ataupun illegal. Dalam cara-cara itulah kemudian terjadi berbagai penurunan etik, kejujuran, dan nilai-nilai kebenaran. Tidak jarang kemudian berbagai potensi kriminilaitas juga meningkat. Hidup dengan rasa  aman dan nyaman jauh berkurang.

Hal yang perlu dilakukan adalah mengembalikan akar permasalahan dalam masyarakat untuk diatasi bersama dalam kerangka mengurangi kecemasan tersebut. Hal ini merupakan pembicaraan tersendiri.

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin