Berpikir Kebudayaan dan Kemungkinan Implikasinya

Banyak varian cara berpikir, seperti berpikir cara filsafat, moral, agama, ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, dan lain-lain. Tulisan ini mecoba menjelaskan cara berpikir budaya, dan membandingkannya dengan cara berpikir politik dan ekonomi. Hal (dominasi) berpikir dan pikiran sangat terkait dengan sikap dan tindakan (prilaku) seseorang atau masyarakatnya.

Hal awal yang perlu dipahami adalah “pada mulanya” kebudayaan itu dianggap sebagai keseluruhan cara berpikir, bertindak (berprilaku), dan berkarya (bereksepresi). Penempatan itu menyebabkan pemikiran lainnya bagian dari hasil proses kebudayaan. Artinya, terjadi dialektika antara sebab dan akibat, dan akibat menjadi sebab. Pemahaman tersebut tidak bisa dikatakan sepenuhnya salah.

Namun, dalam praktiknya, kita memisahkan pengertian budaya dengan yang lain, sehingga di tingkat universitas pun ada fakultas budaya, ekonomi, politik, filsafat, teknik, dan seterusnya. Sejarah pembedaan tersebut terutama berbasis objek materialnya.

Berdasarkan kenyataan juga, orang ekonomi mengaku tidak paham dengan hal budaya, orang budaya mengaku tidak paham hal teknik, orang politik mengaku tidak paham hal kedokteran, dan masih banyak lagi. Di tataran fakultas misalnya, di fakultas budaya tidak mempelajari hal-hal yang dipelajari di fakultas teknik atau farmasi. Hal yang sama dipelajari adalah ilmu atau ketrampilan menjadi warga negara, seperti pelajaran Bahasa Indonesia, agama, dan dulu pelajaran mengenai Pancasila (P4).

Artinya, taksonomi fakultas itu memisahkan ilmu sebagai disiplin yang terpadu. Pertanyaannya, apakah kemudian taksonomi keilmuan itu membedakan cara berpikir seseorang dalam melihat dunia. Atau pertanyaan besarnya, adakah cara berpikir yang kemudian seolah-olah membedakan seseorang dalam menjalankan hidupnya. Pertanyaan sampingannya, apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Ilustrasi

Ilustrasi berikut sedikit guyon, tetapi mungkin ada benarnya. Kalau seseorang melihat orang lain dan berpikir bagaimana mempengaruhi dan/atau menguasainya, demi suatu otoritatif, maka itu berpikir politik. Jika seseorang menimbang berapa harga orang itu, berapa harga jam tangan dan bajunya, dan berniat memilikinya, maka itu berpikir ekonomi. Kalau kemudian seseorang tersebut melihat orang itu apakah tampil pantas (serasi) dan tentang harmonisasi, maka itu berpikir kebudayaan.

Ilustrasi itu terkesan serampangan. Namun, dapat dilihat dari implikasinya bagaimana perbedaan cara berpikir sangat berpengaruh terhadap berbagai keputusan dan tindakan yang diambil seseorang. Seorang yang dominan cara berpikir politiknya melihat hidup ini sebagai persaingan merebut pengaruh untuk mendapatkan otoritas dan kekuasaan politik itu sendiri. Tidak heran jika persaingan akan menimbulkan konflik di sana-sini. Struktur otoritasi adalah ruang besar politik yang menuntut seseorang berpikir politis. Ujungnnya dapat diduga terkait dengan penguasaan terhadap sumber-sumber modal.

Sementara itu, berpikir kalkulatif tentang keuntungan dan kemungkinan pemilikan adalah berpikir cara ekonomi. Seperti halnya politik, akan terjadi persaingan yang keras dalam ruang ini. Seseorang akan memacu dirinya untuk meraih keberhasilan itu, mungkin dengan bekerja keras, mungkin dengan berbagai cara yang belum tentu sesuai dengan prosedur normatif. Ruang ekonomi juga akan memacu kontestasi sehingga kemungkinan terjadi perseteruan menjadi tinggi.

Bukan Memikirkan

Hal yang perlu ditegaskan adalah memikirkan kebudayaan tidak sama dengan berpikir kebudayaan. Memikirkan kebudayaan, bisa saja terjebak untuk berpikir politik atau ekonomi. Memikirkan kebudayaan agar hidup dan berharga, dengan mengkomoditaskannya, atau bahkan dengan memperjualbelikannya, itu berpikir ekonomi tentang kebudayaan. Konteks agar kebudayaan bisa menjadi ajang pariwisata adalah berpikir ekonomi.

Demikian pula ketika kita memikirkan bagaimana agar kebudayaan (lokal, misalnya) memiliki dan mendapatkan otoritas bersanding dengan budaya-budaya lain, itu berpikir politis. Cara-cara yang akan ditempuh pastilah keputusan dan tindakan politis, dan bukan dikerangkai cara berpikir kebudayaan. Di sinilah letak perbedaan penting bagaimana memposisikan perbedaan-perbedaan cara berpikir dan implikasinya dalam kehidupan.

Dari situ kita akan tahu bahwa selama ini kita lebih banyak berpikir tentang kebudayaan, memikirkan kebudayaan, daripada berpikir dengan cara budaya berpikir. Ketika kita lebih banyak memikirkan kebudayaan, maka substansi dan keutamaan nilai dari kebudayaan itu justru tidak terjadi. Yang terjadi adalah persaingan-persaingan politik dan ekonomi untuk sesuatu yang katanya memikirkan nasib kebudayaan.

Ruang ini terlalu pendek untuk menjelaskan panjang lebar. Akan tetapi, hal penting yang ingin ditekankan adalah kita harus menyadari bersama sebetulnya kita dalam posisi berpikir ekonomi atau politik untuk memikirkan kebudayaan, bukan berpikir dengan cara budaya. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Bahasa dan Nasionalisme

Semakin banyak yang mengatakan (termasuk Pakar Bahasa dari UGM) bahwa ketika seseorang dalam berkomunikasi resmi bahasa Indonesia-nya bercampur dengan bahasa asing, maka nasionalismenya dipertanyakan. Orang

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ratu Adil

Konsep Ratu Adil sudah dikenal pada masa Prabu Jayabaya, Raja Kediri yang berkuasa pada 1135-1157. Beliau menulis tentang Ratu Adil itu, yang dikenal sebagai Ramalan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kerennya Orang Awam

Pengertian yang dinisbatkan kepada orang awam selama ini lebih dalam pengertian orang kebanyakan. Orang kebanyakan adalah orang yang dianggap tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Ruang Persenyawaan

Bangsa dan masyarakat Indonesia adalah percampuran banyak hal. Hidup bersama dalam percampuran agama, suku, ras, bahkan hal-hal terkait gender, kelas sosial, dan sebagainya. Dalam percampuran

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Menipu Kapitalisme

Kalau memakai kacamata Bourdieu, mungkin kita terbantu untuk sedikit geli. Yakni ketika melihat seseorang (mungkin juga sejumlah orang) yang memakai barang-barang yang kemudian dikenal sebagai

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin