Sastra yang Mencerdaskan

Beberapa tahun lampau, Taufiq Ismail pernah mengeluhkan rendahnya minat baca para pelajar Indonesia terhadap karya sastra. Bahkan beliau mensinyalir bahwa minat baca pelajar Jakarta terhadap karya sastra nyaris nol. Temuan Taufiq Ismail itu seperti melaporkan rendahnya peradaban literasi yang melanda bangsa Indonesia.

Itulah sebabnya, kemudian beliau bergiat menggiatkan sastra masuk sekolah, menggalakkan pentingnya membaca karya sastra khususnya bagi para pelajar. Walaupun masih prematur, barangkali program penggalakkan yang dikerjakan oleh Taufiq Ismail dan kawan-kawan itu sudah perlu ditinjau kembali seberapa jauh hasilnya, dan bahkan pengaruhnya.  

Saya mendukung sepenuhnya program yang digalakkan Taufiq Ismail itu sejauh yang dimaksudkan bahwa para pelajar perlu dan penting membaca karya-karya sastra yang memberi pengetahuan dan cerita berbagai kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan perkembangan budaya teknologi di Indonesia. Tegasnya, siapa saja bangsa Indonesia perlu membaca karya sastra yang bisa mencerdaskan.

Karya sastra yang mencerdaskan adalah karya sastra yang memberi informasi, mengayakan pengalaman, memberikan pemahaman-pemahaman baru, memperbaiki kesadaran yang tidak benar (kesadaran palsu), dan secara keseluruhan adalah karya sastra yang mampu mengeksplorasi persoalan kemanusiaan.

Karya sastra yang mencerdaskan adalah juga bacaan atau cerita yang bisa memberi inspirasi bagaimana mengatasi persoalan hidup, memberi inspirasi terhadap praktik dan cita-cita hidup mulia, baik dalam skala individu, masyarakat, atau kebangsaan.

Dalam konteks Indonesia, karya sastra yang mencerdaskan adalah  karya sastra yang juga mampu memberikan pemahaman dan pencerahan berkaitan dengan hal-hal yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. Dengan demikian, karya sastra itu juga harus jeli mengangkat persoalan masyarakat Indonesia. Saya ingin menyebut, misalnya, masalah-masalah kriminalitas dan kekerasan, membongkar kebusukan politik, lemahnya kesadaran hukum, sebab-sebab kemiskinan dan kebodohan, kiat-kiat mengembangkan karakter dan karier, dan sebagainya sebagai bagian dari sastra yang mencerdaskan.

Pada awal sastra modern Indonesia, seperti terlihat dalam beberapa novel yang “dikanonkan”, misalnya Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Azab dan Sengsara, Layar Terkembang, bahkan hingga Belenggu, karya-karya sastra itu dengan jeli mampu mengungkap persoalan sosial, politik, dan budaya masyarakat Indonesia. Pembaca menjadi tahu bahwa terdapat sejumlah masalah yang perlu dipikirkan bersama, apakah itu masalah nasionalisme dan identitas kebangsaan, ketimpangan gender, atau stagnansi budaya generasi tua.

Di sini, tidak seluruh karya sastra dibicarakan. Saya ingin meloncat pada generasi sastra (khususnya novel) pada tahun 1980-an hingga 1990-an. Pada periode ini terdapat sejumlah karya sastra yang memang sangat layak dibaca oleh masyarakat Indonesia, misalnya novel-novel  tetralogi Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, trilogi Dukuh Paruk dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, Canting karya Arswendo Atmowiloto, Para Priyayi karya Umar Kayam, Burung-Burung Manyar karya Manungwijaya, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

Novel-novel di atas secara tidak langsung dan simbolis mencoba mengeksplorasi masalah-masalah kekuasan dan politik yang keruh, mandulnya kreativitas budaya, proses-proses perubahan sosial, sebab-sebab kemiskinan, korupsi, jual beli hukum dan keadilan, dan sejumlah persoalan lain yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Sebagai ilustrasi diulas salah satu novel yang disebut di atas. Dalam novel Bekisar Merah, misalnya. Terdapat masalah bagaimana Kanjat, seorang Sarjana Teknik Pertanian, tidak dapat menerapkan ilmunya di masyarakatnya. Ia ingin mempraktikkan teknologi pengolahan nira yang lebih praktis, dengan hasil yang lebih cepat dan lebih banyak. Akan tetapi, teknologi yang ditawarkan Kanjat tidak dapat diterapkan. Hal yang paling utama mengapa masyarakat menolak adalah masyarakat Karangsoga tidak siap mengisi kelebihan waktu akibat cepatnya proses produksi pengolahan nira dengan teknologi baru itu.

Beberapa novel mutakhir yang sangat layak dan perlu dibaca karena akan memberikan pencerdasan antar lain novel Proyek karya Ahmad Tohari, Saman dan Larung karya Ayu Utami, Jalan Menikung karya Umar Kayam, Ketika Lampu Bermarna Merah karya Hamsad Rangkuti, Ular Keempat karya Gus TF Sakai, Mantra Pejinak Ular dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo, atau Kitab Omong Kosong karya Seno Gemira Ajidarma, dan beberapa novel lain.

Dengan membaca karya sastra di atas, pembaca akan mendapatkan pengalaman yang lebih substansial berkaitan dengan persoalan yang dihadapi bangsa dan masyarakat Indonesia. Sebagai misalnya, Mantra Pejinak Ular secara sarkastis menelanjangi praktik mesin politik pemerintah yang berkuasa yang berusaha memenangkan pilkada.  Pernyataan itu sekaligus ingin mengatakan bahwa batas antara dunia fiksi dan fakta bukan konsep yang harus didikotomikan. Konsep tersebut lebih sebagai cara bagaimana persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia dikemas dan dinarasikan.

Saat ini, karena kemajuan teknologi, karya sastra dapat diterbitkan dengan cepat dan banyak. Kira-kira 10 tahun terakhir ini, karya sastra, baik novel, puisi, maupun kumpulan cerpen, terbit dalam ratusan dan mungkin mendekati ribuan judul. Masalahnya, tidak semua karya sastra dapat dimasukkan dalam kategori mencerdaskan.

Banyak karya sastra mutakhir itu beberapa di antaranya, misalnya, kisah tentang tiga atau empat orang wanita memperebutkan cinta seorang laki-laki, hubungan gelap antara ibu kos dan anak kos, bersiasat buruk memperebutkan harta,  pamer pakaian dan kekayaan orang tua, mencelakai atau ngerjain teman atau guru, naik turun mobil mewah, hingga persoalan model rambut.

Memang, bisa saja kita memaknai bahwa itulah gambaran sosial dan budaya generasi terkini.  Sebuah generasi (kota) yang direpresentasikan sebagai generasi dugem, generasi kelas menengah ke atas yang tidak memiliki masalah ekonomi. Temanya, kalau boleh disimpulkan, mengungkapkan generasi tanpa masalah sehingga tidak kontekstual dengan msalah mayoritas masyarakat Indonesia.

Dalam kenyataannya, justru novel-novel tersebut yang digemari dan laku di pasaran. Para penerbit pun seolah membaca trend pasar seperti itu dan berlomba-lomba menerbitkan novel atau cerita ringan-ringan karena semata-mana ingin mengeruk keuntungan.

Setahun yang lampau, seorang mahasiswi meminta bantuan saya untuk menerbitkan novelnya. Novel itu secara serius mempersoalkan kegelisahan seorang wanita yang berusaha mencari identitas, berusaha mengatasi persoalan ekonomi hidupnya karena orang tuanya miskin, dan digarap dengan teknik narasi yang kaya dan sangat informatif.

Beberapa penerbit saya hubungi, dan beberapa hari kemudian penerbit tersebut memberi informasi bahwa novel terebut tidak bisa diterbitkan dengan alasan terlalu serius, membuat pembaca mengerutkan kening. Menurut perkiraan penerbit tersebut novel itu tidak akan laku dan penerbit tidak berani mengambil resiko rugi.

Saya percaya bahwa Taufiq Ismail tentu menganjurkan karya sastra yang perlu dibaca tentulah karya sastra yang mencerdaskan. Sebaliknya, dalam kesempatan ini saya juga ingin menganjurkan bahwa karya sastra yang tidak mencerdaskan, atau bahkan membodohi, atau dengan membaca karya sastra itu kita justru menjadi bertambah bodoh, tidak mendapatkan pengetahuan yang berharga, sebaiknya tidak usah dibaca saja.

Tulisan ini, memang mempersoalkan novel. Akan tetapi, fenomena seni sastra sebetulnya melingkupi pengertian yang luas, jika hal tersebut dimaksudkan sebagai cerita. Di dalamnya termasuk film dan sinetron. Jika kita memasuki persoalan ini, maka masalahnya menjadi lebih runyam.

Karya sinetron kita, misalnya, jauh lebih menyedihkan. Karena tidak mampu menggarap masalah pendidikan, masalah politik dan hukum, masalah peranan teknologi, secara cerdas dan canggih, akhirnya sinetron kita menggarap dunia samar-samar yang kita sama-sama tidak tahu. Jadi tidak bisa dipersoalkan selain hanya berefek sensasional, yakni dunia klenik, mistik, hantu, tuyul, dan sebagainya.

Alasan para pekerja sinetron lagi-lagi karena alasan pasar (dan ini sangat membodohi masyarakat). Karena mereka menganggap cerita itulah yang disenangi dan terbukti sinetron itu memiliki rating tinggi. Yang pasti, setelah menonton sinetron kita, penonton nyaris tidak mendapatkan apa-apa. Apalagi jika hal itu dimaksudkan sebagai pengetahuan atau terbentuknya kesadaran baru dalam memahami persoalan bangsa Indonesia.

Seperti halnya karya sastra yang tidak memberikan pengetahuan apa-apa, maka untuk seni sastra sinetron pun saya ingin mengatakan bahwa jika perlu tidak usah ditonton saja. Masyarakat Indonesia jangan mau terus menerus dianggap berselera rendah dan dianggap bodoh. Kita harus memilih karya seni sastra yang mencerdaskan, yang memberi pengetahuan, inspiraasi, pemahaman, dan informasi tentang realitas bangsa Indonesia. * * *

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin