Sastra dalam Konstelasi Kepentingan

Belakangan ini, para sastrawan dan penyair mempertanyakan kembali “dampak positif” pekerjaan mereka terhadap masyarakat. Apakah pekerjaan mereka membuat cerita atau puisi berpengaruh baik kepada masyarakat atau tidak. Banyak karya sastra secara canggih menelanjangi kebusukan-kebusukan dalam masyarakat, tetapi masyarakat Indonesia seolah tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda menuju satu masyarakat yang “lebih baik”. 

Seberapa jauh karya sastra masih dianggap penting oleh masyarakat? Dalam hal ini, membicarakan posisi penting atau tidak karya sastra dalam masyarakat, ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan. Pertama, seberapa banyak karya sastra dibaca. Kedua, siapa saja pembaca karya sastra saat ini. Ketiga, jenis karya sastra apa yang dibaca. Keempat, dari karya sastra yang dibaca, “informasi” apa saja yang ingin “disampaikan” oleh sebuah karya sastra kepada pembaca. Kelima, dari mana kita dapat mengetahui bahwa masyarakat mendapat pengaruh dari sastra. Pertanyaan tersebut berimplikasi pada satu pengetahuan bagaimana sesungguhnya kondisi masyarakat saat ini.

Keenam, terlepas dari pertanyaan pertama hingga kelima, seberapa jauh kita dapat mengetahui bahwa masyarakat dipengaruhi atau tidak oleh karya sastra. Di samping itu, mungkin perlu pula diketahui bahwa apa perlunya kita mengetahui apakah sastra berpengaruh terhadap masyarakat atau tidak. Dan pertanyaan lain, misalnya, jika kita mengetahui apakah karya sastra berpengaruh terhadap masyarakat atau tidak, lantas mau apa.

Pembicaraan ini ingin membicarakan “serba sedikit” beberapa pertanyaan di atas, tentu dengan sejumlah spekulasi, dan sangat mungkin tidak didukung bukti-bukti dan argumen yang kuat. Di samping itu, tulisan ini lebih berpretensi sebagai satu esei belaka. Pembicaraan tidak membicarakan semua persoalan di atas (karena pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan besar), tetapi membicarakannya sesuai dengan urgensi persoalan.

Saat ini, dengan bantuan teknologi tulis dan cetak yang semakin canggih, menerbitkan sebuah buku dapat dilakukan dengan mudah, tidak terkecuali buku sastra. Itulah sebabnya, dewasa ini buku sastra dapat diterbitkan dalam jumlah yang banyak, cepat, oleh penerbit yang juga banyak. Di Yogya saja, misalnya, tidak kurang dari 40 penerbit (besar ataupun kecil) yang bersemangat menerbitkan buku dan karya sastra. Jenis karya sastra yang diterbitkan juga beragam, mulai dari buku puisi, cerpen, novel, dan sebagainya. Kalau dulu penulis bingung mencari penerbit, saat ini justru penerbit mencari-cari  tulisan agar dapat diterbitkan.

Sebagai akibatnya, “sistem seleksi” penerbitkan karya sastra menjadi longgar. Banyak penerbit dalam mempertimbangkan calon karya yang akan diterbitkan bukan berdasarkan mutu (walau itu relatif) tulisan sastra tersebut, tetapi lebih pada kepentingan apakah “buku sastra” tersebut bakal laku di pasaran atau tidak. Artinya, pertimbangan bisnis lebih penting daripada “niat estetik” atau niat lain dari perlunya menerbitkan sebuah karya sastra. Karya sastra tidak lebih menjadi barang dagangan belaka. Asumsi tersebut secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa masyarakat sekarang dikondisikan oleh satu kekuatan pasar, masyarakat tidak lebih sebagai konsumen yang mendatangkan keuntungan.

Pada gilirannya, memang ada persaingan atau kompetisi dalam memperebutkan pangsa pasar. Akan tetapi, kompetisi tersebut lebih dalam konteks strategi, sekaligus “memanipulasi”, aspek-aspek penjualan yang membuat masyarakat tergoda untuk membeli karya sastra tersebut. Namun, persaingan tersebut tidak diikuti oleh satu cita-cita mulia atau semacam komitmen untuk meningkatkan nilai-nilai peradaban manusia. Saat ini siapa saja dapat menulis sesuatu dan kemudian dianggap karya sastra dan kemudian segera diterbitkan. Sebagai akibatnya, dapat kita saksikan bahwa buku sastra saat ini, misalnya, dari judulnya saja, tampak sangat “ambisius, “sensasional”, dan seolah-olah sangat menantang untuk dibaca.

Itu juga dimungkinkan karena faktor biaya menerbitkan buku tidaklah terlalu mahal. Jika buku tersebut sekitar 200 halaman, maka biaya cetak seputar 4000 hingga 4500 rupiah. Kemudian, biasanya, akan dijual dengan harga 4 hingga 6 kali lipat. Artinya, jika buku tersebut dicetak 1000 eksamplar, maka bila buku tersebut terjual 250 eksamplar saja, penerbit tersebut sudah impas, dan sisa penjualan adalah keuntungan yang dapat diperoleh. Tampaknya menjual buku sebanyak itu, dengan sedikit publikasi, atau diskusi buku, atau kerja sama dengan media tertentu, tidaklah terlalu sulit.

Dewasa ini, karena menurunnya kualitas ekonomi masyarakat, harga buku dirasakan cukup mahal. Akan tetapi, itu tidak menghalangi masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa untuk mendapatkan buku. Paling tidak mereka bisa mendapatkannya dari perpustakaan, atau pinjam kepada teman yang lebih mampu membeli buku. Artinya, secara implisit kita menduga bahwa yang membaca karya sastra adalah pelajar dan mahasiswa. Itu pun saya kira tidak semua pelajar atau mahasiswa. Saya  sempat menjumpai beberapa pelajar dan menanyakan mengapa mereka tertarik membaca karya sastra, jawabnya karena sastra itu populer (artinya didukung oleh media atau kasak-kusuk lainnya). Jawaban lain karena ada tugas dari sekolah. Saya kira mahasiswa juga hanya sebagian kecil saja yang membaca karya sastra, mungkin karena lingkungan, atau lebih karena tuntutan kuliah.

Pembaca sastra lain adalah dosen dan para peneliti yang relevan dengan pekerjaannya. Akan tetapi, berapa jumlah dosen atau peneliti yang berkecimpung dalam kesusastraan. Di samping itu, banyak perguruan tinggi atau universitas yang belakangan mendirikan fakultas tidak lagi membuka fakultas atau jurusan sastra Indonesia. Melihat kenyataan itu, diperkirakan pembaca sastra di Indonesia tidak cukup banyak dari bangsa sejumlah lebih kurang 220 juta jiwa. Kita dapat mengira jumlah pembaca karya sastra yang amat sedikit itu secara signifikan tidak memberikan pengaruh yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Memang, ada cerpen dan puisi di media massa (biasanya mingguan). Akan tetapi, sejauh ini kita tidak mengetahui berapa banyak yang membaca secara khusus dan seberapa jauh pengaruhnya terhadap pembaca. Kita juga punya Horison, tetapi siapa sajakah pembaca Horison itu. Menurut catatan novel  Ayu Utami, seperti Saman, atau novel Dewi Lestari, Supernova, cukup laris dan banyak dibaca. Akan tetapi, mejawab pertanyaan seberapa jauh pengaruh novel tersebut kepada pembaca, sungguh pertanyaan yang sulit dijawab. Kita juga tidak mengetahui secara persis novel Lestari atau Utami itu siapa saja yang membaca, dan untuk keperluan apa karya tersebut dibaca.

Pada tahun 1980-an akhir, Ahmad Tohari dengan novelnya Ronggeng Dukuh Paruk pernah digugat pembaca bahwa novel itu akan menyebabkan pembaca permisif dan ngomong saru seenaknya. Persoalannya apakah gejala permisif dalam masyarakat Indonesia itu merupakan gejala baru. Rasanya tidak, atau bahkan jangan-jangan novel itu justru terpengaruh oleh perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Atau paling tidak kita juga dapat memperkirakan bahwa hal-hal yang berpengaruh pada masyarakat demikian beragam. 

Di samping karya sastra seperti karya-karya Utami atau Lestari tersebut, ada juga buku sastra lain yang tampaknya laku di pasaran. Dalam hal ini saya ingin menempatkannya dalam dua kecenderungan. Pertama, karya-karya yang cukup diminati adalah karya-karya yang punya reputasi cukup besar. Beberapa buku kanon sastra diterbitkan ulang, dan saya kira, terlepas dari tuntutan sekolah, buku tersebut cukup diminati untuk dibaca. Salah satu karya yang belakangan sangat diminati adalah karya-karya Pramudya Ananta Toer. Sejajar dengan itu adalah diterbitkannya karya-karya sastra terjemahan. Karya-karya Kahlil Gibran dan beberapa novel terjemahan seperti karya Sidney Sheldon hingga hari ini masih cukup populer dan diminati.

Saya tertarik untuk sedikit membicarakan mengapa karya Toer dan Gibran, dua wacana sastra yang amat berbeda, diminati masyarakat pembaca (perkotaan) Indonesia.  Seperti diketahui, karya-karya Toer, khususnya tetralogi Pulau Buru yang pada rezim Orde Baru sempat dilarang terbit, memberikan wacana tandingan terhadap konstruksi sosial-politik Indonesia yang feodal-kapitalis dan represif. Toer, dengan cara bercerita yang sangat canggih (walau konvesional), mewacanakan ideologi “alternatif”, atau biasa disebut sosialis yang tidak populer untuk masyarakat Indonesia. Mungkin karena dipopulerkan oleh rezim Orde Baru yang sempat melarang buku itu terbit, sensasi ideologis buku tersebut menjadi menarik untuk dicermati lebih jauh.

Kita tahu, saat ini, ideologi yang dipelihara oleh negara mendapat persaingan secara terbuka oleh berbagai macam ideologi lain, khususnya wacana-wacana ideologis yang biasa disebut “kekiri-kirian”. Saat ini, banyak anak muda dan mahasiswa membicarakan berbagai macam ideologi secara cukup bergairah. Itu pun masih didukung mulai banyaknya buku-buku Marxist yang diterbitkan, yang pada masa rezim Orde Baru tidak bisa muncul ke permukaan.

Fenomena karya Gibran adalah satu hal yang berbeda. Karya-karya Gibran menawarkan sesuatu yang cenderungan sangat spiritual, atau katakanlah agnostik. Dulu, pada paruh pertama tahun 1990-an, perekonomian Indonesia memperlihatkan perkembangan yang  baik, kemakmuran cukup meningkat, masyarakat Indonesia menjadi kelihatan lebih modern. Akan tetapi, di lain sisi, perkembangan modernitas masyarakat Indonesia seolah mengeringkan nilai-nilai spiritual masyarakat. Masyarakat modern Indonesia seolah kehilangan orientasi religiusnya.

Sebetulnya, spiritualitas Islam lebih mempunyai kelayakan untuk merebut kesempatan tersebut karena masyarakat Indonesia mayoritas adalah orang Islam. Akan tetapi, kecederungan itu dianggap primordial, bukan saja secara diam-diam tidak mendapat dukungan dari elite orang Indonesia, tetapi juga tidak didukung oleh berbagai jaringan kekuatan media massa. Kondisi itu, sebetulnya coba “dicuri” oleh penerbit Navilla (Yogya), sebagai misal. Itu terlihat dengan semangat penerbit Navilla menerbitkan novel-novel terjemahan dari Timur Tengah yang bernafaskan Islam secara cukup kental. Sayangnya,  “pencurian” tersebut terkesan agak terlambat dan berada di ujung waktu kesempatan. Itu pun Navilla harus bergerilya menyongsong pembaca agar buku sastra terjemahannya dilirik.

Sebagai akibatnya, di samping kembali ke tradisi-tradisi dan budaya lokal, pilihan paling strategis adalah spiritualitas yang agnostik, sehingga pilihan terhadap karya-karya seperti karya Gibran menjadi lebih aman. Seperti tumbu oleh tutup, karya Gibran sempat meledak dan dibaca orang banyak.

Apakah karya Gibran berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia.  Katakanlah berpengaruh, tetapi pengaruh itu bukan saja karena faktor karya-karya Gibran. Dalam masyarakat masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda dan mahasiswa, mulai memperlihatkan gejala-gejala agnotisme. Sayangnya, perlu diakui bahwa gejala agnotisme itu pun sebetulnya bukan gejala yang asing dalam masyarakat Indonesia. Paling tidak karya seperti karya Gibran ikut memanaskan mesin spiritualitas masyarakat Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

Kedua, di lain pihak, ada buku karya sastra lain yang akhir-akhir ini cukup diminati oleh pembaca “remaja” kota Indonesia. Buku sastra tersebut biasa disebut chiklit atau teenlit. Gejala ini memang sangat kontemporer, perebakannya baru satu atau dua tahun ini, sehingga pengaruhnya terhadap pembaca belum dapat diperhitungan secara signifikan.

Dalam hal ini, untuk sekadar menduga, jika dilihat dari muatan novel remaja itu, yang berisi tentang percintaan (rebutan pacar), tren-tren mode, ungkapan-ungkapan bahasa gaul, dan kehidupan remaja lainnya, saya membayangkan seperti sinetron kita pada umumnyalah. Di dalamnya tentu ada dialektika, artinya, kecenderungan yang terjadi dalam masyarakat terekam dalam novel remaja itu, tetapi sebaliknya, novel remaja itu seolah ikut mengukuhkan hal-hal yang terjadi dalam masyarakat.

Fenomena di atas sebetulnya hampir sama dengan kejadian pada tahun 1970-an hingga 1980-an akhir ketika novel-novel pop menjangkiti Indonesia, dengan para tokoh seperti Ashadi Siregar (misalnya, Cintaku di Kampus Biru), Eddy D Iskandar (misalnya, Cowok Komersil), Teguh Esha (misalnya, Ali Topan Anak Jalanan) hingga generasi Hilman Hariwijaya (pengarang Lupus), dan sebagainya. Pada tahun 1970-an, tema dominan adalah masalah percintaan pemuda-pemudi (perkotaan), dan sedikit perlawanan orang muda kepada ketidakrelevanan budaya orang tua.

Tema tersebut tentu bukan tema baru, dan merupakan gejala umum yang terjadi di masyarakat. Novel-novel itu tidak lebih merekam hal-hal yang terjadi dalam masyarakat. Mungkin, ketika novel tersebut dibaca oleh lebih banyak anak muda, memberi rasa percaya diri kepada anak-anak muda untuk melakukan hal yang sama seperti dilakukan tokoh-tokoh novel.

Generasi Lupus berbeda lagi (ujung 1980-an hingga 1990-an awal). “Konsentrasi” tema-tema Lupus tidak pada percintaan, tetapi lebih pada kecerdasan, kreativitas, dan sekaligus kekonyolan anak-anak muda (remaja) perkotaan. Saya mengira, baik secara eksternal maupun internal, pola-pola karya sastra 1970-an hingga 1990-an awal inilah yang coba dikemas ulang secara baru oleh gerasi 1990-an akhir hingga 2000-an ini. Kemudian, tidak hanya dikemas dalam bentuk tulis, tetapi saat ini tak pelak novel-novel yang lampau banyak dikemas ulang sesuai dengan harapan generasi sekarang, terutama dalam sinetron.

Akan tetapi, kecenderungan itu pun sekarang cukup beragam dan bervariasi. Hal itu dapat kita saksikan kalau kita membaca karya yang populer dan juga cukup diminati,  misalnya karya Djenar Maesa Ayu, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004).  Kalau dalam cerita pada tahun 1970-an hingga 1990-an awal itu kita masih melihat bahwa nilai-nilai moral kolektif masih cukup dihormati, maka dalam cerita-cerita Maesa Ayu itu, tokoh-tokoh mengalami antagonisasi yang ekstrim, sehingga penghambaan yang berlebihan terhadap kebebasan individual menjadi sangat tajam.

Kecenderungan antagonisasi tersebut sebetulnya sudah dipelopori oleh Ayu Utami dan Dewi Lestari. Maesa Ayu menajamkan dan menggarisbawahi bahwa kecenderugan seperti itu bukan hanya ide, tetapi sangat mungkin telah terjadi dalam masyarakat.

Sejauh ini, saya belum dapat laporan yang valid apakah novel seperti Dadaisme karya Dewi Sartika (2004) dan Geni Jora karya Abidah El Khalieqy (2004), novel terbaik versi DKJ 2003, laris di pasaran dan banyak dibaca. Padahal novel ini kecenderungannya jauh berbeda dengan gaya Lestari, Utami, atau Maesa Ayu. Itulah sebabnya saya menduga ada skenario yang bersifat subjektif dan politik strategi untuk mengatasi kebuntuan, bukan saja pada tingkat selera, tetapi juga wacana.

Dengan demikian, ada kesengajaan untuk “memenangkan” sebuah novel dengan nuansa yang sama sekali berbeda dengan pendahulunya. Untuk persoalan ini, kita masih menunggu waktu apakah novel ini akan mendapatkan apresiasi yang sama dibanding Saman atau Supernova, dan bagaimana masyarakat mengapresiasinya secara luas.

Terlepas dari itu, saat ini, saya memiliki dugaan yang agak kuat bahwa media yang memiliki pengaruh sangat kuat terhadap masyarakat (atau sebaliknya) adalah sinetron, sesuatu yang dikemas oleh media massa audio visual. Gejala ini tentu menarik untuk dikaji lebih jauh (dan sudah cukup banyak kajian tentang ini). Namun, sebagai satu gejala apresiasi, aspek dan dimensi sinetron berbeda dengan karya sastra, yang berdimensi tulis visual. Walaupun saya tidak membahas hal ini lebih jauh, tetapi jika hal ini dibicarakan akan memasuki satu pembicaraan yang berkaitan dengan budaya lisan dan budaya baca-tulis dalam masyarakat Indonesia.

Secara prinsip saya tidak dapat membayangkan bahwa karya sastra dibaca oleh kalangan yang cukup luas, atau masyarakat sangat membutuhkan karya sastra. Kenyataan itu mungkin berkaitan dengan masih buruknya tradisi baca-tulis masyarakat Indonesia, atau belum ada urgensi yang cukup signifikan sehingga ada kewajiban umum untuk membaca karya sastra. Taufik Ismail pernah memberi laporan (tahun 2000), bahwa pelajar SMA Jakarta hampir tidak membaca karya sastra sama sekali.

Kemudian, kita mendapat berita bahwa kehidupan moral anak-anak Jakarta semakin mengkhawatirkan, misalnya. Persoalannya, tentu kita mengalami kesulitan untuk menghubungkan dua peristiwa tersebut. Misalnya, dalam asumsi cukup klasik, sastra diharapkan bisa menjaga moral, karena sastra memiliki kemampuan menelanjangi kehidupan. Namun, apakah turunnya moralitas para remaja karena tidak membaca karya sastra? Apakah jika kemudian mereka membaca karya sastra lantas moralitasnya akan menjadi lebih baik?

Pernyataan itu tentu bukan ingin meniadakan bahwa karya sastra mungkin tidak berpengaruh. Karena, jika itu yang terjadi, mengapa hingga hari ini karya sastra, baik novel, cerpen, atau puisi tetap ditulis orang. Kenapa pada masa-masa sebelumnya ada karya sastra yang dilarang terbit dan tidak boleh dibaca umum. Kalau sastra tidak penting dan tidak berpentauh, mengapa rezim Orde Baru demikian ketakutan dengan seorang penyair, Wiji Thukul, yang kurus, miskin, dan penyakitan? Bahkan dari waktu ke waktu, kita dapat menyaksikan bahwa setiap periodik, selalu muncul novelis baru, penyair baru, bak cendawan di musim hujan.

Dulu, pada masa awal perkembangan sastra (modern) Indonesia (bahkan hingga tahun 1950-an), karena berbagai keterbatasan sosial, ekonomi, politik, dan teknologi, buku sastra yang dapat diterbitkan sangat sedikit. Kita dapat menghitung jumlah buku-buku sastra tersebut. Tidak jauh berbeda dengan karya sastra sekarang, banyak karya sastra mampu merekam dengan baik berbagai kecenderungan dan kehidupan masyarakat.  Sitti Nurbaya dengan bagus memberi informasi kepada kita tentang fenomena kawin paksa, perlawanan anak muda terhadap tradisi “kolot” yang dibangun orang tua, sikap-sikap nasionalisme dan patriotisme, dan sebagainya. Akan tetapi, jika saat ini anak-anak muda tidak mau dikawin paksa oleh orang tua dengan pasangan yang tidak dicintai, tentu bukan semata-mata pengaruh novel tersebut. Banyak faktor bekerja sama secara sinergis merubah kondisi masyarakat.

Demikian pula halnya dengan nasionalisme. Banyak karya sastra bahkan hingga tahun 1960-an masih cukup mengagungkan nasionalisme. Akan tetapi, karya-karya sastra generasi Ayu Utami atau Dewi Lestari, nyaris tidak menganggap penting apa itu nasionalisme.  Jika melihat kenyataan tersebut, justru yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa karya sastra secara signifikan dipengaruhi oleh berbagai perubahan internal di dalam masyarakat (bahkan dunia), yang kemudian muncul ke dalam karya sastra.

Dengan demikian, kegelisahan para sastrawan dan penyair terhadap “dampak positif” karya sastra memang menjadi PR dan agenda besar para pekerja seni tersebut. Mereka harus mampu membuat karya sastra yang baik dan canggih sehinggga karya sastra, mau tidak mau, menuntut untuk menjadi bacaan umum dan wajib bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana caranya, biarkanlah mereka berpikir dan bekerja. * * *

  • Sebagai bahan pengantar diskusi pada Seminar Sastra “Eksistensi Pengaruh Sastra Terhadap Masyarakat Dewasa Ini”, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 17 April 2005. (Makalah masih berupa draf kasar dan belum diedit).

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin