(Tulisan ini awalnya ditulis tahun 1995. Tulisan ini ditulis ulang dengan sedikit tambahan pada Agustus 2020)

Entah kapan persisnya lagu-lagu lama seperti mengalami kebangkitan baru. Secara samar-samar sebutlah Yuni Shara sebagai seseorang yang membongkar kerinduan itu dengan lagunya “Hilang  Permataku” beberapa tahun lampau. “Di depan mata engkau pria yang paling setia ……” Maka, terutama pemuda dan remaja, di mana-mana kemudian ikut bernyanyi, “Hilang perawanku, hilang harapanku.”

Bisa jadi plesetan itu tidak lagi menjadi sesuatu yang terlalu penting. Ia hanya ingin menyiratkan kekecewaan, dendam, duka, dan menipisnya harapan. Toh tidak semua lagu mendapatkan artikulasi plesetan yang memberi referensi yang beragam dan kontekstual. Kecuali justru lagu seperti “Tenda Biru” Desy Ratnasari yang belum lama berselang menjadi “Tenda Biru-ku” yang dimain-mainkan Padhyangan 6, dengan lirik-lirik yang kocak, mencekik, dan menelanjangi.

Sesungguhnya, apa yang terjadi jika, seperti kita dengar di radio-radio, tape, dan teve, lagu-lagu lama itu bergema lagi. Adakah di dalamnya seperti seseorang membongkar-bongkar arsip, mencoba mencari-cari jati diri yang terselip oleh berbagai perubahan yang deras dan ramah.

Di situlah kelebihan sebuah lagu. Teristimewa lagu-lagu yang mejadai kenangan bagi siapa saja. Ia seolah seperti sebuah program tersendiri yang menyimpan sejumlah arsip. Ketika lagu tersebut kembali disenandungkan,maka terbayanglah kejadian-kejadian. Ia bersembunyi dalam setiap lekuan irama.

Mengapa lagu-lagu lama, lagu-lagu kenangan? Apakah di dalamnya menyiratkan kepada kita bahwa kita telah kehabisan irama, sehingga tak lagi mampu menciptakan lagu-lagu dengan irama yang monumental dan tak terlupakan. Atau adakah kita mengalami ketersesatan untuk membuka wilayah irama baru. Minimal, jika memang ada upaya ke arah itu, kemudian diketahui bahwa jalan itu telah dirambah orang sebelumnya.

(Sebagai catatan tambahan; Hal ini berbeda dengan lagu-lagu Didi Kempot yang campur sari itu. Iramanaya dalam satu genre yang setiap lagu baru mucul, lagu tersebut lebih kurang sama sehingga dengan mudah dikenali dan dinyanyikan).

Kemballi ke soal lagu kenangan, apakah di dalamnya memberi informasi kepada kita, sesungguhnyalah lagu-lagu kenangan mampu mengokohkan bahwa bagaimana pun juga kita adalah bagian dari satu sejarah yang tak bisa dilupakan begitu saja. Bahwa lagu-lagu lama mengukuhkan kesadaran historisitas kemanusiaan kita yang sesungguhnya memiliki kekuatan romantisisme tersembunyi yang sewaktu-waktu butuh diaktualkan.

Mungkin tidak seindeksial seperti itu. Artinya, bahkan ada pula yang menuduhnya sekedar latah. Ketika diketahui lagu-lagu lama, atau mungkin memang belum terlalu lama, yang menjadi kenangan ternyata diminati masyarakat. Kemudian semua penyanyi seolah mendapat peluang untuk juga merasa berhak menyangikan lagu-lagu kenangan agar ia pun diminati.

Terlepas dari itu, tidak perlu dipungkiri bahwa cobalah Anda mencoba mengingat-ingat lagu yang menjadi kenangan bagi diri Anda sendiri. Maka bermunculanlah lagu-lagu yang biasa kita sebut sebagai nostalgia. Tak pelak adalah lagu-lagu dengan irama-irama yang telah kita kenal, yang disenandungkan dari waktu ke waktu, yang secara disadari atau tidak mendjadi hafalan bawah sadar kita.

Memang ada batas relativitas sehingga sebuah lagu berkategori kenangan atau tidak. Sebetulnya, bukan soal lagu tersebut kebetulan lagu lama belaka. Seseorang selalu terikat dengan konteks kesejarahan ketika sebuah lagu ikut berproses dalam “membesarkan” seseorang dari anak-nak menjdai remaja, dari remaja menjdai dewasa, dan seterusnya.

Di samping itu, perlu pula diperhitungkan jika seseorang memiliki kegemaran atau fanatisme tertentu terhadap seorang penyanyi. Jika seseorang sangat tergila-gila dengan Iwan Fals atau Mus Mulyadi, maka jangan salahkan ia jika di memori kepalanya tersimpan sejumlah lagu-lagu Iwan Fals dan Sak Mus itu.

Atau sebaliknya jika kebetulan ia pun menaruh hati pada lagu-lagu Deddy Dores, Elvi Sukaesih, Rhoma Irama, atau Nike Ardilla. Jangan dipandang ia dengan mata sebelah jika pada setiap kesempatan dan peristiwa, ia menyanyikan lagu-lagu idolanya itu. Sekali lagi, ini soal bagaimana lagu-lagu tadi menghunjam dalam kesadaran diri seseorang sehingga menjadi sebuah kenangan yang tak terabaikan.

Dengannya, mengenang atau meneriakkan sebuah lagu bukan soal selera tinggi atau rendah. Ini hanya soal konsolidasi peristiwa. Ini soal sebuah misteri yang tak terlalu mudah dijelaskan begitu saja. Misalnya, bagaimana mungkin menjelaskan pertemuan irama yang non-fisik, menjadi gejala fisik berupa keterharuan, kegembiraan, atau histeria.

Lagu-lagu nostaliga juga mengingatkan kepada kita bahwa pada dasarnya seseorang paling suka mengenang pengalaman dan sejarah kehidupannya sendiri. Dengan demikian, bisa jadi sebuah lagu relatif lebih bermakna secara individual bagi seseorang dibanding orang lain untuk lagu yang sama.

Minimal, ketika lagu yang sama didengungkan, maka setiap pendengar yang memiliki kenangan terhadap lagu itu memberi referensi keberartian sendiri-sendiri, sesuai dengan suatu proses historisnya sehingga lagu itu menjadi kenangan yang yang mengharukan atau menggetarkan.

Mungkin perlu juga ditanyakan filosofi apa yang terjadi dalam nostalgia itu. Pertama, yang penting adalah ia sebuah dunia yang telah terekonstruksi sedemikian rupa sehingga memberikan kememadaian jika dimanfaatkan sebagai refleksi bagi kondisi-kondisi psiko-historis tertentu yang sedang menemukan sosok bangunannya.

Kedua, karena sudah “terekonstruksi” maka nostalgia adalah sebuah dunia yang stabil, dunia yang aman. Ini memberi kelayakan bagi perlindungan psikologis yang labil. Karena, memang demikianlah situasi yang memungkinkannya. Berbagai kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya membuat mansianya sedikit banyak mengalami goncangan terus-menerus dalam kondisi stabilnya. Dia butuh tempat untuk sekali dua  bersembunyi dalam sebuah perlindungan.

Ketiga, berkaitan dengan hal pertama dan kedua maka bisa jadi nostalgia juga bagian dari bawah sadar dalam mengantisipasi kecemasan terhadap masa depan yang serba tidak pasti. Masa lalu adalah sesuat yang pasti, dia telah terjadi. Maka, ketika disadari menghadapi masa depan yaag semakin “absurd” layaknya dalam rimba raya yang tidak jelas harus mengacu ke mana, maka bernostalgia merupakan alternatif yang paling terbuka untuk dipilih.

Saya tidak tahu pasti apakah dari situ dapat kita ketahui mengapa, misalnya, kita hampir tidak pernah dapat membuat sebuah karya berjenis future. Ini berbeda dengan bangsa Amerika dan beberapa dari Eropa. Terlepas dari kemungkinan mereka juga suka bernostalgia, maka seperti kita ketahui mereka melahirkan beitu banyak karya yang berkaitan tentang masa depan.

Kenangan bernostalgia itu bukan hanya terjadi dengan lagu-lagu kenangan. Dia bisa terjadi ketika kita nonton “Saur Sepuh” atau “Wiro Sableng”, bahkan kisah-kisah pendekar Shaolin dari negeri Cina itu. Noltalgia pun dapat pula terjadi ketika kita melihat candi-candi, museum-museum, peringatan-peringatan hari besar, dan sejenisnya. Mengingat hal itu, alangkah menariknya jika hal ini pun mendapat kajian yang serius. (Ternyata kini telah berkembang secara spesifik teori tentang noltalgia).

Sekali lagi, mungkin ini berkaitan dengan karakter budaya kita. Bahwa pada dasarnya kita bukanlah “petualang-petualang”. Petualang eksperimental yang dengan gagah berani bertarung dengan totalitas kesejarahannya berdasarkan masa lalu, sesuai dengan kekinian, dan demi masa depan.

Kita adalah bangsa yang relatif berhenti pada dimensi-dimensi berdasarkan masa lalu yang penuh perlindungan dan aman, demi masa kini yang sedang terjadi. Sedang pada masa depan akan ada generasi lain yang memikirkannyua. Dialah itu anak-anak kita. Jika itu yang terjadi, maka sebetulnya kita hanya akan mampu melahirkan generasi yang toh pada akhirnya suka dan kembali bernostalgia. Hanya bernostalgia.***

Bagikan tulisan dari aprinussalam.com ini ke:

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Google+
Aprinus Salam

Aprinus Salam

Aprinus Salam merupakan penyair yang sangat tidak produktif. Hijrah ke Yogyakarta, Desember 1977, setelah lulus Sekolah Dasar di Riau, hingga kini ia telah dan tetap bermukim di Yogya.

Tentang Aprinus Salam

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bacaan Terbaru

Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

Menjadi Budak

Praktik dan pemaknaan tentang budak termasuk kisah kurang sedap. Dalam berbagai struktur dan levelnya, budak merupakan sosok yang keberadaannya dianggap rendah atau di bawah, tidak

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Kesepian

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Politik Penampilan

Politik penampilan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Politik di sini maksudnya berbagai cara, strategi, maksud, kepentingan, dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai

Read More »
Seni, Sastra dan Budaya
Aprinus Salam

KESALAHAN DAN KEJAHATAN DALAM BERBAHASA

Ucapan Terima Kasih Terimakasihku kepada Tuhan yang memberi kesehatan dan kesempatan menulis buku ini. Pada akhir Maret 2020,kita mulai mengalami masa-masa pandemi. Ada suatu masa

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

PENTING – REMEH, BESAR – KECIL

Dalam berbagai pembicaraan, suatu hal yang sering muncul adalah pernyataan; “itu masalah remeh, ini penting; atau itu urusan kecil, ini masalah besar”. Persoalannya, apa dan

Read More »
Sosial dan Politik
Aprinus Salam

Merdeka Bertualang

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan

Read More »

Sukai Halaman Facebook Saya

Terima Kasih
Sudah
berlangganan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin